Showing posts with label Pemerkosaan. Show all posts
Showing posts with label Pemerkosaan. Show all posts

Kisah malam pertama pengantin baru Danny Dan Lia

June 08, 2019 1
Malam ini merupakan malam pertama Danny dan Lia sebagai suami istri. Di kamar, Danny dan Lia mengganti pakaiannya dengan piyama tidur yang nyaman dan santai dipakainya.

Begitu rebah ke ranjang, keduanya langsung saling berpagut.

Saat itu Danny merasakan adanya hal yang aneh pada dirinya.

Sepertinya jantungnya berdegup lebih cepat dan lebih keras.

Semangat libidonya menjadi sangat menyala-nyala.

Nafsu birahinya menjadi demikian membara.

Malam itu mata Danny yang nampak menjadi merah seakan terbakar menyaksikan Lia istrinya yang teramat sangat cantik.

Saat menyaksikan pengantinnya tergolek di ranjang, dia ingin secepatnya menyetubuhinya.

Kemudian dengan serta merta tanpa menunjukkan kelembutan atau sentuhan-sentuhan awal, bahkan dengan cara agak kasar, dilucutinya pakaian tidur istrinya Lia, kemudian juga pakaiannya sendiri.

Perasaan yang menggebu-gebu ini ternyata juga melanda Lia sendiri.

Saat Danny melucuti pakaiannya, dengan desahan yang keras Lia juga menunjukkan ketidaksabarannya.

Diraihnya tonjolan besar pada selangkangan Danny yang nampak menggunung.

Sebelum sempat Danny menelanjangi dirinya sendiri, di betotnya Danny dari sarangnya. Langsung di kulumnya.

Mereka, para pengantin ini nampak dikuasai nafsu birahi yang sudah tidak dapat mereka kendalikan sendiri.

Mereka saling merangsek, saling mencengkeram dan meremas, saling menjilat dan menyedoti, saling melampiaskan dendam birahinya.

Suasana riuh rendah oleh desah dan rintih pasangan ini sungguh sangat esotis bagi siapapun yang mendengarnya.

Mungkinkah hal itu disebabkan oleh suasana romantis villa mewah ini.

Suasana romantis yang memilik kekuatan untuk mendongkrak libido mereka dengan tajam sehingga nafsu birahi mereka sepertinya begitu terbakar.

Nampak Lia yang telah telanjang bulat menunjukkan buah dadanya yang sangat ranum mengencang.

Putingnya yang memerah mencuat keras tegak di bukit ranum kencang itu, seakan menanti siapapun yang bersedia mengulum dan menyedotinya.

Sementara itu kelamin Danny demikian pula.

Darahnya telah penuh terpompa pada urat-urat batangnya.

Kelamin Danny ngaceng dengan keras sekali.


Urat-uratnya bertonjolan di sekeliling batang itu.

Kepalanya yang cukup besar berkilatan yang disebabkan darahnya menekan keluar hingga membuat kulitnya tegang dan mengkilat.

Kelamin itu terus mengaduk-aduk wilayah selangkangan istrinya. Dia mencari lubang vagina Lia yang juga sudah merekah kehausan menunggu kelamin Danny untuk menembusnya.

Pagutan, ciuman, gigitan yang disertai erangan, desahan dan rintihan dari Danny dan Lia saling bersambut. Keduanya benar-benar tenggelam dalam nafsu birahi yang sangat tinggi.

Ayyooo Dannyyy, masukkan tongkolmuuuu.. ayyooo Dann...
Lia memohon.

Mana memiawmu sayangggg… tongkolku sudah tidak dapat tahan nihhh. ingin secepatnya memasuki lubang surganmuuuu… LIAAAAAA!
pekik Danny.

Tak pelak lagi, dengan penuh ketidak sabaran, mereka, Danny dan Lia ini sepertinya telah dirasuki kegilaan birahi.

Mereka nyaris seperti hewan, yang melampiaskan nafsunya berdasarkan naluri hewaniahnya.

Berbagai obsesi sensual yang sesungguhnya bersifat sangat pribadi dan tersimpan dalam-dalam di sanubari masing-masing, tidak dapat tersembunyikan lagi tumpah di malam pertama bulan madu mereka di Villa Forest Green yang sangat romantis ini.

Ujung kelamin Danny sudah tepat di bibir lubang vagina Lia ketika tiba-tiba dengan sangat mengejutkan terdengar pintu kamar digedor-gedor dengan sangat kasar dan keras.

Haaiiiii, yang di dalam kamarrr! Bukaa! Buka pintunyaa! Atau aku yang akan buka dengan paksa! Ayyyooooo bukkaa!
Amukan birahi sensual Danny dan Lia yang sedang memuncak langsung runtuh.

Dengan geragapan mereka langsung diserang kecemasan dan ketakutan hebat.

Mereka sama sekali tidak pernah memperhitungkan adanya kemungkinan seperti ini.

Di villa mewah yang sejuk dan penuh kesan tenang dan aman ini sama sekali tidak menyiratkan kemungkinan-kemungkinan seperti ini.

Danny langsung mendekap istrinya yang nampak langsung gagap histeris penuh ketakutan.

Kemudian menyusul gedoran lagi dan gedoran yang semakin kasar lagi.

Dengan gemetar dan ketakutan yang hebat kedua pengantin pria dan wanita itu serta merta menarik selimut seakan dapat bersembunyi sambil menutupi ketelanjangannya.

Dan akhirnya terdengar tendangan-tendangan yang sangat kuat dan akhirnya pintu kamar tidur itu jebol.

Daun pintunya terbanting ke lantai dengan mengeluarkan suara yang sangat keras. Danny dan Lia menggigil.

Mata mereka terpaku tajam ke arah lubang pintu yang telah jebol tebuka itu.

Mereka melihat ada 2 orang bertopeng setengah telanjang kecuali cawat-cawat mereka yang menutupi aurat mengayun-ayunkan kapak di tangannya.

Danny dan Lia semakin ketakutan, menggigil gemetar.

Kedua orang itu menutupi kepalanya dengan semacam rajutan kaos gelap, persis seperti yang terjadi di film-film kriminal atau peristiwa-peristiwa teror di TV.

Yang nampak hanya mata mereka yang beringas dan suara mereka yang terdengar keras, kasar dan brutal.

Ho, ho, ho, ha, ha, ha…,
Rupanya sepasang pengantin cantik dan tampan ini sedang bercumbu… uhhhh… 
Uhhh nikmatnya nihhh…
Kemudian salah satu dari mereka mendekat ke ranjang.

Dengan kekuatan tangannya dia renggut selimut yang menutupi Danny dan Lia.

Dengan sekali renggut selimut itu langsung terbuka dan tampaklah Danny dan Lia yang bugil saling berpelukan histeris. Langsung dilemparkannya selimut itu ke lantai.

Ampuuunnnnnnn Paakk… 
Jangan diapa-apakan kamiii… 
Ampunnnn.. a.. mpuunn …
Lia menangis dan gagap karena didera ketakutan yang amat sangat.

Seolah-olah tidak mendengar suara-suara iba tersebut, ketakutan maupun sikap protes dari Danny dan Lia, kedua orang itu langsung membuka kedoknya.

Dan betapa terperanjatnya Danny dan Lia ketika melihat siapa kedua begundal itu.

Mereka adalah Tory dan Pedro yang sebelumnya dianggap sangat santun dan menyenangkan oleh pasangan Danny dan Lia ini.

Tanpa dapat dicegah lagi Danny yang dalam keadaan bugil langsung bangkit hendak mengamuk dan melawan kedua orang itu.

Tapi dari penglihatan sepintas sudah jelas, Danny bukanlah lawan mereka berdua.

Tubuh Tory dan Pedro yang kekar dan penuh otot bukan lawan Danny.

Dengan mudah dia dilumpuhkan, tangan-tangan kuat Pedro meringkusnya kemudian kedua tangan dan kaki Danny diikat dan tubuhnya dibiarkan tergeletak di lantai.

Mereka tidak mengacuhkan segala protes, hujatan dan caci maki Danny.

Dengan tertawa penuh kemenangan mereka merasa puas dengan lancarnya perbuatan keji mereka.

Selanjutnya Tory dan Pedro lebih tertarik untuk memusatkan perhatian pada pengantinnya yang cantik, yang juga bugil dan tanpa daya tergolek di ranjangnya.

Permohonan ampun dan tangisan ketakutan penuh pilu dari bibir mungil Lia sama sekali tidak menggetarkan hati para begundal itu. Mungkin hati mereka memang telah mereka buang jauh-jauh.

Tangan-tangan Tory dan Pedro tidak sabar lagi untuk menjamah tubuh cantik mulus Lia itu.

Tapi saat Pedro mendekat untuk meraih pahanya, tanpa dia duga kaki Lia menendang matanya.

Gelagapan dan kepedihan pada matanya membuat Pedro terduduk sambil menutup mukanya.

Melihat hal itu dengan sigap Tory langsung merangkul Lia.

Pengantin yang berontak dan berteriak-teriak histeris ketakutan itu ditindihnya.

Tubuh putih mulus telanjang itu dipeluk dan diringkusnya tanpa banyak kesulitan, bahkan nampaknya Tory ini sangat menikmati apa yang harus dia lakukan.

Tangan kanan Lia direnggutnya.

Dia keluarkan tali dari kantongnya.

Tangan itu diikatnya kuat-kuat ke tiang bagian atas ranjang itu.

Dan tangan kirinya kembali direnggut untuk diikatkan ke tiang ranjang di bagian sebelah atas yang lain.

Tentu saja Lia yang dilanda ketakutan yang amat sangat langsung berontak dan meronta seperti kuda betina yang liar.

Kaki-kakinya menendang-nendang apa saja yang ada di dekatnya. Tapi semua perlawanan itu hanya sia-sia.

Kaki-kaki itu, oleh Pedro yang sudah baik matanya direnggut dan diikatkannya ke kaki ranjang bagian bawah kanan dan kiri.

Peristiwa itu sungguh menjadi penampakkan yang sangat erotis baginya.

Lia, sang pengantin, bidadari yang mulus, dewi berkulit kuning putih tanpa cacat, perempuan jelita yang mengamuk dengan liar, melawan dua begundal setengah telanjang dengan tubuh hitamnya yang berkilat karena keringatnya.

Para begundal brutal itu nampak kewalahan saat meringkus Lia.

Dengan cara merangkulkan tangan-tangannya serta menekankan wajah-wajah mereka sekenanya pada tubuh yang sangat merangsang birahi milik si jelita, Tory dan Pedro memerlukan kerja keras sambil menikmati sensual tubuh Lia.

Akhirnya sang korban yang jelita itu benar-benar tak berdaya.

Dan kini, kaki dan tangan Lia telah terikat kuat-kuat pada ranjang pengantinnya.

Dan untuk keberhasilannya, para pendatang brutal itu langsung disuguhi pemandangan yang sangat spektakuler, merangsang dan erotis sekali.

Tangan Lia yang terikat ke bagian atas kanan dan kiri ranjang membuat ketiaknya yang indah nampak terbuka.

Uuhhh… Akan kubenamkan hidungku ke lembah ketiakmu yang indah itu.. lidahku, bibirku akan menjilati dan menyedotmu Liaaa…
begitu begitu pikir begundal-begundal tersebut.

Dan paha Lia yang kini telah mengangkang terbuka, memamerkan memiawnya yang ranum menggunung yang langsung mendongkrak nafsu birahi kedua serigala lapar dan brutal itu.

Keduanya tercekat menyaksikan dengan penuh takjub kemaluan Lia yang ditutupi bulu-bulu tipis merekah yang seakan menunggu jamahan tangan-tangan kasar mereka atau jilatan lidah dan sedotan bibir tebal mereka atau bahkan tusukan kelamin-kelamin kedua begundal brutal itu.

Tak tahan menyaksikan tindakan brutal yang dilakukan Pedro dan Tory pada istrinya, Danny berteriak-teriak dengan harapan ada orang lain yang mendengarkannya di tengah hutan sepi itu.

Ulah itu hanya jadi tertawaan para begundal. Tory menyuruh Pedro untuk menyumpal mulut Danny dan menyeretnya ke kamar sebelah.

Pedro langsung bertelanjang melepas cawatnya sendiri yang dekil dan pesing untuk di sumpalkan pada mulut Danny.

Tentu saja Danny jadi gelagapan panik menerima perlakuan kotor Pedro itu.

Tetapi mana dapat ia melawan dengan kaki dan tangannya yang masih terikat erat-erat.

Dan Tory juga langsung bertelanjang melepas cawatnya. Dia sumpalkan cawatnya yang sama dekilnya ke mulut Lia yang langsung berkelojotan karena jijik dan ingin muntah. Tetapi sia-sia pula.

Dan akhirnya tanpa daya pasangan D & L ini menjadi tawanan Pedro dan Tory.

Dan tanpa terhindarkan, Danny maupun Lia dihadapkan pada pemandangan yang selama ini dianggapnya sangat tabu.

Kedua orang ini menyaksikan kelamin lelaki lain, kelamin Pedro dan Tory yang telah ngaceng berat.

Kelamin-kelamin mereka yang nampak tegak dan kaku itu sungguh luar biasa.

Mengingatkan pada pisang tanduk di sepanjang jalan Bogor.

Besar dan panjangnya tak kurang dari 20 cm dengan garis tengah sekitar 4,5 cm.

Bagi seorang wanita semacam Lia, kelamin sebesar itu membuat khayalannya langsung melayang.

Lia membayangkan bagaimana rasa pedih dan sakitnya apabila kelamin itu dipaksakan menembus memiawnya yang masih perawan.

Akankah hal itu akan terjadi pada dirinya yang hingga kini bahkan suaminya pun belum pernah benar-benar menjamah memiawnya itu? 
Akankah Pedro dan Tory mendahului Danny sebagai pemilik yang sah atas vaginanya secara bergiliran memaksakan kelamin-kelamin mereka itu menembus memiawnya? 
Lia sangat takut dan merasa ngeri dengan pikirannya yang mengkhayal sejauh itu. Dia menggigil kemudian menutup matanya.

Sementara itu bagi Danny, melihat Pedro dan Tory yang memiliki kelmain sebesar dan sepanjang itu rasa percaya dirinya langsung runtuh.

Dia bayangkan apabila istrinya sempat mereka paksa untuk menerima kelamin mereka, dan pada akhirnya Lia mendapatkan kenikmatan serta kepuasan dengan kelamin-kelmain sebesar itu, dapat dipastikan dia tidak mungkin mampu mengungguli Pedro maupun Tory.

Dan di belakang hari dapat dipastikan Lia tidak akan pernah puas berhubungan intim dengan dirinya.

Lia akan dengan sebelah mata saja melayani dia sebagai suaminya.

Danny sangat terpukul.

Membayangkan istrinya Lia mendesah serta merintih mendapatkan kenikmatan birahi dari Tory dan Pedro.

Hatinya langsung ciut.

Yo, ambil minuman itu lagi. Kita buat mereka lebih galak lagi...
terdengar Tory menyuruh Pedro.

Kata-kata Tory itu menjadi pikiran Danny maupun Lia.
Minuman apa itu? Bikin galak lagi!!
Apakah hal itu yang membuat mereka demikian panas birahinya saat memasuki peraduan setelah makan malam tadi? 
Mungkinkah Pedro dan Tory memasukkan obat perangsang pada makan malam mereka tadi?

Tak lama kemudian Pedro balik dengan sebotol cairan berwarna kuning bening.

Pertama-tama pada Danny.

Tangan Tory memegangi kepala dan membuka sumpal mulut Danny yang langsung panik ketakutan.

Kemudian Pedro menjejalkan mulut botol ke mulut Danny dan memaksakan untuk minum.

Ketika Danny berusaha menolak dengan cara memalingkan wajahnya, Tory memeganginya dan membekap hidungnya.

Karena tersedak Danny terpaksa menelan cairan dari botol itu.

Dia merasakan asin dan pesing. Jangan-jangan air kencing mereka ini.

Dengan cara yang sama cairan itu juga dijejalkan pula pada mulut Lia.

Nahhhh, bapak dan ibu, jangan khawatir… Itu adalah minuman demi kesehatan pak Danny yang tampan dan bu Lia yang jelita…, sebentar lagi bapak dan ibu pasti akan semakin segar, ha, ha, ha…

Beberapa saat kemudian, pasangan Danny dan Lia merasakan dunia seakan berputar-putar.

Pandangan matanya mengabur.

Jantungnya berdegup lebih kencang.

Lia merasakan darahnya memanas.

Dan gambaran kelamin-kelamin Pedro serta Tory yang luar biasa itu mendekat.

Dia merasakan seakan-akan ujung-ujung kelamin mereka menyentuh gerbang bibir vaginanya.

Dia merasakan rangsangan birahi yang hebat, seperti halnya saat Kelamin Danny suaminya menyentuh vaginanya.

Sementara itu Danny juga merasakan darahnya yang memanas.

Nafsu birahinya meledak-ledak.

Ingin rasanya menjilati selangkangan Lia istrinya yang saat ini terbuka memamerkan nonoknya di atas ranjang pengantinnya.

Ingin rasanya dapat secepatnya terbebas dari para begundal itu untuk kemudian melanjutkan apa yang tadi telah hampir dilakukannya, tongkolnya menembus memiaw istrinya.

Lemparkan Danny ke kamar sebelah
Si Pedro kembali melaksanakan perintah Tory.

Dengan mulutnya yang kembali tersumpal cawat Pedro dan perasaannya yang mabuk dan ingin muntah akibat minuman yang dijejalkan tadi, Danny diseret ke kamar sebelah.

Kemudian pintunya dikunci.

Danny sangat penasaran, kesal dan marah. Semula dia berharap dapat tetap sekamar dengan istrinya.

Setidak-tidaknya matanya masih dapat menikmati tubuh bugil istrinya yang terikat di ranjang, sehingga ledakan birahinya yang kini melanda nafsunya dapat sedikit tersalurkan.

Di lain pihak Lia yang ditinggalkan suaminya tak dapat menghindarkan pandangannya pada kelamin Pedro dan Tory yang nampak sedemikian besar dan panjangnya.

Batang kelamin-kelamin yang dikelilingi urat-urat itu semakin nampak perkasa.

Kepala helmnya yang yang tumpul membulat berkilatan kena cahaya lampu kamar.

Lia sendiri belum pernah menyaksikan secara langsung kelamin lelaki dewasa seperti yang dilihatnya sekarang ini.

Dia hanya ingat bahwa pernah melihat kelamin-kelamin sebesar itu dari VCD HOT yang disaksikan ramai-ramai bersama teman-temannya pada saat jam istirahat di kantor.

Sewaktu vaginanya siap ditembus Kelamin Danny dia hanya merasakan ujung kelamin yang hangat merangsang bibir-bibir vaginanya.

Dia ingat betapa nikmatnya saat birahinya menjadi demikian memuncak yang disebabkan ujung kelamin Danny itu.

Dia merasakan keinginannya yang sangat kuat agar Danny secepatnya menembus kemaluannya.

Bibir vaginanya sangat kehausan untuk melahap batang kelamin Danny.

Tapi kini Danny tidak lagi berada di kamar ini. Yang nampak kini adalah Pedro dan Tory yang sama-sama telah berbugil ria.

Dan kelamin mereka itu, kenapa mata Lia dibuatnya sangat terpesona kelamin-kelamin itu tegak ngaceng dengan kokoh dan tegarnya.

Lia berpikir akankah mereka juga akan seperti Danny? 
Menempelkan atau menusukkan kelamin-kelamin yang luar biasa itu ke bibir vaginanya? 
Akankah dia akan membiarkan dan menerima kehadiran kelamin-kelamin yang bukan milik suaminya itu? 
Akankah dia mampu menerima serangan badai nafsu serigala para brutal itu? 
Dari celah matanya yang basah karena air mata, Lia melirik ke kelamin para brutal tersebut.

Tiba-tiba perasaan seperti yang terjadi pada saat bersama Danny memasuki kamar usai makan malam tadi melintas.

Rasa ingin, ingin, ingin, ingin, keinginan yang kuat, keinginan yang meledak-ledak, ingin Danny melanjutkan tusukan tongkolnya ke lubang kemaluannya, melanjutkan kenikmatan birahi yang mulai memuncak. 
Mungkinkah itu....
Bagaimana mungkin.....

Yang nampak jelas siap melakukan itu justru Tory dan Pedro yang telah telanjang bulat dengan kelamin-kelamin keras besar panjang mereka itu.

Mereka sangat siap dan sangat mungkin memperkosanya.
Ooohh…, alangkah ngerinyaaa… Lia berusaha menepis perasaan yang sangat menakutkan itu.

Dipalingkan wajahnya dari kelamin-kelamin itu. Sungguh ngeri membayangkan kelamin sebesar dan sepanjang milik para brutal itu menembus memiawnya. Apabila hal itu terjadi pasti akan merobek-robek vaginanya.

Tetapi darah dan jantung ini
Mengapa darah dan jantung Lia terus berdegup kencang sejak makan malam tadi seakan ada yang terus merangsangnya. Dan kini bahkan semakin kencang serta kuat memacu darahnya, setelah Tory dan Pedro mencekoki cairan kuning bening tadi. Apakah itu obat perangsang seksual yang membuat dirinya tidak dapat melepaskan pandangannya atau memalingkan wajahnya dari kelamin-kelamin Pedro dan Tory itu? Ah, sangat mungkin…! Bukankah Pedro dan Tory nampak jelas telah mempersiapkan semua rencana jahatnya ini. Topeng itu, kampak itu, gedoran di pintu itu. Semua merupakan bagian rencana jahatnya. Dengan memberikan obat perangsang birahi sensual, korbannya akan cepat takluk dan mengikuti kemauan bejat seksualnya. Korbannya akan patuh untuk menjadi budak sensualnya.

Lia akan cepat menyerah dan sangat kehausan untuk secepatnya menikmati kelamin-kelamin para pejantan itu. Ahhh…, degup jantung ini…, kenapa jadi sulit sekali, membuang keinginannya untuk tidak kembali melirik kelamin-kelamin pejantan itu.

Oohh.., jangannnn… jangannnn…!
Lia memejamkan matanya untuk menghapus semua lintasan pikirannya, wajahnya memucat, kemudian memerah, kemudian kembali memucat, kembali memerah. Bayangan akan kelamin-kelamin besar itu jadi berbalik sangat menggairahkannya.

Perasaan ngeri, takut, cemas tetapi tidak sepenuhnya ingin benar-benar menghindar, rasa birahi yang terus mengejarnyaa, dirasuki dengan penuh kebimbangan dan keraguan, semuanya serba bercampur aduk.

Lia dilanda kebingungan yang amat sangat. Khayalan-khayalan liarnya yang terus memburu tidak dapat dilenyapkan dari kepalanya.

Detak dan degup jantungnya juga tak dapat dikendalikannya.

Akankah…, Ohhh…, 
Ampuni aku Danny…, Dannyyyyyyy…, ampuni akuuuu…, 
Aku tidak mampu mengambil keputusan…, 
Tolongggg…, 
Aku membutuhkan kk… kkaamuuu… uuuu.. uuuhhhh…
Dan memang, keputusan akhirnya bukanlah di tangan Lia.

Begitu terlempar ke kamar buangannya, pertama-tama yang dicari Danny adalah lubang.

Lubang atau celah di dinding, dimana dia dapat mengintip istrinya yang telanjang.

Pengaruh minuman yang dijejalkan Pedro dan Tory tadi membuat libido Danny terangsang dengan hebat, saat ini yang diperlukan Danny adalah dapat mengintip istrinya telanjang, dia ingin melakukan mastubasi.

Ternyata dia dapatkan, kamar villa yang seluruhnya dibuat dari kayu dan balok itu memberikan celah di antara dua baloknya. Celah itu cukup longgar.

Danny serta merta beringsut ke celah itu. Tetapi ternyata celah itu terlampau tinggi di atas kepala Danny.

Dengan ikatan tali pada tangan dan kakinya Danny kesulitan untuk berdiri maupun sekedar jongkok.

Sementara celah itu dapat dia raih setidak-tidaknya dengan berjongkok. Dia mengamati sekeliling kamar itu.

Dari kamar sebelah terdengar suara riuh. Terdengar

Huh, huh, hah, huh…
suara istrinya yang mulutnya terbungkam celana dalam dekil milik Tory.

Danny jadi panik, dia memastikan sesuatu telah terjadi pada istrinya.

Dia gulingkan tubuhnya ke sebuah kotak kayu di pojok kamar itu.

Dia coba menendang kotak itu dengan kaki terikat agar dapat didekatkan ke dinding.

Berhasil.

Danny kembali berguling. Memerlukan perjuangan cukup panjang untuk dapat memanjat kotak itu dengan kaki dan tangan yang terikat.

Sementara itu suara istrinya sudah terdengar berbeda, dalam waktu singkat suara itu telah berubah menjadi desahan dan rintihan, disamping juga terdengar suara Tory atau Pedro atau kedua-duanya. Mereka terdengar berbicara dalam bahasa daerah mereka yang Danny sama sekali tidak memahami artinya, tetapi Danny memastikan mereka sedang melakukan sesuatu hal yang tidak senonoh pada Lia istrinya yang kini terikat dan telanjang bulat di depan mereka.

Akhirnya setelah berjuang keras untuk memanjat kotak kayu itu, dalam keadaan terikat tangan dan kakinya mata Danny kini dapat menyaksikan Tory sedang memeluk dan menciumi kedua payudara istrinya. Dan Pedro dari arah lain sedang memeluk paha Lia serta wajahnya tenggelam dalam selangkangannya. Nampak kepala Pedro naik turun menjilati arah kemaluan Lia.

Seketika itu juga seolah-olah ada sejuta petir menghantam kesadaran Danny.

Dia langsung terjungkal ke lantai.

Danny kehilangan kesadarannya.

Tetapi hanya sesaat, dalam keadaan terkapar di lantai nampak kelopak mata Danny yang lelah pelan-pelan terbuka.

Dan kemudian dengan cepat dia bangkit dan kembali berusaha merangkak ke kotak itu untuk mengintip celah di dinding itu.

Bermenit-menit dia lalui untuk mampu kembali pada posisi dimana dia dapat mengintip kamar istrinya yang saat ini sedang digarap oleh Tory dan Pedro.

Suara erangan yang telah berganti menjadi suara desahan dan rintihan istrinya terus terdengar, juga pembicaraan antara Tory dan Pedro yang tidak diketahui maknanya oleh Danny terdengar semakin cepat bersahut-sahutan.

Sementara itu telah terjadi hal yang aneh pada diri Danny, mungkin pengaruh dari makanan dan minuman yang dicekokkan oleh para begundal itu ke mulutnya atau setelah menyaksikan istrinya dikerjai secara brutal oleh dua begundal itu sehingga membuatnya terjungkal ke lantai, atau mungkin juga campuran dari keduanya.

Saat dia kembali menaiki kotak itu, dorongan keinginannya sudah berganti.

Dia tidak lagi ingin mengintip untuk melihat istrinya yang telanjang atau untuk menyaksikan bagaimana istrinya dengan gigih melawan kedua brutal itu.

Yang diinginkannya sekarang adalah menyaksikan bagaimana kedua brutal itu yang dengan kelamin besar dan panjangnya dapat memberikan kenikmatan erotik dan sensasional kepada istrinya.

Sekarang dia ingin menikmati pemandangan bagaimana istrinya di arak oleh para begundal itu. Danny kembali ngaceng berat.

Lebih sensasional daripada sebelumnya.

Dia ingin secepatnya menyalurkan syahwatnya.

Dia ingin melakukan masturbasi sambil menonton istrinya dient*t para berandal-berandal di kamar sebelah itu.

Inikah yang disebut shock terapy.
Sebuah peristiwa yang sangat luar biasa yang mampu dengan seketika mengubah mental, selera, cara pandang ataupun keyakinan seseorang. Yang mampu mengubah Danny, dari ketakutan serta kekhawatiran yang mencekam, menjadi sesuatu yang justru dia harapkan untuk terjadi.
Dari yang awalnya berkeinginan untuk menolong menjadi keinginan untuk ikut menikmati.

Dan itulah yang terjadi.

Saat matanya kembali di lubang ingintipan tersebut, kini dia menyaksikan bahwa telah terjadi perkembangan.

Nampak sumpal pada mulut istrinya sudah dilepas, walaupun pada tangan dan kakinya masih terikat pada ranjang itu. Nampak istrinya menggeliat-geliat tetapi tidak berteriak menolak.

Yang terdengar justru desahan dan rintihan dari mulut Lia yang terdengar penuh kenikmatan, bahkan mata Lia nampak memandang Tory dengan tongkolnya yang sangat besar, sedang memompa kemaluannya.

Danny melihat bagaimana pinggul istrinya sedemikian bergairahnya menjemput keluar masuknya kelamin Tory yang kelewat besar itu.
Adakah Lia juga telah diterkam obat perangsang itu, sehingga membuatnya kini menyerah dalam jarahan seksual para begundal itu?

Ah masa bodohlah, aku sendiri punya kebutuhan pula, birahiku ooohhhhh, menyaksikan istriku arak para begundal itu.
demikian pikir Danny.

Jarak lubang dengan posisi istrinya yang terikat ini tidak lebih dari 1 meter di kamar yang relatif sempit itu. Danny dapat dengan nyata menyaksikan mengkilatnya batang kelamin Tory yang keluar masuk menembus memiaw Lia istrinya.

Tanpa dapat dicegah, air liur Danny menetes saat melihat kelamin Tory yang luar biasa itu. Telinganya yang menangkap suara desahan dan rintihan istrinya yang tidak lagi terbungkam itu sebagai pertanda kenikmatan yang sedang melanda istrinya.

Danny tersenyum.

tongkolnya yang ngaceng dipepetkannya ke dinding.

Pelan-pelan digosok-gosokkannya. Duhh…, nikmatnyaaaa…

Dari lubang ingintipan itu, Danny melihat Tory semakin cepat memompa. Makin cepat, makin cepat, cepat, cepat… Dan,
AACCHH…
terdengar teriakan Tory.

Dan sperma Danny muncrat berbarengan dengan air mani Tory yang tumpah-ruah di kemaluan dan tubuh istrinya Lia.

Itulah kepuasan seksual pertama sejak perkawinannya dengan Lia istrinya, pada hari-hari yang seharusnya penuh bahagia, pada hari-hari bulan madunya.

Kemudian Danny lemah terduduk. Tetapi tidak lama.

Dia mendengar kembali suara-suara desahan dan rintihan dari kamar sebelah, Danny kembali mengintip.

Kini dia melihat Pedro menindih tubuh istrinya.

Dia melumat leher, ketiak dan dada Lia. Sementara tangan kanannya memegang tongkolnya yang bukan main indahnya di mata Danny kini, dan tangan kirinya memeluk pinggul Lia untuk menempatkan lubang kemaluannya persis di ujung tongkolnya.

Dan yang menjadi sasaran birahi Danny sekarang adalah menyaksikan istrinya Lia menggeliat-geliatkan pinggulnya menahan kenikmatan pada saat vaginanya melahap ujung kelamin Pedro.

Tubuhnya dicekal oleh otot-otot lengan Pedro.

Dan vagina Lia dengan penuh kepasrahan menerima tembusan dan tusukan nikmat dari begundal brutal itu.

Mata Danny melotot melihat adegan-adegan itu. tongkolnya kembali bangkit ngaceng.

Obat perangsang yang dicekokkan padanya membuat tongkolnya tidak dapat tidur.

Dan kembali dinding kamarnya menerima gosokan kelamin Danny.

Dan keadaan Lia sendiri, tak terhindarkan lagi, kebrutalan para begundal itu mulai menjadi, Lia menyaksikan wajah Tory langsung tenggelam, dia rasakan sedotan bibir tebal dan jilatan-jialatan lidah kasarnya yang merambahi ketiak, leher, dadanya

Dia rasakan bagaimana bibir Tory mencaplok kedua payudaranya.

Lidahnya menari-nari pada putingnya.

Gigitan kecil tetapi terasa sangat kasar membuat putingnya menjadi perih.

Tetapi yang dia rasakan sangat aneh adalah, perasaan ngeri, takut dan cemas itu, mengapa pupus, ternyata pupus, mengapa yang hadir kini justru rasa haus yang amat sangat.

Dia diserang rasa kehausan yang amat sangat.

Ingin sekali dia mendapatkan air untuk tenggorokannya.

Ingin sekali, ingin sekali. Dia sangat menantikan Tory mengangkat celana pesingnya yang membungkam mulutnya.

Dia sangat menantikan bibir tebal Tory melumat bibirnya.

Dia ingin sekali meminum ludah Tory langsung dari mulutnya.

Oohhhh Toryi tolooong… 
Akuuu hauss…, tolong Toryii, tolongggg…

Dan kehausan itu semakin menjadi ketika dilihatnya Pedro menyusul menenggelamkan wajahnya ke selangkangannya.

Lidah Pedro yang juga kuat dan kasar itu langsung menjilat seluruh bibir kemaluannya. Langsung membor lubang vaginanya.

Untung saja Tory tahu…, Tory yang telah 55 tahun itu tahu reaksi perempuan yang kehausan saat menerima jilatan, sedotan, sentuhan lidah maupun bibir atau sodokan kelamin.

Dia tahu bagaimana desakan birahi akan membuat tenggorokannya mengering dan seorang perempuan akan meminta agar secepatnya dilumat bibirnya untuk dapat menyedot ludah lelaki yang menyetubuhinya dan secepatnya kemaluannya ditembus kelamin besarnya.

Tory yang sangat berpengalaman itu serta merta meraih celana dalamnya yang sejak tadi disumpalkan pada mulut Lia.

Kemudian secepat kilat bibirnya melumat bibir sensual pengantin cantik itu.

Dan serta merta, Lia langsung menyambutnya dengan penuh kelahapan birahinya.

Dia dengan histeris menyedot ludah Tory. Bahkan dari bibirnya juga keluar bisikan-bisikan kehausannya.

Pak Toryi, ayyooo, Lia udah tidakk tahannn…, ayyooo Pak Toryi…, Lia udah pengin kelamin Pak Tory ituu…, ayoooo Pak Toryiii …

Tory tahu bahwa Lia sedang dalam keadaan tersiksa oleh deraan nafsu birahinya sendiri, dia tolak Pedro dari keasyikannya melumati kemaluan Lia, kemudian dirabanya kemaluan indah itu.

Cairan birahinya sudah membanjir.

Dan Tory dengan cepat mengambil posisi.

Dia kangkangkan selangkangan Lia, untuk kemudian dia menempatkan tongkolnya di antara selangkangan Lia itu.

Diarahkannya kelamin itu langsung ke lubang vagina Lia, yang telah sangat kehausan menunggunya.

Karena Lia masih perawan, sejago-jagonya Tory tetap saja segalanya masih harus diusahakan dengan keras.

Kelamin itu setiap kali meleset dari targetnya. Mungkin licin. Beberapa kali Tory merasa tongkolnya sudah tepat berada di mulut vagina Lia, meleset lagi.

Dan saat berhasil tembus, Lia berteriak kesakitan, dan Tory melihat darah keperawanan Lia mengalir dari bibir vaginanya.

Selaput perawan Lia telah robek.

Kemaluan Lia sudah berhasil ditembus kemaluan Tory.

Kemudian Tory mulai memompa.

Pelan…, pelan…, pelan…, tetapi Lia sendiri yang sudah sangat kegatalan ingin lebih cepat…
Dan Tory menurut untuk mempercepat…

Dari balik kamar, Danny ternyata ikut menyaksikan saat-saat itu.

Hingga dia saksikan bagaimana Tory memuntahkan bermili-mililiter air maninya ke dalam memiaw istrinya Lia itu.

Dan dalam kesempatan itu, Danny juga menyalurkan birahinya hingga spermanya menyemprot dinding tempatnya mengintip istrinya menikmati genjotan Tory.

Sungguh suatu pengalaman yang sangat dahsyat bagi perawan seperti Lia ini.

Seumur-umur baru kali inilah dia merasakan nikmatnya senggama.

Saat Tory melepas spermanya tumpah di dalam vaginanya, Lia pun mendapatkan orgasme pertamanya.

Kelamin Tory masih berada di dalam lubang vaginanya saat Pedro datang.

Dia menepuk punggung Tory, mengisyaratkan meminta jatahnya.

Lia menatap kehadiran Pedro dengan pandangan penuh gairah dan birahi.

Orgasme yang baru saja diraihnya bersama Tory belum menghabiskan semangat libidonya.

Kegatalan birahi pada kemaluannya masih menuntut gesekan batang-batang penuh kejantanan dari para pecundang ini.

Dan begitu Pedro datang serta langsung menembakkan rudalnya pada memiaw Lia, ditariknya tubuh Pedro.

Dia ingin Pedro kelamin nonoknya dengan bibir tebal Pedro tetap melumat bibirnya.

Dia ingin menguras ludah dari mulut Pedro.

Dia ingin mendengarkan desah dan rintih Pedro yang merasa kelimpungan oleh jepitan vaginanya langsung di telinganya.

Dia ingin hidungnya mengendus seluruh keringat yang keluar dari tubuh Pedro.

Dia ingin Pedro melumat ketiaknya, payudara dan putingnya. Kini Lia telah menjadi kuda betina yang binal. Dia tidak lagi memikirkan Danny.

Dia hanya ingin Danny bergabung dalam kenikmatan bersama ini.

Dia ingin Danny menerima kenyataan dunia ini.

Dia ingin Danny untuk tetap setia dan menurut saja pada dewa-dewa jantan yang begundal dan brutal ini.


Lia berkeyakinan kedua brandal begundal brutal ini adalah dewa-dewa jantan yang membawa sejuta kenikmatan. Danny harus patuh dan tunduk pada mereka.

Sementara itu di kamar lain… Danny kini menyadari bahwa Pedro dan Tory telah memberikan kenikmatan tak terhingga pada Lia istrinya.

Dia berfikir sederhana, kalau kelamin-kelamin Pedro dan Tory itu nikmat bagi Lia yang dicintainya, tentunya akan nikmat pula bagi Danny yang mencintainya khan?

Suatu logika yang sangat rasional.
Kalau Lia meminum dengan rasa segar ludah Pedro maupun Tory, tentunya ludah itu juga akan menyegarkan bagi Danny khan? 
Dan pada akhirnya semua bagian tubuh Pedro maupun Tory mestinya nikmat dan layak untuk dinikmati semuanya khan?

Kini ganti Danny yang diserang rasa haus.

Tiba-tiba terdengar kunci kamar itu dibuka oleh seseorang.

Nampak Pedro dan Tory masuk dan memeriksa wajah Danny. Kemudian dia periksa pula tongkolnya.

Mereka tersenyum.

Kemudian Pedro dan Tory memeriksa dinding di dekat kotak kayu dimana Danny tadi mengintip.

Diamatinya dinding itu.

Dan saat ditemukannya sperma Danny yang masih meleleh pada dinding, kembali Pedro dan Tory tersenyum puas.

Danny berharap sumpal mulutnya dilepaskan seperti halnya Lia istrinya.

Tapi ternyata tidak.

Kedua begundal itu kini menyodorkan kelamin mereka ke wajahnya.

Ooohh…, mereka hendak membuang air kencingnya ke wajahku...
pikir Danny.

Danny menunggunya dengan perasaan penuh birahi.

Dia amati kelamin Tory yang ujungnya bulat seperti jamur merang.

Lubang kencingnya menganga lebar.

Dan Ujung kelamin Pedro nampak agak belang. Kulupnya masih membungkus, tanda bahwa dia belum ngaceng sempurna.

Dan akhirnya, seerrr… dan seeerrrrr…, kencing Tory dan Pedro langsung mengguyur wajah Danny.

Celana dalam Pedro itu ternyata langsung menyerap cairan kuning itu.

Di dalam mulutnya, Danny merasakan hangat air kencing mereka berdua.

Dia berusaha menelannya sebanyak mungkin.

Inilah obat haus bagi Danny.

Sedemikian banyaknya kencing Pedro dan Tory sehingga membuat Danny tampak seperti mandi. Seluruh tubuhnya basah kuyup oleh air kencing mereka. Bau pesing air kencing itu seakan-akan menjadi bau sedap bagi Danny yang sedang horny.

Setelah selesai, Pedro mengambil celana dalam yang menyumpal pada mulut Danny.

Danny lega.

Akhirnya rahangnya dapat beristirahat setelah sekitar 4 jam menganga.


Tetapi ternya urusan masih belum selesai.

Pedro memerintahkan Danny untuk membuka mulutnya lagi.

Diperasnya air kencing Pedro dan Tory yang terserap dalam celana dalam Pedro itu ke mulut Danny.

Dan tanpa disuruh lagi Danny langsung menjilatinya.

Kemudian Tory berbicara.

Kamu sekarang jadi budakku. Tahu...
Danny seakan mendengar berita gembira.

Dia mengangguk angguk senang. Kemudian Pedro menuntun menuju kamar dimana Lia masih terikat di ranjangnya.

Hai, pelayanku, budakku, anjingku… Bersihkan nonok istrimu dari peju-peju (sperma) kami yang tertinggal di dalamnya. Kamu sedot dengan mulutmu sampai bersih. Cepat.

Ternyata Tory dan Pedro ini benar-benar seorang ahli kejiwaan yang hebat.

Mereka pakar sekali dalam hal mengubah, merusak dab menghancurkan mental orang lain.

Dan tampak sekarang, Danny telah tercuci otaknya menjadi budak yang penurut dan kelamin yang siap menunggu perintah tuannya.

Dia siap untuk melakukan apapun, termasuk minum air kencing mereka atau bahkan lebih dari itu.

Tidak ada lagi rasa tabu, jijik, jorok bagi para budak mereka.

Lia juga telah diubah sebagai budaknya.

Pasangan itu akhirnya kembali seperti halnya yang diharapkan oleh para tamu dalam acara pesta kemarin siang,

Semoga Danny dan Lia selalu saling melengkapi.
Dengan karakter baru setelah melalui garapan Tory dan Pedro, pasangan Danny dan Lia tetap saling melengkapi.

Setidak-tidaknya di depan para berandal brutal itu.

Dan kini Danny merangkak di lantai menuju tepian ranjang.

Dia datangi nonok Lia yang masih basah penuh sperma yang meleleh dari lubang vaginanya.

Danny harus membersihkan dengan lidahnya.

Dia dekatkan bibirnya menuju vagina yang penuh lelehan sperma Pedro dan Tory itu.

Lidahnya menjilati dan bibirnya langsung menyedotnya hingga nonok Lia kembali kosong.

Sejak kehadiran Danny kembali ke kamarnya dan kemudian menjilati kemaluannya dari sisa-sisa sperma yang dibuang Tory dan Pedro ke dalam vaginanya, Lia hanya dapat menyaksikan dengan diam.

Pandangannya pada Danny sudah hambar.

Bukannya karena Danny tidak dapat menyelamatkan dia saat-saat menderita.

Tetapi Lia kini yakin bahwa Danny tidak mungkin dapat memberikan kenikmatan ranjang macam Pedro dan Tory.


Danny tidak akan mampu merangsang birahinya untuk meraih orgasmenya.

Dan di mata Lia kini, Danny memang hanya pantas menjadi budak atau pelayan yang menjilati sperma buangan tuannya.

Semua yang dilakukan Danny sepenuhnya berada dalam pengawasan Pedro dan Tory.

Mereka puas melihat Danny.

Mereka juga puas melihat Lia. Kini tali-tali mereka akan dilepaskan.

Pedro dan Tory yakin bahwa Danny dan Lia sekarang bukan lagi Danny dan Lia pada 4 jam yang lalu.

Tadi saat kalian datang, kami sepenuhnya melayani kalian. 
Sekarang kamu menjadi pelayan-pelayan kami, menjadi budak-budak kami, menjadi pelayan-pelayan yang setia pada kami. 
Dengar, kami akan bermurah hati melepaskan tali kalian. Agar kalian selalu siap menjalankan perintah kami berdua.

Kemudian tali-tali mereka dilepaskan.

Tory memerintahkan keduanya untuk mandi dan berganti pakaian.

Pedro dan Tory akan menunggu mereka untuk makan malam di teras kebun.

Tempat itu sengaja dipilih karena malam ini adalah malam purnama.

Danny dan Lia akan disuguhi pemandangan malam yang sangat indah.

Tory membisikkan kepada Danny dan Lia, bahwa dia telah memasak makanan kesukaan mereka.

Sebelum meninggalkan pasangan itu, Pedro dan Tory menyampaikan selamat malam dengan sangat santun.
☆☆☆☆☆☆

Baca Juga:

Malam itu udara terasa panas

May 24, 2019 0
Sebut saja namaku Lilis. Sudah dua tahun lebih aku bekerja sebagai seorang pembantu di keluarga Pak Dimas, seorang kepala desa yang sangat dihormati oleh warga setempat. 

Dan selama itu pulalah aku merasakan pahit-manisnya menjadi seorang pembantu, termasuk manisnya di perkosa.

Malam itu udara terasa panas, sampai-sampai aku susah sekali untuk tidur. 

Baru setelah aku ganti pakaian dengan daster tipis dan menyalakan kipas angin, barilah aku bisa tertidur. 

Dalam tidur aku sempat bermimpi, Pak Jali, yang merupakan sopir pribadi keluarga Pak Dimas, datang menemuiku. 

Lucunya, Pak Jali datang menemuiku dalam keadaan telanjang bulat.

Meskipun usianya sudah paruh baya, dan berbadan agak pendek, namun beliau masih memiliki postur tubuh yang kekar dan berotot. 

Khas orang desa yang suka bekerja keras. 

Dan yang membuatku geli adalah “buah terong” yang menggantung indah di pangkal pahanya. 

Ih…, begitu menggemaskan.Perlahan-lahan beliau mendekatiku dan langsung meremas remas buah dadaku yang telah terbuka bebas. 

Entah kenapa belaian Pak Jali terasa begitu nyata, seperti bukan dalam mimpi. 

Bahkan ketika bibir tebalnya mulai melumat kupingku aku sempat tersentak dan perlahan-lahan terjaga dari tidurku.

Namun betapa terkejutnya aku saat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. 

Ternyata apa yang aku rasakan tadi bukan sekedar mimpi. 

Dihadapanku ternyata benar-benar ada sosok Pak Jali yang memeluk tubuhku.

Pak Jali…! Apa yang Bapak lakukan…?
Aku mendorong tubuh Pak Jali kuat-kuat sehingga dia terjengkang ke belakang. 

Segera aku menutupi tubuhku yang ternyata juga nyaris telanjang dengan selimut.

Tenang, Lis! Sudah lama aku memendam nafsuku terhadapmu…!
Kembali Pak Jali mencoba merengkuh tubuhku. 

Namun kembali aku mendorong tubuhnya kuat-kuat ke belakang.

Pergi…!
Atau saya akan teriak!
bentakku.

Silahkan teriak! Percuma saja kamu teriak. Karena tidak akan ada orang yang mendengarmu.
Apa kamu lupa, Pak Dimas dan keluarga tadi sore sudah berangkat ke Bandung untuk liburan! Jadi lebih baik kamu turuti saja keinginanku!
Pak Jali tersenyum sinis.

Aku semakin ketakutan ketika Pak Jali kembali mendekatiku. 

Segera saja aku melompat dari ranjang dan mencoba berlari ke arah pintu dengan kondisi telanjang. 

Namun sial! Aku kalah cepat dengan Pak Jali. Dengan cepat, ia menyergapku dari belakang dan menghimpitkan tubuhku ke arah dinding. 

Kedua tangannya mencengkeram kuat lenganku ke atas tembok, sedangkan kedua kakinya mengunci kakiku sehingga aku sulit untuk bergerak. 

Aku mencoba untuk meronta sekuat tenaga. 

Namun percuma, tenaga Pak Jali memang jauh lebih kuat dibandingkan tenagaku yang hanya seorang wanita.

Semakin kuat aku meronta, semakin kuat cengkeraman Pak Jali di Tubuhku.

Tolong, Pak! Lepaskan saya!
aku menangis dan mengemis kepada Pak Jali. 

Namun percuma saja, beliau tidak mendengarkan perkataanku. 

Bahkan dengan liar Pak Jali menghunjamiku dengan ciuaman mautnya dan lama kelamaan tanagaku terkuras habis. 

Tubuhku menjadi lemas, aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. 

Yang bisa aku lakukan hanyalah pasrah dan menuruti aturan mainnya Pak Jali.

Perlahan-lahan cengkeraman Pak Jali mulai mengendor.

Perlakuannya yang semula kasar mulai melunak dan berubah menjadi lembut. 

Bahkan aku mulai masuk dalam permainannya ketika dengan lembut Pak Jali mulai menggesek-gesekkan batan kejantanannya ke atas pahaku. 

Seketika itu kakiku terasa lemas dan lunglai dan aku tak kuat lagi menopang berat badanku sendiri, sehingga aku mulai terkulai. 

Namun dengan sigap, Pak Jali segera menangkap tubuhku, mengangkatnya lalu membopongku ke atas ranjang.

Sesaat terlintas di wajah Pak Jali sebuah senyum kemenangan. 

Kemudian dengan lembut ia mulai melumat bibirku. 

Entah kenapa aku tidak kuasa untuk menolaknya. 

Bahkan ada dorongan kuat dari dalam diriku untuk membalas lumatannya itu.

Nah…, begitu dong Lis! Kalau begini kan lebih enak!
kata Pak Jali senang.

Aku tersenyum tersipu-sipu.
Bapak benar, mungkin lebih baik saya menuruti bapak dari pertama tadi. Lagipula, sudah lama juga saya tidak mendapatkan sentuhan laki-laki

Kembali Pak Jali tersenyum senang.
Trus, ngapain kamu tadi pake coba berontak, Lis?

Tadi saya cuma kaget saja. 
Di balik penampilan bapak yang bersahaja, kok tega-teganya bapak mencoba memperkosa saya. 
Tapi…, ah sudahlah! 
Yang pentingkan sekarang saya sudah menjadi milik Bapak!
Kembali Pak Jali mulai mencumbuku. 

Ciumannya mulai merambat melalui leherku kemudian turun ke buah dadaku.

Kumis tebalnya yang kasar menyapu kulit dadaku sehingga menimbulkan sensasi tersendiri yang semakin membuatku serasa terbang ke angkasa.

Ciuman dan jilatan Pak Jali terus bergerak turun. 

Sementara tangan kirinya meremas-remas buah dadaku, tangan kanannya tengah sibuk di pangkal pahaku membuat pilinan-pilinan yang kurasa nikmat.

Oh…, Pak Jali! Jangan siksa aku seperti ini!
rengekku.

Pak Jali tidak memperdulikan ucapanku. Justru ia malah menyibakkan rumput-rumput liar yang menghalangi pintu goa darbaku.
Wah…, Lis! Indah sekali memiaw kamu. 
Warnanya merah muda dengan baunya yang semerbak. 
Oh…, sungguh mempesona. 
Bagaikan sekuntum mawar merah yang tengah merekah di pagi hari. Pasti kamu merawatnya dengan baik. 
Oh…,Lis! 
Aku suka sekali dengan memiaw yang seperti ini…!

Perlahan-lahan Pak Jali menjulurkan lidahnya dan menyapu permukaan klitorisku. Terasa kasar, memang. Tapi nikmat!

Ayolah, Pak…! Ouhh…, aku sudah tidak tahan lagi.
Aku terus mengemis kepada Pak Jali. 

Namun dia terus mempermainkan emosiku. 

Akhirnya aku mencari inisiatif lain.

Aku mencoba menggerayangi tubuh kekar Pak Jali sambil mencari-cari buah terong yang menggantung di pangkal pahanya.

Dan tidak susah bagiku untuk menemukan buah terong sebesar itu. 

Dengan lembut dan manja, aku mulai mengocok batang terong Pak Jali di sertai dengan pijatan-pijatan yang membuat beliau merem melek.

Perlahan aku membimbing terongnya menuju ke memiawku yang sudah basah. 

Namun dengan nakal, Pak Jali hanya menempelkan dan menggesek-gesekkan ujung kepala terongnyanya di atas bibir vaginaku. 

Terasa geli, memeng. Tapi sensasi yang aku rasakan terasa begitu nikmat. Belum pernah aku merasakan yang seperti ini.
Oh…, Pak Jali! Ayolah….aku udah nggak tahan lagi…, cepet masukin dong!

Aku sudah tak bisa tahan diperlakukan seperti itu. Perlahan aku menaikkan pantatku ke atas untuk menyambut kejantanan Pak Jali yang sudah ngaceng.

Kemudian aku menekan pantat Pak Jali ke bawah supaya terong itu bisa masuk dengan sempurna.

Aaarrrghhh…!
aku menjerit kecil ketika batang terong Pak Jali yang besar itu menembus liang vaginaku. 

Awalnya terasa seret dan perih, karena ukuran terong Pak Jali memang besar dan panjang bila dibandingkan dengan milik suamiku. 

Namun setelah buah terong itu tertanam beberapa saat di dalam liang vaginaku, rasa perih itu perlahan berubah menjadi rasa nikmat.

Perlahan-lahan Pak Jali mulai mengayunkan pantatnya naik dan turun.

Hooohh.., Pak! Ssstt…, enak Pak!
aku jadi ngomong tak karuan.

A…yo, Lis! Goyangkan ju…ga pan..tatmu! Ooohhh…!
Aku menuruti kata Pak Jali. 

Kucoba untuk mengikuti irama dan gerakan-gerakan nikmat yang dilakukan Pak Jali. 

Gesekan-gesekan halus antara batang terong Pak Jali dengan dinding vaginaku terasa begitu nikmat.

Ohhh…, Lis! Ya…begitu…! Te…rus…goyangkan pantatmu! Uuuhh…, oohh…, yes…!

Pak Jali tampak begitu menikmati permainan kami. 

Kulihat wajahnya menengadah dengan mata terpejam, seolah meresapi sedotan dari meiwaku. 

Sesekali dari bibirnya terdengar lenguhan dan desisan kenikmatan.

Akupun juga menikmati sodokan-sodokan mantap batang terong Pak Jali. 


Bahkan aku memeluk tubuh kekar Pak Jali dengan erat. 

Seolah tak ingin berhenti dari permainan itu. Keringat mengalir deras melalui pori-pori tubuh kami, sehingga dada bidang Pak Jali yang berbulu lembut tampak mengkilat karena basah oleh keringat.

Aku tidak menyangka, ternyata di usianya yang mencapai setengah abad itu, Pak Jali masih memiliki stamina yang prima. Sampai-sampai aku kewalahan menghadapi goyangan dan sodokan mautnya. 

Hingga akhirnya aku merasakan ada sesuatu yang berdenyut dari dalam rahimku.

Ooohh…, Pak! Saya…, mau ke..luar…!
Ssshhhtt…, Arrhhhggg…!
Aku tidak kuat lagi menahan sesuatu yang mendesak keluar dari dalam rahimku. 

Namun Pak Jali masih terus mengayunkan terongnya keluar masuk dan menusuk-nusuk goa darbaku. 

Dan beberapa saat kemudian, aku juga merasakan batang terong Pak Jali mulai berdenyut-denyut didalam vaginaku.

Sampai akhirnya….
Aaaoouuhhh…, Lis! Nikmat bangeet!

Cairan putih kental menyembur deras dari ujung tongkol Pak Jali. Pak Jalipun kemudian menjatuhkan diri ke sisi tubuhku. 

Nafasnya tampak terengah-engah dan terlihat kecapean.
Oh…, Pak Jali! Bapak memang benar-benar hebat. 
Sudah lama saya tidak merasakan nikmat seperti ini. 
Terima kasih ya Pak!

Aku memeluk tubuh Kekar Pak Jali.Kusandarkan kepalaku di dada bidang Pak Jali sambil mengelus-elus bulu-bulu lembut yang berbaris rapi sampai ke pangkal pahanya. 

Dengan lembut pula Pak Jali membelai rambutku yang sedikit oleh keringat. 

Ah…, ternyata diperkosa itu tidak selamanya tidak enak. Kali ini justru aku mengharapkannya lagi.
☆☆☆☆☆

Baca Juga:

Obsesiku Yang Menggebu-Gebu

July 03, 2011 0
Kisah ini terjadi ketika aku masih SMU, ketika umurku masih 18 tahun, waktu itu rambutku masih panjang sedada dan hitam (sekarang sebahu lebih dan sedikit merah). Di SMU aku termasuk sebagai anak yang menjadi incaran para cowok.

Tubuhku cukup proporsional untuk seusiaku dengan buah dada yang sedang tapi kencang serta pinggul yang membentuk, pinggang dan perutku pun ukurannya pas karena rajin olahraga, ditambah lagi kulitku yang putih mulus ini. Aku pertama mengenal percintaan dari pacarku yang tak lama kemudian putus, pengalaman pertama itu membuatku haus dan selalu ingin mencoba pengalaman yang lebih heboh.

Beberapa kali aku berpacaran singkat yang selalu berujung di ranjang. Aku sangat jenuh dengan kehidupan percintaanku, aku menginginkan seseorang yang bisa membuatku menjerit-jerit dan tak berkutik kehabisan tenaga.

Ketika itu aku belum diizinkan untuk membawa mobil sendiri, jadi untuk keperluan itu orang tuaku memperkerjakan Bang Mamat sebagai sopir pribadi keluarga kami merangkap pembantu. Dia berusia sekitar 30-an dan mempunyai badan yang tinggi besar serta berisi, kulitnya kehitam-hitaman karena sering bekerja di bawah terik matahari (dia dulu bekerja sebagai sopir truk di pelabuhan).

Aku sering memergokinya sedang mengamati bentuk tubuhku, memang sih aku sering memakai baju yang minim di rumah karena panasnya iklim di kotaku. Waktu mengantar jemputku juga dia sering mencuri-curi pandang melihat ke pahaku dengan rok seragam abu-abu yang mini. Begitu juga aku, aku sering membayangkan bagaimana bila aku ditiduri olehnya, seperti apa rasanya bila batangnya yang pasti kekar seperti tubuhnya itu mengaduk-aduk kewanitaanku. Tapi waktu itu aku belum seberani sekarang, aku masih ragu-ragu memikirkan perbedaan status diantara kami.

Obsesiku yang menggebu-gebu untuk merasakan ML dengannya akhirnya benar-benar terwujud dengan rencana yang kusiapkan dengan matang. Hari itu aku baru selesai pukul 3 karena ada ekstra kurikuler, aku menuju ke tempat parkir dimana Bang Mamat sudah menunggu. Aku berpura-pura tidak enak badan dan menyuruhnya cepat-cepat pulang. Di mobil, sandaran kursi kuturunkan agar bisa berbaring, tubuhku kubaringkan sambil memejamkan mata. Begitu juga aku meminta dia agar tidak menyalakan AC dengan alasan badanku tambah tidak enak, sebagai gantinya aku membuka dua kancing atasku sehingga bra kuningku sedikit tersembul dan itu cukup menarik perhatiannya.

“Non tidak apa-apa kan? Sabar ya, bentar lagi sampai kok” hiburnya.

Waktu itu dirumah sedang tidak ada siapa-siapa, kedua orang tuaku seperti biasa pulang malam, jadi hanya ada kami berdua. Setelah memasukkan mobil dan mengunci pagar aku memintanya untuk memapahku ke kamarku di lantai dua. Di kamar, dibaringkannya tubuhku di ranjang. Waktu dia mau keluar aku mencegahnya dan menyuruhnya memijat kepalaku.

Dia tampak tegang dan berkali-kali menelan ludah melihat posisi tidurku itu dan dadaku yang putih agak menyembul karena kancing atasnya sudah terbuka, apalagi waktu kutekuk kaki kananku sehingga kontan paha mulus dan CD-ku tersingkap. Walaupun memijat kepalaku, namun matanya terus terarah pada pahaku yang tersingkap. Karena terus-terusan disuguhi pemandangan seperti itu ditambah lagi dengan geliat tubuhku, akhirnya dia tidak tahan lagi memegang pahaku. Tangannya yang kasar itu mengelusi pahaku dan merayap makin dalam hingga menggosok kemaluanku dari luar celana dalamku.

“Sshh.. Bang” desahku dengan agak gemetar ketika jarinya menekan bagian tengah kemaluanku yang masih terbungkus celana dalam.
“Tenang Non.. saya sudah dari dulu kesengsem sama Non, apalagi kalau melihat Non pakai baju olahraga, duh tambah tidak kuat Abang melihatnya juga” katanya merayu sambil terus mengelusi bagian pangkal pahaku dengan jarinya.

Mamat mulai menjilati pahaku yang putih mulus, kepalanya masuk ke dalam rok abu-abuku, jilatannya perlahan-lahan mulai menjalar menuju ke tengah. Aku hanya dapat mencengkeram seprei dan kepala Mamat yang terselubung rokku saat kurasakan lidahnya yang tebal dan kasar itu menyusup ke pinggir celana dalamku lalu menyentuh bibir vaginaku.

Bukan hanya bibir vaginaku yang dijilatinya, tapi lidahnya juga masuk ke liang vaginaku, rasanya wuiihh..gak karuan, geli-geli enak seperti mau pipis. Tangannya yang terus mengelus paha dan pantatku mempercepat naiknya libidoku, apalagi sejak sejak beberapa hari terakhir ini aku belum melakukannya lagi.

Sesaat kemudian, Mamat menarik kepalanya keluar dari rokku, bersamaan dengan itu pula celana dalamku ikut ditarik lepas olehnya. Matanya seperti mau copot melihat kewanitaanku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi dari balik rokku yang tersingkap. Dia dekap tubuhku dari belakang dalam posisi berbaring menyamping. Dengan lembut dia membelai permukaannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Sementara tangan yang satunya mulai naik ke payudaraku, darahku makin bergolak ketika telapak tangannya yang kasar itu menyusup ke balik bra-ku kemudian meremas daging kenyal di baliknya.

“Non, teteknya bagus amat.. sama bagusnya kaya memeknya, Non marah tidak saya giniin?” tanyanya dekat telingaku sehingga deru nafasnya serasa menggelitik.

Aku hanya menggelengkan kepalaku dan meresapi dalam-dalam elusan-elusan pada daerah sensitifku. Mamat yang merasa mendapat restu dariku menjadi semakin buas, jari-jarinya kini bukan hanya mengelus kemaluanku tapi juga mulai mengorek-ngoreknya, cup bra-ku yang sebelah kanan diturunkannya sehingga dia dapat melihat jelas payudaraku dengan putingnya yang mungil.

Aku merasakan benda keras di balik celananya yang digesek-gesek pada pantatku. Mamat kelihatan sangat bernafsu melihat payudaraku yang montok itu, tangannya meremas-remas dan terkadang memilin-milin putingnya. Remasannya semakin kasar dan mulai meraih yang kiri setelah dia pelorotkan cup-nya. Ketika dia menciumi leher jenjangku terasa olehku nafasnya juga sudah memburu, bulu kudukku merinding waktu lidahnya menyapu kulit leherku disertai cupangan.

loading...
Aku hanya bisa meresponnya dengan mendesah dan merintih, bahkan menjerit pendek waktu remasannya pada dadaku mengencang atau jarinya mengebor kemaluanku lebih dalam. Cupanganya bergerak naik menuju mulutku meninggalkan jejak berupa air liur dan bekas gigitan di permukaan kulit yang dilalui. Bibirnya akhirnya bertemu dengan bibirku menyumbat eranganku, dia menciumiku dengan gemas.

Pada awalnya aku menghindari dicium olehnya karena Mamat peR0k0< jadi bau nafasnya tidak sedap, namun dia bergerak lebih cepat dan berhasil melumat bibirku. Lama-lama mulutku mulai terbuka membiarkan lidahnya masuk, dia menyapu langit-langit mulutku dan menggelikitik lidahku dengan lidahnya sehingga lidahku pun turut beradu dengannya.

Kami larut dalam birahi sehingga bau mulutnya itu seolah-olah hilang, malahan kini aku lebih berani memainkan lidahku di dalam mulutnya. Setelah puas berciuman, Mamat melepaskan dekapannya dan melepas ikat pinggang usangnya, lalu membuka celana berikut kolornya. Maka menyembullah kemaluannya yang sudah menegang dari tadi. Aku melihat takjub pada benda itu yang begitu besar dan berurat, warnanya hitam pula. Jauh lebih menggairahkan dibanding milik teman-teman SMU-ku yang pernah ML denganku. Dengan tetap memakai kaos berkerahnya, dia berlutut di samping kepalaku dan memintaku mengelusi senjatanya itu. Akupun pelan-pelan meraih benda itu, ya ampun tanganku yang mungil tak muat menggenggamnya, sungguh fantastis ukurannya.

“Ayo Non, emutin kontol saya ini dong, pasti yahud rasanya kalo diemut sama Non” katanya.

Kubimbing penis dalam genggamanku ke mulutku yang mungil dan merah, uuhh.. susah sekali memasukkannya karena ukurannya. Sekilas tercium bau keringat dari penisnya sehingga aku harus menahan nafas juga terasa asin waktu lidahku menyentuh kepalanya, namun aku terus memasukkan lebih dalam ke mulutku lalu mulai memaju-mundurkan kepalaku. Selain menyepong tanganku turut aktif mengocok ataupun memijati buah pelirnya.

“Uaahh.. uueennakk banget, Non udah pengalaman yah” ceracaunya menikmati seponganku, sementara tangannya yang bercokol di payudaraku sedang asyik memelintir dan memencet putingku.

Setelah lewat 15 menitan dia melepas penisnya dari mulutku, sepertinya dia tidak mau cepat-cepat orgasme sebelum permainan yang lebih dalam. Akupun merasa lebih lega karena mulutku sudah pegal dan dapat kembali menghirup udara segar. Dia berpindah posisi di antara kedua belah pahaku dengan penis terarah ke vaginaku. Bibir vaginaku disibakkannya sehingga menganga lebar siap dimasuki dan tangan yang satunya membimbing penisnya menuju sasaran.

“Tahan yah Non, mungkin bakal sakit sedikit, tapi kesananya pasti ueenak tenan” katanya.

Penisnya yang kekar itu menancap perlahan-lahan di dalam vaginaku. Aku memejamkan mata, meringis, dan merintih menahan rasa perih akibat gesekan benda itu pada milikku yang masih sempit, sampai mataku berair. Penisnya susah sekali menerobos vaginaku yang baru pertama kalinya dimasuki yang sebesar itu (milik teman-temanku tidak seperkasa yang satu ini) walaupun sudah dilumasi oleh lendirku.

Mamat memaksanya perlahan-lahan untuk memasukinya. Baru kepalanya saja yang masuk aku sudah kesakitan setengah mati dan merintih seperti mau disembelih. Ternyata si Mamat lihai juga, dia memasukkan penisnya sedikit demi sedikit kalau terhambat ditariknya lalu dimasukkan lagi. Kini dia sudah berhasil memasukkan setengah bagiannya dan mulai memompanya walaupun belum masuk semua. Rintihanku mulai berubah jadi desahan nikmat. Penisnya menggesek dinding-dinding vaginaku, semakin cepat dan semakin dalam, saking keenakannya dia tak sadar penisnya ditekan hingga masuk semua. Ini membuatku merasa sakit bukan main dan aku menyuruhnya berhenti sebentar, namun Mamat yang sudah kalap ini tidak mendengarkanku, malahan dia menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Aku dibuatnya serasa terbang ke awang-awang, rasa perih dan nikmat bercampur baur dalam desahan dan gelinjang tubuh kami.

“Oohh.. Non Raras, sayang.. sempit banget.. memekmu.. enaknya!” ceracaunya di tengah aktivitasnya.

Dengan tetap menggenjot, dia melepaskan kaosnya dan melemparnya. Sungguh tubuhnya seperti yang kubayangkan, begitu berisi dan jantan, otot-ototnya membentuk dengan indah, juga otot perutnya yang seperti kotak-kotak. Dari posisi berlutut, dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan menindihku, aku merasa hangat dan nyaman di pelukannya, bau badannya yang khas laki-laki meningkatkan birahiku. Kembali dia melancarkan pompaannya terhadapku, kali ini ditambah lagi dengan cupangan pada leher dan pundakku sambil meremas payudaraku. Genjotannya semakin kuat dan bertenaga, terkadang diselingi dengan gerakan memutar yang membuat vaginaku terasa diobok-obok.

“Ahh.. aahh.. yeahh, terus entot gua Bang” desahku dengan mempererat pelukanku.

Aku mencapai orgasme dalam 20 menit dengan posisi seperti ini, aku melepaskan perasaan itu dengan melolong panjang, tubuhku mengejang dengan dahsyat, kukuku sampai menggores punggungnya, cairan kenikmatanku mengalir deras seperti mata air. Setelah gelombang birahi mulai mereda dia mengelus rambut panjangku seraya berkata, “Non cantik banget waktu keluar tadi, tapi Non pasti lebih cantik lagi kalau telanjang, saya bukain bajunya yah Non, udah basah gini”.

Aku cuma bisa mengangguk dengan nafas tersenggal-senggal tanda setuju. Memang badanku sudah basah berkeringat sampai baju seragamku seperti kehujanan, apalagi AC-nya tidak kunyalakan. Mamat meloloskan pakaianku satu persatu, yang terakhir adalah rok abu-abuku yang dia turunkan lewat kakiku, hingga kini yang tersisa hanya sepasang anting di telingaku dan sebuah cincin yang melingkar di jariku.

Dia menelan ludah menatapi tubuhku yang sudah polos, butir-butir keringat nampak di tubuhku, rambutku yang terurai sudah kusut. Tak henti-hentinya di memuji keindahan tubuhku yang bersih terawat ini sambil menggerayanginya. Kemudian dia balikkan tubuhku dan menyuruhku menunggingkan pantat.

Akupun mengangkat pantatku memamerkan vaginaku yang merah merekah di hadapan wajahnya. Mamat mendekatkan wajahnya ke sana dan menciumi kedua bongkahan pantatku, dengan gemas dia menjilat dan mengisap kulit pantatku, sementara tangannya membelai-belai punggung dan pahaku. Mulutnya terus merambat ke arah selangkangan. Aku mendesis merasakan sensasi seperti kesetrum waktu lidahnya menyapu naik dari vagina sampai anusku. Kedua jarinya kurasakan membuka kedua bibir vaginaku, dengusan nafasnya mulai terasa di sana lantas dia julurkan lidahnya dan memasukkannya disana. Aku mendesah makin tak karuan, tubuhku menggelinjang, wajahku kubenamkan ke bantal dan menggigitnya, pinggulku aku gerak-gerakkan sebagai ekspresi rasa nikmat.

Di tengah-tengah desahan nikmat mendadak kurasakan kok lidahnya berubah jadi keras dan besar pula. Aku menoleh ke belakang, ternyata yang tergesek-gesek di sana bukan lidahnya lagi tapi kepala penisnya. Aku menahan nafas sambil menggigit bibir merasakan kejantanannya menyeruak masuk. Aku merasakan rongga kemaluanku hangat dan penuh oleh penisnya. Urat-urat batangnya sangat terasa pada dinding kemaluanku.

“Oouuhh.. Bang!” itulah yang keluar dari mulutku dengan sedikit bergetar saat penisnya amblas ke dalamku.

Dia mulai mengayunkan pinggulnya mula-mula lembut dan berirama, namun semakin lama frekuensinya semakin cepat dan keras. Aku mulai menggila, suaraku terdengar keras sekali beradu dengan erangannya dan deritan ranjang yang bergoyang. Dia mencengkramkan kedua tangannya pada payudaraku, terasa sedikit kukunya di sana, tapi itu hanya perasaan kecil saja dibanding sensasi yang sedang melandaku. Hujaman-hujaman yang diberikannya menimbulkan perasaan nikmat ke seluruh tubuhku.

Aku menjerit kecil ketika tiba-tiba dia tarik rambutku dan tangan kanannya yang bercokol di payudaraku juga ikut menarikku ke belakang. Rupanya dia ingin menaikkanku ke pangkuannya. Sesudah mencari posisi yang enak, kamipun meneruskan permainan dengan posisi berpangkuan membelakanginya. Aku mengangkat kedua tanganku dan melingkari lehernya, lalu dia menolehkan kepalaku agar bisa melumat bibirku. Aku semakin intens menaik-turunkan tubuhku sambil terus berciuman dengan liar. Tangannya dari belakang tak henti-hentinya meremasi dadaku, putingku yang sudah mengeras itu terus saja dimain-mainkan. Gelinjang tubuhku makin tak terkendali karena merasa akan segera keluar, kugerakkan badanku sekuat tenaga sehingga penis itu menusuk semakin dalam.

Mengetahui aku sudah diambang klimaks, tiba-tiba dia melepaskan pelukannya dan berbaring telentang. Disuruhnya aku membalikkan badanku berhadapan dengannya. Harus kuakui dia sungguh hebat dan pandai mempermainkan nafsuku, aku sudah dibuatnya beberapa kali orgasme, tapi dia sendiri masih perkasa.

Dia biarkan aku mencari kepuasanku sendiri dalam gaya woman on top. Kelihatannya dia sangat senang menyaksikan payudaraku yang bergoyang-goyang seirama tubuhku yang naik turun. Beberapa menit dalam posisi demikian dia menggulingkan tubuhnya ke samping sehingga aku kembali berada di bawah. Genjotan dan dengusannya semakin keras, menandakan dia akan segera mencapai klimaks, hal yang sama juga kurasakan pada diriku. Otot-otot kemaluanku berkontraksi semakin cepat meremas-remas penisnya. Pada detik-detik mencapai puncak tubuhku mengejang hebat diiringi teriakan panjang. Cairan cintaku seperti juga keringatku mengalir dengan derasnya menimbulkan suara kecipak.

Mamat sendiri sudah mulai orgasme, dia mendesah-desah menyebut namaku, penisnya terasa semakin berdenyut dan ukurannya pun makin membengkak, dan akhirnya.. dengan geraman panjang dia cabut penisnya dari vaginaku. Isi penisnya yang seperti susu kental manis itu dia tumpahkan di atas dada dan perutku.

Setelah menyelesaikan hajatnya dia langsung terkulai lemas di sebelah tubuhku yang berlumuran sperma dan keringat. Aku yang juga sudah KO hanya bisa berbaring di atas ranjang yang seprei nya sudah berantakan, mataku terpejam, buah dadaku naik turun seiring nafasku yang ngos-ngosan, pahaku masih mekangkang, celah vaginaku serasa terbuka lebih lebar dari biasanya. Dengan sisa-sisa tenaga, kucoba menyeka ceceran sperma di dadaku, lalu kujilati maninya dijari-jariku.

Sejak saat itu, Mamat sering memintaku melayaninya kapanpun dan dimanapun ada kesempatan. Waktu mengantar-jemputku tidak jarang dia menyuruhku mengoralnya. Tampaknya dia sudah ketagihan dan lupa bahwa aku ini nona majikannya, bayangkan saja terkadang saat aku sedang tidak ‘mood’ pun dia memaksaku.

Bahkan pernah suatu ketika aku sedang mencicil belajar menjelang Ebtanas yang sudah 2 minggu lagi, tiba-tiba dia mendatangiku di kamarku (saat itu sudah hampir jam 12 malam dan orang tuaku sudah tidur), karena lagi belajar aku menolaknya, tapi saking nafsunya dia nekat memperkosaku sampai dasterku sedikit robek, untung kamar orang tuaku letaknya agak berjauhan dariku.

Meskipun begitu aku selalu mengingatkannya agar menjaga sikap di depan orang lain, terutama ortuku dan lebih berhati-hati kalau aku sedang subur dengan memakai kondom atau membuang di luar. Tiga bulan kemudian Mamat berhenti kerja karena ingin mendampingi istrinya yang TKW di Timur Tengah, lagi pula waktu itu aku sudah lulus SMU dan sudah diizinkan untuk membawa mobil sendiri.