Showing posts with label Treesome. Show all posts
Showing posts with label Treesome. Show all posts

Buku Hitam Harian Winda

June 08, 2019 0
Kisah seorang dosen yang bersetubuh dengan mahasiswinya sendiri. Bagaimana kisahnya, simak cerita lengkapnya berikut ini!

Cerita ini bemula dari ulah dosenku yang kurang ajar.

Hingga akhirnya aku menerima semua nasib sial ini. Berikut secara lengkap aku ceritakan bagaimana aib itu bisa terjadi.

Dengan langkah ragu-ragu aku mendekati ruang dosen di mana Pak Hr berada.

Winda…
sebuah suara memanggil.

Hei Ratna!

Ngapain kau cari-cari dosen killer itu?
Ratna itu bertanya heran.

Tau nih, aku mau minta ujian susulan, sudah dua kali aku minta diundur terus, kenapa ya?

Idih jahat banget!

Makanya, aku takut nanti di raport merah, mata kuliah dia kan penting!, tauk nih, bentar ya aku masuk dulu!

He-eh deh, sampai nanti!
Ratna berlalu.

Dengan memberanikan diri aku mengetuk pintu.

Masuk…!
Sebuah suara yang amat ditakutinya menyilakannya masuk.

Selamat siang pak!

Selamat siang, kamu siapa?
tanyanya tanpa meninggalkan pekerjaan yang sedang dikerjakannya.

Saya Winda…!

Aku..? 

Oh, yang mau minta ujian lagi itu ya?

Iya benar pak.

Saya tidak ada waktu, nanti hari minggu saja kamu datang ke rumah saya, ini kartu nama saya.
Katanya acuh tak acuh sambil menyerahkan kartu namanya.

Ada lagi?
tanya dosen itu.

Tidak pak, selamat siang!
Selamat siang!

Dengan lemas aku beranjak keluar dari ruangan itu. Kesal sekali rasanya, sudah belajar sampai larut malam, sampai di sini harus kembali lagi hari Minggu, huh!

Mungkin hanya akulah yang hari Minggu masih berjalan sambil membawa tas hendak kuliah.

Hari ini aku harus memenuhi ujian susulan di rumah Pak Hr, dosen berengsek itu.

Rumah Pak Hr terletak di sebuah perumahan elite, di atas sebuah bukit, agak jauh dari rumah-rumah lainnya.

Belum sempat memijit Bel pintu sudah terbuka, Seraut wajah yang sudah mulai tua tetapi tetap segar muncul.

Ehh…! Winda, ayo masuk!
sapa orang itu yang tak lain adalah pak Hr sendiri.

Permisi pak! Ibu mana?
tanyaku berbasa-basi.

Ibu sedang pergi dengan anak-anak ke rumah neneknya!
sahut pak Hr ramah.

Sebentar ya…
katanya lagi sambil masuk ke dalam ruangan.

Tumben tidak sepeti biasanya ketika mengajar di kelas, dosen ini terkenal paling killer.

Rumah Pak Hr tertata rapi. Dinding ruang tamunya bercat putih. Di sudut ruangan terdapat seperangkat lemari kaca temapat tersimpan berbagai barang hiasan porselin. Di tengahnya ada hamparan permadani berbulu, dan kursi sofa kelas satu.

Gimana sudah siap?
tanya pak Hr mengejutkan aku dari lamunannya.

Eh sudah pak!

Sebenarnya…, sebenarnya Winda tidak perlu mengikuti ulang susulan kalau…, kalau…!

Kalau apa pak?
aku bertanya tak mengerti.

Belum habis bicaranya, Pak Hr sudah menuburuk tubuhku.
Pak…, apa-apaan ini?
tanyaku kaget sambil meronta mencoba melepaskan diri.

Jangan berpura-pura Winda sayang, aku membutuhkannya dan kau membutuhkan nilai bukan, kau akan kululuskan asalkan mau melayani aku!
sahut lelaki itu sambil berusaha menciumi bibirku.

Serentak Bulu kudukku berdiri.

Geli, jijik, namun detah dari mana asalnya perasaan hasrat menggebu-gebu juga kembali menyerangku.

Ingin rasanya membiarkan lelaki tua ini berlaku semaunya atas diriku.

Harus kuakui memang, walaupun dia lebih pantas jadi bapakku, namun sebenarnya lelaki tua ini sering membuatku berdebar-debar juga kalau sedang mengajar.

Tapi aku tetap berusaha meronta-ronta, untuk menaikkan harga diriku di mata Pak Hr.

Lepaskan…, Pak jangan hhmmpppff…!
kata-kataku tidak terselesaikan karena terburu bibirku tersumbat mulut pak Hr.

Aku meronta dan berhasil melepaskan diri. Aku bangkit dan berlari menghindar.

Namun entah mengapa aku justru berlari masuk ke sebuah kamar tidur.

Kurapatkan tubuhku di sudut ruangan sambil mengatur kembali nafasku yang terengah-engah, entah mengapa birahiku sedemikian cepat naik.

Seluruh wajahku terasa panas, kedua kakikupun terasa gemetar.

Pak Hr seperti diberi kesempatan emas. Ia berjalan memasuki kamar dan mengunci pintunya.

Lalu dengan perlahan ia mendekatiku. Tubuhku bergetar hebat manakala lelaki tua itu mengulurkan tangannya untuk merengkuh diriku.

Dengan sekali tarik aku jatuh ke pelukan Pak Hr, bibirku segera tersumbat bibir laki-laki tua itu.

Terasa lidahnya yang kasap bermain menyapu telak di dalam mulutku.

Perasaanku bercampur aduk jadi satu, benci, jijik bercampur dengan rasa ingin dicumbui yang semakin kuat hingga akhirnya akupun merasa sudah kepalang basah, hati kecilku juga menginginkannya.

Terbayang olehku saat-saat aku dicumbui seperti itu oleh Aldy, entah sedang di mana dia sekarang. aku tidak menolak lagi.

Bahkan kini malah membalas dengan hangat.

Merasa mendapat angin kini tangan Pak Hr bahkan makin berani menelusup di balik blouse yang aku pakai, tidak berhenti di situ, terus menelup ke balik beha yang aku pakai.

Jantungku berdegup kencang ketika tangan laki-laki itu meremas-remas gundukan daging kenyal yang ada di dadaku dengan gemas.

Terasa benar, telapak tangannya yang kasap di permukaan buah dadaku, ditingkahi dengan jari-jarinya yang nakal mepermainkan puting susuku.

Gemas sekali nampaknya dia.

Tangannya makin lama makin kasar bergerak di dadaku ke kanan dan ke kiri.

Setelah puas, dengan tidak sabaran tangannya mulai melucuti pakaian yang aku pakai satu demi satu hingga berceceran di lantai.

Hingga akhirnya aku hanya memakai secarik G-string saja.

Bergegas pula Pak Hr melucuti kaos oblong dan sarungnya.

Di baliknya menyembul batang penis laki-laki itu yang telah menegang, sebesar lengan Bayi.

Tak terasa aku menjerit ngeri, aku belum pernah melihat alat vital lelaki sebesar itu.

Aku sedikit ngeri.

Bisa jebol milikku dimasuki benda itu.

Namun aku tak dapat menyembunyikan kekagumanku. Seolah ada pesona tersendiri hingga pandangan mataku terus tertuju ke benda itu.

Pak Hr berjalan mendekatiku, tangannya meraih kunciran rambutku dan menariknya hingga ikatannya lepas dan rambutku bebas tergerai sampai ke punggung.

Kau Cantik sekali Winda…
gumam pak Hr mengagumi kecantikanku.

Aku hanya tersenyum tersipu-sipu mendengar pujian itu.

Dengan lembut Pak Hr mendorong tubuhku sampai terduduk di pinggir kasur.

Lalu ia menarik G-string, kain terakhir yang menutupi tubuhku dan dibuangnya ke lantai.

Kini kami berdua telah telanjang bulat.

Tanpa melepaskan kedua belah kakiku, bahkan dengan gemas ia mementangkan kedua belah pahaku lebar-lebar.

Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkanganku.

Nafas laki-laki itu demikian memburu.

Tak lama kemudian Pak membenamkan kepalanya di situ.

Mulut dan lidahnya menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluanku yang tertutup rambut lebat itu.

Aku memejamkan mata, oohh, indahnya, aku sungguh menikmatinya, sampai-sampai tubuhku dibuat menggelinjang-gelinjang kegelian.

Pak…!
rintihku memelas.

Pak…, aku tak tahan lagi…!
aku memelas sambil menggigit bibir.

Sungguh aku tak tahan lagi mengalamai siksaan birahi yang dilancarkan Pak Hr.

Namun rupanya lelaki tua itu tidak peduli, bahkan senang melihat aku dalam keadaan demikian.

Ini terlihat dari gerakan tangannya yang kini bahkan terjulur ke atas meremas-remas payudaraku, tetapi tidak menyudahi perbuatannya.

Padahal aku sudah kewalahan dan telah sangat basah kuyup.

Paakk…, aakkhh…!
aku mengerang keras, kakinya menjepit kepala Pak Hr melampiaskan derita birahiku, kujambak rambut Pak Hr keras-keras.

Kini aku tak peduli lagi bahwa lelaki itu adalah dosen yang aku hormati.

Sungguh lihai laki-laki ini membangkitkan gairahku.

Aku yakin dengan nafsunya yang sebesar itu dia tentu sangat berpengalaman dalam hal ini, bahkan sangat mungkin sudah puluhan atau ratusan mahasiswi yang sudah digaulinya.

Tapi apa peduliku?
Tiba-tiba Pak Hr melepaskan diri, lalu ia berdiri di depanku yang masih terduduk di tepi ranjang dengan bagian bawah perutnya persis berada di depan wajahku.

Aku sudah tahu apa yang dia mau, namun tanpa sempat melakukannya sendiri, tangannya telah meraih kepalaku untuk dibawa mendekati kejantanannya yang aduh mak, Sungguh besar itu.

Tanpa melawan sama sekali aku membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu kukulum sekalian alat vital Pak Hr ke dalam mulutku hingga membuat lelaki itu melek merem keenakan.

Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulutku. Itupun sudah terasa penuh.

Aku hampir sesak nafas dibuatnya.

Aku pun bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutku.

Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap kali lidahku menyapu kepalanya.

Beberapa saat kemudian Pak Hr melepaskan diri, ia membaringkan aku di tempat tidur dan menyusul berbaring di sisiku, kaki kiriku diangkat disilangkan di pinggangnya.

Lalu Ia berusaha memasuki tubuhku belakang. Ketika itu pula kepala penis Pak Hr yang besar itu menggesek clitoris di liang senggamaku hingga aku merintih kenikmatan.

Ia terus berusaha menekankan miliknya ke dalam milikku yang memang sudah sangat basah.

Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalam milikku.

Dan ketika dengan kasar dia tiba-tiba menekankan miliknya seluruhnya amblas ke dalam diriku aku tak kuasa menahan diri untuk tidak memekik.

Perasaan luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai diriku, hingga badanku mengejang beberapa detik.

Pak Hr cukup mengerti keadaan diriku, ketika dia selesai masuk seluruhnya dia memberi kesempatan padaku untuk menguasai diri beberapa saat.

Sebelum kemudian dia mulai menggoyangkan pinggulnya pelan-pelan kemudian makin lama makin cepat.

Aku sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap Pak Hr menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding dalam liang senggamaku sungguh membuatku lupa ingatan.

Pak Hr menyetubuhi aku dengan cara itu. Sementara bibirnya tak hentinya melumat bibir, tengkuk dan leherku, tangannya selalu meremas-remas payudaraku.

Aku dapat merasakan puting susuku mulai mengeras, runcing dan kaku.

Aku bisa melihat bagaimana batang penis lelaki itu keluar masuk ke dalam liang kemaluanku.

Aku selalu menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalam.

Milikku hampir tidak dapat menampung ukuran Pak Hr yang super itu, dan ini makin membuat Pak Hr tergila-gila.

Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Pak Hr membalik tubuhku hingga menungging di hadapannya.

Ia ingin pakai doggy style rupanya.

Tangan lelaki itu kini lebih leluasa meremas-remas kedua belah payudara aku yang kini menggantung berat ke bawah.

Sebagai seorang wanita aku memiliki daya tahan alami dalam bersetubuh.

Tapi bahkan kini aku kewalahan menghadapi Pak Hr. Laki-laki itu benar-benar luar biasa tenaganya.

Sudah hampir setengah jam ia bertahan.

Aku yang kini duduk mengangkangi tubuhnya hampir kehabisan nafas.

Kupacu terus goyangan pinggulku, karena aku merasa sebentar lagi aku akan memperolehnya.

Terus…, terus…, aku tak peduli lagi dengan gerakanku yang brutal ataupun suaraku yang kadang-kadang memekik menahan rasa luar biasa itu.

Dan ketika klimaks itu sampai, aku tak peduli lagi…, aku memekik keras sambil menjambak rambutnya.

Dunia serasa berputar.

Sekujur tubuhku mengejang.

Sungguh hebat rasa yang kurasakan kali ini.

Sungguh ironi memang, aku mendapatkan kenikmatan seperti ini bukan dengan orang yang aku sukai.

Tapi masa bodohlah.

Berkali-kali kuusap keringat yang membasahi dahiku.

Pak Hr kemudian kembali mengambil inisiatif.

Kini gantian Pak Hr yang menindihi tubuhku.

Ia memacu keras untuk mencapai klimaks.

Desah nafasnya mendengus-dengus seperti kuda liar, sementara goyangan pinggulnya pun semakin cepat dan kasar.

Peluhnya sudah penuh membasahi sekujur tubuhnya dan tubuhku.

Sementara kami terus berpacu.

Sungguh hebat laki-laki ini. Walaupun sudah berumur tapi masih bertahan segitu lama.

Bahkan mengalahkan semua cowok-cowok yang pernah tidur denganku, walaupun mereka rata-rata sebaya denganku.

Namun beberapa saat kemudian, Pak Hr mulai menggeram sambil mengeretakkan giginya.

Tubuh lelaki tua itu bergetar hebat di atas tubuhku.

Penisnya menyemburkan cairan kental yang hangat ke dalam liang kemaluanku dengan derasnya.

Beberapa saat kemudian, perlahan-lahan kami memisahkan diri.

Kami terbaring kelelahan di atas kasur itu.

Nafasku yang tinggal satu-satu bercampur dengan bunyi nafasnya yang berat.

Kami masing-masing terdiam mengumpulkan tenaga kami yang sudah tercerai berai.

Aku sendiri terpejam sambil mencoba merasakan kenikmatan yang baru saja aku alami di sekujur tubuhku ini.

Terasa benar ada cairan kental yang hangat perlahan-lahan meluncur masuk ke dalam liang vaginaku.

Hangat dan sedikit gatal menggelitik.

Bagian bawah tubuhku itu terasa benar-benar banjir, basah kuyub.

Aku menggerakkan tanganku untuk menyeka bibir bawahku itu dan tanganku pun langsung dipenuhi dengan cairan kental berwarna putih susu yang berlepotan di sana.

Bukan main Winda, ternyata kau pun seperti kuda liar!
kata Pak Hr penuh kepuasan.

Aku yang berbaring menelungkup di atas kasur hanya tersenyum lemah.

Aku sungguh sangat kelelahan, kupejamkan mataku untuk sejenak beristirahat.

Persetan dengan tubuhku yang masih telanjang bulat.

Pak Hr kemudian bangkit berdiri, ia menyulut sebatang rokok.

Lalu lelaki tua itu mulai mengenakan kembali pakaiannya.

Aku pun dengan malas bangkit dan mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai.

Sambil berpakaian ia bertanya,
Bagaimana dengan ujian saya pak?

Minggu depan kamu dapat mengambil hasilnya.
sahut laki-laki itu pendek.

Kenapa tidak besok pagi saja?
protes aku tak puas.

Aku masih ingin bertemu kamu, selama seminggu ini.
Aku minta agar kau tidak tidur dengan lelaki lain kecuali aku!
jawab Pak Hr.

Aku sedikit terkejut dengan jawabannya itu. Tapi akupun segera dapat menguasai keadaanku. Rupanya dia belum puas dengan pelayanan habis-habisanku barusan.

Aku tidak bisa janji!
sahutku seenaknya sambil bangkit berdiri dan keluar dari kamar mencari kamar mandi.

Pak Hr hanya mampu terbengong mendengar jawabanku yang seenaknya itu.

Aku sedang berjalan santai meninggalkan rumah pak Hr, ini pertemuanku yang ketiga dengan laki-laki itu demi menebus nilai ujianku yang selalu jeblok jika ujian dengan dia.

Mungkin malah sengaja dibuat jeblok biar dia bisa main denganku.

Dasar, namun harus kuakui, dia laki-laki hebat, daya tahannya sungguh luar biasa jika dibandingkan dengan usianya yang hapir mencapai usia pensiun itu.

Bahkan dari pagi hingga sore hari ini dia masih sanggup menggarapku tiga kali, sekali di ruang tengah begitu aku datang, dan dua kali di kamar tidur.

Aku sempat terlelap sesudahnya beberapa jam sebelum membersihkan diri dan pulang.

Berutung kali ini, aku bisa memaksanya menandatangani berkas ujian susulanku.

Masih ada mata kuliah Pengantar Berorganisasi dan Kepemimpinan.
katanya sambil membubuhkan nilai A di berkas ujianku.

Selama bapak masih bisa memberiku nilai A.
kataku pendek.

Segeralah mendaftar, kuliah akan dimulai minggu depan!

Terima kasih pak!
kataku sambil tak lupa memberikan senyum semanis mungkin.

Winda!
teriakan seseorang mengejutkan lamunanku.

Aku menoleh ke arah sumber suara tadi yang aku perkirakan berasal dari dalam mobil yang berjalan perlahan menghampiriku.

Seseorang membuka pintu mobil itu, wajah yang sangat aku benci muncul dari balik pintu Mitsubishi Galant keluaran tahun terakhir itu.

Masuklah Winda…

Tidak, terima kasih. Aku bisa jalan sendiri koq!
Aku masih mencoba menolak dengan halus.

Ayolah, masa kau tega menolak ajakanku, padahal dengan pak Hr saja kau mau!

Aku tertegun sesaat, Bagai disambar petir di siang bolong.

Da…, Darimana kau tahu?

Nah, jadi benar kan…, padahal aku tadi hanya menduga-duga!

Sialan!
Aku mengumpat di dalam hati, harusnya tadi aku bersikap lebih tenang, aku memang selalu nervous kalau ketemu cowok satu ini, rasanya ingin buru-buru pergi dari hadapannya dan tidak ingin melihat mukanya yang memang seram itu.

Seperti tipikal orang Indonesia bagian daerah paling timur, cowok ini hitam tinggi besar dengan postur sedikit gemuk, janggut dan cambang yang tidak pernah dirapikan dengan rambut keritingnya yang dipelihara panjang ditambah dengan caranya memakai kemeja yang tidak pernah dikancingkan dengan benar sehingga memamerkan dadanya yang penuh bulu.

Dengan asesoris kalung, gelang dan cincin emas, arloji rolex yang dihiasi berlian, cukup menunjukkan bahwa dia ini orang yang memang punya duit. Namun, aku menjadi muak dengan penampilan seperti itu.

Dino memang salah satu jawara di kampus, anak buahnya banyak dan dengan kekuatan uang serta gaya jawara seperti itu membuat dia menjadi salah satu momok yang paling menakutkan di lingkungan kampus.

Dia itu mahasiswa lama, dan mungkin bahkan tidak pernah lulus, namun tidak ada orang yang berani mengusik keberadaannya di kamus, bahkan dari kalangan akademik sekalipun.

Gimana? 
Masih tidak mau masuk?
tanya dia setengah mendesak.

Aku tertegun sesaat, belum mau masuk.

Aku memang sangat tidak menyukai laki-laki ini, Tetapi kelihatannya aku tidak punya pilihan lain, bisa-bisa semua orang tahu apa yang kuperbuat dengan pak Hr, dan aku sungguh-sungguh ingin menjaga rahasia ini, terutama terhadap Erwin, tunanganku.

Namun saat ini aku benar-benar terdesak dan ingin segera membiarkan masalah ini berlalu dariku.

Makanya tanpa pikir panjang aku mengiyakan saja ajakannya.

Dino tertawa penuh kemenangan, ia lalu berbicara dengan orang yang berada di sebelahnya supaya berpindah ke jok belakang.

Aku membanting pantatku ke kursi mobil depan, dan pemuda itu langsung menancap gas. Sambil nyengir kuda. Kesenangan.

Ke mana kita?
tanyaku hambar.

Lho? Mestinya aku yang harus tanya, kau mau ke mana?
tanya Dino pura-pura heran.

Sudahlah Dino, tak usah berpura-pura lagi, kau mau apa?
Suaraku sudah sedemikian pasrahnya.

Aku sudah tidak mau berpikir panjang lagi untuk meminta dia menutup-nutupi perbuatanku.

Orang yang duduk di belakangku tertawa.

Rupanya dia cukup mengerti apa kemauanmu Dino!
Dia berkomentar.

Ah, diam kau Maki!
Rupanya orang itu namanya Maki, orang dengan penampilan hampir mirip dengan Dino kecuali rambutnya yang dipotong crew-cut.

Bagaimana kalau ke rumahku saja? Aku sangat merindukanmu Winda!
pancing Dino.

Sesukamulah…!
Aku tahu benar memang itu yang diinginkannya.

Dino tertawa penuh kemenangan.

Ia melarikan mobilnya makin kencang ke arah sebuah kompleks perumahan.

Lalu mobil yang ditumpangi mereka memasuki pekarangan sebuah rumah yang cukup besar.

Di pekarangan itu sudah ada 2 buah mobil lain, satu Mitsubishi Pajero dan satu lagi Toyota Great Corolla namun keduanya kelihatan diparkir sekenanya tak beraturan.

Interior depan rumah itu sederhana saja.

Cuma satu stel sofa, sebuah rak perabotan pecah belah.

Tak lebih.

Dindingnya polos.

Demikian juga tempok ruang tengah.

Terasa betapa luas dan kosongnya ruangan tengah itu, meski sebuah bar dengan rak minuman beraneka ragam terdapat di sudut ruangan, menghadap ke taman samping.

Sebuah stereo set terpasang di ujung bar.

Tampaknya baru saja dimatikan dengan tergesa-gesa.

Pitanya sebagian tergantung keluar.

Dari pintu samping kemudian muncul empat orang pemuda dan seorang gadis, yang jelas-jelas masih menggunakan seragam SMU.

Mereka semua mengeluarkan suara setengah berbisik.

Keempat orang laki-laki itu, tiga orang sepertinya sesuku dengan Dino atau sebangsanya, sedangkan yang satu lagi seperti bule dengan rambutnya yang gondrong.

Sementara si gadis berperawakan tinggi langsing, berkulit putih dan rambutnya yang hitam lurus dan panjang tergerai sampai ke pinggang, ia memakai bandana lebar di kepalanya dengan poni tebal menutupi dahinya.

Wajahnya yang oval dan bermata sipit menandakan bahwa ia keturunan Cina atau sebangsanya. Harus kuakui dia memang cantik, seperti bintang film drama Mandarin.

Berbeda dengan penampilan ketiga laki-laki itu, gadis ini kelihatannya bukan merupakan gerombolan mereka, dilihat dari tampangnya yang masih lugu.

Ia masih mengenakan seragam sebuah sekolah Katolik yang langsung bisa aku kenali karena memang khas.

Namun entah mengapa dia bisa bergaul dengan orang-orang ini.

Dino bertepuk tangan. Kemudian memperkenalkan diriku dengan mereka.

Yos, dan Bram seperti tipikal orang sebangsa Dino, Tito berbadan tambun dan yang bule namanya Marchell, sementara gadis SMU itu bernama Shelly.

Mereka semua yang laki-laki memandang diriku dengan mata lapar membuat aku tanpa sadar menyilangkan tangan di depan dadaku, seolah-olah mereka bisa melihat tubuhku di balik pakaian yang aku kenakan ini.

Tampak tak sabaran Dino menarik diriku ke loteng. Langsung menuju sebuah kamar yang ada di ujung. Kamar itu tidak berdaun pintu, sebenarnya lebih tepat disebut ruang penyangga antara teras dengan kamar-kamar yang lain Sebab di salah satu ujungnya merupakan pintu tembusan ke ruang lain.

Di sana ada sebuah kasur yang terhampar begitu saja di lantai kamar. Dengan sprei yang sudah acak-acakan.

Di sudut terdapat dua buah kursi sofa besar dan sebuah meja kaca yang mungil.

Di bawahnya berserakan majalah-majalah yang cover depannya saja bisa membuat orang merinding.

Bergambar perempuan-perempuan telanjang.

Aku sadar bahkan sangat sadar, apa yang dimaui Dino di kamar ini.

Aku beranjak ke jendela.

Menutup gordynnya hingga ruangan itu kelihatan sedikit gelap.

Namun tak lama, karena kemudian Dino menyalakan lampu.

Aku berputar membelakangi Dino, dan mulai melucuti pakaian yang aku kenakan.

Dari blouse, kemudian rok bawahanku kubiarkan meluncur bebas ke mata kakiku.

Kemudian aku memutar balik badanku berbalik menghadap Dino.

Betapa terkejutnya aku ketika aku berbalik, ternyata di hadapanku kini tidak hanya ada Dino, namun Maki juga sedang berdiri di situ sambil cengengesan.

Dengan gerakan reflek, aku menyambar blouseku untuk menutupi tubuhku yang setengah telanjang.

Melihat keterkejutanku, kedua laki-laki itu malah tertawa terbahak-bahak.

Ayolah Winda, Toh engkau juga sudah sering memperlihatkan tubuh telanjangmu kepada beberapa laki-laki lain?

Kurang ajar kau Dino!
Aku mengumpat sekenanya.

Wajah laki-laki itu berubah seketika, dari tertawa terbahak-bahak menjadi serius, sangat serius.

Dengan tatapan yang sangat tajam dia berujar,
Apakah engkau punya pilihan lain? Ayolah, lakukan saja dan sesudah selesai kita boleh melupakan kejadian ini.

Aku tertegun, melayani dua orang sekaligus belum pernah aku lakukan sebelumnya.

Apalagi orang-orang yang bertampang seram seperti ini.

Tapi seperti yang dia bilang, aku tak punya pilihan lain.

Seribu satu pertimbangan berkecamuk di kepalaku hingga membuat aku pusing.

Tubuhku tanpa sadar sampai gemetaran, terasa sekali lututku lemas sepertinya aku sudah kehabisan tenaga karena digilir mereka berdua, padahal mereka sama sekali belum memulainya.

Akhirnya, dengan sangat berat aku menggerakkan kedua tangan ke arah punggungku di mana aku bisa meraih kaitan BH yang aku pakai. Baju yang tadi aku pakai untuk menutupi bagian tubuhku dengan sendirinya terjatuh ke lantai.

Dengan sekali sentakan halus BH-ku telah terlepas dan meluncur bebas dan sebelum terjatuh ke lantai kulemparkan benda itu ke arah Dino yang kemudian ditangkapnya dengan tangkas.

Ia mencium bagian dalam mangkuk bra-ku dengan penuh perasaan.

Harum!
katanya.

Lalu ia seperti mencari-cari sesuatu dari benda itu, dan ketika ditemukannya ia berhenti.

36B!
katanya pendek.

Rupanya ia pingin tahu berapa ukuran dadaku ini.

BH-nya saja sudah sedemikian harum, apalagi isinya!
katanya seraya memberikan BH itu kepada Maki sehingga laki-laki itu juga ikut-ikutan menciumi benda itu.

Namun demikian mata mereka tak pernah lepas menatap belahan payudaraku yang kini tidak tertutup apa-apa lagi.

Aku kini hanya berdiri menunggu, dan tanpa diminta Dino melangkah mendekatiku.

Ia meraih kepalaku.

Tangannya meraih kunciran rambut dan melepaskannya hingga rambutku kini tergerai bebas sampai ke punggung.

Nah, dengan begini kau kelihatan lebih cantik!

Ia terus berjalan memutari tubuhku dan memelukku dari belakang.

Ia sibakkan rambutku dan memindahkannya ke depan lewat pundak sebelah kiriku, sehingga bagian punggung sampai ke tengkukku bebas tanpa penghalang.

Lalu ia menjatuhkan ciumannya ke tengkuk belakangku.

Lidahnya menjelajah di sekitar leher, tengkuk kemudian naik ke kuping dan menggelitik di sana.

Kedua belah tangannya yang kekar dan berbulu yang tadi memeluk pinggangku kini mulai merayap naik dan mulai meremas-remas kedua belah payudaraku dengan gemas.

Aku masih menanggapinya dengan dingin dengan tidak bereaksi sama sekali selain memejamkan mataku.

Dino rupanya tidak begitu suka aku bersikap pasif, dengan kasar ia menarik wajahku hingga bibirnya bisa melumat bibirku.

Aku hanya berdiam diri saja tak memberikan reaksi.

Sambil melumat, lidahnya mencari-cari dan berusaha masuk ke dalam mulutku, dan ketika berhasil lidahnya bergerak bebas menjilati lidahku hingga secara tak sengaja lidahkupun meronta-ronta.

Sambil memejamkan mata aku mencoba untuk menikmati perasaan itu dengan utuh.

Tak ada gunanya aku menolak, hal itu akan membuatku lebih menderita lagi.

Dengan kuluman lidah seperti itu, ditingkahi dengan remasan-remasan telapak tangannya di payudaraku sambil sekali-sekali ibu jari dan telunjuknya memilin-milin puting susuku, pertahananku akhirnya bobol juga.

Memang, aku sudah sangat terbiasa dan sangat terbuai dengan permaian seperti ini hingga dengan mudahnya Dino mulai membangkitkan nafsuku.

Bahkan kini aku mulai memberanikan menggerakkan tangan meremas kepala Dino yang berada di belakangku.

Sementara dengan ekor mataku aku melihat Maki beranjak berjalan menuju sofa dan duduk di sana, sambil pandangan matanya tidak pernah lepas dari kami berdua.

Mungkin karena merasa sudah menguasai diriku, ciuman Dino terus merambat turun ke leherku, menghisapnya hingga aku menggelinjang.

Lalu merosot lagi menelusup di balik ketiak dan merayap ke depan sampai akhirnya hinggap di salah satu pucuk bukit di dadaku, Dengan satu remasan yang gemas hingga membuat puting susuku melejit Dino untuk mengulumnya.

Pertama lidahnya tepat menyapu pentilnya, lalu bergerak memutari seluruh daerah puting susuku sebelum mulutnya mengenyot habis puting susuku itu.

Ia menghisapnya dengan gemas sampai pipinya kempot.

Tubuhku secara tiba-tiba bagaikan disengat listrik, terasa geli yang luar biasa bercampur sedikit nyeri di bagian itu.

Aku menggelinjang, melenguh apalagi ketika puting susuku digigit-gigit perlahan oleh Dino.

Buah anggur yang ranum itu dipermainkan pula dengan lidah Dino yang kasap.

Dipilin-pilinnya kesana kemari.

Dikecupinya, dan disedotnya kuat-kuat sampai putingnya menempel pada telaknya.

Aku merintih. Tanganku refleks meremas dan menarik kepalanya sehingga semakin membenam di kedua gunung kembarku yang putih dan padat.

Aku sungguh tak tahu mengapa harus begitu pasrah kepada lelaki itu.
Mengapa aku justeru tenggelam dalam permaianan itu? 
Semula aku hanya merasa terpaksa demi menutupi rahasia atas perbuatanku.

Tapi kemudian nyatanya, permainan yang Dino mainkan begitu dalam.

Dan aneh sekali, Tanpa sadar aku mulai mengikuti permainan yang dipimpin dengan cemerlang oleh Dino.

Winda…

Ya?

Kau suka aku perlakukan seperti ini?
Aku hanya mengangguk.

Dan memejamkan matanya.

Membiarkan payudaraku terus diremas-remas dan puting susunya dipilin perlahan.

Aku menggeliat, merasakan nikmat yang luar biasa.

Puting susu yang mungil itu hanya sebentar saja sudah berubah membengkak, keras dan mencuat semakin runcing.

Hsss…, ah!
Aku mendesah saat merasakan jari-jari tangan lelaki itu mulai menyusup ke balik celana dalamku dan merayap mencari liang yang ada di selangkanganku.

Dan ketika menemukannya Jari-jari tangan itu mula-mula mengusap-usap permukaannya, terus mengusap-usap dan ketika sudah terasa basah jarinya mulai merayap masuk untuk kemudian menyentuh dinding-dinding dalam liang itu.

Dalam posisi masih berdiri berhadapan, sambil terus mencumbui payudaraku, Dino meneruskan aksinya di dalam liang gelap yang sudah basah itu.

Makin lama makin dalam. Aku sendiri semakin menggelinjang tak karuan, kedua buah jari yang ada di dalam liang vaginaku itu bergerak-gerak dengan liar.

Bahkan kadang-kadang mencoba merenggangkan liang vaginaku hingga menganga.

Dan yang membuat aku tambah gila, ia menggerak-gerakkan jarinya keluar masuk ke dalam liang vaginaku seolah-olah sedang menyetubuhiku.

Aku tak kuasa untuk menahan diri.

Nggghh…!
mulutku mulai meracau.

Aku sungguh kewalahan dibuatnya hingga lututku terasa lemas hingga akhirnya akupun tak kuasa menahan tubuhku hingga merosot bersimpuh di lantai.

Aku mencoba untuk mengatur nafasku yang terengah-engah.

Aku sungguh tidak memperhatikan lagi yang kutahu kini tiba-tiba saja Dino telah berdiri telanjang bulat di hadapanku.

Tubuhnya yang tinggi besar, hitam dan penuh bulu itu dengan angkuhnya berdiri mengangkang persis di depanku sehingga wajahku persis menghadap ke bagian selangkangannya.

Disitu, aku melihat batang kejantanannya telah berdiri dengan tegaknya. Besar panjang kehitaman dengan bulu hitam yang lebat di daerah pangkalnya.

Dengan sekali rengkuh, ia meraih kepalaku untuk ditarik mendekati daerah di bawah perutnya itu.

Aku tahu apa yang dimauinya, bahkan sangat tahu ini adalah perbuatan yang sangat disukai para lelaki.

Di mana ketika aku melakukan oral seks terhadap kelaminnya.

Maka, dengan kepalang basah, kulakukan apa yang harus kulakukan.

Benda itu telah masuk ke dalam mulutku dan menjadi permainan lidahku yang berputar mengitari ujung kepalanya yang bagaikan sebuah topi baja itu.

Lalu berhenti ketika menemukan lubang yang berada persis di ujungnya.

Lalu dengan segala kemampuanku aku mulai mengelomoh batang itu sambil kadang-kadang menghisapnya kuat-kuat sehingga pemiliknya bergetar hebat menahan rasa yang tak tertahankan.

Pada saat itu aku sempat melirik ke arah sofa di mana Maki berada, dan ternyata laki-laki ini sudah mulai terbawa nafsu menyaksikan perbuatan kami berdua.

Buktinya, ia telah mengeluarkan batang kejantanannya dan mengocoknya naik turun sambil berkali-kali menelan ludah. Konsentrasiku buyar ketika Dino menarik kepalaku hingga menjauh dari selangkangannya.

Ia lalu menarik tubuhku hingga telentang di atas kasur yang terhampar di situ. Lalu dengan cepat ia melucuti celana dalamku dan dibuangnya jauh-jauh seakan-akan ia takut aku akan memakainya kembali.

Untuk beberapa detik mata Dino nanar memandang bagian bawah tubuhku yang sudah tak tertutup apa-apa lagi.

Si Makipun sampai berdiri mendekat ke arah kami berdua seakan ia tidak puas memandang kami dari kejauhan.

Namun beberapa detik kemudian, Dino mulai merenggangkan kedua belah pahaku lebar-lebar.

Paha kiriku diangkatnya dan disangkutkan ke pundaknya.

Lalu dengan tangannya yang sebelah lagi memegangi batang kejantanannya dan diusap-usapkan ke permukaan bibir vaginaku yang sudah sangat basah.

Ada rasa geli menyerang di situ hingga aku menggelinjang dan memejamkan mata.

Sedetik kemudian, aku merasakan ada benda lonjong yang mulai menyeruak ke dalam liang vaginaku. Aku menahan nafas ketika terasa ada benda asing mulai menyeruak di situ.

Seperti biasanya, aku tak kuasa untuk menahan jeritanku pada saat pertama kali ada kejantanan laki-laki menyeruak masuk ke dalam liang vaginaku.

Dengan perlahan namun pasti, kejantanan Dino meluncur masuk semakin dalam.

Dan ketika sudah masuk setengahnya ia bahkan memasukkan sisanya dengan satu sentakan kasar hingga aku benar-benar berteriak karena terasa nyeri.

Dan setelah itu, tanpa memberiku kesempatan untuk membiasakan diri dulu, Dino sudah bergoyang mencari kepuasannya sendiri.

Dino menggerak-gerakkan pinggulnya dengan kencang dan kasar menghunjam-hunjam ke dalam tubuhku hingga aku memekik keras setiap kali kejantanan Dino menyentak ke dalam.

Pedih dan ngilu.

Namun bercampur nikmat yang tak terkira.

Ada sensasi aneh yang baru pertama kali kurasakan di mana di sela-sela rasa ngilu itu aku juga merasakan rasa nikmat yang tak terkira.

Namun aku juga tidak bisa menguasai diriku lagi hingga aku sampai menangis menggebu-gebu, sakit keluhku setiap kali Dino menghunjam, tapi aku semakin mempererat pelukanku, Pedih, tapi aku juga tak bersedia Dino menyudahi perlakuannya terhadap diriku.

Aku semakin merintih. Air mataku meleleh keluar.

Kami terus bergulat dalam posisi demikian.

Sampai tiba-tiba ada rasa nikmat yang luar biasa di sekujur tubuhku.

Aku telah orgasme.

Ya, orgasme bersama dengan orang yang aku benci.

Tubuhku mengejang selama beberapa puluh detik. Sebelum melemas.

Namun Dino rupanya belum selesai.

Ia kini membalikkan tubuhku hingga kini aku bertumpu pada kedua telapak tangan dan kedua lututku.

Ia ingin meneruskannya dengan doggy style.

Aku hanya pasrah saja.

Kini ia menyetubuhiku dari belakang.

Tangannya kini dengan leluasa berpindah-pindah dari pinggang, meremas pantat dan meremas payudaraku yang menggelantung berat ke bawah.

Kini Dino bahkan lebih memperhebat serangannya.

Ia bisa dengan leluasa menggoyangkan tubuhnya dengan cepat dan semakin kasar.

Pada saat itu tanpa terasa, Maki telah duduk mengangkang di depanku.

Laki-laki ini juga telah telanjang bulat.

Ia menyodorkan batang penisnya ke dalam mulutku, tangannya meraih kepalaku dan dengan setengah memaksa ia menjejalkan batang kejantanannya itu ke dalam mulutku.

Kini aku melayani dua orang sekaligus. Dino yang sedang menyetubuhiku dari belakang.

Dan Maki yang sedang memaksaku melakukan oral terhadap dirinya.

Dino kadang-kadang malah menyorongkan kepalanya ke depan untuk menikmati payudaraku.

Aku mengerang pelan setiap kali ia menghisap puting susuku.

Dengan dua orang yang mengeroyokku aku sungguh kewalahan hingga tidak bisa berbuat apa-apa.

Malahan aku merasa sangat terangsang dengan posisi seperti ini.

Mereka menyetubuhiku dari dua arah, yang satu akan menyebabkan penis pada tubuh mereka yang berada di arah lainnya semakin menghunjam.

Kadang-kadang aku hampir tersedak. Maki yang tampaknya mengerti kesulitanku mengalah dan hanya diam saja.

Dino yang mengatur segala gerakan.

Perlahan-lahan kenikmatan yang tidak terlukiskan menjalar di sekujur tubuhku.

Perasaan tidak berdaya saat bermain Rocking Bad ternyata mengakibatkan diriku melambung di luar batas yang pernah kuperkirakan sebelumnya.

Dan kembali tubuhku mengejang, deras dan tanpa henti.

Aku mengalami orgasme yang datang dengan beruntun seperti tak berkesudahan.

Tidak lama kemudian Dino mengalami orgasme. Batang penisnya menyemprotkan air mani dengan deras ke dalam liang vaginaku.

Benda itu menyentak-nyentak dengan hebat, seolah-olah ingin menjebol dinding vaginaku.

Aku bisa merasakan air mani yang disemprotkannya banyak sekali, hingga sebagian meluap keluar meleleh di salah satu pahaku.

Sesudah itu mereka berganti tempat.

Maki mengambil alih perlakuan Dino.

Masih dalam posisi doggy style.

Batang kejantanannya dengan mulus meluncur masuk dalam sekali sampai menyentuh bibir rahimku.

Ia bisa mudah melakukannya karena memang liang vaginaku sudah sangat licin dilumasi cairan yang keluar dari dalamnya dan sudah bercampur dengan air mani Dino yang sangat banyak.

Permainan dilanjutkan.

Aku kini tinggal melayani Maki seorang, karena Dino dengan nafas yang tersengal-sengal telah duduk telentang di atas sofa yang tadi diduduki Maki untuk mengumpulkan tenaga.

Aku mengeluh pendek setiap kali Maki mendorong masuk miliknya.

Maki terus memacu gerakkannya.

Semakin lama semakin keras dan kasar hingga membuat aku merintih dan mengaduh tak berkesudahan.

Pada saat itu masuk Bram dan Tito bersamaan ke dalam ruangan.

Tanpa basa-basi, mereka pun langsung melucuti pakaiannya hingga telanjang bulat.

Lalu mereka duduk di lantai dan menonton adegan mesum yang sedang terjadi antara aku dan Maki.

Bram nampak kelihatan tidak sabaran Tetapi aku sudah tidak peduli lagi.

Maki terus memacu menggebu-gebu.

Laki-laki itu sibuk memacu sambil meremasi payudaraku yang menggelantung berat ke bawah.

Sesaat kemudian tubuhku dibalikkan kembali telentang di atas kasur dan pada saat itu Bram dengan tangkas menyodorkan batang kejantanannya ke dalam mulutku.

Aku sudah setengah sadar ketika Tito menggantikan Maki menggeluti tubuhku.

Keadaanku sudah sedemikian acak-acakan.

Rambut yang kusut masai.

Tubuhku sudah bersimpah peluh.

Tidak hanya keringat yang keluar dari tubuhku sendiri, tapi juga cucuran keringat dari para laki-laki yang bergantian menggauliku.

Aku kini hanya telentang pasrah ditindihi tubuh gemuk Tito yang bergoyang-goyang di atasnya.

Laki-laki gemuk itu mengangkangkan kedua belah pahaku lebar-lebar sambil terus menghunjam-hunjamkan miliknya ke dalam milikku.

Sementara Bram tak pernah memberiku kesempatan yang cukup untuk bernafas.

Ia terus saja menjejal-jejalkan miliknya ke dalam mulutku.

Aku sendiri sudah tidak bisa mengotrol diriku lagi.

Guncangan demi guncangan yang diakibatkan oleh gerakan Titolah yang membuat Bram makin terangsang.

Bukan lagi kuluman dan jilatan yang harusnya aku lakukan dengan lidah dan mulutku.

Dan ketika Tito melenguh panjang, ia mencapai orgasmenya dengan meremas kedua belah payudaraku kuat-kuat hingga aku berteriak mengaduh kesakitan.

Lalu beberapa saat kemudian ia dengan nafasnya yang tersengal-sengal memisahkan diri dari diriku.

Dan pada saat hampir bersamaan Bram juga mengerang keras.

Batang kejantanannya yang masih berada di dalam mulutku bergerak liar dan menyemprotkan air maninya yang kental dan hangat.

Aku meronta, ingin mengeluarkan banda itu dari dalam mulutku, namun tangan Bram yang kokoh tetap menahan kepalaku dan aku tak kuasa meronta lagi karena memang tenagaku sudah hampir habis.

Cairan kental yang hangat itu akhirnya tertelan olehku.

Banyak sekali.

Bahkan sampai meluap keluar membasahi daerah sekitar bibirku sampai meleleh ke leher.

Aku tak bisa berbuat apa-apa, selain dengan cepat mencoba menelan semua yang ada supaya tidak terlalu terasa di dalam mulutku.

Aku memejamkan mata erat-erat, tubuhku mengejang melampiaskan rasa yang tidak karuan, geli, jijik, namun ada sensasi aneh yang luar biasa juga di dalam diriku.

Sungguh sangat erotis merasakan siksa birahi semacam ini hingga akupun akhirnya orgasme panjang untuk ke sekian kalinya.

Dengan ekor mataku aku kembali melihat seseorang masuk ke ruangan yang ternyata si bule dan orang itu juga mulai membuka celananya.

Aku menggigit bibir, dan mulai menangis terisak-isak.

Aku hanya bisa memejamkan mata ketika Marchell mulai menindihi tubuhku.

Pasrah.

Tidak lama kemudian setelah orang terakhir melaksanakan hasratnya pada diriku mereka keluar.

Aku merasa seluruh tubuhku luluh lantak.

Setelah berhasil mengumpulkan cukup tenaga kembali, dengan terhuyung-huyung, aku bangkit dari tempat tidur, mengenakan pakaianku seadanya dan pergi mencari kamar mandi.

Aku berpapasan dengan Dino yang muncul dari dalam sebuah ruangan yang pintunya terbuka.

Lelaki itu sedang sibuk mengancingkan retsluiting celananya.

Masih sempat terlihat dari luar di dalam kamar itu, di atas tempat tidur tubuh Shelly yang telanjang sedang ditindihi oleh tubuh Maki yang bergerak-gerak cepat.

Memacu naik turun.

Gadis itu menggelinjang-gelinjang setiap kali Maki bergerak naik turun.

Rupanya anak itu bernasib sama seperti diriku.

Di mana aku bisa menemukan kamar mandi?
tanyaku pada Dino.

Tanpa menjawab, ia hanya menunjukkan tangannya ke sebuah pintu.

Tanpa basa-basi lagi aku segera beranjak menuju pintu itu.

Di sana aku mandi berendam air panas sambil mengangis.

Aku tidak tahu saya sudah terjerumus ke dalam apa kini.

Yang membuat aku benci kepada diriku sendiri, walaupun aku merasa sedih, kesal, marah bercampur menjadi satu, namun demikian setiap kali teringat kejadian barusan, langsung saja selangkanganku basah lagi.

Aku berendam di sana sangat lama, mungkin lebih dari satu jam lamanya.

Setelah terasa kepenatan tubuhku agak berkurang aku menyudahi mandiku.

Dengan berjalan tertatih-tatih aku melangkah keluar kamar mandi dan berjalan mencari pintu keluar.

Sudah hampir jam sebelas malam ketika aku keluar dari rumah itu.

Sampai di dalam rumah, Aku langsung ngeloyor masuk ke kamar.

Aku tak peduli dengan kakakku yang terheran-heran melihat tingkah lakuku yang tidak biasa, aku tak menyapanya karena memang sudah tidak ada keinginan untuk berbicara lagi malam ini.

Aku tumpahkan segala perasaan campur aduk itu, kekesalan, dan sakit hati dengan menangis.
☆☆☆☆☆

Baca Juga:

Kisah Persahabatan Budi dengan ketiga wanita

June 08, 2019 0
Pengalaman ini terjadi sekitar 15 tahun yang lalu. 

Saya baru saja lulus SMA dan sedang persiapan mendaftarkan diri ke perguruan tinggi. 

Saya termasuk pria yang bertampang lumayan, cukup pintar, dan berperawakan sedang. Panggil saja saya, Budi.

Selama di SMA, saya mempunyai kelompok teman yang selalu bermain bersama. 

4 anak laki-laki dan 7 anak perempuan. 

Sebagian besar teman-teman saya melanjutkan ke perguruan tinggi di luar negeri karena memang sekolah saya termasuk sekolah elite di kota J yang menghasilkan siswa-siswi dengan hasil lulusan yang cukup .

baik. Karena saya berasal dari keluarga ekonomi menengah, pilihan sekolah ke LN menjadi tidak mungkin. 

Dari kelompok kami hanya tersisa 3 teman perempuan dan saya. 

Kami bingung mau melanjutkan ke mana, tetapi akhirnya kami memutuskan untuk ke kota B yang mempunyai beberapa universitas swasta dan negeri yang cukup terkenal.

Saya, Rika, Nova, dan Jenni memutuskan untuk mendaftar bersama ke kota B. 

Di sinilah petualangan kami dimulai. 

Kami berkumpul bersama di rumah Jenni dan orang tuanya meminjamkan mobil mereka untuk kami pakai. 

Kami memang sering pergi berkelompok dengan meminjam mobil orang tua dan kadang sampai menginap beberapa hari di luar kota.

Jadi pada saat kami pergi, orang tua teman-temanku tanpa curiga mengijinkan putri-putri mereka berangkat ke kota B dan menginap tiga malam di sana. 

Sekalian liburan kata kami. 

Perjalanan ke kota B berjalan lancar dan kami menghadapi ujian masuk dengan kepercayaan tinggi. 

Maklum, kami semua termasuk berotak encer. 

Sore hari kami setelah selesai ujian masuk, kami segera mencari penginapan yang terkenal dengan daerah sejuknya di sekitar kota B. 

Kami menyelesaikan administrasi dan segera masuk ke kamar.

Wah! 
Ternyata kamarnya besar juga yah! 
Ada ruang tamunya lagi..
kataku. 
Budi, kamu tidur di sofa aja yah! 
Kita berdua ambil ranjangnya!
sahut Nova. 

Yah… Curang… kan baru kali ini saya menginap bareng perempuan dalam satu kamar! 
Siapa tahu….
komplainku. 

Maunya..
kata Jenni sambil mendorong diriku ke arah sofa.
Kami semua menjatuhkan pantat di sofa sambil melepas lelah. 

Setelah berbincang selama setengah jam mengenai soal-soal Ujian masuk tadi siang, kami pun bergantian mandi menyegarkan badan. 

Kami pun memesan makan malam dari room service karena kami terlalu lelah untuk keluar mencari makan. 

Rika akan menyusul besok pagi dan ketemuan di kota B.

Dia sudah menghadapi ujian masuk seminggu lalu. Pilihan universitasnya berbeda. 

Oh iya, saya belum menjelaskan penampilan teman-teman saya.

Rika
Gadis ini pemalu dengan badan kecil yang sangat indah. 
Saya tahu ini karena Rika sangat suka memakai baju yang menunjukkan lekuk badannya. 
Dadanya berukuran sedang saja, 34B (saya tahu setelah melihat BH- nya dan BH yang lain nanti). 

Kecil-kecil imut merupakan kesan yang diberikannya. Senyumnya manis sekali. 

Nova: 
Gadis ini juga berbadan kecil tetapi dengan dada yang terlihat jauh lebih besar daripada milik Rika. 34C ukuran BHnya. 
Mulutnya kecil dengan bibir tipis yang memberikan senyum menggoda. 
Hampir semua anak laki-laki di sekolahku mengejar dia. 
Manis dengan dada besar. 

Siapa yang tidak tertarik? 

Jenni: 
Gadis bertubuh jangkung yang senang memakai kaos longgar dan berjiwa bebas. 

Asyik diajak bertukar pikiran, pintar, dan sedikit tomboi. Senang sekali olahraga dan sangat jago bermain volley. 

Paling enak jadi lawan mainnya di lapangan. 

Posisiku sebagai tosser sering membuatku berada di depan net dan berhadapan muka dengan Jenni. 

Posisi siap menerima bola dan kaos longgarnya sering mengganggu konsentrasiku di lapangan.
Jenni : “Mau ngapain nih? Baru jam 6 sore kita dah selesai makan malam.” 
Nova : “Kita main kartu aja yuk” 
Budi : “Memangnya bawa?” 
Nova : “Bbawa kok. Rika, ayo dikeluarin. Kita main poker aja. Pakai uang bohongan aja. Biar seru ada taruhannya.” 

Kami pun bermain selama satu jam ketika Nova menyeletuk.

Nova : “Tidak seru nih.. bosan.. gimana kalau dibuat lebih seru?” 
Budi : “Maksud kamu, Nov?” 
Nova : “Strip poker!!” 
Budi : “Gila kamu, Nov!” 
Nova : “Kaga berani?” 

Saya lagi terpatung dengan keberanian ide Nova.

Jenni : “Siapa takut? Berani kok walau ada Budi!” 

Pipi saya jadi memerah dan berasa panas. 

Ada rasa malu juga. 
Glek.. saya menelan ludah.. 

Ada kemungkinan dua gadis muda cantik akan telanjang di depanku.

Nova : “Berani tidak, Bud? Diam aja. Malu yah telanjang di depan cewek-cewek?”

Wah, otakku langsung berputar cepat. 

Harus memikirkan semua kemungkinan. 

Jangan sampai saya kalah dan tidak melihat gadis-gadis telanjang.

Budi : “Berani dong! Tapi nanti kalian curang, kaga berani buka beneran!”
Nova : “Kalo ada yang kaga berani buka, kita semua yang paksa buka! Setuju tidak?” 

Kita semua menganggukkan kepala menandakan persetujuan. Jantungku makin berdebar kencang dan kelaminku mulai mengeras karena kemungkinan kejadian di depan mata,

Budi : “Ya dah.. Aturannya gimana nih Nov?”
Nova : “Kita semua punya modal 1000. Taruhannya setiap kelipatan 10 dan paling besar 100. Kalau modal 1000 habis, gadaikan pakaian dengan harga 500. Setuju?” 

Kami semua setuju. 

Budi : “Kita main sampai kapan? Sampai satu orang bugil atau sampai semua bugil?”
Nova : “Sampai semua bugil dong! Biar adil!!” 
Jenni: “Ok deh. Tapi kasihan Budi dong. Dia kan paling cuma punya 3 potong baju. maksudnya cuma kaos, celana dan celana dalam. Kita cewek-cewek kan kelebihan BH.” 
Nova : “Iya yah… ya udah biar adil, kita semua lepas BH deh.”

Nova langsung dengan cekatan melepas BH merah mudanya tanpa melepaskan kaos dan melemparkan BHnya ke mukaku. 

Harumnya BH langsung memenuhi hidungku. 

Tanpa kusadari BH kedua pun mendarat di mukaku. Ini milik Jenni. 

BH dengan warna cream kulit. Hahahahaha… kamipun tertawa bersama. 

Nova : “Ayo mulai! Sudah adil kan, Bud? Kita masing-masing cuma punya 3 modal.” 
Budi : “Sebentar.. pakaian yang sudah ditanggalkan bisa dipakai lagi ga?”
Nova : “Hmm… TIDAK BOLEH! Yang sudah lepas, tidak boleh dipakai lagi!” 
Budi : “Kalau yang sudah bugil kalah lagi gimana? Kan modalnya habis!!” 
Nova : “Banyak nanya yah kamu, Bud! Gimana Jen?” 
Jenni : “Boleh dipegang-pegang deh sama yang menang. Dipegang-pegang selama 1 menit!” 

Wah asyik nih peraturannya… tetapi otakku sudah mulai pindah ke kelamin nih.. 
Pegang doang kaga seru ah, gimana kalo dadanya dihisap-hisap!

Nova : “Ih kamu, Bud…. Mau dong!!” 

Dengan suara manisnya sambil melirik nakal ke arahku!
Jenni dan Nova tertawa terbahak-bahak. 

Nova : “Tapi kalau kamu yang sudah bugil dan kalah gimana, Bud? Saya hisap tititnya yah!!” 
Jenni : “Wah saya juga mau hisap titit Budi!” 

Benar-benar tidak disangka! 
3 tahun bersama di SMA, saya tidak menyangka teman-temanku ini nakal juga. 

Permainan pun dimulai. 

Keahlianku bermain strip poker di komputer ternyata sangat bermanfaat. 

Jenni segera kehilangan modal awal sehingga harus menggadaikan modal berikutnya. 

Jenni hendak membuka celananya, tetapi dicegah oleh Nova. 

Nova :”Wah kaga boleh sendiri yang nentuin buka celana. Budi, mau suruh Jenni buka apa?” 

Wow, thanks Nova! 
Aku teringat kalau mereka sudah lepas BH, tentunya dengan melepas kaos, dada Jenni akan terbuka.

Budi : “Tentu saja kaos dong. Kapan lagi bisa lihat payudara dari dekat!” 

Jenni dengan malu-malu mulai melepas kaosnya dan dengan segera menutupi puting payudaranya dengan satu tangan. 

Saya terkesima dengan pandangan indah di depan mata. 

Animasi strip poker di permainan komputer tidak seindah pemandangan di depan mata. 

Nova : “Jen.. mana boleh ditutupin dadanya. Buka dong!” 

Nova menggaet tangan penutup payudara dengan segera. 

Jenni sedikit memberontak sambil memerah wajahnya. 

Jenni tertarik tangannya, memperlihatkan payudara terbuka dan menggantung indah di depan wajahku. Glek.. saya menelan ludah.

Jenni : “Bud, tutup mulut dong.. Masa sampai menganga terbuka gitu melihat dada gue.” 

Jenni dan Nova tertawa. 

Ini membuat Jenni jadi relaks dan pasrah dadanya terpampang jelas. 

Wah kalo mereka serius kayak gini, mendingan saya kalah saja. 

Mengingat kalau kalah terus, tititku akan dihisap selama 1 menit setiap kekalahan. 

Hahahaha.. 
Otakku kotor juga. Maka dilanjutkanlah permainan. 

Dengan segera saya menjadikan diri telanjang. 

Celana dalam saya buka perlahan-lahan memperlihatkan titit yang sudah mengeras sejak tadi. Saat itu, Nova, dengan payudara montoknya pun tinggal celana dalam saja. 

Kedua gadis ini memperhatikan celana dalamku dengan seksama sambil menahan napas menunggu tititku seluruhnya terlihat. 

Nova : “Wah sudah keras yah, Bud! Bagus lho bentuknya!”
Budi : “Gimana tidak keras… ngelihat dua pasang payudara yang bagus-bagus!” 

Rupa-rupanya Nova sudah tidak tahan lagi. Aku langsung ditabraknya dan tititku langsung dipegangnya. 

Dengan gemas Nova mulai mengocok tititku sambil sesekali dijilatnya. Tentu saja saya tidak tinggal diam. 

Tanganku mulai meremas-remas payudara Nova yang cukup besar. 

Tidak cukup dengan remasan, akhirnya aku meraup payudara kiri dan mulai menghisapnya.

Ahh.. Enak banget, Bud! Terus hisap..
Sambil menghisap payudara Nova, tanganku mulai melepaskan celana dalamnya. 

Karena saya tidak mau melepaskan hisapan, tentu saja melepaskan celana dalam jadi lebih sulit. 

Nova membantu dengan melepaskan celana dalamnya sendiri. 

Tititku yang menjadi lepas dari pegangan Nova, langsung disambut Jenni dengan kulumannya. 

Mimpi apa semalam. 

Dua gadis sudah mengulum tititku. 

Kami pun pindah ke ranjang. 

Saya berbaring di ranjang dengan titit menjulang langit. 

Nova melanjutkan memberikan payudaranya untuk saya hisap dan Jenni kembali mengulum tititku. 

Tangan saya mulai bergerilya ke vagina Nova. Basah.

Licin. 

Saya pun mulai menggesekkan jari ke clitorisnya.

Licin sekali. 

Nova pun mendesah dengan kenikmatan yang dialaminya di bawah. 

Jenni yang melihat Nova mengalami kenikmatan, mengubah posisi pantatnya ke sebelah mukaku. 

Badan jenjangnya memang membuat posisi hampir 69 tersebut sangat mudah terjadi. 

Tanganku pun menggosok vagina Jenni yang juga sudah sangat basah.

Tangan kiri di vagina Jenni, tangan kanan di vagina Nova. 

Kukocok keduanya dengan kelembutan yang lama-lama bertambah cepat.

Jenni dan Nova blingsatan dibuatnya. 

Jenni berguncang hebat sampai melepaskan hisapan di tititku dan mengeluarkan lenguhan panjang yang sangat indah. 

Nova menyusul dengan teriakan yang tidak kalah cantiknya. 

Keduanya terjatuh di kiri kananku dengan lemasnya. 

Aku yang sudah tegangan tinggi tidak mau tinggal diam. 

Aku menghampiri Nova dan membuka lebar-lebar selangkangannya. 

Terlihat vagina bersih yang sangat indah. 

Bulu- bulu halusnya sangat indah. 

Aku mulai menggesekkan kepala tititku ke vagina Nova. 

Ah….. licin dan enak. 
Belum pernah aku merasakan kenikmatan seperti ini.

RONDE KE 1 AKU DAN NOVA
Nova yang mulai merasakan kenikmatan, mulai bereaksi dengan menggerak-gerakkan pinggulnya mengikuti irama gesekan.

Nova semakin meracau…
Oohhh… aahhh… ohh..my… God…..Enak banget Bud
Terus Bud… 
Enak… ahhh… aahh.. 
HHH…. AAHHHHHH…
Gila.. enak banget Titit lu Bud!! 
Gue dah sampe nih... 
Baru digesek aja dah enak gini yah....!!!
Bud… gimana kalo dimasukin yah? 
Masukin deh Bud..

Serius lu, Nov? 
Kamu mau aku perawanin? 
Gue sih dah nafsu banget nih.

Iya, Bud… 
Gue pengen ngerasain titit lu di dalam gue… 
Di luar aja dah enak, apalagi di dalam.

Aku tidak pikir panjang lagi, langsung berusaha merangsek ke dalam vagina Nova.

Oww.. pelan-pelan Bud.. Sakit tahu!!

Ok, Nov.. aku pelan-pelan nih..
Pelan-pelan kepala tititku mulai terbenam di vagina Nova. Terasa mentok.

Aku yang tidak pengalaman berpikir kok tidak dalam yah? 
Nov, udah masuk belom sih?

Nova yang mulai meringis menahan sakit, Kayaknya sih belom deh… 

Tapi terusin aja.

Kamu yakin, Nov? 
Kayaknya lu kesakitan gitu.

Terus aja, Bud. 
Aku pokoknya mau titit lu di dalam gue.

Ya udah kalo gitu.. Gue terusin nih..

Dengan tiga sodokan keras yang disertai rintihan Nova, akhirnya tititku masuk juga sepenuhnya.
Wah.. Nova… kayaknya titit gue dah masuk semua nih

Iya.. Bud…
sambil menahan sakit
Diam dulu, Bud.. jangan digerakin dulu..
Aku masih rada sakit..
Ahh.. nikmatnya vagina perawan.. tititku berasa banget diremas-remas oleh vagina sempit Nova.

Tanpa kusadari, aku mulai menggerakkan pelan-pelan pantatku.

Keluar masuk secara perlahan.

Nova pun mulai bernafas secara teratur dan mulai menikmati kocokan lembut di vaginanya.
Pelan-pelan yah Bud… 
Masih sakit tapi dah mulai enak nih… 
Vaginaku berasa penuh banget diisi titit lu....

Jenni yang dari tadi menonton menunjukkan ekspresi tidak percaya.
Gila kalian berdua.. beneran ngentot yah?

Jenni pun mendekati TKP dan memperhatikan dengan sesama.
Gila.. gila.. titit lu beneran masuk ke vaginanya Nova, Bud!

Iya Jen.. Enak banget vagina Nova.. 
Aku bisa ketagihan ngentot nih.

Tiba-tiba ada keinginan yang luar biasa untuk segera sampai kupercepat goyanganku.

Nova pun semakin mendesah menggila.
Ahhh… Ohhh…
Ahhh…Ohhh…Bud.. 
Aku mau sampe lagi nih

Barengan Nov.. gue juga mau sampe..
(Di kepalaku tidak teringat lagi pelajaran Biologi, kalau sperma ketemu sel telur akan menghasilkan zygot yang akan berkembang menjadi bayi.)
Ayo.. Bud… kita bbaaareeennggg….

Croootttt… 
Croottt.. 
Croottt…
Tiga kali aku menyemprotkan mani ke rahim Nova.

Ahh, ini perasaan yang luar biasa dan kenikmatan berhubungan badan dengan seorang gadis muda yang cantik.

Beda banget sama masturbasi.

Hubungan langsung lebih nikmat. Aku langsung terjatuh lemas di sebelah Nova.

RONDE KE 2 AKU DAN JENNI
Jenni yang melihat pertunjukkan langsung bagaimana bereproduksi mulai mendekati tititku lagi dan menghisapnya dengan lembut.

Nafasku yang tersengal-sengal perlahan-lahan menjadi teratur seraya menikmati hisapan- hisapan Jenni.

Dikocoknya perlahan tapi pasti membuat tititku menjadi tegang kembali.
Bud, jangan dimasukin yah. Ini pengen gue gesek-gesek ke vagina.

Iya, Jen....
Jenni pun mengambil posisi WOT dan mulai menggesek-gesek vaginanya di atas tititku.
Enak banget, Jen....

Goyangan lembut Jenni membuat payudaranya bergoyang-goyang secara anggun. Pemandangan yang sangat indah.

Jenni merupakan salah satu wanita impianku. Tinggi, berdada montok, atletis, senang bercanda, dan baik hati.

Sekarang dia sedang menggesekkan kelaminnya dengan kelaminku.

Ah.. kepengen masukin didalam.

Segera kubalikkan posisi sehingga aku sekarang di atas.

Kakinya kubuka lebar-lebar.

Terlihat vagina yang sangat indah.

Bahkan lebih indah daripada punya Nova.

Mulus, hampir tanpa bulu.

Warnanya pink dan telah basah mengkilap.

Tititku langsung berkedut-kedut melihatnya.

Kuarahkan tititku ke vaginanya.
Bud, jangan dimasukkin yah!

Kenapa Jen? 
Sudah tidak tahan nih....

Jangan Bud… jangan sekarang...
suaranya lembut meluluhkan hati.

Entah kenapa aku berhenti memaksakan kepala tititku.

Akhirnya aku hanya menggesek-gesekkan kepala tititku di muka vagina Jenni

Ah… iya Bud.. 
Begitu saja… gesek saja terus… 
Ahh… Ahhh...
Jenni mulai lebih relaks dan lebih melebarkan posisi kakinya.

Melihat itu, aku semakin cepat menggesekkan titit.

Semakin cepat gesekan, semakin keras desahan Jenni.
OOhhhh… AHhhhh..
Enak Bud… 
Teruss.. Terusss.. 
Lebih cepat lagi… 
Tee..teeeruussss…. 
AHHHHHH....

Jenni mendapatkan orgasmenya dan cukup banyak cairan O-nya yang keluar.

Kasur menjadi basah sekali.

Aku melihat Jenni mengalami orgasme yang sangat seksi sampai aku terdiam terkesima.

Jenni cantik sekali.

Aku benar-benar terpesona.

Sepertinya aku jatuh cinta dengan Jenni.

Nova yang telah cukup beristirahat dan melihat Jenni telah lemas mengambil alih situasi.

Dipegangnya tititku dan dikocoknya perlahan.

RONDE KE 3 AKU, NOVA DAN JENNI
Tititku yang masih belum puas dengan Jenni membuat otakku segera beralih ke Nova dan menyuruhku untuk melampiaskannya ke Nova.

Lagi pula tititku bisa coblos ke dalam Nova.

Dengan segera kubalikkan Nova dan kucoba Doggy style di sebelah Jenni yang masih terbaring lemas.

Ternyata Doggy style memberikan sensasi yang berbeda.

Rasanya tidak bisa dituliskan dengan kata-kata.
Hanya nikmat.

Walaupun Nova yang sedang aku sodok, tatapanku tidak lepas dari Jenni.

Jenni membuka matanya dan menatapku dengan penuh kemesraan.

Senyumnya yang manis membuat hatiku bingung.

Di sini aku sedang jatuh cinta dengan Jenni, tetapi tititku sedang menikmati pelayanan Nova, dan Jenni tersenyum kepadaku.
Ah bingung…..
Aku pun tersenyum balik ke Jenni sambil semakin keras menyodok Nova.

Sodokan kerasku yang terus bertubi-tubi dari belakang membuat Nova tidak dapat menahan diri lagi dan dia mendapatkan orgasme lagi.

Aku memperlambat sodokanku agar Nova bisa menikmati orgasmenya.

Jenni bangun dan memberikan payudaranya ke mukaku.

Hisap Bud! Biar kamu tambah seru!

Ah.. nikmatnya tetek Jenni.. 
Kenyal tetapi kencang.

Tentu saja akibat tetek Jenni yang nikmat, goyanganku ke Nova semakin bertambah cepat.

Gila kamu Bud, enak banget sih dientot dari belakang sama kamu… 
Aku. mauuuuu… Ahhhhh…
Nova pun orgasme lagi.

Aku pun tidak tahan nikmatnya menghisap tetek Jenni sambil doggy ke Nova dan akhirnya.
Croott…croott… 
dua kali aku semburkan spermaku.

Bud enak banget disemprot elu… 
Rasanya nikmat.. 
Kayak mandi air hangat.. 
Tapi ini rasanya di dalam....

Posisi kami belum berubah, aku masih menancapkan titit ke dalam vagina Nova sambil terus menyemprotkan sisa-sisa sperma dan mulutku terus mengulum, menghisap dan menggigit-gigit payudara Jenni.
Enak yah Bud, isap tetekku dan ngentot-in Nova?

Iya Jen! 
Cuma impian bisa threesome kayak gini tapi gue bisa ngerasain kejadian benernya.

Udah dong Bud, cabut titit lu. 
Pegel nih nungging melulu.
timpal Nova.

Kucabut tititku tetapi pandanganku terus menatap mata Jenni.

Kelihatannya aku benar-benar jatuh cinta.

Malam itu kami tidur bertiga dalam keadaan bugil.

Jenni di kananku, Nova di kiriku.

KEDATANGAN RIKA
Tok tok tok.. 
Pintu kamar hotel diketuk.

Nova yang telah bangun lebih dulu membuka pintu dan Rika terlihat telah sampai dihantar oleh orangtuanya.

Eh.. Rika...
Nova panik
Bokap Nyokap kamu mana?

Rika : “Tenang Nova, mereka cuma menghantarku kok.. tadi langsung jalan lagi ke kota C.”
Nova : “Wah… lega.. gue pikir mereka mau masuk ke dalam.”
Rika : “Memangnya kenapa Nov? Eh… lu kok kaga pake BH?”
Nova : “Itu dia Rik.. takut ketahuan.. Gue kemaren berhasil nih”
Rika : “Berhasil apaan sih, lu?”
Nova : “Gue kasih perawan gue ke Budi!!”
Rika : “Haahh?? Yang bener lu? Jenni juga? Kita semua kan memang kepengen banget dientot Budi!!”
Nova : “Jenni belum.. masih perawan dia.. kayaknya takut.. tapi udah main juga sama si Budi, cuma belum dimasukin aja.”
Rika : “Gue jadi horny nih, Nov. Budi di mana? Mau gak yah dia?”
Nova : “Masih tidur tuh.. lu bangunin aja.. laki-laki kalo dikasih perawan mana ada yang nolak.”
Rika : “Hahahaha…bener juga lu!”
Nova : “Tuh lihat, Rika. Ada yang menonjol di selimut. Dia masih telanjang lho. Kita kemaren tidur begitu gayanya.”
Rika : “Jenni mana, Nov? Kok kaga ada?”
Nova : “Lagi di kamar mandi. Tuh lu urus si Budi aja. Pagi-pagi dah tegak gitu. Lu hisap aja dulu tititnya.”

Rika pun menghampiri ranjang dan segera menarik selimut sehingga tititku terbuka dengan leluasa.

Aku yang masih tidur tidak sadar apa yang sedang terjadi hanya mengetahui kalau tititku mengalami kenikmatan.

Perlahan-lahan kubuka mataku berpikir Nova atau Jenni sedang mengulum si junior.

Hah? Rika? Ngapain lu?
tanyaku tanpa berusaha melepaskan diri.

Lagi enak kok masa melarikan diri.
Betul gak? 

mmlammggii 
hissmmmaaapp 
mttiimmtiitttmm mmlu
Jawab Rika dengan tidak melepaskan muatan di mulutnya.

Hahahaha..
Nova tertawa geli.

Lanjutin aja Rik, si Budi kaga nolak tuh.. cuma ngeliatin kamu sambil merem melek gitu.
Jenni yang mendengar tertawanya Nova, segera melongok keluar dan cukup kaget melihat Rika sedang mengulum tongkat kenikmatanku.

Eh.. Rika… baru sampe langsung sarapan aja nih..
tukas Jenni dengan nada yang menunjukkan kekagetan.

Jenni keluar dari kamar mandi sambil masih mengeringkan rambutnya.

Body Jenni memang luar biasa.

Aku tidak bisa melepaskan pandangan dari tubuh langsing dengan payudara yang sempurna itu.
Budi.. jangan ngeliatin aku aja dong.. 
Rika dah nafsu tuh… puasin gih… 
Kayak kanu puasin kita berdua kemarin. 
Iya gak Nov?

Iya Jen.. Ayo Bud.. Puasin Rika.. Perkosa dia.. hahahaha..

Kaga usah diperkosa.. 
Orang aku mau secara sukarela kok..
timpal Rika.

Mendengar jawaban Rika, aku segera beraksi. Kucium bibirnya dan kami melewatkan beberapa menit melampiaskannya sambil bertukar air liur.

Rika badannya kecil sehingga dengan mudah kuangkat dari tepi ranjang dan meletakkannya di ranjang.

Kudekati Rika dan menciumnya lagi.

Kali ini tanganku tidak tinggal diam.

Payudara Rika aku pijat dan remas-remas halus.
Kaos ketatnya segera kubuka memperlihatkan tetek mungil yang kencang. 

Pentilnya telah keras menjulang ke atas. Pentil yang bagus dan segera kulumat. 
Ohh.. enak banget Bud.. terus Bud….aahhh.. ahhh..
Rika meracau kenikmatan. 

Hisapan dan kulumanku pun bertambah keras. 

Tititku sudah sangat kencang sekali. 

Dengan sedikit agak kasar kulepaskan semua pakaian yang masih melekat di Rika. 

Wow.. ternyata Rika mempunyai bulu jembut yang sangat lebat. 

Lebat tapi terlihat sangat rapi dan terawat. 

Kudekati vaginanya dan tercium wangi vagina yang merangsang.

Tapi Jenni punya lebih wangi. Ah.. Jenni lagi.. ini ada gadis yang sukarela memberikan perawannya, kok masih mikirin perempuan lain. 

Kulirik Jenni dan kulihat dia tersenyum penuh pengertian. 

Kujilat vagina Rika sambil terus melihat Jenni. 

Jenni pun tersenyum terus dan memberikan anggukkannya seakan-akan mengerti kalau aku sedang bertanya bolehkan aku menjilat memek perempuan lain. 
Ohh…oohhh… enak banget Bud.. baru dijilat aja gue dah kayak gini..
Suruh Budi ngentotin elu, Rik… Pelan-pelan yah Bud.. Kemaren gue cukup sakit lho...
Nova menghangatkan suasana.

Iya Bud.. masukin dong buruan.

Yakin lu, Rik?
Aku bertanya kepada Rika tetapi tatapanku kembali ke Jenni. Jenni pun mengangguk kembali. 

Aku pun segera membuka lebar selangkangan Rika. 

Vagina Rika terlihat sangat imut, karena memang Rika orangnya cukup kecil. 

Tinggi badannya hanya di bawah bahuku sedikit. 

Perlahan-lahan aku dorong tititku ke dalam vagina Rika. 

Rika yang sudah sangat basah hanya bisa mendesah. Kepala tititku sudah masuk sepenuhnya tetapi seperti ketemu tembok. 

Siap Rika? Ini dah di depan selaput dara nih. Tinggal gue sodok masuk...
Entah kenapa sekali lagi aku melirik ke Jenni dan Jenni pun tersenyum kembali. 

Senyum yang sangat manis. 

Iya Bud.. sodok aja.. perkosa gue.. bikin gue hamil.. gue mau anak dari lu.
Rika sudah lupa daratan. 

Kupegang pinggul Rika dengan erat dan kudorong dengan penuh kekuatan. 

Blesss.. 
masuk sudah. 

Rika menitikkan air mata menahan sakit. 
Lanjut Rik?

Iya Bud.
Dah mulai terbiasa nih. Rasanya penuh banget vagina gue...
Proses menyetubuhi Rika pun segera berlangsung. 

Keluar.. masuk…keluar… masuk.. pelan-pelan tetapi pasti vagina Rika semakin basah. 

Gila….
Enak..banget….
Tahu gini… dari kemaren… gue… ikutan…nginep….
Rika semakin larut dalam kenikmatan. 

Ohh…ooohh…enak… aahh.. terus.. Bud.. yang cepat.. Bud!
Kuturuti kemauannya. 

Semakin cepat aku menggoyang Rika, payudaranya pun semakin liar tergoncang-goncang. 
Bareng yah Rika.. 
Gue juga dah mau nyemprot..

Ayo Bud.. bikin gue hamil.. semprot yang banyak…
AAARRRHHHH
Kami berdua pun orgasme luar biasa. 

Vagina Rika memeras semua sperma yang ada di tititku. 

Kucabut tititku dan terlihat tetesan darah perawan merembesi sprei. 

Noda darah perawan Rika dan Nova terlihat bersebelahan.

Wah aku harus membeli sprei ini dari hotel. 

Kenang-kenangan pikirku. 

Jenni menghampiriku dan menciumku di bibir dengan ciuman yang sangat lembut. 

Tiba-tiba ada perasaan bersalah di hatiku. 

Sepertinya Jenni tahu karena dia bilang, 
Tidak apa-apa Bud. Kita semua memang ingin menikmati titit lu.
dan kemudian dia menciumku lagi. 

Ciuman yang penuh mesra. 

Nova mengganggu ciuman kami dengan mengambil tititku dan menghisapnya. 

Jenni mengganguk kembali dan merebahkan tubuhku. 

Nova terus menikmati permainannya di bawah. 

Jenni menduduki kepalaku dan memberikan vaginanya untuk kuhisap. 

Ah.. nikmatnya memek Jenni. 

Kujilat dan kujilat terus sambil kami terus bertatapan mata. Aku benar-benar jatuh cinta. 

Pagi itu aku digilir tiga perempuan cantik. Jenni tetap hanya meminta digesek-gesek saja.

Nova dan Rika berhasil membuatku menyemprotkan sperma di dalam mereka sebanyak dua kali. 

Kami baru selesai ketika kami sudah kelelahan dan kelaparan. 

Sudah waktunya makan siang.

Kami berempat berhasil masuk universitas di kota B dan sepakat untuk mengontrak rumah untuk tinggal bersama. 

Orang tua kami tidak ada yang curiga. 

Mereka pun setuju mengontrak rumah lebih enak daripada kos-kosan. 

Bisa masak dan cuci baju sendiri. 

Tidak takut ada barang yang hilang. 

Empat tahun kuliah, sehari pasti minimal sekali aku menyetubuhi salah satu dari tiga wanita cantik tersebut.

Dengan Jenni, selalu hanya gesek-gesek. 

Dengan Rika dan Nova, tentunya celup-celup dong. 

Tidak ada yang hamil karena kami menghitung kalendar dengan sangat disiplin. 

Sesudah lulus pun kami masih sering berkumpul untuk bermain. 

Nova bertemu dengan suaminya di tempat kerja. 

Rika bertemu dengan suaminya di kuliah S2. 

Jenni akhirnya menjadi isteriku.

Perawannya baru diberikan pas malam pernikahan. 

Kami berdua punya dua orang anak. 

Jenni sering mengundang Nova dan Rika untuk bermalam di rumah kami. 

Saking seringnya, aku berhasil menghamili Nova dan Rika. 

Anak kedua Nova dan anak ketiga Rika mirip sekali denganku. 

Untung suami mereka tidak pernah ada yang curiga. 

Alasannya karena sering bergaul denganku, jadi mirip deh anaknya.
☆☆☆☆☆

Baca Juga: