Showing posts with label Santri. Show all posts
Showing posts with label Santri. Show all posts

Pahlawan Nasional Dari Kalangan Santri

October 25, 2019 1
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Pahlawan Nasionql Dari Kalangan Santri
Jika Sahabat Bitter dari kalangan para santri, pasti Sahabat Bitter akan setuju dengan pernyataan ini:
SANTRI HARUS TAHU SEJARAH 
Kenapa Harus Demikian?
Santri harus tahu, bahwa orang yang menjadi tokoh besar itu pernah mondok/ nyantri dan:
PARA PEJUANG ITU ADALAH SANTRI......!
Santri pondok pesantren itu terbukti ampuh dalam memperjuangkan Kedzoliman dan penindasan di tanah air.

Di tanah Jawa ini, yang paling ditakuti (penjajah) VOC dan Tentara NIPON adalah santri dan tarekat (thariqath). Ada seorang santri yang juga penganut thariqath, namanya Abdul Hamid

Abdul Hamid lahir di Dusun Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta. Mondok pertama kali di Tegalsari, Jetis, Ponorogo kepada KH. Hasan Besari. (KH Hasan Besari adalh peletak dasar pendirian Pesantren Gontor). 

Abdul Hamid ngaji kitab kuning kepada Kyai Taftazani Kertosuro

Ngaji Tafsir Jalalain kepada KH Baidlowi Bagelen yang dikebumikan di Glodegan, Bantul, Jogjakarta. 

Terakhir Abdul Hamid ngaji ilmu hikmah kepada KH. Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang. 

Di daerah eks-Karesidenan Kedu (Temanggung, Magelang, Wonosobo, Purworejo, Kebumen), nama KH. Nur Muhammad yang masyhur ada dua, yaitu:
  1. KH. Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang dan 
  2. KH. Nur Muhammad Alang-alang Ombo, Pituruh, yang banyak menurunkan kyai di Purworejo. 

Abdul Hamid sangat berani dalam berperang melawan penjajah Belanda selama 5 tahun, 1825-1830 M. Abdul Hamid wafat dan dikebumikan di Makassar, dekat Pantai Losari. 

Abdul Hamid adalah putra Sultan Hamengkubuwono ke-III dari istri Pacitan, Jawa Timur. 

Abdul Hamid patungnya memakai jubah dipasang di Alun-alun kota Magelang. 

Menjadi nama Kodam dan Universitas di Jawa Tengah. 

Terkenal dengan nama Pangeran Diponegoro. 

Belanda resah menghadapi perang Diponegoro. 

Dalam kurun 5 tahun itu, uang kas Hindia Belanda habis, bahkan punya banyak hutang luar negeri. 

Nama aslinya Abdul Hamid dan lebih populer dengan nama Pangeran Diponegoro. 

Adapun nama lengkapnya adalah 
Kyai Haji (KH) Bendoro Raden Mas Abdul Hamid Ontowiryo Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Mu’minin Khalifatullah Tanah Jawi Pangeran Diponegoro Pahlawan Goa Selarong.
☆☆☆☆☆

Dakwah Ala Santri Nusantara

February 02, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
"Dakwah Ala Santri Nusantara"
Santri secara umum adalah sebutan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan agama Islam di pesantren, biasanya menetap di tempat tersebut hingga pendidikannya selesai. 

Menurut bahasa, istilah santri berasal dari bahasa Sanskerta, "shastri" yang memiliki akar kata yang sama dengan kata sastra yang berarti kitab suci, agama dan pengetahuan. 
Ada pula yang mengatakan berasal dari kata cantrik yang berarti para pembantu begawan atau resi. 

Seorang cantrik diberi upah berupa ilmu pengetahuan oleh begawan atau resi tersebut. 

Tidak jauh beda dengan seorang santri yang mengabdi di pesantren, sebagai konsekuensinya ketua pondok pesantren memberikan tunjangan kepada santri tersebut. 

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat "Rais 'Aam PBNU KH. Ma'ruf Amin menjelaskan, santri tidak hanya orang yang berada di pondok pesantren dan bisa mengaji kitab atau ahli agama. 
Namun, santri adalah orang-orang yang ikut kiai dan setuju dengan pemikiran serta turut dalam perjuangan kaum santri.

Santri adalah orang-orang yang ikut kiai, apakah dia belajar di pesantren atau tidak, tapi ikut kegiatan kiai, manut pada kiai, itu dianggap sebagai santri walaupun dia tidak bisa baca kitab, tapi dia mengikuti perjuangan para santri.
Dari sisi keberadaan, santri ada yang tinggal di pondok di pesantren, ada pula yang sesekali ke pesantren atau disebut santri kalong, ada juga santri yang sekali-kali saja datang bertemu kiai dan santri.

Pokoknya, santri itu ikut kiailah. Karena itu dia mencakup hampir semua lapisan masyarakat.

Menutut Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siroj berpendapat, santri adalah umat yang menerima ajaran-ajaran Islam dari para kiai. 

Para kiai itu belajar Islam dari guru-gurunya yang terhubung sampai Rasulullah SAW. 

Para santri, menerima Islam dan menyebarkannya dengan pendekatan budaya yang berakhlakul karimah, bergaul dengan sesama dengan baik. Santri juga menghormati budaya, bahkan menjadikannya sebagai infrastruktur agama, kecuali budaya yang bertentangan ajaran Islam seperti skandal bebas atau minum-minuman keras. 

Santri itu jelas, adalah orang-orang yang menindaklanjuti dakwah dengan budaya seperti yang dilakukan Wali Songo. 

Dakwah seperti itu yang jelas ampuh, efektif.

Dakwah dengan cara seperti itu terbukti di dalam sejarah berhasil mengislamkan Nusantara tanpa kekerasan dan pertumpahan darah. 

Bahkan raja-raja Nusantara itu menjadi Islam. 
Kita saksikan sekarang, dakwah yang manfaat, dakwah yang lestari, masuk sampai dalam hati, adalah dakwah yang dilakukan secara budaya, bukan dengan teror dan menakut-nakuti. 

Islam diajarkan dengan menakut-nakuti tidak akan masuk ke dalam hati. 

Sikap Santri Di Era Generasi Millenial

February 02, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Sikap Santri Di Era Generasi Millenial
Istilah generasi millenial atau sering juga disebut generasi Y memang sedang akrab terdengar, istilah ini pertama kali dicetuskan oleh dua pakar sejarah dan juga penulis amerika, William strauss dan Neill howe dalam beberapa bukunya. 

Secara harfiah memang tidak ada demografi khusus dalam menentukan kelompok generasi yang satu ini, namun pada awalnya penggolongan pada generasi ini terbentuk bagi mereka yang lahir pada tahun 1990 dan juga pada awal 2000,dan seterusnya.

Pada saat ini generasi millenial lebih memilih ponsel dibanding TV, sebab generasi ini lahir di era kecanggihan teknologi, dan internet berperan besar dalam keberlangsungan hidup mereka, maka televisi bukanlah prioritas generasi millenial untuk mendapatkan informasi atau melihat iklan yang tidak ada pentingnya. 

Generasi millenial lebih suka mendapatkan informasi dari ponselnya, dengan mencarinya ke Google atau perbincangan pada forum-forum, yang diikuti generasi ini untuk selalu up-to-date dengan keadaan sekitar. 

Jika dihadapkan pada sebuah pilihan, mayoritas generasi sekarang akan lebih memilih ponsel daripada TV.

Melalui pembangunan karakter, dengan pendidikan yang memperkuat mental spiritual diharapkan para santri dan santriwati dapat bertujuan agar para santri tidak hanya kuat secara karakter, tetapi juga mampu menjunjung tinggi nilai kebinekaan dan keberagaman di Indonesia dengan dapat bersaing di zaman millenial saat ini.

Hal ini tidak hanya berlaku di Indonesia, karena sesungguhnya Al Quran juga mengajarkan tentang keberagaman melalui perbedaan warna kulit, perbedaan bahasa dan perbedaan budaya.

Al Quran tidak hanya mengajarkan kita untuk taat kepada Allah SWT, tetapi juga mengajarkan kita untuk menerima perbedaan antar umat manusia.

Seorang Santri harus mampu mengambil peran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.  Sebab, negara mendambakan orang yang saleh dan muslih. Dan bila negara dipegang oleh orang saleh dan muslih maka akan aman, tenteram serta gemah ripah loh jinawi di bawah lindungan Allah SWT.

Negara akan terjaga keamanan dan ketenteraman selama dipegang orang saleh dan muslih.

Santri, sudah memiliki dua bekal sebagai orang saleh dan muslih. Namun belum memiliki keberanian untuk mengambil peran. Untuk itu, harus mengambil peran sebelum direbut oleh orang-orang yang bertabiat negatif sehingga umat menjadi korbannya.

Untuk mendapatkan orang saleh dan muslih, tentu harus dicetak sejak dini dengan pendidikan anak sebelum lahir hingga lahir serta proses keberlanjutannya. 

Seorang Santri yang sepulang dari nyantri tetap istiqamah dengan menjadi santri yang saleh dan muslih. Santri harus beda dengan lainnya, karena menganut pendidikan 24 jam dan gemblengan lainnya. 

Juga agar memilihkan pendidikan keturunannya dengan pendidikan yang mengutamakan moral. Pendidikan yang mengutamakan moral, ya nyantri.

Santri sepertinya mampu menjadi intelektual muda, pejabat legislatif dan eksekutif serta yudikatif, ada semua.

Karena keberadaan pondok pesantren di tengah pembangunan nasional, tidak hanya mencakup pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan mental spiritual, melalui penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang diimbangi dengan penguasaan ilmu agama yang memadai.

Hal ini karena, dimasa depan generasi millenial dituntut tidak hanya mampu menguasai ilmu pengetahuan & teknologi, tetapi mampu menyeimbangkan dengan memiliki pemahaman yang mapan terhadap ilmu keagamaan.

Menjadi santri di masa depan, dan sebagai generasi muda yang hebat, tidak hanya pintar dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi juga memiliki pemahaman ilmu keagamaan yang memadai.

Karena itu, peran pondok pesantren dalam mencetak generasi muda yang mumpuni tidak bisa dipandang enteng, karena pondok pesantren menjadi kawah candradimuka bagi generasi muda atau santri, untuk membangun karakter santri yang menguasai berbagai ilmu, baik pengetahuan, teknologi dan ilmu agama.

Jika ketiga ilmu tersebut tidak bisa dikuasai secara seimbang, maka dikhawatirkan akan muncul aksi-aksi yang melampaui batas seperti aksi terorisme dan radikalisme.

Santri yang tidak dibekali dengan pemahaman ilmu keagamaan yang memadai, bisa menjurus pada aksi radikal dan teroris.

Selain itu pembangunan karakter para santri di pondok pesantren, sesungguhnya telah sejalan dengan program revolusi mental yang tercantum dalam Nawacita.

Karena itu, para santri lulusan pondok pesantren diharapkan dapat menjadi generasi penerus bangsa yang tidak hanya pintar, tetapi juga mampu menghargai nilai-nilai kebinekaan dan keberagaman yang ada di Indonesia, sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT.

Baca Juga:
  1. Alasan Kerennya Jadi Santri
  2. Dakwah Ala Santri Nusantara
  3. Dakwah Islamiyah Yang Relevan Di Ponpres
  4. Identitas Santri Dengan Karakter Yang Ramah
  5. Ideologi Santri Nusantara
  6. Kewaskitaan Organisasi Para Santri
  7. Memerangi Kemunafikan Ala Santri
  8. Santri Tidak Boleh Berbuat Sekehendaknya
  9. Sikap Santri Di Era Generasi Millenial
  10. Tantangan Dakwah Santri Zaman Mellennial
☆☆☆☆☆

Tantangan Dakwah Santri Zaman Mellennial

February 02, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Tantangan Dakwah Santri Zaman Mellennial
Islam di Indonesia dapat berkembang dengan pesat, salah satunya karena jasa para Walisongo yang menyebarkan Islam dengan pendekatan kesenian. Wayang, Gamelan dan lain sebagainya menjadi media dakwah untuk menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat yang waktu itu masih banyak menganut paham Hindu-Budha.

Pesantren tidak sekedar mencetak individu pendakwah yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar, melainkan pesantren sebagai lembaga itu sendirilah yang berperan sebagai pendakwah, dan bahkan telah menjadi prototipe dakwah bi al-hal bagi masyarakat.

Pada tataran operasional manhaj dakwah yang dilakukan oleh santri bisa diklasifikasikan sebagai berikut: 
  1. Dakwah bi al-kitabah yaitu berupa buku/ kitab, website, akun-akun media sosial, majalah, surat, surat kabar, spanduk, pamplet, lukisan-lukisan dan sebagainya, 
  2. Dakwah bi al-lisan, meliputi ceramah, seminar, symposium, diskusi, khutbah, saresehan, brain storming, obrolan, dan sebagainya, termasuk dengan merekam materi-materi tersebut dalam bentuk audio-visual, dan 
  3. Dakwah bi al-hal, yaitu berupa akhlak yang luhur, prilaku yang sopan sesuai ajaran Islam, memelihara lingkungan, dan lain sebagainya.
Munculnya dai-dai yang tidak mempunyai kedalaman ilmu dan memahami agama dengan sepenggal-sepenggal menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pesantren. Karena galibnya mereka mempraktikkan dakwah dalam bentuk yang kaku dan gemar menghujat pihak lain. Mereka yang selalu merasa benar dan tidak mendalami fiqh al-ikhtilaf ini yang telah mengambil alih hak prerogatif Allah.

Celakanya, sebagian dai yang tidak mempunyai kedalaman ilmu agama ini banyak yang telah mencapai popularitas di masyarakat, baik melalui televisi, radio, maupun media sosial. Mereka ini yang disebut dengan dai entertainer yang perannya hanya sekedar menghibur, tidak ada substansi dakwah dalam penyampaian-penyampaian mereka.

Dakwah santri juga ditantang dengan munculnya para penceramah yang provokatif dan intoleran, serta memecah belah. Mereka biasanya populer karena pandai mencitrakan diri dengan, secara masif menonjolkan kehebatan dan sering hadir di komunitas perkotaan dengan bahasa yang mengena dengan komunitas tersebut. 

Dimana Video ceramahnya juga bisa didownload dari websitenya, begitu pula dalam bentuk MP3 yang bisa didengarkan di mobil.

Nampaknya mereka mengambil ceruk yang selama ini belum tergarap dengan baik oleh kaum santri, yakni kelas menengah perkotaan, yaitu umat islam zaman sekarang yang lebih senang belajar melalui rekaman video dan Google dari pada ngaji di pesantren.

Fenomena penyimpangan dakwah di atas tentu harus dijawab dengan, secara cermat memperhitungkan dan menerapkan pola-pola dakwah kreatif dan profesional. 

Santri harus menjadi generasi langgas yang moderat dan toleran, terutama di media massa dan media sosial. Santri harus aktif dan berani mentransfer, mengampanyekan sekaligus  dapat mensosialisasikan doktrin Islam yang toleran dan anti kekerasan, baik melalui media sosial maupun media massa. Karena itu santri yang disiapkan menjadi dai harus memiliki kemampuan analisis interdisipliner dan sanggup berbicara sesuai dengan retorika, tingkatan bahasa dan kemampuan masyarakat.

Selain tetap mempertahankan pola dakwah tradisional, santri juga harus membekali diri dengan literasi dakwah melalui media massa dan media sosial. Media sosial membuat daya jangkau yang lebih luas pesan dan anjuran kebaikan yang disampaikan dalam dakwah para kyai dan santri. Dengan demikian pesan dakwah itu tidak hanya berputar pada jamaah yang terbatas. Hal ini karena dakwah melalui internet dapat diakses dengan mudah oleh ribuan bahkan jutaan orang. Tentu amat disayangkan jika potensi ini tidak dibaca sebagai peluang dakwah.

Harus ada upaya meningkatkan pola dakwah tradisional ke dakwah virtual yang memiliki daya jangkau publik yang lebih luas. Dengan demikian, sekali berdakwah dapat diikuti oleh ratusan ribu bahkan jutaan followers.

Karena itu mestinya dai santri rajin menggarap dengan serius, rekaman ceramah dalam bentuk podcast yang bisa didengarkan sambil jalan dan juga menyampaikan pesan utama lewat video dengan durasi tiga menit yang bisa dengan mudah di-share ke grup-grup WhatsApp.

Bahwa peran santri sangat besar dalam mengindonesiakan Islam sejak dulu hingga sekarang dan metode (manhaj) dakwah para santri sejak dulu sampai sekarang adalah mengindonesiakan Islam. Islam menjadi nilai agung yang masuk dalam keseharian masyarakat Indonesia yang ramah, toleran, dan majemuk.

Kalau Islam sudah menjadi bagian dari keindonesiaan, maka tidak perlu lagi ada upaya mengislamkan Indonesia lewat jalur hukum publik.

Dengan mengutip dalil-dalil keagamaan, sejarah bangsa, dan kaitannya dengan hidup berbangsa dan bernegara, dia menegaskan bahwa dalam pandangan para kiai, Pancasila tidak bertentangan dengan Islam. Bahwa umat Islam telah terikat pada perjanjian luhur (mitsaqan ghalidza) untuk mendirikan negara kebangsaan, bukan negara Islam.

Gerakan masif dakwah ala Aswaja lewat media sosial tersebut akan dapat diserukan kepada seluruh santri di penjuru pelosok nusantara.

Metode dakwah yang akan dilakukan tergantung keahlian masing-masing santri. Karena dengan berbagai latar belakang santri maka akan banyak keahlian yang bisa dipakai.

Bagi santri yang pintar menulis dapat membuat tulisan berisi dakwah atau ilmu fikih di medsos seperti Facebook, Instagram dan lainnya.

Selain itu, juga bisa dibuat seperti kata-kata mutiara dari pengasuh pesantren lalu dibagi secara masif. Metode lainnya yaitu merekam ceramah kiai secara langsung lalu disebarkan ke medsos. Dan bisa juga membagikan ceramah atau video berisi seruan agama dari tokoh-tokoh Aswaja.

Jihad santri zaman modern adalah jihad politik, kalau zaman dahulu mengangkat senjata tapi sekarang dengan menjadi bagian dari pemerintah dan memainkan media sosial. Ini sudah menjadi kebutuhan umat, biar tidak menjamur kabar hoax.

Secara spesifik santri dapat membahas strategi dakwah pesantren di era digital. Karena perubahan yang luar biasa dan biar pesantren bisa dakwah secara dominan. Karena selama ini di dominasi oleh non aswaja dan kelompok radikalisme.

Baca Juga:
  1. Alasan Kerennya Jadi Santri
  2. Dakwah Ala Santri Nusantara
  3. Dakwah Islamiyah Yang Relevan Di Ponpres
  4. Identitas Santri Dengan Karakter Yang Ramah
  5. Ideologi Santri Nusantara
  6. Kewaskitaan Organisasi Para Santri
  7. Memerangi Kemunafikan Ala Santri
  8. Santri Tidak Boleh Berbuat Sekehendaknya
  9. Sikap Santri Di Era Generasi Millenial
  10. Tantangan Dakwah Santri Zaman Mellennial
☆☆☆☆☆

Memerangi Kemunafikan Ala Santri

February 02, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Memerangi Kemunafikan Ala Santri
Orang-orang mungkin menyuarakan tujuan-tujuan yang terluhur dan memamerkan ketulusan, tetapi kita perlu memperlihatkan kewaspadaan yang masuk akal dan tidak segera mempercayai setiap orang dari nilai luarnya saja.
Tidakkah kita akan dengan saksama memeriksa uang kertas kita jika kita tahu bahwa ada banyak uang palsu yang beredar?
Sahabat Bitter, sungguh kemunafikan itu hampir sulit dikenali, karena orang yang terjangkit sifat munafik biasanya berusaha meniru perbuatan orang-orang beriman, orang munafik juga turut Shalat dan berpuasa, namun sebenarnya hatinya lalai.

Orang munafik biasanya menggunakan lisannya untuk berdusta, mengaku dirinya telah beriman padahal tidak. Mencoba tampil manis di depan orang-orang agar mereka terkecoh dengan pencitraan.

Sahabat Bitter, mengapa kita perlu sekali menjauhi sifat munafik? 
Ya, tentu saja karena orang munafik tidak akan memperoleh pertolongan Allah.

Nifak atau pelakunya disebut munafik merupakan salah satu penyakit yang sangat berbahaya. 

Jika tidak ditangani sesegera mungkin akan mengakibatkan penderitanya binasa. 

Penyakit ini adalah penyakit yang amat menjijikkan dan mengakibatkan penyimpangan yang amat buruk. 

Seorang muslim sejati tentu sangat mewaspadai penyakit akut ini, hanya saja terkadang ia tidak menyadari bahwa ternyata ia telah terjangkit penyakit ini, terutama nifak yang bersifat lahiriah.

Di antara bentuk amanah lain ialah jabatan yang bersifat politik, dari mulai pejabat RT, kepada desa, bupati, hingga kepresidenan. 

Mereka bertanggungjawab melaksanakan amanah yang besar ini tanpa diperkenankan menyelewengkannya. 

Jika ada dana yang seharusnya disalurkan untuk kepentingan masyarakat, maka tidak selayaknya dialihkan untuk kepentingan pribadi. 

Kemudian setelah tercium tidak-tanduknya, mulai mengeluarkan jurus andalan, lempar batu sembunyi tangan. 

Saling menyalahkan dan saling mengancam akan membongkar rahasia kejahatan masing-masing orang yang turut serta bersamanya.

Pejabat pemerintahan juga bertanggungjawab atas keamanan dan kemaslahatan masyarakat serta sejumlah tanggung jawab lainnya yang tidak bisa diremehkan. 

Seorang pejabat itu mestinya bertindak sebagai pelayan masyarakat, bukan malah merasa sebagai orang besar yang harus dihormati. 

Oleh karena itu, memegang amanah kepemimpinan itu tidak mudah apalagi di negara besar seperti Indonesia. 

Tentu mengurus negara ini tidak semudah mengurus rumah tangga. 

Jika para pejabat tidak menunaikan amanah dengan baik padahal sudah dipercayai rakyat, bagaimana jika kelak di hari kiamat para pejabat itu dituntut oleh rakyat yang dahulu mempercayakan amanah pada mereka. Celakalah ia.

Semakin kita dapati ada orang yang selalu menunaikan kewajiban dengan sempurna, maka berarti orang tersebut memiliki iman yang kuat. 

Sebaliknya, jika ada orang sembrono berbuat khianat, maka ketahuilah bahwa imannya sedang dalam bahaya.

Munafik adalah mereka yang menampakkan keislaman, tapi menyembunyikan kekafiran. 

Tentunya memastikan hal tersebut di zaman ini sesuatu yang sangat sulit. 

Terlebih pedoman yang sudah masyhur menjadi pegangan para ulama adalah bahwa kita hanya menghukum apa yang tampak dan urusan batin kembali pada Allah SWT. 

Karenanya menyatakan bahwa si fulan adalah 
Orang munafik sehingga dia tidak berhak diperlakukan sebagaimana layaknya orang beriman adalah hal yang tergesa-gesa dan kurang cermat.
Sebagaimana kita ketahui bahwa mengetahui apakah seseorang itu munafik atau bukan tidaklah mudah, bahkan bagi para sahabat Rasulullah SAW yang hidup bersama-sama dengan mereka. 

Sejarah mencatat bahwa ada satu orang yang mengetahui nama-nama kaum munafik satu per satu selain Rasulullah SAW, ia adalah
Sahabat Hudzaifah yang berjuluk Pemegang Rahasia Rasulullah SAW. 

Setelah Rasulullah SAW wafat, Hudzaifah kemudian menjadi rujukan dalam menentukan apakah seseorang itu munafik atau tidak. 

Sebut saja Umar bin Khattab, khalifah kedua umat Islam, tidak menyolatkan jenazah yang tidak beliau kenal sampai datang Hudzaifah dan menyolatkan jenazah tersebut (lihat Tafsir Ibn Katsir), karena Hudzaifah mengetahui siapa saja orang munafik dan tidak ada yang mengetahui hal tersebut selain beliau (Syarah Shahih Bukhari oleh Imam al-Aini). 

Yang ingin penulis garisbawahi adalah fakta bahwa setelah wafat Hudzaifah tidak ada lagi orang yang mengetahui kemunafikan seseorang sebagaimana dikatakan para ulama. Adapun jika seseorang menunjukkan tanda-tanda kemunafikan, maka yang harus kita lakukan adalah kembali pada kaidah di atas. Sebab memberi cap seorang sebagai munafik sama berbahayanya dengan memberi stempel kafir.
Pada akhirnya, persatuan umat Islam adalah hal yang kita harapkan bersama. Pelabelan seorang muslim dengan label kafir atau munafik justru membuat persatuan semakin jauh terasa atau bahkan hanya sekedar dongeng belaka. 

Mari kembali pada prinsip bahwa semua yang mengucapkan kalimat syahadat adalah saudara kita seiman, seagama. Ayo kembali pada Pedoman Al-Qur’an untuk saling memperbaiki dan mengajak pada kebaikan. Jika kita melihat bahwa mereka yang memilih cagub non-Muslim itu keliru, bimbing dan beri pemahaman pada mereka. 

Tugas kita adalah saling menasihati dan mendoakan agar Allah Swt senantiasa menyirami kita dengan hidayah-Nya dan membimbing setiap langkah kita menuju ridha-Nya. Bukankah Rasul SAW senantiasa berdoa:
Wahai Allah beri hidayah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.
Mari wujudkan Islam yang bersatu walau dalam perbedaan pendapat, Islam yang mampu bekerja sama dalam mencerdaskan umat, bukan Islam yang saling ribut dan melaknat, juga bukan Islam yang saling menyalahkan dan menghujat

Contoh sederhana mungkin sering kita baca dalam buku pelajaran tentang moral, misalnya:
  1. Ketika melihat orang tua yang akan menyeberang jalan, bantulah ia menyeberang. 
  2. Ketika melihat ibu hamil di kendaraan, berilah tempat duduk. 
  3. Ketika melihat wanita kesulitan membawa barang berat, bantulah membawakan.

☆☆☆☆☆

Santri Tidak Boleh Berbuat Sekehendaknya

February 02, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Santri Tidak Boleh Berbuat Sekehendaknya
Seorang santri harus bisa memberikan teladan yang baik kepada siapa saja. Karena itu, santri tidak dibenarkan bertindak sekehendak hati saja.

Santri tidak dibenarkan berbuat sekehendaknya, apalagi dengan menggunakan alasan agama dan nasionalisme.

Santri tidak melakukan akhlak yang buruk, seperti kekerasan kepada siapa pun dan apa pun, seperti menyiksa, membakar, dan berbuat onar atau anarkistis di ruang publik atas nama perbuatan baik, kaum santri sudah sepatutnya menjauhi segala perilaku yang tercela, yang merugikan diri sendiri, orang lain, dan lingkungannya.

santri harus tetap menunjukkan sikap baik, damai, dan toleran ketika berbeda paham atau pandangan dengan orang lain.

Karenanya, mengajarkan kebaikan dan mencegah kebatilan (amar ma’ruf nahi munkar) harus dilakukan dengan cara yang baik.

Prinsip tersebut, sesuai dengan prinsip dakwah yang dilakukan dengan cara yang bijaksana, dengan pelajaran yang baik dan dialogis. 

Dimana sosok santri adalah perlambang kebajikan beragama atau berislam sehingga kesantrian harus menunjukkan jiwa, pikiran, perilaku, dan tindakan yang benar-benar islami secara nyata, bukan dalam klaim dan retorika.

Santri secara umum adalah julukan bagi seseorang yang mengikuti pendidikan agama Islam di pesantren. Dalam diri santri melekat dunia pesantren yang mendidik beragama dengan benar dan baik.

Lebih dari itu, penyebutan santri pun bisa menunjuk pada muslim yang taat menjalankan agama Islam. Betapa luhurnya penyebutan santri yang sering disamakan sebagai kaum putih perlambang bersih atau suci, lawan dari abangan.

Karena itu, kaum santri tentu harus menunjukkan sikap, tutur kata, dan tindakan yang berakhlak mulia sebagaimana diajarkan di pesantren tempat para santri dididik agama dengan sebaik-baiknya. 

Sebutlah akhlak jujur, amanah, menjaga lisan, sopan santun, damai, toleran, tawazun, kata sejalan tindakan dan segala perangai yang mulia serta menebar rahmat bagi orang lain dan lingkungannya.

Jika kaum santri dapat menunjukkan teladan yang baik maka umat dan bangsa akan menjadi terbaik dan tidak membuat resah publik. Sebaliknya, jika santri tidak mampu menunjukkan keteladanan akhlak mulia maka kesantrian akan menjadi “jauh panggang dari api”.

☆☆☆☆☆

Kewaskitaan Organisasi Para Santri

February 02, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Kewaskitaan Organisasi Para Santri
Penempaan hidup komprehensif yang dihadapi dan dilakukan oleh santri di pondok pesantren turut membentuk karakter, akhlak, kelimuan, bahkan kebudayaan dan peradaban yang mengakar luas dan menyatu dengan pilar-pilar kehidupan masyarakat. 

Hal ini tidak terlepas dari peran keagamaan dan peran sosial para kiai, sosok panutan dan samudera ilmu sumber para santri berproses penuh ketekunan di pondok pesantren sehingga berdampak luas dalam diri kehidupan para santri.

Tradisi keilmuan seorang kiai yang diserap oleh santri tidak hanya untuk mengisi aspek eksoteris saja, tetapi aspek esoteris atau batin di mana santri diajarkan untuk peka dan tajam dalam melihat dan memahami realitas kehidupan di tengah masyarakat. 
Inilah yang disebut KEWAKITAAN SANTRI
Kewaskitaan nyata terlihat dalam diri seorang santri bernama Abdurrahman Wahid (Gus Dur). 
Tidak sedikit orang yang menilai, Gus Dur merupakan sosok yang mampu weruh sadurunge winarah (mengetahui sebelum sesuatu terjadi).

Proses belajar tersebut merupakan tempaan lahir dan batin yang didapat santri dari para guru dan kiainya di pesantren. Bahkan, lewat tempaan yang beradab, santri mampu menciptakan dan mengembangkan peradaban lewat keahlian-keahlian di berbagai bidang. Mindset masyarakat yang menilai santri hanya paham ilmu agama terbantahkan dengan kiprah luas di segala lini kehidupan pada era milenial saat ini.

Kewaskitaan ini perlu diperluas melalui literasi sehingga memunculkan inspirasi bagi generasi masa depan melalui pengalaman dan cerita-cerita berharga saat nyantri dulu. Kisah-kisah tersebut merupakan salah satu upaya menebar kewaskitaan melalui pojok-pojok kehidupan pesantren.

Banyak ikhtiar yang perlu diperbuat dalam penggalian mutiara-mutiara terpendam di berbagai ruang dan pojok-pojok pesantren, memotret pengalaman pribadi, membaca santri yang telah berkiprah luas di tengah masyarakat, bahkan kontekstualisasi kehidupan santri ketika dihadapkan oleh pesatnya era teknologi digital. Budaya literasi di pesantren menjadi modal dan bekal penting santri menghadapi perkembangan zaman.

Sebab itu, santri tidak pernah gagap ketika ‘tsunami’ informasi membanjiri jagat dunia maya. Santri tidak mudah termakan hoaks (berita palsu) karena budaya literasi yang kokoh telah terbangun. Benteng santri dalam menghadapi derasnya arus informasi juga terjaga dengan lekatnya budaya tabayun yang didapat di pesantren. Mereka tidak begitu saja terpengaruh polemik, lalu melakukan justifikasi buta terhadap sebuah kontroversi yang muncul.

Ngaji dengan sistem sorogan turut menciptakan budaya tabayun ini. Dalam sistem tersebut, selain mengonfirmasi keterangan-keterangan atau catatan-catatan (ngapsahi) kiainya saat membahas sebuah kitab dengan cara membaca ulang, santri juga mempunyai ruang diskusi dan bertanya kepada kiai soal tema yang dibahas. Bahkan santri melakukan kontekstualisasi mengenai persoalan kehidupan sehari-hari terkait tema yang sedang dibahas.

Rumah Ranah Santri
Pemandangan yang sangat arif dan waskita mengenai kehidupan para santri.

Pemandangan yang cukup unik dan menggelitik saat itu ketika penulis melihat beberapa santri sedang muthola’ah kitab kuning di depan kamarnya di lantai dua layaknya sebuah balkon rumah.

Saking khusyuknya, mereka (santri) sampai tertidur dengan posisi terduduk, ada juga yang dalam posisi berbaring.

Mereka tertidur bukan di lantai, tetapi di sebuah kayu yang menjadi pembatas kamar.

Mereka tidak khawatir terjatuh seperti ada kekuatan batin yang mengaitkan mereka untuk tetap pada ‘tempat’ tidurnya itu.

Kemurnian para santri dalam mengabdi dan menimba ilmu kepada Ulamanya yang tidak pernah surut.

Bagi mereka, suatu kebahagiaan dan keberkahan tidak ternilai bisa menggandeng Kyai sepuh setiap hari menuju masjid tempat Shalat. 

Di sejumlah pesantren, perilaku santri membetulkan sandal agar siap pakai memang bukan hal baru.

Bahkan para santri sering melakukan tradisi tersebut ketika kiainya didatangi para tamu. 

Ketika Seorang Kyai keluar masjid selesai mengimami Shalat, salah seorang santri bahkan secepat kilat datang di hadapan Kyai tersebut untuk memakaikan sandal di kakinya.

Dari pemandangan tersebut, tampak jelas pesantren tidak hanya berisi samudera ilmu, tetapi juga penuh dengan gunungan akhlak mulia yang tertanam begitu dalam pada diri para santri.

Dalam persoalan menimba ilmu, dimana ilmu itu harus didatangi oleh manusia, karena ia tidak mendatangi.

Sebab itu, santri yang belajar di pesantren atau siapa pun yang berniat mencari dan memperdalam ilmu merupakan hal yang mulia.

Apalagi sekaligus menelusuri sanadnya sehingga ilmu itu nyambung hingga ke pucuk sumber yang shahih, yaitu Nabi Muhammad.

Tidak hanya terkait esensi ilmu yang harus ditimba manusia secara terus menerus, tetapi juga berbagai persoalan bangsa maupun penjelasan sejarah.

Terkait dengan persoalan kebangsaan dan politik yang terus mengalami turbulensi, diharapkan agar tidak semua orang ikut larut dalam permasalahan sehingga melupakan tugas terdekatnya sebagai manusia.

Hal ini akan berdampak pada ketidak seimbangan hidup dan kehidupan itu sendiri. 

Seorang santri harus mampu menjaga tali silaturahim, utamanya kepada guru-guru dan kiai-kiai sepuh dalam menyikapi setiap persoalan bangsa maupun konflik yang sering terjadi di tubuh organisasi dan lingkungan masyarakat sekitar.

Marwah kiai dan pesantren merupakan ruh di tubuh organisasi para santri. Sehingga setiap persoalan yang datang di tubuh Organisasi, hendaknya diselesaikan dengan musyawarah dan disowankan terlebih dahulu kepada para kiai sepuh yang tentu pandangannya lebih luas, arif, waskita.


Ikhtiar inilah yang dapat mewujudkan Kewaskitaan Organisasi Para Santri selain memperteguh pendidikan pesantren beserta khazanah keilmuannya. 
Wallahu’alam bisshowab. 
☆☆☆☆☆

Ideologi Santri Nusantara

February 02, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
"Ideologi Santri Nusantara"
Ideologi suatu kumpulan gagasan, ide-ide dasar, keyakinan serta kepercayaan yang bersifat sistematis dengan arah dan tujuan yang hendak dicapai dalam kehidupan.

Ideologi Agama adalah ideologi yang bersumber pada falsafah agama yang tercantum dalam kitab suci agama.

Ideologi Santri Nusantara adalah kumpulan ide atau gagasan atau aqidah 'aqliyyah (akidah yang sampai melalui proses berpikir) yang melahirkan aturan-aturan dalam kehidupan.

Dengan kata lain, Ideologi Santri Nusantara inilah yang melahirkan masyarakat Muslim dan eksistensinya dengan segala elemen-elemen, pilar, dan karakteristiknya. 

Contoh Berideologi Santri Nusantara:
  1. Menerapkan Konsep Pikir berlandaskan Kitab Suci/ dalam segi Pendidikan dan Kebudayaan.
  2. Menjalankan gaya hidup (Ritual dan Spiritual) yang telah ditentukan dalam kitab Suci/ dalam segi Moral dan Spiritual.
  3. Menentukan pilihan sesuai dengan kitab Suci/ dalam segi Sosial.

Menerapkan Konsep Pikir Berlandaskan Kitab Suci/ Dalam Segi Pendidikan dan Kebudayaan.
Allah SWT telah memuliakan manusia dengan akal dan kemampuan belajar dan ilmu pengetahuan adalah sebagai dasar dicalonkannya manusia untuk menjadi khalifah di muka Bumi. 

Karenanya Islam datang menyuruh kita untuk merenung, berpikir, dan memperingatkan peniruan secara membuta dan sikap jumud, sehingga berpikir dan belajar adalah kewajiban dalam Islam. Islam juga memuji ilmu pengetahuan, sehingga orang-orang yang berilmu pengetahuan, Islam menjadikannya sebagai pewaris para Nabi.

Menjalankan gaya hidup (Ritual dan Spiritual) Yang Telah Ditentukan Dalam kitab Suci/ Dalam Segi Moral dan Spiritual.
Dengan ideologi Islam sebagai sistem, maka sistem inilah yang mengetahui fitrah manusia, yang menghargainya dengan penghargaan yang sesuai, yang menyiapkan santapan dan tempatnya yang cocok sehingga tumbuh dan berbuah dengan seizin Tuhannya. 

Dan ini tidak dapat dilakukan, kecuali dengan ilmu yang bermanfaat, iman yang benar, ibadah yang tulus dengan budi pekerti yang terpuji. 

Menentukan Pilihan Sesuai Dengan Kitab Suci/ Dalam Segi Sosial.
Islam sebagai Ideologi dalam bidang sosial sangat cocok dikarenakan Islam merupakan agama sosial. 

Islam bertujuan membentuk masyarakat individu yang saleh. 

Bahkan Islam berpendapat bahwa kesalehan masyarakat adalah sesuatu yang lazim bagi kesalehan individu dan kedudukannya, seperti tanah yang subur untuk menumbuhkan dan mengembangkan biji-bijian.

Baca Juga:
  1. Alasan Kerennya Jadi Santri
  2. Dakwah Ala Santri Nusantara
  3. Dakwah Islamiyah Yang Relevan Di Ponpres
  4. Identitas Santri Dengan Karakter Yang Ramah
  5. Ideologi Santri Nusantara
  6. Kewaskitaan Organisasi Para Santri
  7. Memerangi Kemunafikan Ala Santri
  8. Santri Tidak Boleh Berbuat Sekehendaknya
  9. Sikap Santri Di Era Generasi Millenial
  10. Tantangan Dakwah Santri Zaman Mellennial

☆☆☆☆☆