Showing posts with label Sekte. Show all posts
Showing posts with label Sekte. Show all posts

Apa yang Akan Terjadi,Seandainya Kita Hidup di Bawah Naungan Khilafah?

May 19, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Apa yang Akan Terjadi, Seandainya Kita Hidup di Bawah Naungan Khilafah?
Meski dengan berbagai kritik yang ada, proses reformasi dan demokrasi Indonesia saat ini harus banyak disyukuri. Bukan malah ingin sistem baru, khilafah, yang belum tentu kesuksesannya.

Apa yang Akan Terjadi, Seandainya Kita Hidup di Bawah Naungan Khilafah?
Bitter Coffee Park tertarik dengab jawaban
Alumnus Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences. Asli Malang.
Yang Bitter Coffee Park kutib dari Islam.co.
Berikut Ulasanya:
Dalam kontestasi wacana politik di Indonesia dewasa ini, gagasan khilafah tidak bisa diabaikan. Isu khilafah ini dinilai problematis, dan dipandang akan merongrong sistem politik Indonesia yang sedang berjalan. Salah satu pemain utamanya tentu organisasi ini: Hizbut Tahrir.

Secara harfiah arti organisasi ini adalah “Partai Pembebasan”. Dari namanya saja, ia lahir bukan sebagai organisasi sosial kemasyarakatan atau LSM yang memperjuangkan isu tertentu. Karena sejak awal menyatakan diri sebagai partai/ hizib, saya kira agenda politiknya sudah tersusun.

Banyak negara telah melarang dan membubarkan organisasi pengusung agenda khilafah. Agaknya persoalan “khilafahisme” ini sudah merupakan isu global. Pemerintah Indonesia pun menyatakan Hizbut Tahrir, adalah organisasi terlarang melalui Perppu Ormas Nomor 2 tahun 2017 karena tidak sejalan dengan ideologi Pancasila, dan memiliki keinginan untuk mengubah dasar negara.

Anda bisa memposisikan diri sebagai kalangan yang pro atau kontra terhadap pembubaran HTI. Namun agaknya Hizbut Tahrir secara ideologis dan substantif belum hilang di Indonesia. Barangkali ia hanya bersalin rupa nama lembaga atau media.

Contoh, Anda bisa menemui buletin Jumat Kaffah yang kontennya serupa buletin Al Islam yang dahulu diterbitkan HTI. Mungkin tidak terlalu terang-terangan dengan menyeru “khilafah adalah solusi” seperti sebelumnya, dan yang diserukan adalah “menegakkan syariat Islam”. Menurut mereka, syariat Islam toh tegak dengan adanya khilafah.

Kritik ideologis terhadap HTI saya kira sudah banyak dilakukan. Mulai dari kekeliruan membaca realitas sosial politik, kecacatan cara memahami sejarah, dan pemaksaan tafsiran teks agama yang berkesimpulan: khilafah adalah ketetapan Allah yang wajib, dan barangsiapa yang tidak mengambil hukum/aturan selain dari apa yang diturunkan Allah (kitab suci) maka mereka adalah orang-orang kafir — telah dikritik banyak kalangan.

Daripada mengritik, saya memilih sebuah jalan ninja dengan membayangkan “seandainya kita hidup di bawah naungan khilafah”. Saya kira akan menarik sekali berimajinasi dan berandai-andai seperti ini.

Untuk imajinasi dan pengandaian ini, penulis merujuk sumber para pejuang Hizbut Tahrir. Pendiri gerakan ini, Syekh Taqiyuddin An Nabhani, secara mengesankan telah meletakkan dasar ideologinya sampai pada taraf yang mungkin sudah cukup teknis.

Hal ini tergambar dari buku-buku yang jadi rujukan Hizbut Tahrir: mulai dari Mafahim Hizbut Tahrir, menjelaskan Hizbut Tahrir lahir merespon kegagalan modernisasi dan kapitalisme. Kemudian ada buku Ajhizah Daulat al Khilafah menjelaskan struktur kekhilafahan dan sistem pemerintahan, juga Ad Daulah al Islamiyah yang menjelaskan dasar hukum penegakan khilafah dan strukturnya. Sebagai pedoman bermasyarakat, Syekh An Nabhani juga merilis buku An Nizham al Ijtima’i fil Islamguna mengatur kehidupan warga negara dan interaksi umat muslim.

Bagaimana seandainya kita hidup di bawah naungan khilafah? Saya merujuk buku Ajhizah Daulat al Khilafah (diterjemahkan dengan Struktur Negara Khilafah) dan Ad Daulah al Islamiyah (diterjemahkan dengan Daulah Islam oleh HTI Press) agar pengandaian saya sejalan dengan pedoman yang dicita-citakan pejuang khilafah.

Anda tahu, dalam buku Daulah Islam, tertulis Rancangan Undang-Undang Dasar jika kekhilafahan telah tegak di muka bumi. Luar biasa. Kelak negara-negara Islam dan bersedia mengikuti sistem khilafah akan bersatu dalam satu kepemimpinan khalifah, yang tidak memiliki batas waktu akhir menjabat – kecuali meninggal, mengundurkan diri, atau dipandang tidak mampu oleh Mahkamah Mazhalim yang dilantik khalifah.

Seluruh negara yang menyetujui khilafah akan menjadi daerah setingkat provinsi, dipimpin oleh struktur Wali atau Amir. Hal ini agaknya ingin mengembalikan sebagaimana sistem pemerintahan era awal Islam di masa Khulafaur Rasyidin yang terpusat pada satu negeri saja. Sayangnya rancangan undang-undang itu tidak mencantumkan negeri pusat kekhalifahan akan didirikan.

Rancangan undang-undang negara Islam dalam buku Daulah Islam menyertakan 191 pasal, merentang mulai sistem negara, pemerintahan, para menteri dan gubernur, kehakiman, politik luar negeri dan dalam negeri, sampai sistem sosial dan ekonomi. Bukan main.

Syarat seorang khalifah adalah laki-laki, muslim, merdeka, baligh, berakal, adil dan memiliki kemampuan. Perihal fit and proper test, konon akan diserahkan pada sistem Mahkamah Mazhalim dari pihak kehakiman dan pengawas pemerintahan, serta Majelis Umat yang mewakili rakyat di tiap-tiap wilayah.

Mencermati pasal per pasal tentu akan sangat melelahkan dan menjadi diskusi ideologis yang panjang. Namun saya menyoroti hal berikut.

Anda perlu membaca bagian sistem sosial. Sebagaimana disebutkan di atas, syarat khalifah dan pemimpin pemerintahan adalah pria. Perempuan tidak boleh memangku jabatan pemerintahan yang berkaitan dengan kekuasaan, seperti Khalifah, Gubernur, atau kedudukan setara menteri yang disebut mu’awin (pasal 116). Hukum asal perempuan, menurut RUU ini, cukup gamblang: hukum asal seorang perempuan adalah ibu dan pengatur rumah tangga, dan merupakan kehormatan yang wajib dijaga(pasal 112).

Bagaimana menurut Anda? Saya kira, warga negara pria maupun perempuan tanpa hak politik yang setara, akan meniscayakan ketimpangan dan banyak persoalan pada perempuan.

Kemudian hak politik non-muslim. Pasal 26 RUU yang disusun Hizbut Tahrir ini menyebutkan tentang kalangan non-muslim tidak memiliki hak pilih. Peniadaan hak politik untuk non-muslim ini menggambarkan sikap tidak ramah terhadap liyan atau minoritas.. Hak politik, hemat saya adalah hak yang wajib diberikan secara konstitusional. Konflik akibat ketidakpuasan politik, terlebih dibalut sentimen agama, sangat mungkin terjadi.

Kemudian model Islam yang akan dipakai sebagai dasar negara. Kekhilafahan akan menjadikan akidah Islam sebagai dasar negara. Islam model apa yang akan digunakan? Keterangan dalam buku Daulah Islam, peran khalifah atas tegaknya syariah ialah sejalan dengan “hukum dan metode yang ia pakai untuk dirinya sehingga ia terikat dengan hukum syariat tersebut”.

Di masa lampau, harus diakui bahwa dinamika kajian Islam mengikuti resepsi pemerintah terhadap pemikiran ulama. Saat pemerintah berpihak pada satu kalangan, maka kalangan lain akan terdiskreditkan – bahkan, sampai dibasmi. Saya bayangkan kecenderungan ini akan pelan-pelan menyingkirkan keragaman Islam, dan mustahil kiranya memaksakan satu cara beragama atas warga negara.
Jika khilafah adalah bentuk romantisme masa lalu, saya kira banyak hal yang tidak tepat – bahkan, bisa berbahaya – jika berkaca dari pemahaman dan rencana dasar negara rekan-rekan pejuang khilafah ini, wa bil khusus Hizbut Tahrir. Apakah Hizbut Tahrir telah merevisi pedoman itu, saya belum tahu. Bagaimanapun, kesimpulan pengandaian di atas adalah: kondisi Indonesia saat ini tidak relevan dengan gagasan khilafah dan RUU yang termaktub dalam pedoman mereka.

Kenyataan jelas tidak sesederhana yang dibayangkan dan diperjuangkan rekan-rekan Hizbut Tahrir. Meski dengan berbagai kritik yang ada, proses reformasi dan demokrasi Indonesia saat ini harus banyak disyukuri. Nah, bagaimana menurut Anda seandainya jika kita hidup di bawah naungan khilafah?
Wallahu a’lam.
☆☆☆☆☆

Baca Juga:

Apakah Islam Nusantara adalah sekte Islam yang baru?

May 05, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Apakah Islam Nusantara adalah sekte Islam yang baru?
Bitter Coffee Park pernah menulis tentang Islam Nusantara dimana menurut Bitter Coffee Park Islam Nusantara atau bisa juga disebut model Islam Indonesia merupakan suatu wujud empiris Islam yang dikembangkan di Nusantara setidaknya sejak abad ke-16, sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, interpretasi, dan vernakularisasi terhadap ajaran dan nilai-nilai Islam yang universal, yang sesuai dengan realitas sosio-kultural Indonesia.

Istilah ini secara perdana resmi diperkenalkan dan digalakkan oleh Organisasi Islam Nahdlatul Ulama pada 2015, sebagai bentuk penafsiran alternatif masyarakat Islam global yang selama ini selalu didominasi perspektif Arab dan Timur Tengah.

Islam Nusantara didefinisikan sebagai penafsiran Islam yang mempertimbangkan budaya dan adat istiadat lokal di Indonesia dalam merumuskan fikihnya.

Pada Juni 2015, Presiden Joko Widodo telah secara terbuka memberikan dukungan kepada Islam Nusantara, yang merupakan bentuk Islam yang moderat dan dianggap cocok dengan nilai budaya Indonesia.

Penyebaran Islam di Indonesia adalah proses yang perlahan, bertahap, dan berlangsung secara damai.
Satu teori menyebutkan bahwa Islam datang secara langsung dari jazirah Arab sebelum abad ke-9 M, sementara pihak lain menyebutkan peranan kaum pedagang dan ulama Sufi yang membawa Islam ke Nusantara pada kurun abad ke-12 atau ke-13, baik melalui Gujarat di India atau langsung dari Timur Tengah.

Pada abad ke-16, Islam menggantikan agama Hindu dan Buddha sebagai agama mayoritas di Nusantara. 

Islam tradisional yang pertama kali berkembang di Indonesia adalah cabang dari Sunni Ahlus Sunnah wal Jamaah, yang diajarkan oleh kaum ulama, para kyai di pesantren.

Model penyebaran Islam seperti ini terutama ditemukan di Jawa.

Beberapa aspek dari Islam tradisional telah memasukkan berbagai budaya dan adat istiadat setempat.
[Baca: Islam Nusantara]

Islam Nusantara:
Menurut Mohammad Kanedi
Apakah Islam Nusantara adalah sekte Islam yang baru?

Bukan!
Sekte dalam Islam sudah ada sebelum Islam masuk Indonesia. Islam Nusantara adalah Islam yang berkembang sesuai dengan kedaan alam dan budaya nusantara.

Jika orang Islam Arab terbiasa makan daging dan gandum serta kurma, maka orang Islam di nusantara makan nasi, ikan, dan pisang. Karena makanan pokok orang Indonesia adalah nasi maka zakat fitrah orang Islam nusantara dibayar menggunakan beras, bukan gandum atau kurma.

Mayoritas muslim nusantara adalah keturunan ras Mongoloid yang miskin rambut facial, karena itu pria muslim nusantara umumnya tampil dengan wajah klimis, tanpa jenggot panjang dan lebat.

Jadi, kalau budaya dan keadaan alam nusantara tidak boleh dijadikan pertimbangan dalam beribadah dan beramal, maka Islam bukanlah agama yang rahmatan lil alamin.

Jika Islam harus diimplementasikan sesuai dengan tuntutan keadaan lingkungan alam dan tradisi suku-suku yang hidup di gurun pasir Timur Tengah abad ke-6 M, itu artinya Islam bukanlah agama untuk seluruh alam dan manusia. Tetapi, hanya untuk orang-orang Arab saja. Gitu aja kok repot!
BL, 28 April 2019
☆☆☆☆☆

Jika Sahabat Bitter Mati Dan Pergi Ke Neraka Karena Ateisme Sahabat Bitter, Apakah Sahabat Bitter Akan Menyesalinya?

March 24, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Jika Sahabat Bitter Mati Dan Pergi Ke Neraka Karena Ateisme Sahabat Bitter, Apakah Sahabat Bitter Akan Menyesalinya?
Bitter Coffee Park teringat dengan percakapan salah satu ulama yang bernama Mufti Menk.

Berikut Cerita Mufti Menk
Suatu hari ketika Mufti Menk sedang duduk di dalam pesawat udara, dan Mufti Menk sangat sering berpergian dengan pesawat, ada seorang Atheis yang duduk di samping Mufti Menk, Mufti Menk dan Atheis berbicara tentang keyakinan, lalu Atheis itu berkata:
Kalian Muslim adalah orang-orang jahat!!!

Mufti Menk katakan : 
Tidak...!
Orang-orang yang tidak baik itu ada di setiap agama, bukan cuma Islam, lalu apa maksud mu bertanya seperti itu ?

Lalu orang atheis pun menjawab:
Setiap Muslim itu jahat, anda mengimani Al Qur’an kan????

Mufti Menk pun menjawab:
Ya tentu kami mengimani nya...

Lalu atheis tersebut berkata:
Al Qur’an itu mengajarkan kejahatan karena semua orang non-Muslim katanya masuk neraka, itu ajaran yang sangat jahat, otak kalian dipenuhi dengan kebencian !

Lalu Mufti Menk pun menjawab 
Kawan, kamu tidak percaya dengan adanya neraka, lalu kenapa kamu marah-marah kepada hal yang tidak kamu yakini?

Bitter Coffee Park rasa pertanyaan-pertanyaan seputar surga, neraka kepada atheis tidak ada guna nya karena hanya membuang-buang waktu.

Kita harus bisa membedakan mana yang orang yang belum mau percaya dengan orang yang tidak mau percaya.

Contohnya jika kita menceritakan hal-hal yang tidak bisa di lihat seperti Jin, hantu atau apapun sebutan nya kepada orang yang belum mau percaya maka mereka tidak akan mempercayainya sebelum mereka melihat sendiri Jin atau hantu tersebut.

Beda halnya dengan seseorang yang tidak mau percaya dan jika dia pun menyaksikan sendiri dengan kedua matanya maka dia tetap tidak mempercayai nya dengan beribu argumen yang di milikinya.

Apalagi urusan seperti akhirat yang memang pribadi masing-masing yang akan menyaksikannya karena seorang yang telah mati tidak bisa memberitahu kan ada apa setelah kematian itu.

Intinya semua orang di dunia pasti matidan mereka akan menyaksikan sendiri seperti apa akhirat itu.

Akhirat Dan Agama Berdasarkan Kelogikaan Yang Berkembang Saat Ini.
Konsep akhirat itu masih banyak perdebadkannya. Bitter Coffee Park sendiri masih bingung soal itu.

Dalah satu penjelasan yang mudah soal akhirat dan atheisme itu adalah Pascal’s Wager

Baca Juga:
Pascal’s wager itu sederhana, seperti ini penjelasannya:
  1. Kalau tuhan itu ada, maka Theis (orang beragama) akan mendapatkan keuntungan, seperti masuk surga. Pada lain pihak, Atheis akan merugi, seperti, masuk neraka.
  2. Kalau tuhan itu tidak ada, maka theis akan merugi sedikit, seperti rugi waktu yang dipakai untuk ibadah, rugi tidak melakukan kegiatan yang dilarang. Nah, Atheis yang merasa untung karena melakukan semua yang theis tidak lakukan. Tapi, kan semuanya sudah mati, jadi untung rugi masalah dunia tidak terlalu bermasalah.
  3. Kalau dilihat dari perbandingan ini, pilihan untuk percaya kalau Tuhan itu ada memberikan keuntungan yang jauh lebih besar daripada sebaliknya kan?
  4. Kalau percaya tuhan itu ada dan kita taat, kita bisa masuk surga dan dapat kebahagiaan selamanya. kalau ternyata memang tidak ada, kita cuma rugi pengalaman duniawi saja.
Tapi masalah besarnya adalah....
Tuhan mana yang benar-benar ada?
Menurut wikipedia, di dunia ini ada 4200 sistem kepercayaan, yang percaya berbagai macam Tuhan. 

Sampai saat ini kita hanya yakin kalau agama yang kita pegang itu yang benar. 

Tapi belum ada fakta apa pun yang mendukung bahwa agama yang kita peganglah yang benar. 

Hal ini juga mencakup Islam dan Kristen (Penganut terbanyak di Indonesia dan di dunia).

Sekarang bayangkan kita sudah taat ke ajaran agama kita masing-masing. Kemudian kita meninggal.

Kemudian kita menantikan apakah akhirat itu ada atau tidak. 

Kemudian, kita terbangun di suatu tempat. 

Kita sudah tenang dan senang dengan fakta bahwa akhirat itu ada. 

Kemudian, pintu akhirat pun terbuka.
Kreeeet….. bang!….
Kemudian Odin menampakan wajahnya.

Pada akhirnya kita pun masuk ke neraka, karena kita percaya pada Tuhan yang salah.

Akhirat itu urusan di akhirat. 

Daripada merisaukan urusan akhirat, lebih baik melakukan yang terbaik di dunia ini, baik theis atau atheis.

Kita semua ini hampir 100% atheis, bedanya kalau atheis 100% tidak percaya tuhan. 

Sedangjan kalau theis masih percaya 1/4200 tuhan (99.97% atheis).

Kesimpulannya Diakhir Nantinya
Penyesalan setelah mati tidak ada gunanya.

Penyesalan setelah masuk neraka tidak bisa me rubah nya. memang anda akan menyesal,(gimana tidak menyesal kalo di siksa)

Semua orang akan menyesal setelah masuk neraka.
Terus apa gunanya? 
Kalo neraka dan surga for eternity?
☆☆☆☆☆

Benarkah Kita Menganut Agama Itu Karena Warisan?

March 10, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Benarkah Kita Menganut Agama Itu Karena Warisan?
Agama adalah sebuah koleksi terorganisir dari kepercayaan, sistem budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dengan tatanan/ perintah dari kehidupan.
Baca Juga:
Banyak agama memiliki narasi, simbol, dan sejarah suci yang dimaksudkan untuk menjelaskan makna hidup dan/ atau menjelaskan asal usul kehidupan atau alam semesta.

Dari keyakinan mereka tentang kosmos dan sifat manusia, orang memperoleh moralitas, etika, hukum agama atau gaya hidup yang disukai.

Banyak agama yang mungkin telah mengorganisir perilaku, kependetaan, definisi tentang apa yang merupakan kepatuhan atau keanggotaan, tempat-tempat suci, dan kitab suci.

Praktik agama juga dapat mencakup ritual, khotbah, peringatan atau pemujaan tuhan, dewa atau dewi, pengorbanan, festival, pesta, trance, inisiasi, jasa penguburan, layanan pernikahan, meditasi, doa, musik, seni, tari, masyarakat layanan atau aspek lain dari kebudayaan manusia.

Agama itu mungkin mengandung mitologi.

Beragama belum tentu memiliki Tuhan Gaib. Beragama bisa jadi bertuhankan Materi.

Ketika seseorang menemukan Ketenangan Batin dalam Kespiritualannya, maka disitulah letak keimanannya.

Agama Seseorang belum bisa di pastikan hanya dengan apa yang ada di dalam Identitas KTP mereka. Tapi, agama itu bagian dari budaya gaya hidup seseorang yang dimulai dari adat kebiasaannya sendiri.

Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk meyakini apa yang kita yakini. Begitu juga terhadap orang tua maupun anak kita.

Setiap Orang Tua akan memperkenalkan keagamaanya kepada anak-anaknya, karena pada dasarnya Orang Tua ingin memberikan yang terbaik buat anaknya menutur dirinya.

Tapi, ketika seorang anak itu tumbuh dewasa dan menemukan sesuatu yang membentuk Kespiritualan pada dirinya. Maka… disitulah dia akan menentukan Agama yang di yakininya.
Seperti Kisah Nabi Ibrahim A.s yang menentang Keyakinan Yang di yakini Bapaknya hingga akhirnya dia terusir/ diusir oleh Bapaknya.
Baca Juga
  1. Dakwah Islamiyah Yang Relevan Di Ponpres
  2. Mengenal Sholat Sebagai Rukun Islam Ke Dua
  3. Shalawat Mukhathab, Bacaan Sholawat serta Penjelasannya
  4. Shalawat Munjiyat, Bacaan Sholawat serta Penjelasannya
  5. Shalawat Nur Al Anwar, Bacaan Sholawat serta Penjelasannya 
  6. Sholawat Al Nuraniyah atau Badawi Kubro, Bacaan Shalawat serta
  7. Sholawat Al-Fatih, Bacaan Shalawat serta Penjelasannya
  8. Sholawat Ibrahimiyah, Bacaan Shalawat serta Penjelasannya 
  9. Sholawat Nabi: Pengertian & Dalil-Dalil Berkenaan dengan Sholawat
  10. Sholawat Nariyah, Bacaan Shalawat serta Penjelasannya -
  11. Sholawat vs Shalawat, Mana yang Benar Penulisannya? 
Baca Juga:
  1. Cadar Bukan Urusan Iman atau Agama
Baca Juga:
  1. Alasan Kerennya Jadi Santri
  2. Dakwah Ala Santri Nusantara
  3. Dakwah Islamiyah Yang Relevan Di Ponpres
  4. Identitas Santri Dengan Karakter Yang Ramah
  5. Ideologi Santri Nusantara
  6. Kewaskitaan Organisasi Para Santri
  7. Memerangi Kemunafikan Ala Santri
  8. Santri Tidak Boleh Berbuat Sekehendaknya
  9. Sikap Santri Di Era Generasi Millenial
  10. Tantangan Dakwah Santri Zaman Mellennial
Baca Juga:
  1. Aliran Kejawen Sapto Darmo
  2. Islam Kejawen Dan Sanepanan Ajaran Islam
  3. Islam Nusantara
  4. Tahlil Itu Kebudayaan Islam Nusantara
Baca Juga:
  1. Ajian Mantra Jawa (Spiritual Jawa) 
  2. Antara Ilmu Debus Dan Ilmu Kanuragan 
  3. Beda Spiritual Dengan Paranormal 
  4. Ilmu Betara Karang
  5. Ilmu Pengasihan Jawa 
  6. Ilmu Santet Banaspati 
  7. Kesurupan Dan Cara Menanganinya 
  8. Kesurupan Nyai Sekar Arum Melati 
  9. Perkembangan Paranormal (Dukun/ Orang Pintar) Di Era Milenial
  10. Permainan Tradisional Supranatural Jelangkung 
  11. Pertarungan Ilmu Hitam Dan Putih 
  12. Pesan Nyi Sekar Arum Melati Untuk Gunung Merapi
[Baca: Perkembangan Paranormal (Dukun/ Orang Pintar) Di Era Milenial]
☆☆☆☆☆

Mengapa Atheisme Dilarang Di Indonesia?

March 10, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Mengapa Atheisme Dilarang Di Indonesia?
Sebelumnya kita harus berpedoman pada Pancasila yaitu Sila Ke-1:
Ketuhanan Yang Maha Esa
Sebelum mengulas, kita harus mengetahui dulu perbedaa Dilarang dan Tidak Diakui terlebih dahulu.
  • Dilarang berarti Tidak Dibolehkan.
  • Tidak Diakui berarti tidak disahkan keberadaanya.
Perbedaan Dilarang dan Tidak Diakui adalah:
  • Tidak Diakui belum tenti dilarang, sedangkan Dilarang sudah pasti diakui.
Definisi Atheisme Di Indonesia
Atheisme adalah sebuah pandangan filosofi yang tidak memercayai keberadaan Tuhan dan dewa-dewi ataupun penolakan terhadap teisme. Dalam pengertian yang paling luas, ia adalah ketiadaan kepercayaan pada keberadaan dewa atau Tuhan.

Batasan dasar pemikiran ateistik yang paling luas adalah antara ateisme praktis dengan ateisme teoretis. Bentuk-bentuk ateisme teoretis yang berbeda-beda berasal dari argumen filosofis dan dasar pemikiran yang berbeda-beda pula.
Baca Juga:
Sebaliknya, ateisme praktis tidaklah memerlukan argumen yang spesifik dan dapat meliputi pengabaian dan ketidaktahuan akan pemikiran tentang tuhan/ dewa.

Para atheis seperti Sam Harris berargumen bahwa kebergantungan agama Barat pada otoritas Yang Di Atas berkontribusi pada otoritarianisme dan dogmatisme. 

Sebenarnya pula, fundamentalisme agama dan agama ekstrinsik (agama dipeluk karena ia lebih menguntungkan) berkorelasi dengan otoritarianise, dogmatisme, dan prasangka.

Argumen ini, bersama dengan kejadian-kejadian historis seperti Perang Salib, Inkuisisi, dan penghukuman tukang sihir, sering digunakan oleh para atheis yang antiagama untuk membenarkan pandangan mereka.

Jadi, Atheisme di Indonesia tidak dilarang namun yang benar adalah tidak diakui keberadaannya oleh Negara. 

Akan tetapi, praktek atheisme sudah ada dan menggunakan Agama hanya sebagai kedok menutupi Praktik Atheisme mereka.
Pada bulan Juli 2012, Ketua Mahkamah Konstitusi Indonesia, Mahfud MD, dilaporkan telah melegalkan ateisme di Indonesia menyusul pernyataannya yang menyebut:
Keberadaan penganut ateis dan komunis di Indonesia diperbolehkan. Hal tersebut mengacu pada konstitusi bahwa kebebasan harus dianggap setara.
Mahfud bagaimanapun juga membantah hal ini, namun mengungkapkan bahwa jika seseorang atau kelompok mengaku komunis atau ateis, mereka tidak bisa dihukum, karena yang dilarang oleh negara adalah menyebarkan ajaran komunis dan paham ateis, sebab bertentangan dengan Pancasila.
Sumber:
Ateisme di Indonesia - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Baca Juga
  1. Dakwah Islamiyah Yang Relevan Di Ponpres
  2. Mengenal Sholat Sebagai Rukun Islam Ke Dua
  3. Shalawat Mukhathab, Bacaan Sholawat serta Penjelasannya
  4. Shalawat Munjiyat, Bacaan Sholawat serta Penjelasannya
  5. Shalawat Nur Al Anwar, Bacaan Sholawat serta Penjelasannya 
  6. Sholawat Al Nuraniyah atau Badawi Kubro, Bacaan Shalawat serta
  7. Sholawat Al-Fatih, Bacaan Shalawat serta Penjelasannya
  8. Sholawat Ibrahimiyah, Bacaan Shalawat serta Penjelasannya 
  9. Sholawat Nabi: Pengertian & Dalil-Dalil Berkenaan dengan Sholawat
  10. Sholawat Nariyah, Bacaan Shalawat serta Penjelasannya -
  11. Sholawat vs Shalawat, Mana yang Benar Penulisannya? 
Baca Juga:
  1. Cadar Bukan Urusan Iman atau Agama
Baca Juga:
  1. Alasan Kerennya Jadi Santri
  2. Dakwah Ala Santri Nusantara
  3. Dakwah Islamiyah Yang Relevan Di Ponpres
  4. Identitas Santri Dengan Karakter Yang Ramah
  5. Ideologi Santri Nusantara
  6. Kewaskitaan Organisasi Para Santri
  7. Memerangi Kemunafikan Ala Santri
  8. Santri Tidak Boleh Berbuat Sekehendaknya
  9. Sikap Santri Di Era Generasi Millenial
  10. Tantangan Dakwah Santri Zaman Mellennial
Baca Juga:
  1. Aliran Kejawen Sapto Darmo
  2. Islam Kejawen Dan Sanepanan Ajaran Islam
  3. Islam Nusantara
  4. Tahlil Itu Kebudayaan Islam Nusantara
Baca Juga:
  1. Ajian Mantra Jawa (Spiritual Jawa) 
  2. Antara Ilmu Debus Dan Ilmu Kanuragan 
  3. Beda Spiritual Dengan Paranormal 
  4. Ilmu Betara Karang
  5. Ilmu Pengasihan Jawa 
  6. Ilmu Santet Banaspati 
  7. Kesurupan Dan Cara Menanganinya 
  8. Kesurupan Nyai Sekar Arum Melati 
  9. Perkembangan Paranormal (Dukun/ Orang Pintar) Di Era Milenial
  10. Permainan Tradisional Supranatural Jelangkung 
  11. Pertarungan Ilmu Hitam Dan Putih 
  12. Pesan Nyi Sekar Arum Melati Untuk Gunung Merapi
[Baca: Perkembangan Paranormal (Dukun/ Orang Pintar) Di Era Milenial]
☆☆☆☆☆