Showing posts with label Digilir. Show all posts
Showing posts with label Digilir. Show all posts

Berawal Dari Karaoke

July 03, 2011 0
Ketika diriku diperkosa rame-rame oleh temanku saat sedang bernyanyi di dalam ruang karaoke.

Aku seorang wanita berumur 30 tahun, ibu dari dua orang anak. Tentunya statusku nikah dengan seorang suami. Kami telah terikat perkumpulan selama tujuh tahun. Aku nikah setelah berhasil meraih gelar kesarjanaanku di kota Bandung.

Suamiku normal-normal saja, demikian juga dengan hubunganku. Aku melakukannya sekitar 2 atau 3 kali seminggu dengan suamiku. Namun semuanya berubah ketika aku mengalami suatu hal yang tidak kuduga sebelumnya pada tiga bulan yang lalu. Ternyata kemampuan lebih dari yang kuduga sebelumnya.

Aku biasa dipanggil Ratih. Tinggi badanku sekitar 156 cm dengan berat 49 kg. Ukuran BH-ku 34C, pinggulku yang agak besar berukuran 100 cm semakin menonjol dengan pinggangku yang hanya 58 cm itu. Walaupun dari rahimku telah terlahir dua orang anakku, tubuhku sih oke-oke saja. Hampir tidak ada perubahan yang mencolok.

Kembali pada kejadian yang gila. Mula-mula aku bertemu temanku, Merry saat aku sedang berbelanja di sebuah mall. Ia adalah sobatku sewaktu di SMA dulu. Saat itu ia bersama dua orang teman laki-lakinya, yang langsung dikenalkannya kepadaku. Mereka bernama Yanto dan Andi.

Mereka ternyata adalah teman-teman yang enak diajak bicara. Akhirnya kami pun menjadi akrab. Siang itu kami melanjutkan obrolan sambil makan di sebuah restoran. Setelah pertemuan itu, ternyata Yanto sering menelepon ke rumahku walaupun ia sudah tahu bahwa aku ini seorang istri dengan dua orang anak.

Dalam pembicaraan telepon, ia memang sering mengeluarkan rayuan gombalnya kepadaku tapi tetap ia menjadi teman bicara yang enak. Ia berusaha mengajakku makan siang dengan gigihnya. Hal itu yang membuatku menyerah juga. Akhirnya aku menyetujuinya juga. Syaratnya, makan siangnya harus ramai-ramai.

Aku, Merry, Yanto, dan Andi bertemu di tempat yang sudah kami sepakati bersama. Bersama kedua teman cowok kami, ikut serta pula tiga orang teman mereka yang lain: Eko, Benny, dan Adi. Mereka semua rata-rata berusia delapan tahun lebih tua daripada aku dan Merry. Kami makan siang bersama di sebuah restoran yang ada fasilitas karaokenya. Kami makan dengan ramainya sambil berkaraoke. Memang aku pun senang berkaraoke.

“Ayo, Rat… nyanyi lagi…,” mereka menyemangatiku kala aku melantunkan lagu. Ternyata ketiga cowok keren itu merupakan teman yang enak untuk gaul. Wawasan mereka luas dan menyenangkan. Akhirnya kami cepat menjadi akrab. Ternyata, baru kusadari nanti bahwa inilah kekeliruanku.

Seminggu kemudian aku diundang lagi, kali ini oleh Andi, untuk makan siang dan berkaraoke lagi. Tanpa pikir panjang dan tanya-tanya lagi, aku pun langsung menyetujuinya. Aku bolos masuk kantor setelah makan siang, lalu pergi ke tempat karaoke mesum bersama mereka.

Nah, di saat itulah terjadi sesuatu yang tidak kuduga. Ternyata aku dibawa ke tempat karaoke mesum yang khusus untuk berkaraoke saja. Bukannya sebuah restoran. Tempatnya berupa sebuah kamar tertutup dengan kursi panjang. Kali ini Merry pun tidak ikut. Jadi hanya aku dengan ketiga cowok itu.

Karena sudah telanjur masuk ke sana, akhirnya kucoba menenangkan diri. Walaupun aku agak deg-degan juga pada awalnya. Kenyataannya, akhirnya suasana menjadi seru ketika secara bergantian kami berkaraoke. Aku pun dipesankan minuman whisky-cola yang membuat badanku jadi hangat.
loading...

Akhirnya mereka meminta berdansa denganku saat salah satu di antara mereka bernyanyi. Saat melantai itulah, lama-kelamaan mereka berani merapatkan dadanya ke tubuhku dan menekan serta menggesek-gesek payudaraku. Anehnya, aku malah diam dan mencoba menikmati apa yang mereka perbuat kepadaku, yang lama-lama membuatku terbakar dan menikmati permainan ini. Mereka bergantian berdansa denganku.

“Ratih, badanmu hot sekali,” ujar Yanto berbisik di telingaku sambil bibirnya mencium belakang telingaku, membuatku merinding nikmat… Tangannya lalu tanpa malu-malu lagi meremas payudaraku. Aku pun terangsang hebat….

“Aahhh… jangaaannnn…,” kataku ketika Yanto dengan beraninya membuka kancing blusku dan menyusupkan tangannya ke dalamnya… Tangannya meremas dan memilin puting payudaraku dengan semakin hotnya…

Aku sebenarnya masih menyimpan sedikit rasa malu karena semua aksi kami ditonton oleh yang lainnya dengan tatapan penuh nafsu…. Anehnya, seperti dibius, tubuhku tidak berontak. Tanganku sama sekali tidak berusaha melepaskan tangan Yanto yang terus menggerayangi payudaraku yang kini terbuka lebar…

“Mmmhhh…,” rintihku penuh kenikmatan. Hanya itu yang ternyata sanggup keluar dari bibirku…

Yanto akhirnya mengulum bibirku dan menindih rapat-rapat tubuhku di atas sofa.

Aku benar-benar lupa diri ketika jari-jemari Yanto bergerilya di dalam celana dalamku. Ia terus menggelitik bibir lubang vaginaku yang sudah basah dan rasanya menebal itu. Spontan yang lainnya pun ikut-ikutan. Dengan liar akhirnya ketiga cowok itu mengerubuti tubuhku.

Akhirnya, tahu-tahu tubuhku sudah bugil tanpa sehelai benang pun dan digeluti bersama oleh mereka. Yantolah yang lebih dahulu menusukkan senjatanya ke dalam lubang kemaluanku. Lalu Adi memasukkan senjatanya ke dalam mulutku.

Andi mengisap puting kiri payudaraku sambil membimbing tangan kiriku untuk mengelus-elus senjatanya. Sementara itu Eko mengisap puting yang sebelahnya sambil melakukan hal yang sama pula terhadap tangan kananku. Terakhir, Benny menggosok-gosokkan senjatanya ke wajahku.

“Aacchhh….,” aku mendapat orgasme pertama ketika Yanto sedang asyik-asyiknya menggenjot tubuhnya di atas tubuhku. Spontan, kedua tanganku meremas penis Andi dan Eko yang ada dalam genggamanku dengan keras.

Aku sendiri tak bisa mengeluarkan lengahkan kenikmatanku secara lepas karena penis Adi yang hangat itu dengan serunya terus bermain di mulutku. Adi yang tahu aku baru saja orgasme hanya menyeringai kepadaku. Tampaknya ia pun semakin semangat memompa mulutku.

“Ratiih…,” desah Yanto menggeliat ketika memuntahkan maninya di dalam lubangku. Hangat dan terasa kental memenuhi lubang kemaluanku. Dipegangnya pantatku erat-erat supaya semua spermanya masuk ke dalam tubuhku…. Adi tambah semangat mengocok senjatanya di dalam mulutku.

“Mmmmphh, aghhh….,” tubuhku bergetar menggeliat.Setelah Yanto selesai, posisinya langsung diganti Benny yang sejak tadi hanya mengosok-gosokkan senjatanya yang panjang dan besar di wajahku. Langsung ditancapkannya ke dalam lubangku yang hangat, sudah penuh dan licin dengan cairan milik Yanto. Benny begitu semangatnya menyetubuhiku.

Bayangkan… payudaraku dihisap putingnya oleh Eko dan Andi seperti dua bayi besar. Sementara lubang kemaluanku mulai dihunjam oleh senjata Benny dengan ganasnya. Di mulutku, Adi akhirnya menyemprotkan cairannya dengan deras dan langsung kuhisap kuat-kuat.

“Aaaacchhh….,” air mani Adi yang terasa hangat asin seperti kuah oyster masuk ke dalam tenggorokanku.

Bersamaan dengan itu, Benny juga menyemprotkan maninya di lubang vaginaku. Multiorgasme…. Aku sudah mendapakannya tiga atau empat kali dan masih ada Eko dan Andi yang belum kebagian menyemprotkan cairannya. Tubuh Adi dan Benny berkelojotan dan akhirnya terhempas. Andi menggantikan posisi Adi. Penisnya yang bengkok ke atas terasa penuh di mulutku.

Eko menepis Benny dari atas tubuhku. Untuk yang ketiga kalinya, lubang vaginaku dimasuki oleh orang yang berbeda…. Ternyata senjata milik Eko lah yang paling panjang dan besar. Aku khawatir kalau penis Eko agak susah untuk masuk ke dalam vaginaku.

Syukurlah, ternyata tak sesulit yang kubayangkan karena lubang vaginaku telah penuh dengan cairan dari dua orang yang terdahulu. Benar saja, terasa sangat mantap dan nikmat ketika senjata Eko menggesek lubangku yang sudah terasa panas dan semakin tebal rasanya. Napasku sampai terengah-engah dibuatnya…

“Rat…. iseeepp yang kuaaattt….,” ternyata Andi tidak kuat dengan isapan mulutku. Ia akan segera mencapai klimaks. Aku pun segera mematuhi perintahnya dengan mengisapnya lebih kuat lagi….

Penis Andi pun memuncratkan cairan maninya di dalam mulutku. Terasa air mani Andi lebih strong aromanya, lebih hangat, lebih kental, dan lebih banyak memenuhi mulut dan tenggorokanku. Aku sampai agak gelagapan karena mulutku jadi penuh dan hampir tersedak….

Namun aku berusaha untuk tenang… Pelan-pelan kutelan sperma Andi yang membludak. Sementara bibirku tetap mencengkam penis Andi supaya tak lepas…. Setelah penis Andi kering benar dan mulai mengerut, barulah aku melepaskannya…. Ia pun lalu tergeletak di atas kepalaku.

Sekarang tinggal aku dan Eko…. Eko pun lalu mengubah posisinya menjadi ‘missionary position’. Sambil penisnya terus mengocok kemaluanku, tubuhnya pun menindih tubuhku. Wajah kami pun berhadap-hadapan dekat sekali… Sambil terus beraktivitas, Eko tersenyum padaku.

“Rat, kamu hebat sekali…,” katanya.

Aku pun tersenyum malu.

“Oh, Eko…,” bisikku. Lalu seperti sepasang kekasih, kami pun saling berciuman bibir.

Tak lama kemudian, Eko juga menggeliat menyemburkan cairannya ke dalam lubang kemaluanku. Tubuhku terasa lemas tetapi bergetar kuat mengiringi muncratnya cairan Eko. Eko semakin mendorong pangkal pahanya ke pangkal pahaku supaya cairannya masuk semua ke tubuhku…

Rasanya aku sudah orgasme enam kali ketika akhirnya Eko menggelepar dan terbaring tepat di samping tubuhku. Kami pun lalu berbaring telentang sambil berpelukan dan menikmati hasil persetubuhan kami…. Selesailah pertempuran besar antara aku dan ketiga cowok siang itu di ruang karaoke mesum.

Walaupun ber-AC, namun udara saat itu tetap terasa panas. Badan kami bercucuran keringat. Apalagi aku, karena selain basah oleh keringatku sendiri, juga bercampur dengan keringat ketiga cowok yang barusan menyetubuhiku.

Belum lagi dengan tumpahan air mani mereka yang berceceran di seluruh bagian tubuhku. Setelah itu, semuanya terdiam. Tak ada satu pun di antara kami yang saling bercakap. Beberapa cowok tertidur karena kelelahan. Akhirnya, beberapa puluh menit kemudian, kami pun berbenah-benah.

Celakanya, di kamar itu tidak ada kamar mandi. Akhirnya, aku hanya mengelap cairan ketiga lelaki yang memenuhi lubang vaginaku dan menetes ke pahaku dengan bra dan celana dalamku saja. Lalu aku memakai bra dan celana dalamku yang agak basah dan lengket itu.

Disusul dengan blouse, rok serta blazer yang tadinya bertebaran di lantai. Yang membuatku senang, Eko ikut membantuku berpakaian. Paling tidak, aku merasa dihargai dan tidak sekedar menjadi pemuas nafsu mereka. Mereka pun segera memakai kembali baju dan celananya.

Jam lima sore, kami keluar dari karaoke mesum itu. Berarti empat jam sudah kami berada di dalamnya karena kami masuk pada pukul satu siang. Sedangkan aku sendiri digilir oleh mereka lebih kurang selama satu setengah jam non-stop. Waah, aku kagum juga dengan daya tahanku…. walaupun rasanya kakiku pegal-pegal dan ngilu. Begitu juga selangkanganku dan mulutku.

Waktu melewati kasir rasanya aku malu juga. Walaupun mereka tidak tahu apa yang terjadi di dalam tapi wajahku tetap merasa memerah. Make up ku telah berantakan dan rasanya minyak wangiku telah berubah menjadi bau aroma air mani.

Mungkin kasir wanita tempat karaoke mesum itu bisa mengendus baunya… atau malah mungkin ia sedang membayangkan kejadian yang baru saja kualami. Sementara itu, di paha dan kakiku terasa mani mereka merembes mengalir keluar dari lubang vaginaku. Untung sesampainya di rumah, suamiku belum pulang… Cepat-cepat aku ke kamar mandi membersihkan tubuh dan pakaianku.

Ternyata, malamnya suamiku menagih jatahnya juga… Untung aku sudah membersihkan badanku dan menyemprotkan minyak wangi untuk menghilangkan aroma sperma ketiga cowok itu waktu di karaoke mesum… Walaupun komentar suamiku membuatku deg-degan, mudah-mudahan ia tidak curiga….

“Rat, punyamu kok rasanya lain banget… tebel…,” bisik suamiku di telingaku.

“Terima kasih, ya… Enak…,” lanjut suamiku setelah ia menyemprotkan cairannya beberapa menit kemudian. Lalu ia tertidur pulas di sampingku.

Ia tidak tahu sudah jadi orang keempat hari itu yang memuncratkan cairannya untukku.

Rahasia Yang Terpendam

July 03, 2011 0
Cerita menyakitkan ini kualami satu setengah bulan yang lalu, yang menimpaku dan tetangga perempuanku yang berusia 20 tahun, ia memiliki wajah yang manis dengan rambut panjang sebahu, tubuhnya tidak terlalu tinggi tetapi sangat proporsional dengan kulit hitam manis, yang mungkin disebabkan faktor keturunan karena dia memang keturunan jawa. Ia tinggal di depan rumahku.
Pada suatu hari aku mengantarnya berbelanja ke mall hingga malam, kemudian setelah makan malam, iseng-iseng kami menonton film di bioskop.
loading...

Waktu telah menunjukkan pukul 10 malam lebih saat bioskop bubar, saat kami berjalan pulang ke rumah kontrakanku, kami melewati jalan yang sepi, aku sudah memiliki rasa khawatir saat melihat di ujung gang tampak banyak sekelompok pemuda, ada yang bermain gitar, menyanyi, dan main kartu.

Aku dan niez berjalan cepat melewati mereka, salah seorang dari mereka mulai iseng bersiul,
"Halo, berdua.. mau maen kartu bareng nggak?" 
Aku menggeleng dengan sopan sambil terus berjalan, tiba-tiba di depan kami telah menghadang seorang pemuda bertubuh besar dan tegap, berkulit gelap dan tampak sangar,
"Kamu tidak kasih salam sama aku, heh?"
Aku lalu mencoba mengajak berbicara secara baik-baik sambil berharap ada orang yang lewat, tetapi tanpa kusangka pemuda itu meninju rahangku sehingga aku terjatuh, aku berusaha bangkit dan mencari kayu untuk membela diri, namun di saat yang bersamaan tendangan beruntun bersarang di kepala dan badanku, kudengar jeritan ciciku, sebelum dunia serasa gelap gulita.

Aku terbangun dengan kepala pening dan mengingat-ngingat apa yang terjadi, tanganku rasanya nyeri sekali, sesaat kemudian aku sadar ternyata tanganku terikat ke atas pada papan yang melintang dengan tali tambang yang kuat, aku tergantung di situ cukup tinggi, aku melihat ke bawah, dan melihat kakiku yang juga terikat tidak mencapai lantai, aku tersentak kaget menyadari tergantung dalam keadaan telanjang bulat, tanpa busana sama sekali.

Lalu kudengar erangan dan rintihan wanita, yang rasa-rasanya aku mengenali suara itu, saat pandanganku mulai jernih, aku melihat ternyata aku tidak sendiri di ruangan itu, di tengah ruangan ada meja kecil, dan di atas meja tersebut tampak sesosok tubuh gadis dalam keadaan tubuh nyaris telanjang bulat, hanya tersisa BH yang menutup payudaranya yang membukit indah, tali kutangnya telah terlepas sehingga semrawut dan menampakkan sebagian besar kulit putih mulus yang menggunung itu.

Tangan gadis itu terikat di belakang punggung, meja kecil itu hanya dapat menampung punggung gadis itu, sehingga kepala gadis itu jatuh menengadah. Di depan gadis itu tampak seorang pemuda bugil sedang memeluk kedua paha gadis itu yang tersandar di pundak kiri kanannya, sambil membuat gerakan maju mundur. Suara rintihan yang kudengar berasal dari gadis itu, samar-samar masih dapat kudengar,
"Ooohh... amppunnnn... akkhh... ooohhh... jangann... jangannn... oh.. sakit.."
Darahku tersirap menyadari bahwa suara itu sangat mirip niez, atau memangkah gadis yang sedang diperkosa itu niez?

Aku tidak pernah melihat niez telanjang, tapi tubuh indah di atas meja itu memang seperti postur tubuh niez.

Setelah beberapa saat pandanganku semakin jelas, tampaklah bahwa gadis itu memang niez! Sweater, kaos dalam, celana jeans, dan celana dalam niez tampak berserakan di lantai. Aku melihat perkosaan itu dengan marah, namun aku tak berdaya menolong karena menolong diri sendiri saja aku tidak mampu, dan entah mengapa, setelah beberapa saat melihat niez yang tak berdaya dalam keadaan nyaris bugil, tak dapat ditahan batang kemaluan pelan-pelan menegang keras.

Pria yang sedang memperkosa niez terus memompa batang kemaluannya masuk ke dalam liang kemaluan niez.

Tampak niez berusaha mengatupkan pahanya namun pria itu melebarkan kaki niez sehingga berbentuk huruf V, dan terus memompa masuk dengan buas, kemudian tangannya menyentakkan BH niez dengan kasar dan tampaklah bukit kembar niez terpentang bebas, membusung menantang dan sangat menggairahkan, bahkan dalam posisi dada yang agak tertarik karena kepala niez yang menengadah ke bawah.

Payudara itu masih tampak montok dan padat, pemerkosa itu terus memompa sambil tangannya meremas-remas payudara niez itu.

Tiba-tiba pintu terbuka, dan muncul sekitar 3 pemuda yang berpakaian lengkap, mereka tertawa-tawa melihat temannya sedang memperkosa niez, salah satu melihat padaku dan berkata,
"Eh, lihat.. pacarnya sudah bangun!" 
semua mata pemuda itu tertuju padaku,
"Eh... liat tuh! dia ngaceng juga... mau ngentot pacarnya... tapi keduluan, si Doel sudah duluan jebolin keperawanan pacarnya, hahaha...!"
Pemuda bugil yang sedang memperkosa niez, yang dipanggil Doel itu, menyeringai. Lalu ketiga pemuda yang baru datang itu mendekatiku,
"Hei bangsat! Itu pacar kamu kan!" 
Aku diam saja, lalu satu tinju mendarat di perutku hingga perutku perih rasanya,
"Kamu bisu ya? cewek itu pacar kamu bukan?" 
Terpaksa aku menjawab lirih dan menjelaskan kami hanya tetangga.
"Oh..tetangga kamu toh... Hm.. kepengen tidak kamu ngentot tetanggamu sendiri? Di liat dari kontol kamu sih.. kamu pingin.. hahaha..." 
Aku marah sekali, saat itu kemaluanku telah lemas kembali karena birahiku yang tak sengaja muncul tadi telah hilang.

Doel rupanya telah selesai memperkosa niez, ia lalu menuntun niez yang tampak sudah lemah ke tempat kami,
"Ini nih... gue mau liat loe pada ngentotan!" 
katanya tertawa, kemudian niez ditampar dengan kuat, hingga niez menangis,
"Elo harus kulum tuh peler, cepat! Kalo nggak gua potong peler tetangga elo dan pentil susu elo!" 
Doel lalu melepaskan ikatan tangan niez dan mendorong niez ke arahku, dengan terpaksa niez mendekatiku yang masih tergantung, kemudian dengan ragu-ragu mulutnya menyentuh ujung batang kemaluanku, walau hanya tersentuh sedikit, aku tak dapat menahan dan batang kemaluanku perlahan-lahan menegang,
"Ayo makan tuh peler! cepat!" 
Seorang pemuda mengeluarkan pisau lipat dari sakunya dengan sikap mengancam, terpaksa niez mulai mengulum kemaluanku dan menggerakkannya maju mundur, sehingga batang kemaluanku mengacung dengan keras sepanjang 12 cm.
"Ayo masukin batangnya ke dalam mulut sampai habis! jangan keluarin dari mulut kamu sampai gua perintahin!" 
Dengan ketakutan niez mengulum batang kemaluanku dalam-dalam dan menggerakkannya maju mundur, sehingga mulutnya yang mungil tampak penuh dan sesekali pipinya menggembung oleh kepala kemaluanku, tak berapa lama aku tak tahan lagi dan orgasme, niez tampak kaget merasakan cairan kental dan hangat berkali-kali menyemprot kerongkongannya, namun ia tidak berani melepaskan mulutnya dari batang kemaluanku, ia berusaha membuang spermaku walau telah banyak tertelan olehnya, beberapa tetes spermaku keluar mengalir dari bibirnya.
"Wah, temen kamu payah banget! sudah kontolnya kecil, cepat keluar lagi!" 
pemuda-pemuda itu mengejekku lalu mereka mendekat dan menjambak rambut niez,
"Kamu harus liat gimana caranya!" 
kata salah seorang pemuda sambil menyeringai padaku.

Mereka lalu membuka baju hingga bugil, keempat pemuda yang telah telanjang bulat itu lalu menelungkupkan niez di atas meja, sehingga payudara niez menempel di atas meja dan niez dalam posisi menungging, kemudian dengan buas mereka mulai memperkosa niez secara bergantian, sehingga niez menjerit-jerit dan melolong histeris, batang kemaluan mereka rata-rata besar dan panjang, sekitar 16 cm lebih, dan secara bergantian kemaluan-kemaluan itu mengaduk-aduk liang kemaluan niez yang semakin lama semakin lemas.

Niez disenggamai bergantian oleh mereka berempat dengan posisi gaya anjing tersebut, kemudian mereka juga menyetubuhi niez di atas kursi.

Sambil memperkosa niez, mereka sesekali mengejekku.
"Hei.. kamu tahu tidak temen kamu ini sebenarnya keenakan dientot sama kita-kita, buktinya memek dia basah banget nih!" 
kata pemuda yang dipanggil dengan nama Anto, ia berkemaluan paling besar dan panjang di antara mereka berempat, saat itu ia sedang mengerjai niez.

Tangan niez kembali diikat di belakang punggung, Anto duduk di atas kursi sementara niez di atas pangkuannya dengan paha mengangkang dan posisi berhadapan. Dengan posisi duduk, buah dada niez tampak sangat menggairahkan, apalagi dengan tubuhnya yang ramping, tampak buah dadanya tergantung indah, padat dan berisi.

Lelaki yang memperkosa niez itu meremas-remas kedua belah payudara niez dengan bernafsu, kadang ia mendempetkan kedua buah dada itu lekat-lekat sehingga belahan payudara niez terbentuk indah di hadapannya. Pemuda itu terus memperkosa niez dengan brutal sehingga tubuh niez tergoyang-goyang, niez hanya dapat merintih-rintih dalam keadaan antara sadar dan tidak.

Sambil terus memompa niez, ia tertawa-tawa disaksikan teman-temannya yang tidak sabar menanti giliran,
"Kamu mau bukti kalo temen kamu ini keenakan? perhatikan baik-baik nih!" 
ejeknya lagi padaku.

Lalu tiba-tiba pemuda itu berhenti memompa niez, secara refleks niez melenguh dan mulai menggerak-gerakan pantatnya sendiri agar tetap dikocok oleh kemaluan pemuda itu,
"Hahaha... kamu lihatkan? temen kamu ini yang minta dientot tuh!" 
Pemuda itu tertawa sambil memeluk tubuh niez, tangannya mengelus-ngelus punggung mulus niez sementara buah dada niez yang kenyal terjepit di dadanya yang berbulu.

Rupanya niez mendengar perkataan itu, wajah nuez tampak memerah karena malu dan marah, lalu tubuhnya diam tak bereaksi, pemuda itu menjadi marah dan menarik kuat-kuat kedua buah dada niez.

Satu ditarik ke atas dan satu ditarik ke bawah bergantian dengan keras sehingga niez menjerit-jerit kesakitan,
"Dasar cewek munafik...! keenakan aja sok menderita! Gua bikin aku orgasme dan kamu tidak bisa bohong bahwa kamu keenakan minta diperkosa!" 
Dengan bernafsu kembali pemuda itu memperkosa niez, sesekali ia kembali menghentikan pompaannya, dan secara refleks kembali niez ganti menggoyangkan pantatnya maju mundur, selama beberapa saat hingga niez sadar dan dapat mengendalikan tubuhnya.

Hal itu terjadi berkali-kali, bahkan saat pemuda itu mendorong tubuh niez hingga batang kemaluannya keluar dari liang kemaluan niez.

Secara refleks diluar kemauan niez sendiri.

Tubuh niez kembali merapat sehingga batang kemaluan itu kembali terbenam ke dalam liang senggamanya sambil kaki niez melipat erat seolah-olah takut lepas.

Pemuda itu semakin lama tampak semakin ganas memperkosa niez, hingga selang beberapa saat tampak tubuh niez berkelonjotan dan menegang, kedua kakinya mengacung lurus dengan otot paha dan betisnya mengejang, jari-jari kakinya menutup, dan nafas niez tak teratur sambil terus merintih keras dan panjang,
"Ohhh... Akkkhhh... Ooohhh...!" 
pemuda itu semakin mempercepat gerakannya hingga akhirnya membuat niez merintih panjang,
"Ohhh... " 
seluruh tubuh niez menegang dan menggelinjang selama beberapa detik dan aku sadar bahwa niez sedang mengalami orgasme dahsyat dan kenikmatan luar biasa.

Setelah berkelonjotan sesaat, tubuh niez tumbang dengan lemas di pelukan pemerkosanya. Pemuda itu masih terus memompa niez yang telah lemas sambil nyengir senang dan berkata,
"Hehe.. elo liat temen elo ini... dia demen ngentotan juga kok... hahahaha...!"
Tiba-tiba pintu kembali terbuka, dan alangkah kagetnya aku melihat begitu banyak pemuda yang masuk, sekitar 10 orang lebih, termasuk salah seorangnya adalah pria besar tegap yang menghajarku.

Tanpa banyak bicara mereka ikut menikmati tubuh niez, masing-masing pemuda itu memperkosa niez dengan posisi yang bervariasi.

Rasanya semua posisi yang pernah kulihat di film biru telah mereka praktekkan semua.

Khusus giliran pemuda berbadan besar yang dipanggil John itu memperkosa, niez tampak sangat menderita karena batang kemaluan John benar-benar besar dan panjang, kutaksir lebih dari 20 cm.

Dalam waktu singkat tubuh telanjang bulat niez telah mengkilap basah oleh keringat dan sperma.

Entah berapa lama niez diperkosa hingga pingsan berkali-kali, namun mereka selalu menyadarkan niez lagi dengan menampar dan menyiramnya dengan air, lalu kembali memperkosa dengan brutal.

Aku menutup mata tak ingin melihat penderitaan niez, tiba-tiba kurasakan batang kemaluanku terasa hangat dan dikocok-kocok, aku membuka mataku dan tampaklah seorang pemuda sedang melakukan oralan padaku.

Aku memandang jijik dan berontak tanpa hasil, tapi mau tak mau batang kemaluanku menegang juga dirangsang seperti itu.

Cukup lama pria itu melumat kemaluanku hingga akhirnya aku mengalami ejakulasi, spermaku ditelan seluruhnya oleh pria itu.

Lalu ikatanku dilepas, aku dipaksa menungging di atas meja tepat bersebelahan dengan niez yang menangis dengan air mata yang telah habis, tampak niez sedang disodomi, lalu tiba-tiba kurasakan tangan-tangan kasar berusaha membuka lubang pantatku, dan serasa benda yang besar berusaha mendobrak masuk, aku menjerit kesakitan saat benda itu mulai terbenam ke dalam anusku, pinggulku dipegang oleh tangan yang kokoh, dan mulailah aku diperkosa juga.

Kemaluanku yang telah loyo terlempar-lempar ke berbagai arah oleh dorongan pria di belakangku, di sebelahku niez juga tengah diperkosa, payudara niez yang padat dan ranum tampak bergoyang-goyang keras, sesekali pria di belakangku meraih batang kemaluanku, meremas dan menarik batang kemaluanku dengan kuat, pria di belakang niez tanpa bosan-bosannya meremas-remas dan menarik-narik buah dada niez dengan brutal, bagaikan memerah susu sapi.

Aku dan niez hanya dapat menjerit dan menangis menahan penderitaan itu.

Kini niez diletakkan di atas lantai beralas tikar, pemuda yang sedang menggilir niez melebarkan kaki niez sehingga membentuk seperti kaki kodok, dengan posisi itu ia menghujamkan batang kemaluannya yang panjang dan besar keluar masuk dengan cepat dan keras ke dalam liang kemaluan niez.

Sementara salah satu pria memaksa niez mengulum batang kemaluannya, sehingga mulut niez yang mungil penuh dengan batang kemaluan besar itu, kemudian pemuda yang memperkosa niez berganti posisi, ia menduduki tubuh niez lalu meletakkan batang kemaluannya yang panjang di antara dua bukit kembar niez.

Tangannya mendempetkan buah dada niez hingga menjepit batang kemaluannya yang kemudian dimaju-mundurkan.

Selang beberapa saat dari batang kemaluannya menyembur sperma yang menyemprot wajah dan leher niez, kemudian sisa-sisa spermanya dioleskan pada kedua buah susu niez.

Aku menutup mataku agar tidak melihat penderitaan temanku, tapi masih saja kudengar rintihan niez yang semakin lama semakin lemah, gerombolan pemuda itu tak henti-hentinya mengucapkan kata-kata kotor.
"Ayo Brul... entot cewek ini sampai mampus! Bombardir memeknya sampai ambrol... ayo tarik toketnya... cabut jembutnya!" 
Tiba-tiba aku merasa tubuhku ditendang dengan keras hingga terlentang, kulihat dua pemuda gay yang tadi memperkosaku mengelilingiku,
"Hm... ayo kita kerjain cowo ini, hahaha..." 
pemuda itu berkata sambil meludahi wajahku, lalu aku dipaksa mengulum batang kemaluan salah satu pemuda itu, dengan rasa mual terpaksa kukulum juga batang kemaluan itu.

Ingin rasanya kugigit batang kemaluan bajingan itu tapi aku takut mereka tidak segan-segan membunuh kami. Sementara aku merasakan batang kemaluanku dikocok-kocok oleh mulut pria yang satunya lagi, mereka mulai ingin menyodomiku lagi saat tiba-tiba pimpinan mereka John mendekat,
"Sekarang giliran elo menikmati temen elo ini... elo kan sudah banyak belajar dari tadi! Hahaha..." 
lalu tubuh niez yang telah lemah lunglai dicampakkan ke atas tubuhku, aku memeluk tubuh niez yang telanjang bulat, sambil membelai rambutnya aku berbisik,
"Tabah ya.. nis..." 
walaupun aku sendiri sangat ketakutan, niez hanya dapat mengangguk lemah sambil menangis sesunggukan.
"Hei! kalian tunggu apa? ayo ngentotan! kita pingin liat nih... yang cewek di atas!" 
seru John sambil mengacungkan parang yang membuat kami ketakutan, niez lalu menurut dan memasukkan liang kewanitaannya ke dalam batang kemaluanku yang memang telah menegang keras saat aku memeluk niez dan buah dada niez yang walaupun lengket oleh sperma, tapi terasa kenyal dan hangat menekan dadaku.

Aku serasa berada di awang-awang saat batang kemaluanku menembus kemaluan niez yang beberapa jam lalu masih perawan, seluruh batang kemaluanku terbenam ke liang kemaluan yang sempit itu dan aku merasa batang kemaluanku dijepit dengan kenikmatan yang tiada taranya.
"Ayo kamu goyang temen kamu selama dua menit! Setelah itu angkat memek kamu, temen kamu harus masih ngaceng kontolnya, kalo cepat keluar, mending kita potong dan masak kontolnya buat makanan ayam!"
Niez lalu mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun, aku tak dapat menahan sensasi yang tak pernah kurasakan itu, dan baru beberapa detik niez memompa, aku telah mengalami ejakulasi dan spermaku menyemprot keluar, tidak terlalu banyak karena aku telah mengalami orgasme tadi.

Niez juga merasakan aku ejakulasi, ia kini menggoyangkan pinggulnya maju mundur agar tidak ketahuan aku telah orgasme.

Niez menggunakan rambut kemaluannya yang lebat membantu untuk mengelap cairan spermaku yang meleleh keluar dari liang kewanitaannya. Sementara batang kemaluanku yang masih berada di dalam kemaluan niez perlahan mulai mengecil.

Selang dua menit, John berkata keras,
"Eh.. Non, angkat memek kamu! Kita mau liat kontol temen kamh masih ngaceng tifak.. jangan-jangan kamu pura-pura saja, ngaduk-ngaduk kontol yang sudah loyo!".
niez menggeleng sambil menangis,
"Nggakk... dia masih tegang, benar... sumpah..." 
niez berusaha melindungiku.
"Angkat memek kamu aku bilang!" 
bentak John menggelegar.

Niez tetap membuat gerakan maju-mundur sambil berkata,
"Jangan... saya tidak bohong... ini masih tegang..." 
Si John dengan kasar lalu mendorong tubuh niez hingga jatuh, ia tertawa melihat batang kemaluanku telah jatuh lemas,
"Hahaha.. dasar banci! Tapi kamu masih harus muasin temen kamu... ayo kocok dan cuci memek dia sama tangan kamu!"
Aku dipaksa merangkak mendekati niez, niez diperintahkan terlentang dan mengangkangkan kedua pahanya, lalu aku dipaksa memasukkan jariku ke dalam lubang kemaluan niez dan mengocoknya,
"Hei.. goblok.. kalo cuma satu jari mana puas kakak kamu!" 
Aku lalu memasukkan dua jariku ke dalam liang kemaluan niez, lalu atas perintah mereka kukocok-kocok liang kemaluan niez dengan kuat dan cepat, sehingga niez merintih-rintih dan kedua pahanya tampak bergetar menahan sensasi yang kutimbulkan.

Memandang niez yang tidak berdaya itu. Perlahan kembali batang kemaluanku mengacung.
"Nah.. elo ngaceng lagi akhirnya... ayo sekarang dua-duanya ngentotan yang panas!" 
Aku lalu memeluk niez sambil sesekali meremas perlahan buah dadanya, lalu aku kembali berbisik,
"Maaf ya nis..." 
ciciku hanya menatap kosong sambil mengangguk pelan.
"Heh! Ini bukan acara ngentot gaya kura-kura! elo berdua... ayo bercinta yang panas, kalo tidak gua bikin bakpao pantat-pantat elo!" 
Dengan ketakutan akhirnya aku dan niez menurut, kami lalu bergumul dengan panas di atas lantai papan itu dalam keadaan sama-sama telanjang bulat, saling merangkul dan berciuman, tanganku sesekali meremas buah dada niez.

Sementara tangan niez melingkari batang kemaluanku dan mengocoknya, tak pernah kubayangkan aku akan melakukan hal ini pada temanku sendiri.

Kawanan itu tertawa senang melihat kami bergulat dalam keadaan telanjang bulat di atas lantai,
"Hei..! ini bukan film bisu! Kalian ucapin kata-kata merangsang! Cepat..!" 
Terpaksa kami menurutinya,
"Ohh.. saya jilat susu kamu ya? Hmmpphh... saya remas-remas ya?" 
kataku sambil mengulum puting susu niez dan meremas-remasnya.
"Goblok! Kamu maen sinetron ya? ngentotan saja kata-katanya sok sopan! Dasar tolol... dan yang cewek, kalau kamu diam saja nanti toket kamu aku cabut dari tempatnya dan pentil susu kamu aku goreng!"
Dengan ketakutan kami menurutinya, sambil terus bergumul dan saling memompa, kami terus mengucapkan serentetan kata-kata tanpa berpikir lagi, karena ngeri melihat parang John yang mengacung ke arah kami jika kami tidak bersuara.
"Oh... gue entot elo, susu elo enak.. mantap... gue entot seharian ya, nis?" 
Tanpa berpikir kukeluarkan kata-kata itu, sementara niez juga menimpali tanpa berpikir,
"Ahh... anu elo... panjang... masukkin yang dalam... lebih cepat... ohh..." 
Mereka semua tertawa-tawa, John rupanya telah sangat terangsang melihat niez, ia mendekat dan menjambak rambut niez dan menarik niez ke dalam pelukannya,
"Kamu liat baik-baik goblok, gimana caranya ngentot cewek!" 
katanya padaku.

Tubuh niez lalu diangkatnya dengan mudah, dengan posisi berdiri ia menggendong niez dengan mengangkat pantat niez, terpaksa niez memeluk leher John yang tinggi kekar agar ia tidak terjatuh ke belakang, lalu dengan buas John memompa batang kemaluannya yang luar biasa panjang dan besar masuk ke dalam liang kemaluan niez.

John yang besar setinggi 180 cm lebih itu memompa niez yang setinggi 157 cm dengan posisi itu dengan mudah. Batang kemaluannya dengan deras amblas keluar masuk ke dalam kemaluan niez sehingga tubuh niez terguncang hebat, buah dadanya terhentak-hentak naik turun.

Tak berapa lama tubuh niez kembali menggelinjang dan ototnya menegang, diringi dengan rintihan panjang ciciku kembali mengalami orgasme hebat. John tidak berhenti dan belum mengalami ejakulasi, pompaannya semakin bertambah kuat.

Niez semakin lama tampak semakin lelah dan lemah, sementara batang kemaluan John semakin hebat saja mengaduk liang kemaluannya dalam posisi berdiri.

Akhirnya tanpa dapat dicegah tubuh niez jatuh lunglai ke belakang, pelukannya pada leher John lepas, John membiarkan tubuh niez jatuh tetapi ia tetap memegang kokoh pinggul niez yang sedang digoyang habis-habisan, sehingga niez terjuntai tak berdaya.

Tangan dan rambutnya menyentuh lantai sementara tubuhnya masih tetap digendong dan liang kemaluannya disodok-sodok dengan kejam dan buas.

John melakukannya sambil berjalan dan tertawa-tawa, sehingga niez ikut terseret kemana ia melangkah.

Setelah puas mengocok niez dengan posisi itu, John lalu mengangkat pinggul niez naik hingga ke dada.

Tubuh niez kembali terangkat dengan kepala di bawah, sehingga batang kemaluan John membentur-bentur punggung mulus niez.

John yang mempunyai tenaga besar itu kembali menaikkan pinggul ciciku hingga kemaluan ciciku terhidang di depan mulutnya, dengan rakus ia melumat habis kemaluan niez dengan mulutnya. Kemudian ia memutar tubuh niez sehingga kini wajah niez ditampar-tampar oleh batang kemaluannya yang besar dan sangat keras.

John kembali melumat kemaluan niez dengan penuh nafsu, jari-jari tangannya juga menyodok-nyodok anus niez yang masih terjuntai pingsan, dengan posisi ini akhirnya John berejakulasi, spermanya dengan deras membanjiri wajah niez hingga ke rambut, dan menetes-netes ke lantai papan.

Setelah itu kembali niez digilir oleh teman-teman John yang lain, tidak perduli niez telah pingsan dan tidak dapat bangun lagi walaupun ditampar dengan kuat dan disiram dengan air.

Setelah puas, mereka lalu mencampakkan kami ke lantai, menunggu niez sadar kembali, lalu mereka beramai-ramai mengelilingi kami dan mengencingi tubuh kami, bahkan aku dipaksa minum air kencing mereka, sementara John memaksa niez mengulum batang kemaluannya, lalu ia mengencingi niez dengan cara seperti itu dan memerintahkan niez menelan semua air kencingnya.

Akhirnya setelah puas lalu mereka menyekap kami, memberi sedikit makan dan minum dan baru melepas kami pada saat tengah malam tanpa memberi kami pakaian, terpaksa kami berjalan kaki tertatih-tatih pulang ke rumah yang berjarak sekitar 200 meter dari situ dengan keadaan telanjang bulat.

Kami mengendap-ngendap hingga akhirnya sampai, kami merasa lega, rahasia ini tetap kami pendam, selain mereka mengancam jika melapor polisi maka kami akan dibunuh, kami juga malu menceritakan pengalaman pahit ini.

Yang penting kami telah lepas dari mimpi buruk itu.

Yang Terbendung Berloncatan

July 03, 2011 0
Suara takbir terdengar melantun dari speaker radio tape milik Utami. Seorang istri berumur 35 tahun tampak berwajah muram. Bagaimana tidak, disaat orang lain terutama tetangganya bersuka cita berkumpul bersama kerabatnya, mudik ke daerah masing-masing namun Utami terpaksa hanya menghabiskan lebaran tahun ini di sebuah kompleks rumah rusun tingkat 4 di kawasan Depok. Ini semua karena dirinya dan sang suami mesti melakukan pengiritan keuangan karena anak semata wayang mereka baru masuk TK. Karena gengsi, akhirnya mereka menyiapkan uang pangkal yang cukup besar dan terpaksa mengorbankan keinginan tiap tahunnya untuk pulang mudik ke kampung di Timur pulau Jawa. Apalagi, keperluan lain seperti tas dan buku-buku untuk si buah hati bersekolah nanti selain iuran bulanan sekolah yang lumayan menmbah beban pengeluaran mereka.


Sambil membetulkan jilbab putihnya memadankan dengan kebaya panjang berwarna kuning, Utami menoleh pada jam dinding. "Hmm... Masih jam 7.00. Masih pagi..." gumam Utami sambil menengok ke arah pintu. Suami dan anaknya masih di masjid melaksanakan shalat Ied. Suara Takbir yang mengalun dari speaker menambah sendu suasana hati Utami.

Perutnya sudah keroncongan belum sarapan di pagi itu. Jika ingin ikuti keinginan hatinya, sudah dia habiskan ketupat, opor ayam serta lauknya yang sudah tersajikan di meja. Namun dia sudah berjanji untuk bersarapan bersama sang suami dan anaknya tersayang sepulangnya mereka dari shalat Ied. Saat itulah nanti dia berencana meminta ampun sang suami karena membeli gelang emas 5 hari sebelum lebaran tanpa sepengetahuan suaminya.

"Assalamualaikum..!" kedengaran suara orang memeberi salam di luar pintu.

"Walaikum salam, Siapa ya?!" Jawab Utami menengok keluar.

Ternyata Yudea, Deni dan Deska sedang berdiri bertiga di luar.. Mereka tetangga Utami yang tinggal di lantai bawah rusun tempat tinggalnya. Yudea paling muda baru lulus SMP (14), Deni masih SMA berusia 16 tahun dan Deska (19) sudah setahun lulus SMA, menganggur.

"Selamat hari raya Idul fitri, bu Utami. Mohon maaf lahir batin," Sahut ketiga ABG itu sambil saling dorong satu sama lain.

"Hm... Selamat hari raya. Masuk sana kalau tidak malu," jawab Utami dengan sedikit ketus. Memang Utami tidak menyukai kedatangan ketiga anak tanggung ini. Bagaimana tidak, setiap kali dirinya naik tangga untuk naik ke lantai 4 mereka bertiga sering mengganggu, mengusilinya bahkan berbuat cabul padanya. Pernah suatu ketika mereka bertiga menghalangi Utami naik tangga. Deni sempat meremas-remas pantatnya sementara Deska memperlihatkan batang kontolnya yang sudah ngaceng. Namun Yudea tidak berbuat apa-apa, karena takut mungkin. Saat itu Utami memarahi mereka bertiga karena berani bertindak kurang ajar.

"Aih, kayaknya bu Utami gak suka didatangi kami ya? Jangan gitu dong bu. Kami datang dengan ikhlas mau minta maaf" Rayu Deni dengan memakai wajah melankolis.

"Sudah! jangan masang tampang memelas disini. Cepat masuk, bentar lagi suami ibu pulang." sedikit melunak kali ini Utami menghadapi tiga remaja pembuat onar itu. Ketiganya buru-buru mencari tempat duduk melahap sayur opor ketupat dan lauknya dengan bernafsu.

"Bu, saya mau minta maaf soal kejadian megang pantat Ibu waktu itu. Saya enggak sengaja, sebenarnya saya ingin memukul nyamuk yang hinggap di pantat Ibu. Makanya saya pukul pantat Ibu waktu itu. Maafkan saya bu Utami" Deni bercerita dengan wajah sungguh-sungguh.

"Kalau iya mau matiin nyamuk, jangan kenceng-kenceng dong mukulnya. Sakit pantat ibu waktu itu tau!. Pelan dikit aja." jawab Utami tersenyum kecil.

"Saya juga mau minta maaf, bu. Saya bukan bermaksud mau mamerin burung saya depan ibu hari itu. Sebenarnya waktu itu burung saya terjepit resleting celana, maka terpaksa saya keluarkan karena merasa sakit" Deska menyusul menjelaskan kejadian saat itu.

"Ya sudah, ibu maafkan. Tapi besar juga burungmu Deska. Suka onani yah?" Utami mulai nakal.

"Emm... iya kadang-kadang. Pasti selalu bu Utami yang jadi bahan saya onani... heehehe...." Jawab Deska tertawa kecil.
"Udah-udah jangan ngelunjak ke ibu deh, baru juga minta maaf tadi" hardik Utami serius. Anak remaja ini nggak bisa dikasih hati sedikit. Sementara Yudea sedari tadi hanya diam, mulutnya penuh dengan ketupat Matanya melotot melihat daging pantat Utami yang terbungkus kebaya panjang ketatnya. Utami bisa melihat ada tonjolan keras dibalik celana ketiga anak tanggung itu.

"Eh kamu bertiga datang ke rumah ibu pagi-pagi gini mau ngapain? Gak sholat Ied?" Utami baru menyadari mereka bertiga tidak sembahyang.

"Hehehee... sebenernya kami bertiga sengaja gak ikut sholat Ied soalnya, hehehe.." Deska tersenyum-senyum memandang Deni dan Yudea.

"Hei...! Soalnya kenapa? Jangan mau macem-macem disini!" hardik Utami terbakar emosi.
"Soalnya kami mau menyetubuhi bu Utami keroyokan di pagi lebaran! Pegangin Den!" Deska menghardik sambil menerjang tubuh Utami. Terkejut Utami dibuatnya. Dalam sekejap saja badannya sudah dipeluk erat oleh Deska sementara Deni dengan cepat memegangi kedua kakinya. Yudea membersihkan meja makan dari wadah ketupat beserta wadah opor dan lauk daging dengan menghalau semuanya jatuh ke atas lantai.

Dengan meronta-ronta badan Utami berhasil dibawa ke atas meja. Deni berdiri dekat kepala Utami sambil memegang kedua tangannya. Yudea menaiki perut Utami sambil memegangi kedua paha wanita itu ke atas. Sementara Deska menyingkap ke atas kebaya bu Utami sampai pinggang lalu menarik celana dalam wanita itu terlepas dari kaki mulusnya.

"Lepaskan aku, bangsat! Bentar lagi suamiku pulang, habis kalian dihajar!" jerit Utami.
Deska dengan rakusnya menjilati area selangkangan berbulu tipis diantara pangkal paha Utami. Sesekali bibirnya menghisap gundukan memek Utami dengan bernafsu.

Bu Utami mencoba menendang tapi kakinya diangkat dan dipegang dengan kencang oleh Yudea. Deni memegang kedua tangan Utami dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya mengeluarkan batang penisnya yang sudah tegang dari balik celananya. Tanpa menunggu lama, Deni mengarahkan batang penisnya ke dalam mulut Utami.

"Aahhhkk..! Sepongin bu Utami! Jangan diem aja! Yeahh... Aaahhh..!!" Deni mengerang keenakan sambil memaju mundurkan kontolnya di mulut Utami. Deska semakin liar menyedot-nyedot gundukan memek Utami samapi pantat besarnya terangkat-angkat dibuatnya. Badannya mulai memanas dan terangsang.

Lendir orgasme memeknya keluar membasahi mulut Deska.

Yudea meminta Deska mengganti tugasnya memegangi kaki Utami. Mau tak mau Deska terpaksa memegang betis Utami yang diangkat tinggi sambil mulutnya tak henti menghisap kemaluan wanita itu.

"Eehhmm...! eeemmmhhp...!" bu Utami mulai merasa terangsang ketika Yudea dengan kasar menarik kebaya panjangnya yang berwarna kuning sehingga beberapa kancingnya terlepas. Beha bu Utami terpampang berwarna putih di depan wajah Yudea. Tak sampai lima detik, beha itu dilepas dilempar ke belakang oleh anak lulusan SMP itu, payudara bu Utami yang berukuran 34D tersembul keluar. Dengan gemas, Yudea meremasi payudara kenyal itu hingga membekas merah. Mulut bu Utami meracau mengeluarkan desahan nafsu syahwatnya.

Batang penis Deni yang menyumbat mulutnya mulai dikulumnya dengan bernafsu. Air liur bu Utami meleleh dipinggir mulutnya menimbulkan suara seperti menyedot.
"aarrghhh...! Aaahhhkk...! Ya ampun... Pelan dikit dong bu Utami! Ngilu rasanya kontolku jadinya!" Deni melenguh sambil kakinya terkangkang menahan ngilu.

loading...
Sepuluh menit berada dalam posisi itu, badan bu Utami kemudian digeser ke pinggir meja. Kali ini ketiga lelaki muda itu beralih posisi. Deni berdiri pada selangkangan bu Utami sambil betisnya dikaitkan pada bahunya. Celananya telah entah kemana. Deska diatas payudara bu Utami sambil menggesek-gesekkan kepala penisnya ke mulut wanita malang itu membujuk untuk membuka mulutnya. Bu Utami agak enggan mengulum batang penis Deska karena ukurannya lebih besar dibandingkan milik Deni. Yudea berdiri di samping meja sambil meremas-remas payudara bu Utami.
loading...

"Santai saja bu Utami... Buka sedikit mulutnya, ya.... Buka dikit aja..." bujuk Deska hilang kesabaran.

"Anak setan! Bentar lagi suami saya pulang, mati kalian semua!" maki bu Utami walau sebenarnya nafsu syahwatnya sudah meledak-ledak.

Naik adrenalin Deni saat mendengat umpatan dari mulut bu Utami. Batang penisnya mengacung dengan keras, Deni mulai menempelkan kepala penisnya pada bibir vagina bu Utami. Bu Utami menggeser-geserkan pantatnya menghindari gerakan penis Deni yang mulai menekan vaginanya. Deni memegangi paha bu Utami mencegahnya bergerak kesana kemari. Betis bu Utami mengangkat-angkat pada bahu Deni.

"Habislah! jangan pikir bu Utami bisa lepas! Wuaaarrghh...!!" Erang Deni, serentak bersamaan dengan terbenamnya batang penis mudanya ke dalam liang vagina bu Utami cukup dalam.

"Aaahhhkkkk...! Abanggg Didittt... tolong Utami...! eerrghh...!" bu Utami menjerit memanggil suaminya.

Melihat mulut bu Utami terbuka lebar, Deska segera menyumbat masuk batang penisnya ke mulut wanita itu. Jeritan bu Utami segera hilang berganti dengan suara desahan tertahan. Deska mulai memaju mundurkan batang penisnya dengan kasar. Hampir tersedak bu Utami dibuatnya saat kepala penis bergesekan dengan anak tekaknya (lek-lekanna).

Deni mulai menggenjot bagian selangkangan bu Utami dengan liar. Bergoyang-goyang meja makan yang menjadi alas tubuh bu Utami. Payudaranya berguncang-guncang menambah kegemasan Deni. Tangan Deni menepis tangan Yudea yang sedang meremasi payudara bu Utami. Digenggamnya buah dada Utami dengan kedua tangannya kuat-kuat samibl menarik-narik puting Utami yang sebesar ujung kelingkingnya dengan gemas, Deni terus menggenjotkan batang penisnya dengan ganas. Rasanya puting Utami akan lepas dibuatnya.

"Aagghhh.. aagghhh.. aarrghhh... Aku mau keluar nih Den...!" teriak Deska sambil terus menekan masuk batang penisnya dengan cepat pada mulut Utami.

"Haaaa... semprotin di mulut perempuan itu aja bang Deska...! Pejuhin mulut kurang ajar perempuan ini!" usul Deni sementara bu Utami menggelengkan kepalanya menolak.
"Buchatt! Aaaahhh... aahh... Aaarrggghhkkk..!" Deska menjerit lalu membenamkan batang penisnya dalam-dalam. Air maninya mengalir keluar memenuhi mulut Utami.

"Oouugghh... uhuk... uhuk... dasar bangsat! Air manimu banyak sekali. Ibu ga keminum semuanya... sialan!" tersedak-sedak Utami mengumpat dengan mulutnya belepotan air mani Deska.

"Wiihh, kering dah kantong menyan gue, bu Utami," Deska duduk kecapekan di meja. Batang penisnya masih sedikit mengacung.

Deni meraung seperti kerbau jantan disembelih, Utami tahu air mani anak itu sedang terkumpul di kantung zakarnya menunggu masuk saluran urat-urat di batang penisnya untuk berejakulasi. Bu Utami mengapit leher Deni dengan betisnya yang terangkat sambil menarik tubuh anak itu lebih merapat dengan kelaminnya. Deni mengerti keinginan bu Utami sambil agak membungkukkan badannya, selangkangan mereka semakin rapat beradu.

"Ayo sini, anak setan...! lama banget tuh pejuh keluarnya..! bu Utami menarik rambut Deni lalu mengecup bibirnya. Lidahnya masuk menyelinap ke dalam mulut Deni. Deni menghisap-hisap lidah bu Utami dengan bernafsu. Sisa air mani Deska yang agak asin masuk ke kerongkongan Deni. Tangan bu Utami menyelinap masuk di selangkangan Deni lalu menggenggam kantung zakar anak itu berharap air mani Deni cepat masuk saluran penis Deni dan berejakulasi. Perlahan kemudian, urat penis Deni mengembang menyusul dengan semburan air maninya deras. Tiba-tiba dengan kasar bu Utami memencet kedua biji zakar Deni.

"Aaarrgghhhh...!!! bu Utamiii... aaahhhkkkk!" Deni meraung dilanda kesakitan sekaligus nikmat. Bersamaan dengan itu air maninya meloncat-loncat tak terkendali memenuhi liang vagina wanita itu. Bu Utami tersenyum nakal. Dia tahu kalau biji zakar Deni ditekan kencang maka airmaninya pasti akan cepat keluar tak tertahankan. Biar lemas tuh anak. Deni jatuh terlentang dibawah meja. Dengkulnya berasa sangat kecapekan.

Yudea melototi kedua temannya telah terkapar puas di pagi lebaran. Bu Utami menoleh ke arah Yudea. Perlahan-lahan wanita itu turun dari meja lalu Utami menghardik garang.
"nah ini seorang lagi, kenapa kamu melotot-lotot begitu!?"

Utami meraba-raba benjolan dibalik celana Yudea. Utami menarik nafas panjang. Benjolan di celana Yudea terlihat lebih besar dibandingkan sewajarnya. Utami segera menarik turun celana Yudea. Terbelalak mata Utami saat melihat celana dalam Yudea seperti mau sobek terdorong kuat oleh daging keras yang bersembunyi dibaliknya. Besar sekali, tidak sesuai dengan usia Yudea yang masih muda. Pantaslah Yudea tak mau membuka celananya. Malu dengan ukurannya yang luar biasa besar.

Utami merengkuh daging keras itu untuk mengukur besarnya. Puas dengan taksirannya, Utami menarik paksa celana dalam Yudea hingga mencuat penis Yudea di hadapannya.

"Ya Allah... Gede banget... kaya pisang raja...!" Terkejut luar biasa Utami mendapati ukuran penis Yudea. Batang penis Yudea berukuran sekitar 7 inci. Betul-betul tidak sesuai dengan usia serta tubuhnya yang kurus. Utami benar-benar terangsang. Tak pernah sebelumnya dia mendapatkan batang penis sebesar ini. Liang vaginanya terasa makin melembab. Utami langsung menarik Yudea rapat ke meja. YUdea menurut saja bagai kerbau dicucuk hidung.

"Cepetan dikit ya dek, bentar lagi suami ibu pulang shalat Ied." desak Utami tak sabaran. Utami segera menungging di tepian meja makan. Yudea kelihatan masih bingung, maklumlah masih sangat muda usianya. utami semakin tidak sabar, sambil menoleh ke arah Deska yang duduk di pinggir meja, Utami memanggilnya.

"Hei Deska! Kamu tolongin sebentar si Yudea ini. Penakut bener!" perintah Utami tak sabaran.

Deska segera bangkit menghampiri Yudea. Sambil berdiri di belakang Yudea, Deska memegang batang kontol temannya lalu mengurut-urutnya supaya lebih menegang. Setelah yakin batang penis Yudea cukup keras, Deska mendorongkan kepala penis Yudea masuk ke dalam lubang vagina bu Utami.

"Aaarrggghhh... aahhkkk...! Aduhhhh... Ya Tuhan... Sakit banget! Heeuuuu..." bu Utami menjerit kesakitan yang amat sangat.
Bibir vaginanya seperti ikut masuk ke dalam liang vaginanya.

"Aaaakkkkhh.. eerrgghhhh.. bu Utamiiiii.. lubang memek ibu sempit banget... aahhh...!" Yudea mengerang keenakan.

Bu Utami segera mengkontraksikan dinding vaginanya. Labianya sudah mencengkram erat di sekiliing batang penis Yudea. Dengan dibantu Deska di belakangnya, Yudea mulai menggenjot kejantanannya maju mundur. Tanganya meremas-remas daging pantat bu Utami. Ditampar-tamparnya daging pantat montok wanita itu sampai kemerah-merahan.

"Yaaa.... Begitu, Yudea... Hajar terus bu Utami kaya gitu... Terus genjotin...!" Deska menyemangati Yudea.

"Aaahhkk...! Eerrgghh.. T..t..tolong bentar... yah... Tadi.. siapa.. yang.. lemes.. di pinggir.. m..m..meja tadi!" bu Utami menyindir Deska sambil vaginanya menerima genjotan kasar penis Yudea dari belakang dengan gerakan memutar.

Tersulut emosi Deska mendengar sindiran Utami. Dengan bantuan Yudea, dia angkat tubuh Utami ke atas meja makan. Utami menungging di atas meja dengan kain kebayanya terbuka hingga sepinggang. Yudea berdiri di belakangnya menarik baju kebayanya kebawah hingga payudara Utami bergelantungan bebas. Jilbab putih yang dipakai Utami sudah awut-awutan berantakan.

Deska naik ke atas meja lalu berbaring di bawah badan Utami. Utami terpaksa mengangkangkan pahanya agar Deska bisa memposisikan diri dibawah selangkangannya. Yudea mencabut batang penisnya terlepas dari jepitan vagina bu Utami. Gantian kini dari bawah Deska menggesekan batang penisnya ke lubang vagina wanita itu. Tangannya merangkul pinggang bu Utami lalu menekankannya ke bawah. Utami tanpa menunggu lama menjejalkan penis Deska dalam liang vaginanya hingga terbenam sekujur batang penis Deska tertelan vaginanya.

"Eerrgghh... mmm.. aaiissshhk.." bu Utami mengerang keenakan.

Yudea yang masih di belakang badan bu Utami melihat lubang dubur bu Utami yang yang berkontraksi seolah menantikan sodokan batang penisnya. Perlahan-lahan Yudea menggarukan batang penisnya pada lubang dubur bu Utami.

Utami yang sedang asyik menaiki badan Deska terkejut bukan main saat merasakan sesuatu yang keras berada di pintu lubang duburnya. Bu Utami segera menoleh ke belakang.

"Eh.. Yudea, udah gila lu ya..!? jangan masuk lubang itu!! Dosa...!" bentak bu Utami keras.

"Kamu gak usah peduliin bu Utami! kamu colok aja liang pantatnya. Enak loh! Pasti lebih ngegigit sempit!" Deska memanas-manasi sambil terus menggenjoti liang kemaluan bu Utami.

Yudea memegang pinggang bu Utami erat-erat. Bu Utami mencoba mengelak dengan menggoyang-goyangkan pantatnya namun Yudea tidak memberi kesempatan bu Utami untuk menolak. Dengan cepat YUdea mendorong liang pantat bu Utami dengan penisnya.

"Aaiihshhhh... Aaddduuhhhh.. Ya Tuhaannn...!" bu Utami meraung-raung seperti kesetanan. Terasa mau sobek liang duburnya dijejali paksa dengan batang penis Yudea yang sangat besar. Kali ini badan bu Utami terperangkap layaknya sandwich. Kedua lubang paling rahasianya tengah disodoki oleh dua orang anak tetangganya. Lagu 'Selamat hari Lebaran' milik GIGI yang sedang mengalun dari radio tapenya mengimbangi jeritan serta desah birahinya.

Perih kesakitan slih bergantian dengan kenikmatan. Deska semakin mempercepat genjotan batang kontolnya di liang memek, sementara Yudea semakin garang menyodoki lubang anus bu Utami. Deni yang sedari tadi hanya terbaring menonton bangkit ingin menikmati tubuh bu Utami.

Deni berdiri di hadapan bu Utami sambil memegang kepala bu Utami yang masih mengenakan jilbab putih acak-acakan, Deni menjejalkan batang penisnya ke mulut wanita itu. Sambil diiringi oleh lagu bertemakan lebaran yang mengalun dari speaker radio tape, ketiga remaja tanggung bekerjasama menikmati hidangan di pagi hari lebaran, yaitu tubuh bu Utami.

Tuntaslah sudah hajat ketiganya membalas penghinaan yang mereka dapatkan dari sang tetangga yang menawan, bu Utami. Kini mereka bertiga asyik menikmati kenikmatan yang ditawarkan tubuh montok bu Utami.

"Eemmmpphh... mmmpppp... uuugghh..!" Bersusah payah bu Utami menerima serangan serentak dari ketiga anak lelaki itu. Deni semakin bernafsu menggenjotkan penisnya di mulut bu Utami. Air liur meleleh-leleh di ujung bibir bu Utami. Jilbab putihnya suda hampir menutupi seluruh wajahnya karena dengan brutal ditarik oleh Deni. Semrawut sudah jilbab barunya itu.

Deskapun dari bawah badan bu Utami dengan gencar memompakan batang penisnya pada vagina wanita itu. Vagina bu Utami benar-benar terasa sesak. Kepala penis Deska menyodoki dasar vaginanya hingga perutnya terasa perih.

Paling menyiksanya sekali adalah batang kontol Yudea yang begitu kasar menghentak-hentak lubang duburnya. Tidak cukup dengan itu, Yudea memutar-mutar batang penisnya hingga otot gerbang liang dubur bu Utami kembang kempis menerima sodokan kasar penis anak lelaki itu.

Tak pernah terlintas dalam benak bu Utami bahwa lebaran Idul fitri tahun ini akan disambut dengan pesta percintaan bersama anak-anak tetangganya. Mestinya di hari lebaran ini mereka bersilaturahmi saling memaafkan, namun sebaliknya mereka mengerjai tubuhku di atas meja makan. Baru saja meminta maaf malah dilanjutkan dengan perbuatan biadab, pikir bu Utami sambil badannya masih berkelojotan digenjoti pada tiga lubang kenikmatan miliknya.

"Aaarrgghh... aaahhhh.. rasain nih...!" Deni meraung sambil menekan kepala bu Utami serapat mungkin. hampir terlepas jilbab di kepala bu Utami. Croott.. croottt..croott..! Air mani Deni menyembur dalam mulut bu Utami hingga ke kerongkongan. Rasanya anyir air mani Deni. Banyak makan ikan kayaknya. Deni cabut batang penisnya lalu terlentang di lantai.

"Aaahhh... aahhh... Aaadddooohh... Nih semburan buceng super.. aarrrgghh!" giliran Deska hendak berejakulasi. Deska lalu mencabut penisnya lalu bangun berdiri di atas meja makan, Deska mengarahkan kepala kontolnya ke mulut bu Utami. Utami segera mngocok batang kontol pemuda itu berharap keluar lagi air maninya. Crreeeett.. Creeeeett.. Creeeett! Semburan air mani Deska membasahi pipi mulus lalu meleleh turun ke dagu bu Utami. Utami lalu mengecup kepala kontol Deska, menghisap sisa-sisa sperma yang masih ada. Terasa asin, banyak makan ajinomoto kayaknya.

Yudea masih belum menunjukan tanda-tanda kecapekan sedangkan bu Utami sudah sangat tersiksa. Matanya melirik ke arah jam dinding, sudah pukul 8.30 pagi, suami dan anaknya mungkin sudah selesai shalat Ied sedang dalam perjalanan pulang. Tak dapat dibayangkannya apa reaksi mereka mendapati kejadian yang menimpanya. Suaminya pasti terkaget-kaget melihat istri kesayangannya sedang menungging di atas meja sambil anak tetangga sendiri menggenjoti dengan liar lubang dubur istrinya dengan batang kontol yang besar. Anak lelaki kesayangannya juga pasti heran jika sempat melihat ibunya mengerang-erang keras sambil seorang anak laki-laki menghentakan tititnya ke lubang pantat ibunya.

Meja makan yang dibeli suami bu Utami tahun lalu mulai reot, payudara bu Utami mengayun kesana kemari lantaran lonjakan badan pemiliknya tak terkendali. Tiba-tiba Yudea menarik keluar batang penisnya, bu Utami sempat berpikir Yudea akan berejakulasi namun dugaannya meleset. Anak lelaki itu justru memutar badan bu Utami mengangkat terlentang ke atas meja.

Baju serta kain kebaya barunya sudah teronggok kusut di pinggangnya. Jilbab putihnya masih menempel dikepalanya, tanda Islam yang sudah tercemar. Yudea menaiki atas meja mengangkang di antara pangkal paha Utami. Sambil memegangi betisnya, Yudea mendorong kaki Utami ke arah susunya hingga badan bu Utami terlipat dengan posisi lubang dubur terangkat tinggi.

Yudea kembali menjejalkan batang kontolnya yang masih menegang ke lubang pantat wanita itu. Dahi bu Utami mengernyit menahan perih untuk kedua kali, kali ini Yudea menarik batang penisnya sampai ujung sebelum mendorongnya masuk dengan kasar. Rasanya hampir putus usus bu Utami kesakitan karenanya, tangannya menggapai gapai pinggiran meja menggapai apa saja untuk digenggam menahan perih. Tiba-tiba bu Utami melihat Deni dan Deska sudah bangkit kembali berdiri di pinggiran meja, batang penis dua anak itu kembali menegang saat melihat Utami dijamah dengan liar oleh Yudea.

Utami segera menggapai batang penis Deni dan Deska. Dikocoknya dengan kencang mengimbangi rasa perih yang diperoleh dari sodokan Yudea di lubang pantatnya. Deni dan Deska mengerang keenakan diperlakukan demikian.

"Aaahhh... oouhh... Selamat hari lebaran Desskaa... aahhh... Gak nyangka lebaran ini kontol kita diservis sama bu Utamiii eeeerrrghhh...!" Deni dan Deska bersalaman di atas badan bu Utami sambil bersamaan tangan bu Utami dengan ganas mengocok penis mereka.

Yudea hanya tersenyum melihat tingkah Deni dan Deska. Keringatnya menetes di atas muka bu Utami, sudah sepuluh menit lebih badan bu Utami terlipat dua, pinggangnya terasa mau copot. Batang penisnya masih ganas mengocok lubang pantat bu Utami. Kaki bu Utami hampir kaku mati rasa, tak pernah sebelumnya dia disetubuhi dalam posisi tersiksa seperti ini.

"Aaahhh... aaahhhkkk.. Ya Tuhaann.... aaahhhkkk.. Eerrgghhhh...!" Yudea meraung kencang menandakan hampir berejakulasi, kantung zakarnya terasa perih dan panas menandakan air maninya sudah mendidih siap dikeluarkan.

Kemudian dengan tergesa, Yudea mencabut batang penisnya dari lubang dubur Utami, anak itu naik mengangkangi payudara bu Utami. Wanita itu segera memasukan batang penis Yudea ke mulutnya lalu menghisapnya dengan bernafsu.

"Eeaaarrgggghhh....! Selamat hari lebaran, Mohon maaf lahir bathin bu Utamiii... aarrrgghhh....aahhhkkk...!" bersamaan dengan ucapan selamat hari raya itu air mani Yudea menyembur memenuhi mulut bu Utami.
"Ooouuughhhh... uhuk... uhuk...! uugghhhh...! banyak banget air manimu Yudea... Sebulan gak dikeluarin yah..? Ouugghh..!!" bu Utami melenguh tersedak. Air mani Yudea terasa agak manis, barangkali banyak makan cokelat.

"Aaooohh.. bu Utamiii, giliran kami kali ini...! Yeeaaahhhhh..." Deni dan Deska mengerang sambil air mani mereka berlompatan terputus-putus, bu Utami segera mendekatkan batang penis mereka merapat ke mulutnya. Kedua anak itu berusaha mengarahkan semburan maninya mengarah pada mulut bu Utami namun semburan mani mereka tak terbendung berloncatan ke arah wajah bu Utami membasahi kening, hidung, bulu mata, pipi dan dagu. Habis make-up bu Utami yang terpasang cantik sebelumnya berganti dengan lendir pejuh ketiga anak tetangganya. Bu Utami tak menyangka di hari lebaran akan bersarapan dengan air mani anak-anak muda tetangganya. Bu Utami tergolek lemas di atas meja makan dengan wajah belepotan air mani Yudea, Deni dan Deska. Kain jilbab putih hampir terlepas dari kepalanya dengan warna putihnya ternodai tumpahan air mani. Baju serta kebayanya masih menempel ketat di pinggang tanpa dilepas saat disetubuhi ketiga anak laki-laki itu. Yudea, Deni dan Deska kembali memakai pakaian mereka yang berserakan.

"Emmm.. Selamat hari Lebaran, bu Utami. Kami pulang dulu ya. Kalau suami udah pulang, titipkan salam kami. Bilang kami sudah kenyang dengan hidangan daging bu Utami, empuk dan gurih... Mohon maaf lahir dan bathin...!" dengan santai Yudea, Deni dan Deska meninggalkan bu Utami yang sudah tidak bertenaga untuk menjawabnya. Utami memejamkan matanya, entah apa yang akan dikatakan pada suaminya saat pulang.
☆☆☆☆☆
Jam di tangannya menunjukkan jam 8.50 pagi, tak sabar rasanya Didit ingin bersarapan dengan istri tersayang. Anaknya sibuk merengek ingin pulang pada ibunya. Setibanya di depan pintu tempat tinggalnya, Didit keheranan dengan suara alunan lagu lebaran dari radio tape yang distel kencang-kencang dari dalam. Pintu tempat tinggalnya terbuka lebar.

Baru saja kakinya melangkah masuk, Didit semakin heran dengan ketupat opor yang berhamburan tumpah di lantai. Karpet rumahnya dikotori lauk dan sayur yang pecah wadahnya. Akhirnya mata Didit terpaku pada tubuh istrinya yang terbaring lemas di atas meja makan dengan jilbab acak-acakan serta baju kebayanya tersingkap hingga pinggang,

"Mama... kenapa mama tiduran di atas meja?!" anaknya mengguncang-guncangkan pinggul bu Utami.

"Utami! Apa yang terjadi, Sayang...? Siapa yang...?" kata-kata Didit terhenti saat melihat wajah istrinya. Mata Utami terpejam rapat, tampaknya istrinya tertidur karena kecapekan. Wajah istrinya penuh dengan cairan gumpalan lendir yang mulai kering. Didit memegang gumpalan itu dan mengetahui cairan itu air mani laki-laki. Entah milik siapa pikirnya. Yang pasti bukan hanya dari seorang laki-laki karena jumlahnya yang banyak yang masih meleleh keluar dari mulut Utami. Pasti masih banyak menggenang air mani di dalam mulut istrinya itu. Di celah vagina istrinya juga terlihat beberapa gumpalan sperma masih kental. Ada juga bekas air mani di lubang dubur Utami.

"Bangsat! Depan belakang istriku disetubuhi!" bentak hati Didit. Tapi yang paling membuatnya shock terperanjat adalah senyuman pada bibir Utami... KEPUASAN!
☆☆☆☆☆

Malam Itu Udara Sangat Panas

July 03, 2011 0
Minggu ini banyak terjadi kemalingan masuk ke perumahan yang kami tempati, karena was-was kalau terjadi kemalingan yang sebelumnya maka komplek perumahan mengadakan ronda malam atau menyewa penjaga malam, kebetulan ada 2 dua yang kosong katanya sering ditempati sebagai tempat persembunyian perampok.

Malam itu aku terkena influenza berat karena kehujanan sepanjang siang.

Aku masih menyiapkan makanan untuk penjaga malam, mas….!!
kata istriku yang berpostur tubuh mungil dengan tinggi 155 cm, berwajah menarik seperti bintang Film Mandarin, meskipun kulitnya agak sawo matang dengan rambut pendek, sehingga tampak lebih muda dari usianya yang menginjak 40 tahun.

Malam itu udara sangat panas sehingga dia hanya memakai daster yang lumayan tipis, sehingga memperlihatkan bentuk tubuhnya, utamanya pantat bahenol nya yang empuk itu yang bergoyang saat berjalan.

Walaupun perutnya tidak ramping lagi, karena sudah dua kali mengandung dan model dasternya berkancing di depan sehingga payudara biarpun tidak besar, tapi padat berisi, yang berukuran 34C agak tersembul dan kedua puting susu nya tampak menonjol dari balik dasternya karena memang dia kalau dirumah hanya memakai camisole tipis saja.

Sudah pukul sepuluh kok belum datang, ya ..!
Dia bergumam sendiri karena mengira aku sudah tertidur.

Beberapa saat kemudian kudengar dua orang bercakap-cakap di luar dan mengetuk pintu rumah pelan.

Istriku yang rebahan di sampingkupun bangkit dan entah tersadar atau tidak istriku membetulkan rambutnya dan memoles bibirnya sehingga bibirnya semakin merah.

Lho ????
Gumannya pelan ketika tersadar dia memoles bibirnya

Tapi karena penjaga malam itu terus mengetuk pintu, dia pun tak jadi membersihkan bibirnya yang merah merangsang itu.

Malam, Bu Yati…!
terdengar suara seseorang dan aku mengerti kalau suara itu adalah Pak Deran dan istriku sudah dikenal oleh dua orang petugas jaga tersebut karena sering istriku pulang malam seusai mengajar di kampusnya.

Masuk dulu Pak Deran..!
Terdengar istriku mempersilahkan penjaga malam itu masuk, sementara kudengar bunyi halilintar yang cukup keras dan hujan tiba-tiba turun dengan derasnya.

Wah hujan?? 
Saya sama Pak Towadi, Bu Yati..!
katanya.

Nggak apa-apa,… masuk saja … lagian hujan deras, pak….!
kata istriku.

Selamat malam, Bu Yati..
kudengar Pak Towadi memberi salam pada istriku.

Sebentar ku buatkan kopi ..!
kata istriku, kemudian kudengar istriku berjalan menuju dapur di belakang rumah.

Di, lihat kamu ngga?!
terdengar suara bisikan Pak Deran,

Kamu kacau, Ran?!
balasan suara bisikan Pak Towadi.

Kamu lihat, enggak..?
suara Pak Deran lagi,

Iya, Ran muncul…., kayak penghapus???
kata Pak Towadi,

Rupanya mereka berbisik-bisik mengenai puting susu istriku yang menonjol di balik dasternya, karena malam itu istriku hanya mengenakan camisole di balik dasternya.

Pantatnya bahenol, lagi…...??!!
lanjut bisikan Pak Deran,

Hus istri orang itu, Ran..!
kata Pak Towadi,

Eeh, ini malam Jum’at, kan..? Pas kuat-kuatnya ilmuku hi hi?!!!
kudengar Pak Deran tertawa ditahan pelan.

Dicoba aja.., yuuuk…, siapa tahu Bu Yati mau…!
kata Pak Deran.

Kuingat Pak Towadi orangnya hitam agak tinggi dengan badan kekar dan Pak Deran orangnya tambun pendek, keduanya berumur 50 tahunan lebih, aku bergidik juga mendengar perkataan mereka mengenai istriku tadi.

Mereka penduduk asli daerah itu, terkenal sangat doyan dengan perempuan, bahkan mereka pernah bercerita saat aku jaga malam, kalau pernah membuat pedagang jamu yang bertubuh bahenol, yang sering keliling dua minggu sekali di daerah tempat tinggalku.

Pernah dibuat hampir tak dapat berjalan karena digilir mereka berdua, dimana saat itu pedagang jamu itu masih perawan dan sampai saat bercerita malam itu, pedagang jamu itu masih sering meminta kepada mereka berdua untuk menggilirnya.

Biarpun sekarang sudah bersuami, katanya tak pernah puas dengan suaminya yang masih muda, bahkan pedagang jamu itu pernah meminta mereka berdua datang ke rumahnya.

Kalau sudah kena punya kami, pak, …. Waahhh… perempuan pasti malas dengan suaminya dan?..
Suaminya tak berkutik kalau kami ada, dan membiarkan kami tidur bersama istrinya dalam satu kamar bersama suaminya..
kata Pak Deran terkekeh kekeh malam itu.

Kemudian kudengar suara bisikan mereka lagi.
Kamu jangan ngaco, Ran.
Sudah nanti kelewatan?!
kata Pak Towadi

Keris pusakaku.. ku bawa.. Di…. Ini ..
He he he ?!
kata Pak Deran,

Kamu jangan, gitu Ran…, orangnya lagian baik…, kasihan suaminya nanti, pinginnya sama kamu aja nanti .. !!
suara Pak Kardi lagi.

Karena perasaanku nggak enak akhirnya kuputuskan untuk keluar dan mereka berdua terlihat kaget melihatku, tapi Pak Deran yang membawa keris langsung mencabut kerisnya dan langsung mengarahkan kerisnya padaku dan tiba-tiba gelap menyelimutiku.

Kemudian aku terjaga dan kudapati diriku di tempat tidur kembali, kutoleh pintu kamarku dan kusen kamar dan lantai pintu kulihat seperti membara.

Eeeecch ? ….eeeeccchhh. …eeeeecccchhhh …..!!!!

Kudengar desis istriku dan akupun turun, tubuhku terasa lemas sehingga aku merangkak mendekati pintu kamar dan seperti terkena listrik beribu ribu volt saat tanganku memegang kunci kamarku hingga aku tersungkur makin lemas seperti karung bersimpuh di depan pintu kamar yang sedikit terbuka itu.

Aku tak percaya melihat di ruang tamu dari pintu kamar yang terbuka sedikit itu, kulihat istriku berdiri di depan Pak Deran yang membawa selongsong keris sebesar batang kemaluan orang dewasa lebih besar dari lampu TL 40 watt yang ujungnya di arahkan kepada istriku yang berdiri.

Sedangkan tangan yang satunya seolah memelintir di ujung lainnya yang berbentuk huruf U memanjang itu.

Kedua tangan Pak Deran kini memegang pangkal keris yang melengkung itu dan kedua jarinya memelintir ujungnya dan kulihat istriku yang berdiri, tubuhnya bergetar dan kembali mendesis

Heeeggghhh ?
O..oooooohhhhhhh. 
O……ooooooohhhhhhhh…. ..!!!!!
Pak Deran bukan lagi seperti memelintir tapi menarik narik kedua ujung keris berbentuk U itu dan terlihat istriku membusungkan dadanya seperti kedua puting susunya tertarik ke depan.

Mmm heeeggggh ?
A..aaaaaaa… 
A.aaaaduuuuuhhhhh h……!! !!!
istriku mendesis panjang dan Pak Deran langsung mengulum salah satu ujung U itu dan
Paaak ? Paaakkkk… 
Ja.jaa…jaaangaaa annnnn ?
Pa.paaakkkkk.. ….!!!!! 

Suara desis istriku memelas dan tangan kanan istriku secara refleks memegang payudara kanannya, istriku mendesis-desis kembali
Ummmppff?. Paakkkk….. jaaa….jaaaaang aaaannnn ? paaaakkkk ?..!!!!

Tangan kanan Pak Deran memelintir ujung satunya dan istriku pun memegang kedua payudaranya kembali yang masih terbungkus daster dan camisole nya itu.

EEecccchhhhhhhgggg hhhhh ??!!!!!!!
Istriku mendesah lagi saat Pak Deran memutar selongsong kerisnya sehingga pangkal keris berbentuk U itu berdiri.

Sementara jari-jari tangan kanannya mengelus-elus pinggiran lubang keris itu dan kulihat pantat bahenol istriku pun bergetar dengan hebat.

Pak Deran semakin cepat mengelus dan bahkan menggosok lubang keris itu dan istriku pun mengerang-erang

Paaakk ? 
Paaakkk….
Su..suuu. ..suuuuddaaaaahh paaakkk ?
Jangaaan diteruu... uuskaaaaan ?
Ee.eeeecchghghghghghg h ??.!!!!!

Sementara pantatnya pun bergetar hebat dan kedua tangan istriku memegang pantat bahenolnya yang bergetar hebat saat Pak Deran menjilati lubang keris itu dan pantat bahenol istriku meliuk liuk tak karuan.

Kedua tangannya meramas pantat bahenolnya sendiri yang mulai maju mundur saat Pak Deran menyedot nyedot lubang keris itu dan bahkan lidah Pak Deran menjilati lubang itu dan,
Mmmppfffhhh hghghghgghghg ?

Istriku semakin keras mendesis desis, selangkangan nya terangkat angkat dan mendekati ujung selongsong keris ysng tengah disedot sedot dan dijilati lubangnya oleh Pak Deran.

`Paaaak ? 
Sudddaaaah....
ngngngngngngng hhhheeeghghghghgh??!!!
Istriku mendesis kedua matanya tertutup dan selangkangan nya tertarik ke depan hingga selangkangan nya kini mengesek ngesek sarung keris itu.

Suudddaaaaah paaaak jangaaaaan sudaaah eeeeechghghghg ?.!!!!
istriku terus mendesis desis. Kemudian Pak Deran menghentikan aksinya.

Diii…, elus lubang kerisku ?!!!
kata Pak Deran kepada Pak Towadi yang dari tadi bengong, sementara di pangkal selangkangannya sudah menggelembung menunjukkan batang kemaluannya sudah berdiri tegang.

Pak Towadi langsung mengelus lubang keris Pak Deran dan kembali.
Eeeeee….. 
eeeeee… .
eeeeehhhhh. ….e
eeecccchhhg hghghg?..! !!!
istriku mendesis.

Enak Bu Yati….?
tanya Pak Deran yang berdiri dihadapannya dan selangkangan istriku masih menempel di sarung keris itu.

Istriku ngga menjawab, diam saja.
Ooooo.. kurang enak rupanya?!!!
kata Pak Deran kemudian…. ..

Jaaa….jaaaangaaa nnnn….., paaakkkk…. ..!!!!
rintih istriku memelas.

Singkap dastermu, Buuuu……! !!!
perintahnya.

Paaak …..oooohhhhhh. …jaaa.. ..jaaangaaannn ….paakkkk. …..!!!! 
istriku menghiba.

Ayooo .. nggak usah malu Buuu…. atau biar dia yang mencari jalannya sendiri?!
kata Pak Deran.

Seperti diperintah sarung keris itupun menempel di selangkangan istriku saat Pak Deran melepasnya dan…

Paak ….jaaa…jaaangaa nnnn…paaaakkkk ?.!!!
desis istriku saat sarung itu mulai menggosok selangkangannya kembali, sehingga pantatnya pun bergetar kembali.

Dii...?
Malam ini kita nonton dulu ? 
Biar Mbah Gandul yang nyebokin Bu Yati, malam ini punya dia?
Lihat Dii ? 
Bu Yati menaikkan dasternya ? 
Rupanya dia sudah kebelet….
Kulihat istriku mendesis-desis dan mengelinjang, sementara kedua tangannya memegang pantat nya sendiri dan menarik ke atas dasternya pelan-pelan, sehingga mulai tersingkap paha mulusnya.

Semakin lama pantatnya semakin bergetar cepat dan selangkangannya maju mundur oleh gosokan sarung keris yang di sebut Pak Deran, Mbah Gandul itu.

Begitu dasternya tersingkap sampai pangkal pahanya, Mbah Gandul langsung menyusup ke selangkangan istriku dan …..
Mmmmmmpppfff ..eeecchhhh ?..
Bessaaaar ??
Oooooohhhhhh. ….!!!
desis panjang istriku.

Sudah, Di , kita keluar biar Bu Yati malam ini milik Mbah Gandul?!!!
kata Pa Deran.

Bu Yati, titip Mbah Gandul yaa, selamat menikmati, besok baru kami,…
Oh… ya…., besok kan ibu pulang malam?
Nggak usah pake BH dan celana dalam ya kalau pulang..!!
Nanti dibungkus dan serahkan ke saya di pos kalau pulang? 
Biar lebih enak ?
He he he….!!! 
kata Pak Deran sambil meremas payudara istriku yang berdiri tak berkutik dengan kedua kakinya yang terkangkang.

Merekapun keluar meninggalkan istriku yang terbengong.

Mmmpppff ….
Ooooohhhhh. …
Be beee.. ..besaaar ?
Aaamaaatttt. …!!!
rintihnya saat kedua orang itu telah pergi.

Istriku pun berusaha duduk di kursi panjang dan rupanya dia berusaha menarik sarung keris itu keluar tapi…..

Mbaaaah uummppfff oooooohhh… aaammmmpuuunnn. ..mmmbaaaahhh. ….
istriku mendesis keras.

Oooocch masuukkk ke daalaaam eeeccchh gilaaa uummpppfff heeecchhh gilaaa ?
Uuuccch geliiii aaaccch koook giniiii rasanyaaaaa..
Uuumppppccchh 
Ennnnaaaaakkkkckccc hhhh??!!!” 
dan kulihat istriku mencengkeram erat sandaran kursi dan pantat nya bergetar keras maju mundur di tempat duduknya dan goyangan pantatnya semakin kencang, sementara keringatnya memebanjir dan nafasnya terengah engah.

Eccchhhghghghg 
Mbaaaaah Gaaanduuull?
Akuuuu keluaaaaar ?.!!!
istriku mengerang saat mencapai orgasme malam itu.

Tubuhnya tersungkur miring di kursi panjang dan beberapa saat kemudian kaki nya terkangkang lebar dan tubuhnya bertumpu di kedua tangannya melihat selangkangan nya yang digarap Mbah Gandul kembali itu.

Kembali pantatnya bergoyang sementara mulutnya mendesis-desis kenikmatan dan nafasnya memburu keras dan….
Mbaaah…mmmbbaahh hhh…… ..
Aaaaa… aaaakkuuuuu. 
Keee…keeeelua aaar lagiiiii ?.!!!!
dia mengerang saat mencapai orgasme keduanya dan pantat nya tersentak-sentak.

Kemudian dia duduk kembali dan berusaha berdiri dan berjalan menuju kamar, akupun cepat-cepat rebahan di tempat tidur…
Mas…maaasss. … bangun,….mass. …!!!!
panggil istriku

Kamu kelihatanya kok kumal dik, tadi… ku dengar ribut-ribut diluar…..! !!

Maas ?!!!!!
kata istriku tersipu-sipu, sambil memelukku.

Selang seminggu kemudian, kembali Pak Deran dan Pak Towari mendapat giliran tugas jaga Dan seperti kebiasaan yang lalu-lalu, mereka pasti akan mampir kerumahku dengan alasan untuk minum kopi.

Sudah sejak jam 7 malam aku masuk kekamar, dengan pura-pura badan merasa ngga enak.

Begitulah kira-kira jam 9 malam, terdengar ketukan pada pintu depan dan terdengar istriku yang masih nonton TV diruang tamu membuka pintu depan dan terdengar suara Pa Towari dan Pak Deran.
Selamat bu Yati…. apa bapak masih bangun…?

Ohh…bapak ngga enak badan dan sudah masuk tidur sejak jam 7 tadi…!!!
terdengar sahutan istriku…..

Oooo…maaf mengganggu, tapi saya hanya mampir sebentar untuk mengambil kopi saja…!!
Kalau begitu silakan duduk dulu, saya akan menyediakan kopi didapur…!
sahut istriku lagi, sambil berjalan masuk kedalam.

Sesaat kemudian kudengar suara langkah kaki menyusul istriku kedapur dan…
Bu Yati, nggak bilang suami ibu kan mengenai kejadian yang lalu…. ?..!!!
terdengar suara Pak Towadi. Tak terdengar suara jawaban dari istriku.

Tak selang kemudian terdengar suara ribut-ribut tertahan dari arah dapur dan…….

Ooooohhhh.. ..
Jangan. …Jangaan paak ?!!!!!
terdengar suara menghiba

Kenapa, Bu Yati…? diam saja bu….ntar juga pasti enak kok….!!!
suara Pa Towari kembali.

Jangan pak, ampuun paaak ?.!!!
istriku semakin menghiba, kayaknya Pak Towadi semakin mendesaknya, kemudian dengan mengendap-edapa aku turun dari tempat tidur dan mengintip dari celah-celah pintu kamar…. dan….terlihat dengan cepat Pak Towadi melompat dan berdiri diantara kedua kaki istriku yang terkangkang lebar, saat istriku akan mengatupkan kedua kakinya.

Tutup selambunya, Ran…!!!
kata nya ke Pak Deran, dan Pak Deran langsung menutup selambu dan pintu rumah.

Ayo?emut kontolku Bu Yati..
kata Pak Towadi tiba-tiba sambil mengeluarkan penisnya yang agak kecil lemas tapi panjang berbintil- bintil seperti buah pace mendekati mulut istriku.

Jaaa….jaaangaann nn paaak?
Aaaampun paaak ??!!!!
istriku terisak sambil memegang pergelangan tangan Pak Towadi yang menyambak rambutnya dan pantat Pak Towadi maju dan batang kemaluannya yang panjang berbintil-bintil semakin dekat dengan mulut istriku.

Lepas rambut saya paaak…!!!
isak istriku dan Pak Towadi melepas jambakannya dan istriku membuka mulutnya yang sudah dekat dengan penis Pak Towadi dan istriku mengulum penis berbintil Pak Towadi.

Sedot Bu Yati ?
Waaa.wwwuhhh Raan Bu Yati pinter nyedot kontolku ?!!!
kata Pak Towadi ke Pak Deran yang juga mendekati istriku.

Sudaaah nanti biar Bu Yati sendiri…!! !
katanya, aku tak mengerti maksud kata-kata Pak Deran.

Kemudian Pak Towadi mencabut penis berbintilnya dari mulut istriku dan mendorong istriku untuk duduk dibangku panjang yang ada di dapur, sementara dia duduk di kiri istriku, sedang Pak Deran dikanan istriku.

Bu Yati? gosok punyakmu sendiri ?!!
kata Pak Deran sambil memegang tangan kanan istriku ke selangkangan nya sendiri.

Ayooo ?.!!!
kata Pak Deran lirihdan mulailah istriku masturbasi menggosok dan mengocok bibir vaginanya sendiri sampai akhirnya bunyi kecepak terdengar dari selangkangannya.

Itilmu Bu Yati…!!!
kata Pak Deran dan istriku mengerang sendiri saat memepermainkan kelentiitnya.

Paaak ?!!!!
istriku mendesis.

Kenapa, Bu Yati…?
tanya Pak Towadi.

Paaaak ?.!
istriku hanya mendesis.

Ran Bu Yati mulai naik niih…. ,!!!
kata Pak Towadi dan Pak Deran pun berdiri dan menuju pintu dan membukanya dan masuk kembali memegang tali dan betapa terkejutnya aku saat Pak Deran menarik Tarzan.

Kontol herdernya yang setia, yang selalu menemani mereka jaga.

Istrikupun terkejut sepertiku dan Pak Deran mengunci pintu kembali dan Pak Towadi memegang istriku yang akan lari.

Diaam ?
bentak Pak Towadi.

Jangaan paaak ?..
istriku akan mengatupkan kakinya tapi Pak Deran sudah berdiri di depan istriku dan menahan kaki istriku dan Tarzan.

Langsung menyusup di antara kaki Pak Deran yang menahan kaki istriku.

Aaaaaauuuuwwwwwww. ……
Paaaak ?..!!!!
suara istriku mengerang saat selangkangan nya yang gundul dijilati Tarzan.

Rupanya si Tarzan sudah terlatih merangsang wanita karena istriku memegang pinggang Pak Deran yang berdiri di depan istriku menahan agar kaki istriku tetap terkangkang lebar.

Eeeccch eeh eeeeeecchchh ?
Www..wwwuuucccggghhh .......
Ppaaaaak aaaahhcchhchchc ?
istriku mengerang ddan mendesis keras karena jilatan Tarzan di selangkangan nya.

Gimana Ibu Yati? Enak Ibu Yati?
kata Pak Deran terkekeh kekeh.

Paaak ampuuunn adduuuuuuccch aaduuucchh mmmppsss paaakkkkzzzzz? 
Eeeeeh eeh eeeh eh eh?
Pp.paakk akuuu...
Wwwwwwwwuucccch ngngngngngng? 
istriku mengerang keras dan memegang erat pinggang Pak Deran sedangkan pantat bahenol terangakt angkat saat orgasme ketiganya malam itu meledak dan Tarzan dengan ganasnya terus merangsang kelentit.

Bibir vagina istriku dan hanya terpaut beberapa menit istriku mengerang kembali saat mencapai orgasmenya yang ke empat dan tubuh istriku pun terjatuh di kursi nafasnya mendengus dengus keringatnya mengalir deras tetapi Tarzan.

Kontol herder itu terus merangsang istriku dengan jilatan jilatan mautnya di bibir vagina istriku dan kelentit istriku dan istriku pun mengejang dan mengerang kembali saat orgasmenya ke lima meledak.

Tubuh istriku benar-benar lunglai dan Pak Deran membalikkan tubuh istriku yang terkapar di kursi panjang dan menarik kedua kaki istriku yang tertelungkup di lantai dan bertumpu di kedua lututnya sehingga istriku menungging dan Tarzan rupanya sudah siap dan batang kemaluannya yang merah sudah membesar dan menegang langsung melompat di punggung istriku dan Pak Towadi mengarahkan batang kemaluan Tarzan ke liang vagina istriku.

MMmmppppfffh paaak jangaaaaan akuuu mnmmmn nn nggaaak mauuu mmmmppfffff .
uuuucccch ucccchhh ?!!!!!
istriku mengerang saat batang kemaluan Tarzan menerobos masuk ke liang vagina istriku dan kulihat begitu cepatnya Tarzan mengenjotkan pantatnya sehingga istriku tak lagi dapat mengerang hanya mendesis.

wwwhhh wwwwhhhhhw wwhwhhhwhw ?..!!!!” 
dan bunyi kecepak-kecepak di selangkangan istriku semakin keras.

wwwwhhhhcchh...
wwwccchhhh....
ngngngngng ?.!!!
istriku mengejan saat orgasme dan terus entah sampai orgasme yang ke berapa hingga tampaknya istriku hampir pingsan.