Showing posts with label Legenda. Show all posts
Showing posts with label Legenda. Show all posts

Legenda Gathotkaca (Dewanagari:घटोत्कच; IAST: Ghaá¹­otkacha)

November 17, 2019 2
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Legenda Gathotkaca (Dewanagari:घटोत्कच; IAST: Ghaá¹­otkacha) 
Gatotkaca (Dewanagari:घटोत्कच; IAST: Ghaá¹­otkacha) adalah seorang tokoh dalam wiracarita Mahabharata, putra Bimasena (Bima) atau Wrekodara dari keluarga Pandawa.

Ibunya bernama Hidimbi (Arimbi), berasal dari bangsa rakshasa.

Gatotkaca dikisahkan memiliki kekuatan luar biasa.

Dalam perang besar di Kurukshetra, ia menewaskan banyak sekutu Korawa sebelum akhirnya gugur di tangan Karna.

Di Indonesia, Gatotkaca menjadi tokoh pewayangan yang sangat populer.

Misalnya dalam pewayangan Jawa, ia dikenal dengan sebutan Gatotkoco (bahasa Jawa: Gathotkaca).

Kesaktiannya dikisahkan luar biasa, antara lain mampu terbang di angkasa tanpa menggunakan sayap, serta terkenal dengan julukan "otot kawat tulang besi".
Dalam bahasa Sanskerta, nama Ghatotkacha secara harfiah bermakna "memiliki kepala seperti kendi". Nama ini terdiri dari dua kata, yaitu ghaá¹­(tt)am yang berarti "buli-buli" atau "kendi", dan utkacha yang berarti "kepala". Nama ini diberikan kepadanya karena sewaktu lahir kepalanya konon mirip dengan buli-buli atau kendi.
Menurut versi Mahabharata, Gatotkaca adalah putra Bimasena dari keluarga Pandawa yang lahir dari seorang rakshasa perempuan bernama Hidimbi. Hidimbi sendiri merupakan raksasa penguasa sebuah hutan; tinggal bersama kakaknya yang bernama Hidimba (dalam pewayangan Jawa, ibu Gatotkaca lebih terkenal dengan sebutan Arimbi. Menurut versi ini, Arimbi bukan sekadar penghuni hutan biasa, melainkan putri dari Kerajaan Pringgadani, negeri bangsa rakshasa).

Kisah kelahiran Gatotkaca dikisahkan secara tersendiri dalam pewayangan Jawa. Namanya sewaktu masih bayi adalah Jabang Tetuka. Sampai usia satu tahun, tali pusarnya belum bisa dipotong walau menggunakan senjata apa pun. Arjuna (adik Bimasena) pergi bertapa untuk mendapatkan petunjuk dewa demi menolong keponakannya itu. Pada saat yang sama Karna, panglima Kerajaan Hastina juga sedang bertapa mencari senjata pusaka.

Karena wajah keduanya mirip, Batara Narada selaku utusan kahyangan memberikan senjata Kontawijaya kepada Karna, bukan kepada Arjuna. Setelah menyadari kesalahannya, Narada pun menemui Arjuna yang sebenarnya.

Lalu Arjuna mengejar Karna untuk merebut senjata Konta, sehingga pertarungan pun terjadi. Karna berhasil meloloskan diri bersama senjata Konta, sedangkan Arjuna hanya berhasil merebut sarung pembungkus pusaka tersebut.

Sarung pusaka Konta terbuat dari kayu mastaba yang ternyata bisa digunakan untuk memotong tali pusar Tetuka. Saat dipakai untuk memotong, kayu mastaba musnah dan bersatu dalam perut Tetuka.

Kresna yang ikut serta menyaksikannya berpendapat bahwa pengaruh kayu Mastaba akan menambah kekuatan bayi Tetuka. Ia juga meramalkan bahwa kelak Tetuka akan tewas di tangan pemilik senjata Konta.

Menurut versi pewayangan Jawa, Tetuka diasuh di kahyangan oleh Narada yang saat itu sedang digempur oleh Patih Sekipu dari Kerajaan Trabelasuket.

Patih tersebut diutus rajanya, Kalapracona untuk melamar bidadaribernama Batari Supraba. Tetuka dihadapkan sebagai lawan Sekipu. Semakin dihajar, Tetuka justru semakin kuat. Karena malu, Sekipu mengembalikan Tetuka kepada Narada untuk dibesarkan saat itu juga.

Narada menceburkan tubuh Tetuka ke dalam kawah Candradimuka, di Gunung Jamurdipa. Para dewa kemudian melemparkan berbagai jenis senjata pusaka ke dalam kawah.

Beberapa saat kemudian, Tetuka muncul ke permukaan sebagai seorang laki-laki dewasa. Segala jenis pusaka para dewa telah melebur dan bersatu ke dalam dirinya. Kemudian Tetuka bertarung melawan Sekipu dan berhasil membunuhnya dengan gigitan taringnya.

Kresna dan para Pandawa saat itu datang menyusul ke kahyangan. Kresna memotong taring Tetuka dan menyuruhnya berhenti menggunakan sifat-sifat kaum raksasa.

Batara Guru, raja kahyangan menghadiahkan seperangkat pakaian pusaka, yaitu Caping Basunanda, Kotang Antrakusuma, dan Terompah Padakacarma untuk dipakai Tetuka, yang sejak saat itu berganti nama menjadi Gatotkaca.

Dengan mengenakan pakaian pusaka tersebut, Gatotkaca mampu terbang menuju Kerajaan Trabelasuket dan membunuh Kalapracona.
Dalam versi Mahabharata, Gatotkaca menikahi Ahilawati, gadis dari Kerajaan Naga dan mempunyai anak bernama Barbarika. Dalam versi pewayangan Jawa, Gatotkaca menikah dengan sepupunya, yaitu Pergiwa, putri Arjuna. Ia berhasil menikahi Pergiwa setelah melalui perjuangan berat, yaitu menyingkirkan saingannya, bernama Laksmana Mandrakumara, putra Duryodanadari keluarga Korawa.

Dari perkawinannya dengan Pergiwa, Gatotkaca memiliki putra bernama Sasikirana, yang menjadi panglima perang Hastinapura pada masa pemerintahan Prabu Parikesit, putra Abimanyu atau cucu Arjuna.

Versi lain mengisahkan, Gatotkaca memiliki dua orang istri lagi selain Pregiwa, yaitu Suryawati dan Sumpaniwati. Dari keduanya masing-masing lahir Suryakaca dan Jayasumpena.
Gatotkaca versi Jawa adalah manusia setengah raksasa, namun bukan raksasa hutan. Ibunya adalah putri Prabu Tremboko dari Kerajaan Pringgadani. Tremboko tewas di tangan Pandu ayah para Pandawa akibat adu domba yang dilancarkan Sangkuni. Ia kemudian digantikan oleh anak sulungnya yang bernama Arimba.

Arimba sendiri tewas di tangan Bimasena pada saat para Pandawamembangun Kerajaan Amarta. Takhta Pringgadani kemudian dipegang oleh Arimbi yang telah diperistri Bima. Suksesi kepemimpinan kelak diserahkan kepada putra mereka setelah dewasa.

Arimbi memiliki lima orang adik bernama Brajadenta, Brajamusti, Brajalamadan, Brajawikalpa, dan Kalabendana.

Brajadenta diangkat sebagai patih dan diberi tempat tinggal di Kasatrian Glagahtinunu. Sangkunidari Kerajaan Hastina datang menghasut Brajadenta bahwa takhta Pringgadani seharusnya menjadi miliknya, bukan milik Gatotkaca.

Akibat hasutan tersebut, Brajadenta memberontak untuk merebut takhta dari tangan Gatotkaca yang baru saja dilantik sebagai raja.

Brajamusti yang memihak Gatotkaca bertarung menghadapi Brajadenta. Kedua raksasa tersebut tewas bersama. Roh mereka menyusup masing-masing ke dalam kedua telapak tangan Gatotkaca, sehingga menambah kesaktian keponakan mereka tersebut. Setelah peristiwa itu, Gatotkaca mengangkat Brajalamadan sebagai patih baru, dengan gelar Patih Prabakiswa.
☆☆☆☆☆☆
Kematian Gathotkaca
(Dewanagari:घटोत्कच; IAST: Ghaá¹­otkacha) 
Versi Mahabharata
Kematian Gatotkaca terdapat dalam jilid ketujuh kitab Mahabharata yang berjudul Dronaparwa, pada bagian Ghattot Kaca Badha Parwa. Ia dikisahkan gugur dalam perang di Kurukshetra pada malam hari ke-14. Perang besar tersebut adalah perang saudara antara keluarga Pandawa melawan Korawa. Mahabharata mengisahkan, sebagai seorang raksasa, Gatotkaca memiliki kekuatan luar biasa terutama pada malam hari. Setelah kematian Jayadrata di tangan Arjuna, pertempuran seharusnya dihentikan untuk sementara karena senja telah tiba. Namun Gatotkaca menghadang pasukan Korawa saat mereka dalam perjalanan menuju perkemahan mereka.

Pertempuran berlanjut; semakin malam, kesaktian Gatotkaca semakin meningkat. Banyak prajurit Korawa yang dibunuhnya. Seorang sekutu Korawa dari bangsa rakshasa bernama Alambusa maju menghadapinya. Gatotkaca menghajarnya dengan kejam karena Alambusa telah membunuh sepupunya, yaitu Irawan putra Arjuna pada pertempuran hari kedelapan. Tubuh Alambusa ditangkap dan dibawa terbang tinggi, kemudian dibanting ke tanah sampai hancur berantakan. Duryodana, pemimpin Korawa merasa ngeri melihat keganasan Gatotkaca. Ia memaksa Karna menggunakan senjata pusaka Indrastra pemberian Dewa Indra yang bernama Vasavishakti (senjata Konta menurut pewayangan Jawa) untuk membunuh raksasa itu. Semula Karna menolak karena pusaka tersebut hanya bisa digunakan sekali saja dan akan dipergunakannya untuk membunuh Arjuna. Karena terus didesak, akhirnya Karna melemparkan pusakanya ke arah Gatotkaca. Menyadari ajalnya sudah dekat, Gatotkaca memikirkan cara untuk membunuh prajurit Korawa dalam jumlah besar sekaligus sekali serang. Gatotkaca pun memperbesar ukuran tubuhnya sampai ukuran maksimal dan kemudian roboh menimpa ribuan prajurit Korawa setelah senjata pamungkas Karna menembus dadanya. Pandawa sangat terpukul dengan gugurnya Gatotkaca. Dalam barisan Pandawa, hanya Kresna yang tersenyum melihat kematian Gatotkaca. Ia gembira karena Karna telah kehilangan pusaka andalannya sehingga nyawa Arjuna dapat dikatakan aman.
Versi Jawa
Perang di Kurukshetra dalam pewayanganJawa biasa disebut dengan nama Baratayuda. Kisahnya diadaptasi dan dikembangkan dari naskah Kakawin Bharatayuddha yang ditulis tahun 1157 pada zaman Kerajaan Kadiri. Versi pewayangan mengisahkan, Gatotkaca sangat akrab dengan sepupunya yang bernama Abimanyu, putra Arjuna. Abimanyu menikah dengan Utari putri Kerajaan Wirata, setelah ia mengaku masih perjaka. Kenyataannya, Abimanyu telah menikah dengan Sitisundari putri Kresna. Sitisundari yang dititipkan di istana Gatotkaca mendengar kabar bahwa suaminya telah menikah lagi. Paman Gatotkaca yang bernama Kalabendana datang menemui Abimanyu untuk mengajaknya pulang (Kalabendana adalah adik bungsu Arimbi yang berwujud raksasa bulat kerdil tetapi berhati polos dan mulia). Hal itu membuat Utari merasa cemburu. Abimanyu terpaksa bersumpah bahwa jika dirinya memang telah beristri selain Utari, maka ia rela mati dikeroyok musuhnya di kemudian hari. Kalabendana menemui Gatotkaca untuk melaporkan sikap Abimanyu. Gatotkaca justru memarahi Kalabendana yang dianggapnya lancang mencampuri urusan rumah tangga sepupunya itu. Karena terlalu marah, Gatotkaca memukul kepala Kalabendana. Mekipun perbuatan tersebut dilakukan tanpa sengaja, namun pamannya itu tewas seketika.

Ketika perang Baratayuda meletus, Abimanyu benar-benar tewas dikeroyok para Korawa pada hari ke-13. Pada hari ke-14, Arjuna berhasil membalas kematian putranya itu dengan cara memenggal kepala Jayadrata. Duryodana sangat sedih atas kematian Jayadrata, adik iparnya sendiri. Ia memaksa Karna menyerang perkemahan Pandawa pada malam itu juga. Karna berangkat meskipun hal itu melanggar peraturan perang. Setelah tahu bahwa para Korawa melancarkan serangan malam, pihak Pandawa mengirim Gatotkaca untuk menghadang. Gatotkaca sengaja dipilih karena Kotang Antrakusuma yang ia pakai mampu memancarkan cahaya terang benderang. Gatotkaca berhasil menewaskan sekutu Korawa yang bernama Lembusa. Sementara itu dua pamannya, yaitu Brajalamadan dan Brajawikalpa, tewas di tangan musuh mereka, masing-masing bernama Lembusura dan Lembusana.

Gatotkaca berhadapan dengan Karna, pemilik senjata Kontawijaya. Ia menciptakan kembaran dirinya sebanyak seribu orang sehingga membuat Karna merasa kebingungan. Atas petunjuk ayahnya, yaitu Batara Surya, Karna berhasil menemukan Gatotkaca yang asli. Ia pun melepaskan senjata Konta ke arah Gatotkaca. Gatotkaca mencoba menghindar dengan cara terbang setinggi-tingginya. Namun arwah Kalabendana tiba-tiba muncul menangkap Kontawijaya sambil menyampaikan berita dari kahyangan bahwa ajal Gatotkaca telah ditetapkan malam itu. Gatotkaca yang pasrah terhadap takdirnya berpesan supaya mayatnya bisa digunakan untuk membunuh musuh. Kalabendana setuju, kemudian menusuk pusar Gatotkaca menggunakan senjata Konta. Pusaka itu melebur dengan sarungnya, yaitu kayu mastaba yang masih tersimpan di dalam perut Gatotkaca. Setelah Gatotkaca gugur, arwah Kalabendana melemparkan jenazahnya ke arah Karna. Karna berhasil melompat sehingga lolos dari maut.

Namun keretanya hancur berkeping-keping akibat tertimpa tubuh Gatotkaca. Pecahan kereta tersebut melesat ke segala arah dan menewaskan para prajurit Korawa yang berada di sekitarnya.

Baca Juga:
  1. Legenda 20 Huruf Jawa Dengan 20 Sifat Tuhan Di Kitab Zabur 
  2. Legenda Gathotkaca (Dewanagari:घटोत्कच; IAST: Ghaá¹­otkacha) 
  3. Legenda Gunung Kemukus 
  4. Legenda Joko Kahiman 
  5. Legenda Kyai Modjo
  6. Legenda Panakawan 
  7. Legenda Tiga Dewi Pantai Selatan 
  8. Legenda Wirasaba 
  9. Simbol Kanyon/ Gunungan Di Pewayangan 
☆☆☆☆☆

Legenda Fir'aun Di Tanah Jawa (Raja Kertajaya)

January 21, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
"Legenda Firaun Di Tanah Jawa (Raja Kertajaya)"
Fir'aun adalah gelar yang dalam diskusi dunia modern digunakan untuk seluruh penguasa Mesir kuno dari semua periode.

Dahulu, gelar ini mulai digunakan untuk penguasa yang merupakan pemimpin keagamaan dan politik kesatuan Mesir kuno, hanya selama Kerajaan Baru, secara spesifik, selama pertengahan dinasti kedelapan belas.

Untuk penyederhanaan, terdapat kesepakatan umum di antara penulis modern untuk menggunakan istilah ini untuk merujuk penguasa Mesir semua periode.

Firaun juga mengaku sebagai Tuhan.

Ketika wafat, Firaun dimakamkan bersama harta bendanya di makam berhias tulisan hieroglif, jenasahnya diawetkan dengan ramuan khusus, minyak dan garam, kemudian dibungkus dengan kain kedap udara yang diikat.

Karena Firaun dianggap sebagai wakil bangsa Mesir dihadapan para dewa, kedamaiannya di dalam kehidupan di alam baka merupakan harapan semua anggota masyarakat.

Ternyata, di zaman Kerajaan di Pulau Jawa (Wangsa Sanjaya) yaitu Kerajaan Kediri (Kerajaan Panjal "DHOHO") ada seorang Raja yang berperilaku sama seperti Fir'un di Mesir.

Raja tersebut adalah Raja Kertajaya yang ingin menjadi dewa dan di sembah oleh rakyatnya, persis seperti kisah Fir'aun yang ada di Mesir.

Kertajaya merupakan salah satu penerus raja dari Kerajaan Kediri berdasarkan Prasasti Galunggung yang dulunya adalah Kerajaan Panjalu atau lebih dikenal dengan nama Kerajaan Dhoho karena beribukotakan di desa Dhoho Kota Kediri.

Kertajaya masih keturunan dari Raja Airlangga dari Kerajaan Medang Kumala yang akhirnya memecah kerajaannya menjadi dua, yaitu:
  1. Kerajaan Jenggala
  2. Kerajaan Panjalu
Kedua kerajaan ini dipisahkan oleh Gunung Kawi dan sungai Brantas. Pembagian dua kerajaan ini dikisahkan dalam prasasti Mahasukbya, serat Calon Arang, dan kitab Negarakertagama. 
  1. Kerajaan Jenggala meliputi daerah Malang dan delta sungai Brantas dengan pelabuhannya Surabaya, Rembang, dan Pasuruhan dan ibukotanya Kahuripan. 
  2. Sementara Panjalu yang kemudian dikenal dengan nama Kediri meliputi Kediri, Madiun, dan ibu kotanya Daha. 
Dari catatan beberapa prasasti-prasasti yang ditemukan masing-masing kerajaan saling merasa berhak atas seluruh tahta Airlangga sehingga terjadilah peperangan.

Kerajaan Kediri merupakan salah satu dari beberapa kerajaan besar dan berpengaruh di nusantara. Kerajaan Kediri atau juga sering disebut Kerajaan Kadiri hadir di nusantara pada tahun 1045 M sampai tahun 1222 M.

Selama 177 tahun kekuasaannya, Kerajaan Kediri banyak memberikan warna peradaban di nusantara yang kemudian bernama Indonesia ini. Pada masa keemasannya, Kerajaan Kediri memiliki wilayah kekuasaan yang cukup luas.

Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya, Kerajaan ini meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara, bahkan sampai mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatera.
Hal ini diperkuat kronik Cina berjudul Ling wai tai ta karya Chou Ku-fei tahun 1178, bahwa pada masa itu negeri paling kaya selain Cina secara berurutan adalah Arab, Jawa, dan Sumatera. Saat itu yang berkuasa di Arab adalah Bani Abbasiyah, di Jawa ada Kerajaan Kediri, sedangkan Sumatera dikuasai Kerajaan Sriwijaya.

Raja-Raja Kerajaan Kediri Berdasarkan Prasasti yang Ditemukan:
  1. Sri Samarawijaya, putra Airlangga namanya ditemukan dalam prasasti Pamwatan (1042).
  2. Sri Jayawarsa, berdasarkan prasasti Sirah Keting (1104). Tidak diketahui dengan pasti apakah ia adalah pengganti langsung Sri Samarawijaya atau bukan.
  3. Sri Bameswara, berdasarkan prasasti Padelegan I (1117), prasasti Panumbangan (1120), dan prasasti Tangkilan (1130).
  4. Sri Jayabhaya, merupakan raja terbesar Panjalu, berdasarkan prasasti Ngantang (1135), prasasti Talan (1136), dan Kakawin Bharatayuddha (1157).
  5. Sri Sarweswara, berdasarkan prasasti Padelegan II (1159) dan prasasti Kahyunan (1161).
  6. Sri Aryeswara, berdasarkan prasasti Angin (1171).
  7. Sri Gandra, berdasarkan prasasti Jaring (1181).
  8. Sri Kameswara, berdasarkan prasasti Ceker (1182) dan Kakawin Smaradahana.
  9. Sri Kertajaya, berdasarkan prasasti Galunggung (1194), Prasasti Kamulan (1194), prasasti Palah (1197), prasasti Wates Kulon (1205), Nagarakretagama, dan Pararaton.
Sayang sekali, selepas kepemimpinan raja Jayabaya, Kediri mengalami kemunduran. Masa pimpinan raja Kertajaya, kejayaan Kediri runtuh. Keruntuhan ini karena adanya pertentangan dengan kaum Brahman. 

Brahmana menganggap Kertajaya telah melanggar agama dan memaksa meyembahnya sebagai dewa. 

Kaum Brahmana meminta perlindungan Ken Arok seorang akuwu dari Tumapel. Perselisihan ini semakin memuncak, dan ditandai dengan pertempuran di Desa Ganter (1222 M).

Dalam pertempuran ini Kertajaya dikalahkan Ken Arok dan pada masa inilah kejayaan kerajaan Kediri berakhir. 

Namun masa ini belumlah benar-benar berakhir. Kediri masih bisa kembali bangkit dibawah pimpinan Raja Jayakatwang. 

Namun kebangkitan ini tidaklah lama, karena setelah Jayakatwang dikalahkan oleh tentara Mongol dan pasukan Raden Wijaya, dari kerajaan Singasahri, Kediri benar-benar hancur dan tidak pernah terdengar beritanya.
Baca Juga:
  1. Dinasti Sanjaya (Candi Prambanan) 
  2. Kerajaan Medang 
Baca Juga:
  1. Dibalik Kisah Legenda Dinasti Sanjaya Dan Dinasti Syailendra
  2. Legenda Fir'aun Di Tanah Jawa (Raja Kertajaya)
  3. Peristiwa Mahapralaya (Pesetruan Jawa Dan Sumatera Selama 11-Abad)
  4. Suku Jawa (Dinasti Sanjaya) Dan Jawa Dwipa, Negerei Para Dewa
☆☆☆☆☆

Mitos Perempuan Mati Beranak (Kuntilanak)

October 20, 2018 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Mitos Perempuan Mati Beranak (Kuntilanak)
Kuntilanak (bahasa Melayu: Pontianak atau Puntianak, atau sering disingkat kunti) adalah hantu yang dipercaya berasal dari perempuanhamil yang meninggal dunia atau wanita yang meninggal karena melahirkan dan anak tersebut belum sempat lahir. Nama "puntianak" merupakan singkatan dari "perempuan mati beranak". Mitos ini mirip dengan mitos hantu langsuir yang dikenal di Asia Tenggara, terutama di nusantara Indonesia. Mitos hantu kuntilanak sejak dahulu juga telah menjadi mitos yang umum di Malaysia setelah dibawa oleh imigran-imigran dari nusantara.

Kota Pontianak mendapat namanya karena konon Abdurrahman Alkadrie, pendiri Kesultanan Pontianak, diganggu hantu ini ketika akan menentukan tempat pendirian istana.

Umumnya, kuntilanak digambarkan sebagai wanita cantik berambut panjang dan berbaju panjang warna putih. Dalam cerita rakyatMelayu, sosok kuntilanak digambarkan dalam bentuk wanita cantik dengan punggung berlubang. Kuntilanak digambarkan senang meneror penduduk kampung untuk menuntut balas. Kuntilanak sewaktu muncul selalu diiringi harum bunga kemboja. Konon laki-laki yang tidak berhati-hati bisa dibunuh sesudah kuntilanak berubah wujud menjadi penghisap darah. Kuntilanak dikatakan sering menjelma sebagai wanita cantik yang berjalan seorang diri dijalan yang sunyi. Oleh karena itu, cerita ini kemungkinan bertujuan menghindari golongan wanita daripada diganggu oleh pemuda-pemuda yang takut akan Kuntilanak ketika berjalan seorang diri di jalan yang sunyi.

Dalam cerita seram dan film horor di televisi Malaysia, kuntilanak digambarkan membunuh mangsa dengan cara menghisap darah di bagian tengkuk, seperti vampir.

Agak berbeda dengan gambaran menurut tradisi Melayu, kuntilanak menurut tradisi Sunda tidak memiliki lubang di punggung. Jenis yang memiliki lubang di punggung sebagaimana deskripsi di atas disebut Sundel Bolong. Kuntilanak konon juga menyukai pohon tertentu sebagai tempat "bersemayam", misalnya waru yang tumbuh condong ke samping (populer disebut "waru doyong").

Berdasarkan kepercayaan dan tradisi masyarakat Jawa, kuntilanak tidak akan mengganggu wanita hamil bila wanita tersebut selalu membawa paku, pisau, dan gunting bila bepergian ke mana saja. Hal ini menyebabkan seringnya ditemui kebiasaan meletakkan gunting, jarum dan pisau di dekat tempat tidur bayi.

Menurut kepercayaan masyarakat Melayu, benda tajam seperti paku bisa menangkal serangan kuntilanak. Ketika kuntilanak menyerang, paku ditancapkan di lubang yang ada di belakang leher kuntilanak. Sementara dalam kepercayaan masyarakat Indonesia lainnya, lokasi untuk menancapkan paku bisa bergeser ke bagian atas ubun-ubunkuntilanak.

Di dalam kepercayaan agama samawi (Islam, Nasrani/kristen, yahudi) Kuntilanak termasuk dari golongan Jin Kafir/Syaitan. Di dalam Islam Kuntilanak termasuk golongan jin dari Jenis Haffaf (jin yang suka mengganggu dan menakut-nakuti manusia) dan arwah (Jin yang mengaku-ngaku sebagai orang yang telah tiada). Dan adapun cara menangkal menurut agama-agama samawi yaitu dengan cara berdo'a terlebih dahulu sebelum berpergian. Selalu mengingat Sang Pencipta sesuai kepercayaan masing-masing. Contoh di dalam Islam yang selalu mengajarkan berdo'a sebelum berpergian, selalu mengingat Allah SWT. Kuntilanak akan lari jika mendengar suara adzan,dan kuntilanak yang menampakkan diri bisa di lukai karena masuk ke alam manusia maka berlakulah hukum manusia.Selalu beribada dan mengikuti perintah Allah SWT serta mengikuti Sunnah Rasulullah SAW.

Adapun cara menangkal jin dalam islam seperti yang ada di dalam Hadist

dan Alqur'an..

"...Pagi berikutnya Rasulullah saw berkata, ’Apa yang dilakukan tawananmu semalam?’ Aku menjawab, ’Ia mengajariku beberapa kalimat dengan itu Allah akan memberi keuntungan padaku, sehingga aku biarkan dia pergi.’ Ketika Nabi saw menanyakan kalimat apa itu, aku mengatakan kepadanya saw bahwa itu adalah ayat kursi untuk dibaca sebelum pergi tidur. Aku juga mengatakan pada dia bahwa orang itu berkata bahwa seorang penjaga dari Allah akan mendampingiku dan setan tidak akan mendekatiku sampai aku bangun di pagi hari.’

Nabi saw berkata,’Sesungguhnya ia berkata benar, meskipun ia seorang pembohong yang terpaksa. Wahai Abu Hurairoh!tahukah kamu dengan siapa engkau berbicara pada tiga malam lalu itu?’ Aku menjawab,’tidak.’ Dia saw menjawab,’Itu adalah jin dari golongan setan.” (HR. Bukhori)

”Jangan jadikan rumahmu seperti kuburan, sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang selalu dibacakan didalamnya surat Al Baqoroh.” (HR. Muslim)
☆☆☆☆☆

Penglaris Pocong

October 20, 2018 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Penglaris Pocong
Meski di era modern yang serba digital namun masih banyak masyarakat Indonesia yang percaya dengan hal-hal gaib.

Sayangnya sebagian orang menggunakan hal-hal gaib tersebut prakteknya menyimpang dari agama.

Bahkan ada yang menggunakan untuk memperkaya diri dan menguntungkan diri sendiri.
Sahabat Bitter pernah mendengar tentang pesugihan? 
Atau penjual yang menggunakan penglaris untuk dagangannya?
Percaya tidak percaya, praktek penggunaan penglaris untuk dagangan ini ternyata masih banyak dipraktekkan oleh masyarakat.

Menurut keyakinan yang beredar di masyarakat konon penglaris ini merupakan sebuah perjanjian yang dilakukan antara manusia dan golongan jin agar dagangannya menjadi laris.

Biasanya praktek penglaris ini dilakukan oleh pedagang makanan.

Menurut kepercayaan yang beredar di masyarakat pedagang yang menggunakan penglaris konon makanan yang dijajakan akan memiliki rasa yang enak dan membuat pelanggan berdatangan.

Ternyata di Indonesia ilmu penglaris ada banyak jenisnya.

Ada yang menggunakan jimat, namun ada juga yang mendatangkan makhluk halus.

Satu diantara penglaris yang terkenal yakni dengan menggunakan hantu pocong.

Penglaris pocong merupakan satu diantara bentuk penglaris yang banyak digunakan oleh restoran, warung hingga kios pinggir jalan.

Pengertian Hantu Pocong
Pocong adalah sejenis hantu yang berwujud guling. Di Indonesia, hantu semacam ini dikenal pula sebagai hantu bungkus.

Penggambaran Hantu Pocong
Dikatakan, pocong memiliki wajah berwarnah hijau dengan mata yang kosong. 

Penggambaran lain menyatakan, pocong berwajah rata dan memiliki lubang mata berongga atau tertutup kapas dengan wajah putih pucat. 

Mereka yang percaya akan adanya hantu ini beranggapan, pocong merupakan bentuk protes dari si mati yang terlupa dibuka ikatan kafannya sebelum kuburnya ditutup. 

Meskipun di film-film pocong sering digambarkan bergerak melompat-lompat, mitos tentang pocong malah menyatakan pocong bergerak melayang-layang. 

Hal ini bisa dimaklumi, sebab di film-film pemeran pocong tidak bisa menggerakkan kakinya sehingga berjalannya harus melompat-lompat. 

Keadaan ini pula yang menimbulkan suatu pernyataan yang biasa dipakai untuk membedakan pocong asli dan pocong palsu di masyarakat:

Kepercayaan akan adanya hantu pocong hanya berkembang di Indonesia, terutama di Jawa dan Sumatera. 

Walaupun penggambarannya mengikuti tradisi muslim, umat beragama lain pun ternyata dapat mengakui eksistensi hantu ini.

Cerita Pocong Diberbagai Daerah
Di berbagai daerah di Indonesia sendiri ada beberapa versi pocong yang terbentuk dari kepercayaan-kepercayaan dalam kehidupan sosial masyarakat. 
Pocong Plastik
Salah satunya adalah yang pocong plastik yang konon pernah menggegerkan warga Jakarta. 
Cerita tentang pocong plastik ini muncul dari kisah seorang wanita hamil yang dibunuh pacarnya. 
Ketika sedang diotopsi dirumah sakit, mayat wanita itu terus mengucurkan darah, sehingga pihak rumah sakit memutuskan untuk membungkusnya dengan plastik. 
Warga percaya bahwa kemunculan pocong ini karena arwah dari wanita itu ingin dibukakan ikatan plastik pada jasadnya.
Andong Pocong
Lain cerita di daerah Sidoarjo, Jawa Timur. Ada versi penggambaran pocong dengan menaiki delman. Penduduk Sidoarjo menyebutnya sebagai andong pocong
Kisah yang disebut-sebut dengan cerita misteri hantu pocong andong ini sempat menggegerkan warga daerah Sidoarjo di tahun 2007–2008. 
Hantu pocong ini telah menghantui warga Sidoarjo hampir setiap malam dengan suara khas gemerincing delman dan suara ketukan pintu dimalam hari. 
Menurut warga setempat, asal usul hantu pocong ini adalah karena kematian dua pengantin baru yang tidak direstui dan mengalami kecelakaan saat menaiki delman. Ada pula yang mempercayai bahwa hantu ini merupakan perwujudan ilmu gaib.
Tanda-tanda Warung Memakai Penglaris Pocong
Cerita yang beredar di masyarakat seseorang yang menggunakan penglaris ini dibantu oleh makhluk halus, caranya makanan yang dia jajakan akan diludahi oleh pocong.

Ludah tersebut membuat cita rasa masakan akan menjadi lebih lezat.

Bagi orang yang tidak mengetahuinya mungkin dapat menikmatinya, namun untuk orang yang punya kemampuan melihat makhluk halus pasti akan jijik melihatnya.

Bahkan selain diludahi pocong tersebut akan mengalirkan air liurnya pada makanan tersebut.

Biasanya makanan yang memiliki kuah banyak seperti bakso, soto maupun mi ayam.

Nah bagaimana cara mengetahui ciri-ciri warung yang menggunakan penglari, betikut ini adalah Ciri-cirinya
Rasanya Beda Saat Dibawa Pulang
Makanan rasanya beda dan cenderung tidak nikmat ketika dibawa pulang. Selain itu makanan juga cepat menjadi basi.

Tanda yang lain yakni warung tersebut memiliki pelanggan yang ramai sekali meskipun tempatnya tidak memadai.

Meski begitu Anda tak bisa langsung menuduh semua warung yang ramai pengunjung menggunakan penglaris.

Pasalnya banyak juga warung yang memang cita rasanya nikmat karena bumbu dan hasil keterampilan mengolah dari kokinya sehingga tak mengherankan bila pengunjungnya begitu ramai.

Berdoa Sebelum Makan, Rasanya Berubah Total
Mungkin kamu pernah mengalami hal ini. Jadi, saat makan di satu

tempat dan langsung kita icip, rasanya benar-benar enak tak karuan. Lalu, sejurus kemudian ketika berdoa, rasanya pun jadi berbalik 180 derajat. Rasanya tak lagi senikmat sebelumnya.

Ya, ini juga harus diwaspadai sebagai indikasi sebuah tempat itu memasang jin penglaris. Kita diajarkan sejak kecil untuk selalu berdoa sesaat sebelum makan.

Alasannya salah satunya ya agar makanan yang akan kita santap terhindar dari pengaruh-pengaruh seperti ini.

Tempat Cuci Piring Biasanya Sangat Jauh
Menurut pengalaman orang-orang, tempat yang diduga memakai jasa jin penglaris biasanya punya satu tempat yang terpisah dari bangunan utama.

Biasanya tempat tersebut dipakai untuk mencuci piring. Memang tak terkesan mencurigakan, tapi ini diketahui sebagai cara agar jin penglaris bisa bekerja dengan baik.

Jin, kadang tak suka dengan tempat yang dipenuhi banyak orang dan ramai. Jadi, mereka butuh ruangan khusus. Nah, konon menurut banyak orang, di tempat cuci piring inilah jin bekerja menjilati semua piring-piring yang ada.

Diketahui hal ini dimaksudkan agar makanan jadi makin enak dan lezat. Meskipun bisa jadi indikasi, tak semua tempat makan yang tempat cuci piringnya jauh lekat dengan jin penglaris. Mungkin saja beberapa memang karena alasan lain.

Ada Satu Ruang Khusus yang Tidak Boleh Dibuka
Tempat makan yang memakai jasa jin penglaris, biasanya memiliki satu tempat khusus yang tidak boleh dibuka oleh siapa pun dengan alasan apa pun.

Pasalnya, tempat ini biasanya bakal dipakai si jin untuk tinggal, atau mungkin sebagai ruang bagi si empunya melakukan jampi-jampi.

Jadi, coba perhatikan sebuah tempat makan yang punya ruangan macam ini. Kemungkinan mereka memakai jasa jin penglaris. Tapi, biasanya cukup susah untuk menemui tempat semacam ini.

Pasalnya, letaknya sendiri memang sengaja dibikin khusus agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Memang susah dipercaya, tapi yang seperti ini sudah jadi fenomena sejak lama. Tapi, pada akhirnya, mau percaya atau tidak, semua itu kembali ke masing-masing orang.

Itulah ciri-ciri yang patut Anda ketahui, yang pasti ketika Anda akan makan pastikan membaca doa terlebih dahulu.

Sebab dari beberapa penuturan makanan tersebut akan terlihat tidak menarik dan memiliki rasa aneh ketika dibacakan doa.
☆☆☆☆☆

Jin Marid

October 20, 2018 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Jin Marid
Jin mengisi bagian yang sangat luas dari Bumi ini, baik daratan atau lautan maupun udara. Kita akan semakin mengerti hal ini manakala kita berbicara tentang jenis Jin. Persoalan ini betul-betul sangat sulit dibatasi, bahkan sulit dijelaskan. Khususnya jika kita pahami bahwa diantara Jin itu ada yang Mukmin sekalipun jumlahnya sedikit, disamping Jin kafir yang menganut berbagai mazhab sesat yang jumlahnya tidak bisa dihitung.

Dari segi warna kulit mereka, ada yang berkulit merah, putih, kuning, hitam, kuning, dan warna lain sejumlah yang dikenal manusia.

Dalam cerita rakyat Arab, suatu Marid (Arab: مارد‎), dalam mitologi umum, adalah suatu jin berkaitan dengan perairan terbuka laut dan lautan di mana ia mendapat sanctuary. Marid disebut dalam mitologi jahiliah Arab dan di sepanjang Asia dan juga dalam al-Quran, dalam Surah As-Saaffat:
Sudah tentu Kita telah menghiasi syurga terdekat dengan hiasan, bintang, dan (adanya) suatu perlindungan terhadap Syaitan yang memberontak.
Mereka adalah yang tersombong dan terangkuh juga.

Seperti hal nya jin lain, marid mempunyai kehendak bebas dan dapat dipaksa untuk melakukan kerja dari perintah manusia. 

Menurut legenda cerita rakyat, marid juga mempunyai kemampuan untuk memberikan keinginan kepada manusia, tetapi itu biasanya memerlukan pertarungan dan ritual pemujaan pemanggilan dirinya.
☆☆☆☆☆

Maqom Keramat Gunung Lawu

July 09, 2017 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Maqom Keramat Gunung Lawu
Nama asli gunung lawu adalah Wukir Mahendra
Puncak tertinggi Gunung Lawu (Puncak Argo Dumilah) berada pada ketinggian 3.265 m dpl.
Sejak Jaman Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit pada abad ke 15 hingga Kerajaan Mataram II banyak upacara spiritual diselenggarakan di Gunung Lawu.

Hingga saat ini Gunung Lawu masih mempunyai ikatan yang erat dengan Keraton Surakarta dan Keraton Yogyakarta terutama pada bulan suro, para kerabat keraton sering berziarah ke tempat-tempat keramat di Gunung Lawu.

Ada sebuah gua yang disebut Sumur Jolotundo menjelang puncak. Terdapat sebuah bangunan di sekitar Puncak Argodumilah yang disebut Hargo Dalem untuk berziarah.

Disinilah tempatnya eyang Sunan Lawu, tempat bertahtah raja terakhir Majapahit memerintahkan makhluk halus. Hargo Dalem adalah Makam Kuno tempat Mukswa sang Prabu Brawijaya.

Peziarah wajib melakukan Pesiwanan (upacara ritual) sebanyak tujuh kali untuk melihat penampakan eyang sunan lawu. Namun tidak jarang sebelum melakukan tujuh kali pendakian, peziarah sudah dapat berjumpa dengan eyang sunan lawu.

Pawom Sewu terletak didekat pos 5 Jalur Cemoro Sewu. Tempat ini berbentuk tatanan/ susunan batu yang merupai candi. Dulunya digunakan bertapa para abdi Raja Prabu Brawijaya V.

Air Terjun Gerojogan Sewu, di areal taman gerojogan disini terdapat banyak kera.

Cerita Wayang Prabu Baladewa pada saat menjelang perang Baratayudha, disuruh Kresna untuk bertapa digerojogan sewu. Hal ini untuk menghindari Baladewa ikut bertempur di medan perang, sebab kesaktiannya tanpa ada musuh yang sanggup menandinginya.

Ada juga air terjun Pringgodani, tempat bertapa Prabu Anom Gatotkaca anaknya Bima. Untuk menuju kesana melawati jalanan yang sempit dan terjal. Disini terdapat bertapaan yang juga ada sebuah kuburan yang konon merupakan kuburan Gatotkaca. Kuburan ini dikeramatkan dan banyak pejiarah yang datang. Di atasnya terdapat hutan Pringgosepi.
☆☆☆☆☆
SEJARAH KERAMMAT
DI GUNUNG LAWU
Harga Dalem diyakini Masyarakat setempat sebagai tempat Mukswa Prabu Brawijaya, Raja Majapahit yang terakhir. Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pemukswaan Ki Sabdopalon dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.

Raja Majapahit terakhir Sinuwun Bumi Nata Brawijaya Ingkang Jumeneng Kaping V memiliki salah seorang isteri yang berasal dari negeri Tiongkok bernama Putri Cempo dan memiliki Putera Raden Patah dan bersamaan dengan pudarnya Kerajaan Majapahit, jinbun Fatah mendirikan Kerajaan Islam di Glagah Wangi (Demak).

Prabu Brawijaya bersemadi dan memperoleh wisik yang pesannya:
Sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan yang baru tumbuh serta masuknya agama baru (Islam) memang sudah takdir dan tak bisa terlelakah lagi.
Prabu Brawijaya dengan hanya disertai abdinya yang setia sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton naik ke gunung lawu. sebelum sampai dipuncak dia bertemu dengan 2 orang umbul (bayan/ kepala dusun) yaitu Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia mukti dan mati mereka tetap bersama Raja.

Sampailah Prabu Brawijaya bersama 3 orang abdi di puncak Hargodalem. Saat itu Prabu Brawijaya sebelum Muksa bertitah kepada 3 orang abdinya dan mengangkat Dipa Menggala menjadi penguasa gunung lawu dan membawahi semua makhluk gaib (peri, jin dan sebagainya).

Dengan wilayah kebarat hingga ke wilaya merapi/ Merbabu, ketimur hingga gunung wilis, keselatan hingga pantai selatan dan keutara hingga dengan pantai utara.

Dengan gelar Sunan Gunung Lawu dan mengangkat wangsa Menggala menjadi patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.

Prabu Brawijaya Muksa dci Hargo Dalem, sedangkan Sabdo Palon Muksa di Puncak Harga Dumiling.

Karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya Sunan Gunung Lawu dan Kyai Jalak kemudian menjadi Makhluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.

Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat selain tiga puncak tersebut yakni:
  1. Sendang Inten, 
  2. Sendang Drajat, 
  3. Sendang Panguripan, 
  4. Sumur Jalatunda, 
  5. Kawah Candradimuka, 
  6. Repat Kepanasan/ Cakrasurya dan 
  7. Pringgodani.
☆☆☆☆☆
Catatan Tentang:
Hubungan Manusia Dengan
Mahkluk Halus
Selamatan sering diadakan untuk menghormati dan sebagai rasa terima kasih kepada roh leluhur misal upacara Bersih Desa. 

Setiap 1 Suro beberapa masyarakat gunung sering memberi sesaji keselamatan berupa kepala kerbau yang ditanam di puncak atau di kawah. 

Upacara Ritual di Gunung Bromo 
Sesaji kepada roh leluhur masyarakat Bromo terkenal dengan upacara Yadnya Kasada


Manusia juga sering memberi sesaji kepada mahkluk halus agar terhindar dari berbagai gangguan, sesaji pada umumnya berupa makanan, minuman, bunga, uang, rokok, kadang pakaian, ada juga yang memberi sesaji minuman keras yang memabokkan.

Untuk menghindari gangguan Makhluk Halus kadang manusia membuat rintangan dengan membuang buah-buahan yang berbau busuk atau bau-bauan lain yang tajam. 

Manusia juga sering minta pertolongan mahluk halus di gunung-gunung tertentu, untuk berbagai keperluan misal minta keselamatan, kekayaan, kenaikan pangkat, penglarisan, jodoh, dll. 

Mahkluk halus yang baik sering memberi pertolongan kepada pendaki gunung yang tersesat dengan menyamar menjadi binatang misalnya burung. 


Di gunung Sumbing konon pendaki yang ketinggalan temannya akan ditemani oleh sesosok orang yang sebaya dengan pakaian putih.

Ada sembilan macam mahkluk halus yang katanya, suka menolong manusia supaya menjadi kaya dengan kekayaan meterial yang berlimpah (Pesugihan).

Pemujaan terhadapkesembilan mahkluk jahat itu merupakan kesalahan fatal, mereka itu bila dilihat dengan mata biasa kelihatan seperti:
  1. Argodalem di puncak Gunung Lawu.
  2. Jaran Penoreh atau kuda yang kepalanya menoleh kebelakang
  3. Srengara Nyarap atau anjing menggigit
  4. bulus Jimbung atau Bulus yang besar
  5. Kandang Bubrah atau kandang yang rusak
  6. Umbel Molor atau ingus yang menetes
  7. Kutuk Lamur atau sebagsa ikan yang penglihatannya tidak terang
  8. Gemak Melung atau burung gemak yang berkicau
  9. Codot Ngising atau kelelawar berak
  10. Bajul Putih atau buaya putih
Beberapa gunung terkenal sebagai tempat untuk mencari Pesugihan (kekayaan), pangkat, penglarisan, dll. 

Hal ini biasanya terjadi karena dahulunya di gunung tersebut terdapat tempat- tempat yang pernah dihuni, dipakai bertapa, atau tempat mokswa tokoh-tokoh terkenal. 


Mokswa adalah tingkatan kesempurnaan hidup yang tertinggi dimana manusia menghilang bersama roh dan raganya.

Mahkluk halus yang jahat sering kali mengganggu manusia, menculik manusia, membuat orang sakit, bahkan bisa membuat orang meninggal. 

Kehadiran Mahluk halus biasanya ditandai dengan adanya bau misalnya: 
  1. campuran bau badeg, 
  2. bacin dan langu; 
  3. bau rebusan kentang bercampur bawang merah busuk; atau 
  4. bau wangi yang merangsang hidung. 
Kehadiran Mahkluk Halus kadang ditandai dengan bertiupnya udara dingin yang membuat bulu kuduk berdiri atau udara berasap semacam kabut. 

Gejala alam yang muncul kadang menjadi tanda kehadiran mahkluk halus, seperti angin kencang, petir, cahaya, bayangan, api, dll. 
Seringkali mahkluk halus hanya kedengaran suaranya tanpa wujud.
Manusia dapat melakukan perkawinan dengan mahkluk halus. Raja-Raja Jawa terkenal dengan beristrikan Kanjeng Ratu Kidul yakni mahkluk halus penguasa Laut Selatan. 

Pendaki yang bermalam di gunung Argopuro sering berjumpa dan tidur bersama dengan wanita cantik pengawal Dewi Rengganis (Penguasa mahkluk halus Gn.Argopuro) Anak hasil perkawinan antara manusia dan mahkluk halus biasanya menjadi mahkluk halus. 

Bila seorang wanita (manusia) hamil hasil perkawinan dengan mahkluk halus, maka ketika lahir bayinya akan hilang perutnya tiba-tiba mengecil.
☆☆☆☆☆

Pasar Setan Di Gunung Merbabu

July 09, 2017 1
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
"Pasar Setan Di Gunung Merbabu"
Kisah ini adalah kisah nyata dari Team Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam) dari salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta Barat yang di muat di kumparanberita.com.

Bila Sahabat Bitter tinggal di Jawa Tengah terutama di Kabupaten Semarang sebelah utara, pastinya sudah tidak asing dengan gunung yang satu ini. 

Gunung yang bertipe strato atau kerucut ini sudah dikenal sejak masa pra Islam dan dijuluki sebagai Gunung Damalung atau Gunung Pamarihan. 

Namun setelah belanda menjajah Indonesia gunung ini berubah nama menjadi Merbabu dimana "meru" berarti gunung dan "abu". Konon tempat ini menjadi tempat pertapaan Prabu Jaya Pakuan seorang kesatria dari kerajaan Pakuan Pajajaran yang menjadi seorang resi Hindu.

Gunung merbabu merupakan gunung berapi aktif yang sedang tertidur, menurut catatan Belanda gunung tidak pernah erupsi sejak tahun 1600. 

Sehingga di permukaannya banyak ditemui vegetasi dan sering digunakan sebagai destinasi wisata atau tempat favorit para pendaki gunung. 

Banyak pengalaman para pendaki yang mengembirakan ada juga yang mengerikan, sehingga selain indah tempat ini terkenal akan mistik dan keangkerannya. 

Berikut Kisahnya Team Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam) Pasar Setan Di Gunung Merbabu
Makhluk halus pun nampaknya perlu bertransaksi antar sesamanya. Buktinya ada Pasar Setan yang selalu ramai tiap malam di puncak Merbabu. Hanya isapan jempol? Misteri membuktikannya sendiri.

Pasar Setan! Sepertinya perkataan ini sangat naif didengar telinga kita. Tapi fenomena ini sudah lama beredar di lingkungan masyarakat yang tinggal di lereng Merbabu, salah satu gunung yang sangat dikeramatkan di Tanah Jawa. Konon di puncak, atau barangkali juga di salah satu bagian gunung ini terdapat apa yang dinamakan Pasar Setan. Benarkah begitu? Ini cukup membuat penasaran. Selain Merbabu, ada banyak gunung angker lainnya di Indonesia, selengkapnya bisa dilihat disini.

Bersama Team Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam) dari salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta Barat, Misteri berkesempatan mencoba memastikan tentang keberadaan Pasar Setan Puncak Merbabu itu.

29 Maret 2001 rombongan Mapala berangkat. Team tersebut berjumlah 9 orang, sudah termasuk Misteri. Mereka adalah: Rudi, Irwan, Jimmy, Edwin, Rahmad, Thomas, Amin Ridwan, Sutrisno. Mereka tergabung dari berbagai Fakultas.

30 Maret, saat matahari terbit di langit ufuk Timur kami telah sampai di Kaki gunung Merbabu. Alhamdulillah perjalanan berlangsung sangat lancar tanpa aral melintang. Sebagai langkah pertama, kami mulai beradaptasi dengan penduduk di sekitar kaki Gunung Merbabu, yang sebagian besar masih berbahasa Jawa totok. Maksud tujuan kami beradaptasi yang terutama adalah untuk mengetahui informasi seluk-beluk tentang kepercayaan adanya Pasar Setan di puncak Merbabu sana. Tidak banyak hal yang berhasil kami sadap terkait fenomena tersebut. Yang pasti, seusai memperoleh berbagai informasi tentang segala sesuatu di Merbabu, kami membuat rencana pendakian.

Sambil menyusun rencana pendakian, untuk melepas lelah kami istirahat satu hari satu malam. Baru pada paginya, tepat jam 08 kami mulai mendaki. Kondisi team saat mendaki tak jauh bedanya dengan TNI ketika latihan perang.

Ketika kami sampai di sebuah area, yang menurut warga setempat disebut Ketong Songo, kami menemui kejadian yang ganjil. Kenyataan ini membuat kami sangat penasaran. Ketika berada di area ini, kami bertemu dengan jasad lelaki yang telah meninggal. Posisi mayat tersebut dalam keadaan semedi. Anehnya, tubuh lelaki ini sama sekali tidak menebarkan bau busuk. Hanya pakaiannya yang tampak lusuh dengan tubuh tampak kering kerontang. Benarkah apa yang telah kami lihat? Ini benar kasat mata nyata adanya. Semua anggota tim melihatnya.

Mungkin, keadaan tubuh lelaki paruh baya itu telah sedingin es. Misteri mencoba mengambil gambar jasad tersebut dengan jepretan kamera. Hampir saja jantung ini copot. Betapa tidak, ketika Misteri menekan tombol kamera, tiba-tiba jasad tadi lenyap begitu saja, entah ke mana.
Kejadian aneh ini disaksikan oleh seluruh anggota tim. Melihat kenyataan ini, beberapa anggota tim tak dapat menutupi perasaan takut. Mereka mengusulkan agar pendakian dibatalkan.

Setelah musyawarah, keputusan yang diambil pendakian akan tetap diteruskan. Kami berpegang pada prinsip awal, bahwa kedatangan kami ke Merbabu bukan dengan tujuan tidak baik, apalagi ingin berbuat onar. Dan yang pasti, kami sepakat untuk selalu mengingat pesan yang diwanti-wantikan oleh salah seorang tetua warga yang kami temui di lereng kemarin, bahwa sepatah katapun kami tidak boleh berkata yang berbau melecehkan keadaan setempat. Juga diwanti-wani agar bila bertemu atau menjumpai apapun kani diminta diam, tak perlu banyak komentar apalagi menduga yang tidak-tidak.

Bismillah! Akhirnya, kami melanjutkan pendakian. Beberapa jam kemudian kami sampai di Tanjakan Setan. Di tempat ini lebih mencekam lagi, mana kala kami beristirahat dan merebahkan tubuh kami di bawah tenda. Keputusan beristirahat ini kami ambil karena hari telah memasuki senja.

Malam hari, sebuah kejadian aneh kembali berlangsung. Persis pada tengah malam. Rudi yang terjaga dari tidur mengaku melihat ada 5 jasad perempuan yang seperti menempel di atas perbukitan dekat kami berkemah.

Rudi yang terkenal sangat pemberani pelan-pelan membangunkan anggota tim yang lain, termasuk Misteri. Namun apa yang terjadi, manakala kami semua telah bangun, ke lima jasad yang tertempel itu pun lenyap. Tapi, Misteri sendiri sempat melihatnya. Kelima jasad perempuan itu sepertinya telah lama mati. Tubuh mereka kurus kering dengan pakaian compang-camping. Entah siapa mereka, Misteri tak berani menyusun dugaan.

Pagi harinya, dari Tanjakan Setan Misteri mencoba membidikkan kamera untuk merekam alam sekitar Merbabu. Usai itu kami pun mulai melanjutkan perjalanan menuju Pasar Setan. Di tengah-tengah perjalanan, Thomas yang telah diperingatkan agar tidak memakai baju merah, rupanya nekat memakai baju larangan tersebut. Ujung-ujungnya, Thomas kesasar ketika hendak membuang air kecil di dekat salah satu pohon. Dia kesasar sekitar 250 meter. Dia baru datang hampir sejam lamanya setelah kami duluan sampai di Pasar Setan.

Pasar Setan! Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan tempat berjuluk menyeramkan ini, terutama pada saat siang. Secara kasat mata semuanya biasa-biasa saja. Hanya bentangan perbukitan dengan pohon-pohon besar dan kecil, juga semak-belukar yang merimbun.

Namun, ketika malam hari tiba, semuanya berubah. Perubahan tersebut terjadi pada suhu udara yang mendadak sangat dingin, begitu pun keadaan di tenda-tenda kami yang tidak jauh dari titik lokasi. Sekitar 300 meter. Dan, malam Itu, sepertinya kami mendengar sebuah keramaian.
Dengan sistim perseparoh anggota, kami memastikan arah keramaian tersebut. Ternyata setelah kami lihat dari atas, terlihat di bawah kami tampak suasana sebuah pasar, tepatnya berada di Tanjakan Setan yang telah kami lewati senja tadi. Astagfirullah! Bagaimana bisa kenyataan ini terjadi dalam kebenaran yang sesungguhnya?

Kami Hanya Bisa diam seribu bahasa. Kami berkeinginan memberanikan diri memasuki Pasar Setan itu. Tapi, untuk menuju ke sana pada malam hari jelas tidak mungkin. Di samping medannya yang cukup berat, juga kemungkinan adanya resiko gaib. Akhirnya, kami hanya bisa memandangi Pasar Setan dari kejauhan.

Sekitar 20 menit kami kembali ke tenda. Anggota tim yang sejak tadi berada di tenda ingin tahu juga tentang keberadaan, pasar dedemit tersebut. Setelah beberapa jam kemudian anggota tim kedua ini kembali ke tenda, mereka menyatakan jika pasar itu masih ada. Suara keramaian pasar tersebut tidak kedengaran lagi manakala tim Mapala menyalakan api unggun.

Pagi harinya, karena penasaran dengan keadaan semalam, kami turun dan mendatangi lokasi Pasar Setan tersebut. Sesampai di tempat tersebut, kami tidak menemukan apapun. Jangankan bekas sampah dari berbagai jenis makanan yang mereka jual, gubuk dan barak-baraknya pun tidak ada, apa lagi gerobak bakso. Padahal, semalam kami melihat pasar tersebut sangat lengkap. Ada yang jualan es, penjual bakso, penjual soto, penjual sayur-sayuran, penjual buah-buahan dsb.

Menurut keterangan warga setempat keberadaan Pasar Setan tersebut memang ada. Dan ini sudah tidak asing lagi. bagi-warga yang mukim di lerang Merbabu.

Sementara itu, menyangkut lima jasad wanita yang menempel di perbukitan dan seseorang yang mati dalam posisi bersemedi tersebut, beberapa warga setempat menyatakan bahwa sebenarnya di Pasar Setan tersebut, sering menelan korban. Namun kejadian tersebut sengaja dirahasiakan oleh warga setempat. Karena bila mereka membocorkan rahasia tersebut, pasti akan menerima musibah. Entah sakit, entah meninggal. Makanya, mereka lebih menyayangi nyawa mereka dari pada membocorkan rahasia.

Konon, kebanyakan korban menimpa pada orang yang bermaksud mencari pesugihan, atau orang yang tidak ijin ketika hendak memasuki Pasar Setan. Makanya, warga selalu mengingatkan para pendatang, pendaki, atau pencari pesugihan, agar sebelum memasuki lokasi Merbabu harus memberi salam terlebih dahulu.

Bagi yang belum pernah mendaki Merbabu, mungkin sulit percaya dengan adanya Pasar Setan tersebut. Tapi jika ingin bukti, silahkan saja daki Merbabu.
☆☆☆☆☆
Berikut Kita Simak Kisah
Misteri Penampakan Pasar Setan 
Yang Menyelimuti Gunung Merbabu.
Setan Gendong
Setan gendong merupakan mitos yang dipercaya banyak pendaki di Gunung Merbabu. Konon setan ini suka menyamar menjadi wanita cantik yang meminta gendong kepada pendaki. Jika para pendaki tidak mau menuruti keinginannya maka bisa diganggu seperti tas carrier yang lebih berat dari biasanya diikuti dengan bau wewangian kamboja dan kemenyan. Lebih baik pendaki mengabaikannya sembari berdoa kepada Tuhan YME, karena setelah sampai di atas hantu tersebut otomatis menghilang dan tidak menjadi berat lagi.
Hantu Gadis
Hantu ini dikenal dari salah seorang cerita pendaki bernama Budi yang mengalami fenomena aneh yang tak masuk akal saat mendaki tahun 2012. Budi awalnya tidak mengira gadis itu hantu, karena dia mengaku sebagai rombongan pendaki yang tertinggal. Namun ketahuan, setelah dia menanyakan kepada rombongan pendaki lainnya bahwa gadis itu tidak dikenal dalam rombongannya. Setelah ditelusuri, ternyata gadis tersebut adalah seorang gadis pendaki yang hilang sejak tahun 2009 dan mayatnya tidak pernah ditemukan. Dipercaya gadis tersebut menjadi salah satu penunggu gunung Merbabu yang gentayangan.
Macan Gaib
Mitos macan gaib menjadi terkenal saat ditemukannya mayat perempuan yang mati mengenaskan dengan luka gigitan dan cakaran macan di tahun 2008 di hutan Suroloyo. Menurut masyarakat sekitar sebenarnya sudah tidak ada lagi habitat macan di daerah ini, sehingga banyak yang beranggapan bahwa korban telah digigit oleh macan jadi-jadian alias macan gaib. Konon, macan ini sering terdengar aumannya namun tidak terlihat wujudnya. Mitos macan gaib membuat banyak pendaki waspada saat mendaki gunung dengan ketinggian 3145 Mdpl ini.
Genderuwo
Genderuwo dikenal sebagai makhluk manusia setengah kera yang dipercaya sebagai manifestasi makhluk jin. Kalau di luar negri makhluk ini disebut BigFoot yang juga menjadi misteri hingga kini. Isu tentang adanya genderuwo di Gunung Merbabu menyeruak setelah adanya laporan dari seorang pendaki yang melihat penampakan makhluk hitam tinggi besar di pos Bayangan II, Jalur Cunthel. Sayangnya pendaki yang melihat penampkan makhluk ini selalu lari terbirit-birit sebelum mengabadikannya dalam foto atau video.
Kerajaan Gaib
Puncak Gunung merbabu dipercaya sebagai pusat kerajaan gaib sejak dinasti Mataram berkuasa. Terbukti dengan ditemukannya benda-benda antik di puncak gunung. Warga setempat percaya, kerajaan gaib tersebut memiliki 2 kubu tentara, yang berwarna hijau dan yang berwarna merah. Untuk itu di gunung ini muncul mitos pantangan menggunakan atribut warna merah dan hijau. Siapapun yang menggunakan atribut warna tersebut maka tidak akan selamat saat mendaki. Jika menggunakan warna hijau maka prajurit warna merah akan mecelakakan jika pakai warna merah maka prajurit hijau juga akan mengganggu dan memusuhimu. Sebagaimana kerajaan pada umumnya, disana juga terdapat jalan, pasar, alun-alun, rumah penduduk yang semuanya tak kasat mata. 
Watu Gubug
Watu Gubug berarti rumah batu dalam bahasa Jawa. Sebuah tumpukan batu misterius yang menyerupai goa dipercaya sebagai gerbang menuju kerajaan jin. Situs ini dapat ditemukan di jalur pendakian Thekelan dan sering dijadikan tempat berteduh dikala hujan ataupun panas. Fenomena aneh sering terasa saat pendaki memasuki tempat ini, jika dilihat dari kejauhan goa ini sangat sempit namun saat masuk kedalam maka akan terasa luas yang bisa memuat banyak orang. Konon katanya, siapapun yang memiliki niat jahat akan diganggu jin penunggu gubug ini. Biasanya berupa suara aneh, dan bayangan misterius di dalam batu.
Jembatan Setan
Dinamai jembatan setan, mungkin jalur ini ibarat setan yang siap merenggut nyawa pendaki yang terpeleset atau terjatuh. Jembatan setan terkenal sebagai trek paling ekstrim dari semua jalur pendakian yang ada di Gunung Merbabu. Jembatan setan dapat ditemui pada pendakian lewat jalur Cunthel, jalur pendakian terpendek dari yang lain. Selain menawarkan pemandangan alam yang indah, dibawah jembatan juga menawarkan pemandangan jurang mengerikan yang bisa membuat jantung berdebar-debar. Jalur ini lebarnya hanya setapak kaki di pinggiran tebing dan pendaki harus pegangan erat pada sela-sela batu. Siapapun yang melewati jembatan ini wajib berdoa supaya tidak diganggu makhluk halus penunggu jembatan ini.

Baca Juga
  1. Data Keluarga Eyang Anomsari Generasi Ke IV-VI Dari Ki Tohari - 
  2. Eyang Anomsari - 
  3. Eyang Raga Runting - 
  4. Eyang Santri - 
  5. Pasar Setan Di Gunung Merbabu - 
  6. Pentur Sunan Kalijogo Ijo Royo-Royo - 
  7. Pesan Nyi Sekar Arum Melati Untuk Gunung Merapi - 
  8. Prabu Brawijaya V (Raja Terakhir Kerajaan Majapahit) - 
  9. Sanepo Telo Widoro Upas - 
  10. Waluyo Dan Jaran Kepang Paguyuban Perkutut Putih - 
☆☆☆☆☆