Showing posts with label Tuhan. Show all posts
Showing posts with label Tuhan. Show all posts

Mengapa saya harus percaya pada Tuhan sedangkan tidak ada bukti konkret untuk keberadaannya?

June 02, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Mengapa saya harus percaya pada Tuhan sedangkan tidak ada bukti konkret untuk keberadaannya?
Berikut ini adalah jawaban Rajwsh Gidwani di Quora. 
Rajesh Gindwani
Rajesh Gindwani, Property Development Manager (2010-sekarang)

Siapa bilang Tuhan gak ada bukti konkret? Bukannya yang menulis di kitab kitab suci sudah menyaksikan sendiri keberadaan Tuhan itu sendiri?
Bukankah ketika Yesus naik ke langit banyak yang menyaksikan?
Atau peristiwa Isra Miraj?
Atau Vishwarupa dari Krishna disaksikan oleh beberapa pihak di berbagai tempat, antara lain oleh Arjuna di padang Kurushetra, Vyasa di hutan dan Sanjay di Hastinapura?

Lalu jika ada manusia yang telah melihat Tuhan dan mencatatnya di buku,

  • Kenapa kita tidak percaya?
  • Apa karena tidak melihat sendiri jadi tidak percaya?
  • Lalu apa anda melihat sendiri Neil Armstrong mendarat di bulan? 
  • Tapi tetap percaya dengan moon landing kan? 
  • Jika anda bisa mempercayai NASA kenapa tidak percaya pada penulis kitab suci di agama anda?
Tambahan : 
Saya tidak bertanya:

  • “Apa manusia telah mendarat di Bulan” atau 
  • “Apa manusia bisa ke Bulan” atau 
  • “Mana yang lebih efisien, mengirim manusia atau vahana antariksa ke Bulan”
Yang saya tanyakan hanya kejadian satu event saja dan pada satu masa saja:
Apa yang membuat anda di tahun 1969 yakin Neil mendarat di Bulan?
☆☆☆☆☆
3 Nasihat Sunan Kalijaga Lewat Lakon Semar
1. 
Ojo ngaku pinter yen durung biso nggoleki lupute awake dewe 
(Jangan mengaku pintar jika belum bisa mencari kesalahan diri sendiri).

2. 
Ojo ngaku unggul yen ijeh seneng ngasorake wong liyo 
(Jangan mengaku unggul jika masih senang merendahkan orang lain).

3. 
Ojo ngaku suci yen durung biso manunggal ing Gusti Allah 
(Jangan mengaku suci jika masih belum bisa menyatu dalam Gusti).

Semar sesungguhnya sudah dikenal masyarakat Jawa jauh sebelum Kanjeng Sunan Kalijaga lahir. 

Nama Semar sendiri bisa ditemukan misalnya dalam kakawin:
  1. Siwa Sogata, 
  2. Sang Hyang Nawaruci dan 
  3.  Sudamala 
(yang juga terdapat dalam relief di Candi Sukuh). 

Beliau dipahami sebagai prototipe manusia Jawa sejati, sosok paripurna yang telah menemukan jati dirinya. 

Manusia Jawa sejati adalah ia yang senantiasa sadar diri, tahu diri, 
  1. sumeleh ing pamikir (bersikap rendah hati dalam berpikir) dan 
  2. sumarah ing karep (memasrahkan seluruh keinginan pada kehendak Gusti).

Kata “Jawa” sendiri oleh para leluhur dimaknai sebagai keadaan sadar, mengerti eling, dan waspada. 

Meskipun seseorang keturunan Jawa, tetapi jika belum sadar diri dan tahu diri, oleh leluhur ia disebut “ora njowo”.

Sebaliknya, meskipun seseorang bukan keturunan Jawa, tetapi jika senantiasa sadar diri dan tahu diri, ia disebut “njowo”. 

Itu sebabnya, kendati keturunan Arab, Syekh Siti Jenar sangat dimuliakan di tanah Jawa sebab beliau adalah sosok yang telah menemukan jati dirinya. 

Melalui lakon Semar dalam kesenian wayang, Kanjeng Sunan Kalijaga, Sang Guru Agung Tanah Jawa, membabar ajaran tentang manusia jawa sejati.
Sekedar buat tambahan pengetahuan, tidak ada maksud apa-apa. 

Karena prihatin aja, sama keadaan jaman sekarang.
☆☆☆☆☆

Mengapa manusia tidak dapat melihat Tuhan?

June 02, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Mengapa manusia tidak dapat melihat Tuhan?
Pertama-tama Bitter Coffee Park akan menerangkan Definisi Tuhan pada umumnya.

Tuhan dipahami sebagai Roh Mahakuasa dan asas dari suatu kepercayaan. 

Tidak ada kesepakatan bersama mengenai konsep ketuhanan, sehingga ada berbagai konsep ketuhanan meliputi teisme, deisme, panteisme, dan lain-lain. 

Dalam pandangan teisme, Tuhan merupakan pencipta sekaligus pengatur segala kejadian di alam semesta. 

Menurut deisme
Tuhan merupakan pencipta alam semesta, namun tidak ikut campur dalam kejadian di alam semesta. 

Menurut panteisme
Tuhan merupakan alam semesta itu sendiri. 

Para cendekiawan menganggap berbagai sifat-sifat Tuhan berasal dari konsep ketuhanan yang berbeda-beda. 

Yang paling umum, di antaranya adalah:
  1. Mahatahu (mengetahui segalanya), 
  2. Mahakuasa (memiliki kekuasaan tak terbatas), 
  3. Mahaada (hadir di mana pun), 
  4. Mahamulia (mengandung segala sifat-sifat baik yang sempurna), 
  5. tak ada yang setara dengan-Nya, 
  6. serta bersifat kekal abadi. 

Penganut monoteisme 
Percaya bahwa Tuhan hanya ada satu, serta tidak berwujud (tanpa materi), memiliki pribadi, sumber segala kewajiban moral, dan hal terbesar yang dapat direnungkan.

Banyak filsuf abad pertengahan dan modern terkemuka yang mengembangkan argumen untuk mendukung dan membantah keberadaan Tuhan.

Ada banyak nama untuk menyebut Tuhan, dan nama yang berbeda-beda melekat pada gagasan kultural tentang sosok Tuhan dan sifat-sifat apa yang dimilikinya. 

Atenisme pada zaman Mesir Kuno
Kemungkinan besar merupakan agama monoteistis tertua yang pernah tercatat dalam sejarah yang mengajarkan Tuhan sejati dan pencipta alam semesta, yang disebut Aten.

Kalimat Aku adalah Aku dalam Alkitab Ibrani, dan Tetragrammaton YHVH digunakan sebagai nama Tuhan, sedangkan Yahweh, dan Yehuwa kadangkala digunakan dalam agama Kristen sebagai hasil vokalisasi dari YHVH. 

Dalam bahasa Arab
Nama Allah digunakan, dan karena predominansi Islam di antara para penutur bahasa Arab, maka nama Allah memiliki konotasi dengan kepercayaan dan kebudayaan Islam. 

Umat muslim mengenal 99 nama suci bagi Allah, sedangkan umat Yahudi biasanya menyebut Tuhan dengan gelar Elohim atau Adonai (nama yang kedua dipercaya oleh sejumlah pakar berasal dari bahasa Mesir Kuno, Aten).

Dalam agama Hindu
Brahman biasanya dianggap sebagai Tuhan monistis.

Agama-agama lainnya memiliki panggilan untuk Tuhan, di antaranya: 
  • Baha dalam agama Baha'i, 
  • Waheguru dalam Sikhisme, dan 
  • Ahura Mazda dalam Zoroastrianisme.
Konsep Ketuhanan
Banyaknya konsep tentang Tuhan dan pertentangan satu sama lain dalam hal sifat, maksud, dan tindakan Tuhan.

Telah mengarah pada munculnya pemikiran-pemikiran seperti omniteisme, pandeisme, atau filsafat Perennial, yang menganggap adanya satu kebenaran teologis yang mendasari segalanya, yang diamati oleh berbagai agama dalam sudut pandang yang berbeda-beda, maka sesungguhnya agama-agama di dunia menyembah satu Tuhan yang sama, namun melalui konsep dan pencitraan mental yang berbeda-beda mengenai-Nya.

Tidak ada kesepahaman mengenai konsep ketuhanan. 

Konsep ketuhanan dalam agama samawi meliputi definisi monoteistis tentang Tuhan dalam agama Yahudi, pandangan Kristen tentang Tritunggal, dan konsep Tuhan dalam Islam. 

Agama-agama dharma juga memiliki pandangan berbeda-beda mengenai Tuhan. 

Konsep ketuhanan dalam agama Hindu tergantung pada wilayah, sekte, kasta, dan beragam, mulai dari panenteistis, monoteistis, politeistis, bahkan ateistis. 

Keberadaan sosok ilahi juga diakui oleh Gautama Buddha, terutama Åšakra dan Brahma.
☆☆☆☆☆
Itulah tadi gambaran Tuhan secara umunya yang di ambil dari wikipedia.

Selanjutnya, mari kita kembali kepertanyaan awal,
Mengapa manusia tidak dapat melihat Tuhan?

Dalam menjawab pertanyaan ini, Bitter Coffee Park terengah dengan jawaban Mohammad Kanedi di Quora.

Betikut penjelasannya:
Saya terkesan dengan cara Cak Nun (Emha Ainun Najib) menjawab pertanyaan yang serupa dengan ini, ketika beliau menerapkan metode Plato. 

Note: 
Jawaban ini ditujukan kepada orang-orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada. 

Berikut narasinya:
Pertanyaan (Q-1): 
Sebelum alam semesta ini ada, Apa atau Siapa yang ada?
Jawaban (A-1): 
Tuhan

Pertanyaan Q-2: 
Jika saat itu yang ada hanya Tuhan, lantas dari bahan apa Tuhan membuat alam semesta (galaksi, bintang, dan planet-planet)?
Jawaban A-2: 
Dari zat Tuhan sendiri.

Pertanyaan Q-3: 
Ketika di bumi ini belum ada makhluk hidup, dari bahan apa Tuhan membuat makhluk hidup dan manusia?
Jawaban A-3: 
Dari tanah dan air.

Pertanyaan Q-4: 
Jika manusia diciptakan dari tanah (bumi), sementara bumi beserta bintang dan galaksi diciptakan dari zat Tuhan (Allah) sendiri, artinya manusia (kita) ini tidak lain adalah…..?

Kesimpulan: 
Bagi orang yang percaya bahwa Tuhan itu ada, entah Tuhan personal atau Tuhan impersonal, jika ingin melihat dan mengenal Tuhan maka lihatlah…..(alam semesta) dan kenalilah..…(diri anda sendiri).

BL, 29 Desember 2018
☆☆☆☆☆
How Do We Know God Exists?
Even on a very fundamental level, we find that throughout history there is a very strange phenomenon that people of different backgrounds, living in so many different parts of the world at different points in time, have always had this strong urge within themselves to look and to yearn for the Creator. They see that there is some power, a magnificent and merciful power that is sometimes interpreted in a mistaken way by materializing that in some form or other (i.e. idols). The basic yearning has always been there. Even in places where there is no recorded history of a particular prophet, people have yearned for a Creator. That’s what I’m referring to as an innate nature. The Arabic term is ‘fitra.’ Fitra literally translates to something that one is created with or created in accordance with this innate nature.

Is the intellect an enemy to faith?
All human faculties such as the senses including also the intellect are part and parcel of the whole process of seeking the truth. None of these by themselves will be sufficient, but as a whole, they are not really in contradiction. In fact, I would say, even more positively, that from a Muslim point of view one of the main things that make the human being distinct, one of the basic blessings that he is given by God to make him different from animals since animals can think as well, is intellect. So the intellect is a God-given gift or blessing. How could we interpret that as a challenge or antithesis of faith? This doesn’t really stand.

On the personal or individual level, one doesn’t have to venture far to realize that God does exist. Just look into yourself, you don’t have to be a scientist but if you are then you’ll appreciate more the construction of the body; how it is made up of many cells. One cell becomes a cell for sight and the other for hearing; it’s amazing. How does the brain operate? The circulatory system? The digestive system? The nervous system? Such coordination and beauty [is shown through their functioning]. This shows that these things didn’t come to be in a haphazard way, there must have been a deliberate design behind them. So if you want to find God then look into yourself. The Qur’an says, “By looking into yourselves, you will find evidence to the presence and powers of God.”

In another verse it even says, “Do they not reflect in their own minds?” (Al-Rum 30:8) In fact, if one really divorces himself from any prejudice caused by societal pressures one way or the other, or the worship of science as the ultimate thing, if one utilizes science in the proper way, you wouldn’t have to look at the body as a whole, just start analyzing one single organ and see how it works. Like some scientists would tell you that in order to duplicate the digestive system you’d need a huge laboratory and still it wouldn’t operate as efficiently as a naturally created organ would such as the stomach. We have acids in our stomachs that can erode metal but it doesn’t hurt us. How could that be haphazard? If one aspect of that was developed by chance would everything else falling in line and falling together also happen by chance?

The Environment and Cosmic Order
Let’s move on to beyond ourselves, to find further evidence, the Qur’an also implores people to consider and to think. Take one aspect that many people think about today as very fashionable, like the ecological balance for example. Many people would take that as very clear evidence again that there is a design in this universe; vegetation as it relates to animal life and to human life; and the various atmospheric layers that we have. Everything is put together to sustain human life. If you look into the Qur’an, you find this mentioned. In one verse, in the Qur’an, it says, “God created everything in exact proportion.” (Al-Nahl 16:25) This is a very important term “in exact proportion” it’s not just that He created but that there is a deliberate design behind putting all of these things together.

In another verse, when people look at the whole scheme of creation, it says, “Were they created from nothing or are they themselves the creators?” No one claims that he’s created from nothing nor can he claim that he is the creator [of the heavens and earth]. Then the verse continues, “Or did they create the heavens and earth?” No one claims that. Then it says, “Nay but they see not.” (Al-Tur 52: 35-36) So the science is there. It’s whether we apply it in the right place and in the proper way or not that makes the difference.

Finally, if you move into what I would call the third circle, not just looking into ourselves or the environment around us but looking into the whole cosmic order, again there is a design. The planets. The solar system. The way everything is coordinated. The distance between the sun and the earth, which if decreased may burn everything and if decreased everything would freeze. This is all deliberate. The succession of day and night, the circulation or changes of seasons, which has very important relevance to the lives of the people, to vegetation, and to animal life; all of these beautiful things that we are in awe at in the universe, we look at them with great admiration, definitely show that there is a design behind them and as is obvious any design needs a designer or creator it.

One verse in the Qur’an implores us in particular to this area and says, “Have they not reflected on the domain of the heavens and earth and what God created therein?

In another verse it also says, in the general sense of the meaning: in the creation of the heavens and earth and in the succession of day and night there are certainly signs for those who reflect. Those who remember God while standing, sitting, and laying down and ponder on the creation of the heavens and the earth, saying: Our Lord you have not created this in vain. Glory be to You. Give us salvation from the penalty of the Fire. (Aal `Imran 3: 190-191)
Our Own Limitations

In talking about the senses and the intellect or knowledge, I think anyone, even a person who does not believe in God, would admit readily that our senses are limited. Our perceptions are limited. Our sight, hearing, etc- we know that. Also, we know that our perceptions could also be deceived or they can deceive us. If you put a spoon in a glass of water, it looks crooked. A very well known phenomenon is of people traveling in the desert or in hot areas and would see in front of them a lake or a puddle of water- the mirage- but it actually does not exist. At the time it’s seen it is a reality to the person seeing it. So our perception is very useful, but it still falls short of getting to know everything.

On the other hand, science is fine. Science can resolve many issues and problems that are purely scientific- that are purely technical. Science can tell you for sure how to use technology for example to communicate sounds and pictures; this can be determined fully by science. However, there are many aspects of lives of people that are beyond science also. There is the moral aspect, there are the ethical standards, and there is the application of the fundamental principle of good and bad. As we said the [principle of good and bad] is instinctive but still needs some modifications and limitations. And we know throughout history that people have always had differences as to what exactly defines the proper ethical or moral standards. In order to resolve that problem, there must be a higher authority, God, Himself, telling us and providing us with stable standards of ethics and morality within which you can interpret various details.

Finally, and perhaps this is in my mind the most important reason, is that we know that knowledge is not only limited to science or books or perception. We know that there are certain aspects of knowledge, legitimate knowledge, which does not lend itself to any of those tools. For example, take the knowledge of the unseen. What happened in the past before history was recorded? If you wanted to get any information on that there is no recorded history. Or at least there is dispute about the recorded history. Revelation can tell you what, for example, the stories of previous prophets and what they said and what their message was.

There are issues that no matter how much you use your mind you will not be able to arrive at a final conclusion. An example of that would be the knowledge about God. You can’t feel the presence of God. You can feel the attributes of God but you can’t have full knowledge without having a prophet or messenger in receiving that revelation from God and the communication from Him to us. So, in essence, I don’t see the contradiction. Actually, they all supplement each other. They have to be simply used in the proper context.
———
Dr. Jamal Badawi is a professor at Saint Mary’s University in Halifax, Canada, where he currently teaches in the areas of management and religious studies. He is the author of several works on various aspects of Islam.
☆☆☆☆☆

Apakah Beriman Kepada Tuhan Berarti Tidak Logis?

April 14, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Apakah Beriman Kepada Tuhan Berarti Tidak Logis?
Coba kita ulangi judul kali ini:
Apakah Beriman Kepada Tuhan Berarti Tidak Logis?
Mungkin lebih tepat lagi seharusnya berjudul:
Apakah Beriman Kepada Tuhan Berarti Logis?

Pertanyaan-pertanyaan ini biasanya selalu di gunakan oleh kaum Ateis yang dimana mereka tidak dipercaya dengan adanya Tuhan. 

Karena pada dasarnya mereka cenderung menggunakan Kelogikaan mereka dalam menyikapi Hidup.

Okay...
Mari kita simak kalimat di bawah ini
Aku suka warna hijau, dan Aku tidak suka warna merah.

Kalau tidak logis. 
Hijau atau Merah hanya sebuah konsep hasil interpretasi otak terhadap radiasi elektromagnetik di panjang gelombang 495–570. 

Setiap orang menginterpretasinya berbeda-beda. 

Bahkan bagi banyak spesies lain, 'hijau' itu tidak ada. 

Menyukai sebuah konsep abstrak sama sekali tidak logis.

Tapi warna hijau memberiku ketenangan jiwa dan merah memberiku rasa amarah. 

Apakah tidak logis bila aku menyukai sesuatu yang membuatku bahagia?

Okay.....
Ateis memiliki prinsip bahwa membuktikan dulu baru percaya. 

Karena Tuhan belum dibuktikan keberadaannya bagi mereka, jadi secara kelogikaan mereka, mereka tidak percaya tentang adanya Tuhan.

Apabila seandainya jika seandainya Sahabat Bitter memiliki keyakina yang berbeda dengan Bitter Coffee Park dan kalau tiba-tiba Bitter Coffee Park berkata bahwa:
Ada planet asgard dimana ada Thor, Loki, dkk. 
Apakah Sahabat Bitter langsung percaya?
Kalau tiba-tiba Bitter Coffee park berkata bahwa ada pokemon di planet jauh disana.
Apakah Sahabat Bitter langsung percaya?

Kebanyakan orang-orang ateis terjangkit sunk cost fallacy, karena mereka sudah terlanjur percaya dan menghabiskan banyak waktu melakukan kegiatan religius dengan cara mereka. 

Bagi Bitter Coffee Park menyangkal keberadaan Tuhan berarti mereka mengakui kebodohan mereka sendiri secara tidak langsung karena telah membuang-buang waktu untuk kegiatan religius seperti berdoa (mengharap sesuatu didalam hati, bisa dibilang sebagai doa), dsb. 

Jadi....
Orang-orang ateis adalah orang yang belum lagi peer pressure dari keluarga yang akan mengasingkan mereka. 

Cost dari meninggalkan anugerah Tuhan yang begitu besar, berarti bagi Bitter Coffee Park mereka memilih untuk percaya walaupun sempat meragukan.

Catatan Kaki:

Apakah Tuhan Sebegitu Kesepiannya, Hingga Menciptakan Makhluk Hidup Untuk Dipermainkan?

February 24, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Apakah Tuhan Sebegitu Kesepiannya, Hingga Menciptakan Makhluk Hidup Untuk Dipermainkan?
Tadinya Bitter Coffee Park berpikir bahwa pertanyaan ini adalah sesuatu yang ‘nyeleneh’. 

Tetapi setelah mencari kesana-kemari menelusuri Lorong-Lorong Google Bitter Coffee Park menemukan sebuah buku yang terpajang di rak buku Amazon.com dengan design cover seperti pada gambar di ataa ini.

Pada bagian awal Bab 2 yang judulnya sama dengan judul buku, The Lonely God, ada kutipan bait pertama puisi karya James Weldon Johnson (1871–1938) yang berbunyi:
And God stepped out on space,
And He looked around and said,
“I’m lonely—I’ll make me a world.”
Dari puisi tersebut akhirnya Bitter Coffee Park mengerti pertanyaan:
Apakah Tuhan sebegitu kesepiannya, hingga menciptakan makhluk hidup untuk dipermainkan?
adalah sebuah pertanyaan serius yang sudah mengusik seorang profesor-penulis Amerika keturunan Afrika yang cukup terkenal, James Weldon Johnson, seabad yang lalu.
☆☆☆☆☆
Bitter Coffee Park tidak ingin terlalu jauh meng-clone jalan pikiran James Weldon Johnson dan sang pengarang buku Ronald L Dart, tetapi:
Bitter Coffee Park mencoba menyelami dan memahami sendiri jalan pikirian pembuat pertanyaan, tersebut.

Semua kita tahu permainan apa yang tampak pada gambar di bawah. 

Ya itu adalah permainan susun-balok, typical orang kreatif yang kesepian. 

Bayangkan, betapa ‘naif’nya permainan ini. Balok-balok (domino) disusun sedemikian rapihnya lalu dirusak (dibongkar), disusun ulang, dibongkar lagi, begitu seterusnya sampai si pemain tunggal itu merasa bosan dan lelah.
Analogi: 
Jika si pemain balok domino di atas dianalogikan sebagai Tuhan.

Balok-balok domino yang disusun, dibongkar, disusun untuk kemudian dibongkar lagi.

Hal inilah yang Bitter Coffee Park analogikan sebagai makhluk hidup, maka pertanyaan ini menemukan relevansinya secara filosofis-teologis.

Fakta
Fakta menunjukkan bahwa kehidupan ini, terlebih kehidupan manusia, sangat sulit dimengerti. 

Kesulitan memahami perjalanan hidup manusia itulah yang melahirkan prasangka bahwa Tuhan sepertinya mempermainkan ciptaanNya.

Betapa tidak, umat beragama dimintanya patuh mengikuti perintahnya. 

Anehnya meskipun orang sudah menyembahnya dengan baik agar terhindar dari murka-Nya.

Tuhan masih juga menimpakan bencana dan musibah kepada manusia tersebut.

Di bagian lain, ada kelompok orang yang terang-terangan menolak keberadaan dan kuasa Tuhan, tetapi kelompok ini justru diberikan kehidupan yang makmur, damai dan sejahtera. 

Tuhan tidak ubahnya seorang anak yang kesepian, yang melakukan permainan susun-bongkar balok domino secara suka-suka untuk mengisi waktu sepinya.

Penutup
Ketika kita menyaksikan kehidupan dan perjalanan hidup (peruntungan) manusia yang serba sulit diterka ini, wajar bila banyak filsuf-sains modern yang menolak pendapat Albert Einstein bahwa God does not play dice. Yang benar adalah Yes He does, God play dice.

Karena Dia (Tuhan) adalah Almighty Power, merupakan Absolute Creator, and Ultimate Divine Wisdom.

Jadi memang sudah seharusnya Tuhan menciptakan hal-hal yang berpasang-pasangan. 

Ada hidup-mati, susah-senang, baik-jahat, letih-gairah, miskin-kaya, mandul-subur, frigid-maniac, dll.

Karena Tuhan tidak dapat dilihat oleh ciptaannya yang ordinary

Tuhan membuat skenario-skenario yang membimbing kalbu manusia (sebelum nabi-nabi ada ataupun setelahnya) untuk mengenal rasa kesabaran, kebaikan, kepasrahan, kejujuran, letih lelah berujung bahagia, dan keimanan pada akhirnya agar umat manusia minimal dapat merasakan adanya Tuhan.

Sebelum agama turun 3500 SM, di China sudah ada Shuiren, Fuxi, dan Shennong yang mengajarkan kebajikan bertani, nelayan, memasak dengan api, dll. 

Serta Nabi Nuh, Aristoteles, Plato, Socrates dari pihak kebijaksanaan, ada Kain bin Adam, bangsa Asyur, Rabi Gamaliel II, Firaun, Nebukadnezar, Herodes, Abu Lahab, dan Abu Jahal dari kubu hati yang hitam penuh kekecewaan atas skenario Tuhan. 

Mereka semua bermunculan seiring dengan timbul tenggelamnya masalah kehidupan yang diatur Tuhan.

Dalam Al Qur’an ada tertulis:
…sampai kalian bertemu denganNya.
(Al Insiqaq 84:6)

Lalu jika Allah SWT memperlihatkan diriNya pada gunung, gunung pun akan hancur.
(Al A’raf 7:143)

Dan pada Nasrani ada kalimat:
Tidak ada seorang manusia pun pernah melihat Allah (Keluaran 33:20, Yohanes 1:18, Yohanes 4:12). 
Tidak ada orang yang memandangKu dapat hidup.
Baca Juga:
Jadi sudah seharusnya:
Sang Empunya Hak Prerogratif Alam Semesta Raya
mengombang-ambingkan cerita kehidupan, menyelaraskan positif-negatif, Untuk membimbing dan memperkenalkan diri-Nya pada mahluk ciptaan-Nya.
Baca Juga:

  1. Cadar Bukan Urusan Iman atau Agama

Baca Juga:
  1. Alasan Kerennya Jadi Santri
  2. Dakwah Ala Santri Nusantara
  3. Dakwah Islamiyah Yang Relevan Di Ponpres
  4. Identitas Santri Dengan Karakter Yang Ramah
  5. Ideologi Santri Nusantara
  6. Kewaskitaan Organisasi Para Santri
  7. Memerangi Kemunafikan Ala Santri
  8. Santri Tidak Boleh Berbuat Sekehendaknya
  9. Sikap Santri Di Era Generasi Millenial
  10. Tantangan Dakwah Santri Zaman Mellennial
Baca Juga:
  1. Aliran Kejawen Sapto Darmo
  2. Islam Kejawen Dan Sanepanan Ajaran Islam
  3. Islam Nusantara
  4. Tahlil Itu Kebudayaan Islam Nusantara
Baca Juga:
  1. Ajian Mantra Jawa (Spiritual Jawa) 
  2. Antara Ilmu Debus Dan Ilmu Kanuragan 
  3. Beda Spiritual Dengan Paranormal 
  4. Ilmu Betara Karang
  5. Ilmu Pengasihan Jawa 
  6. Ilmu Santet Banaspati 
  7. Kesurupan Dan Cara Menanganinya 
  8. Kesurupan Nyai Sekar Arum Melati 
  9. Perkembangan Paranormal (Dukun/ Orang Pintar) Di Era Milenial
  10. Permainan Tradisional Supranatural Jelangkung 
  11. Pertarungan Ilmu Hitam Dan Putih 
  12. Pesan Nyi Sekar Arum Melati Untuk Gunung Merapi
[Baca: Perkembangan Paranormal (Dukun/ Orang Pintar) Di Era Milenial]
☆☆☆☆☆