Showing posts with label Quora. Show all posts
Showing posts with label Quora. Show all posts

Kenapa Tidak Boleh Memprioritaskan Pengobatan Alternatif Daripada Pergi ke Dokter?

December 02, 2019 1
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Kenapa Tidak Boleh Memprioritaskan Pengobatan Alternatif Daripada Pergi ke Dokter?
Banyak orang yang lebih memilih untuk langsung menjalani pengobatan alternatif tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter. Pasalnya selain harganya lebih terjangkau dan aksesnya juga lebih mudah, pengobatan alternatif difavoritkan ketimbang obat-obatan kimia karena menggunakan bahan-bahan alami sehingga dinilai minim risiko komplikasi dan efek samping. Tapi apakah memprioritaskan berobat ke klinik pengobatan tradisional merupakan tindakan yang bijak sebagai langkah utama menyembuhkan penyakit?

Apa itu pengobatan alternatif?
Pengobatan alternatif merupakan bentuk pelayanan kesehatan yang menggunakan cara, alat, atau bahan yang tidak termasuk dalam standar pengobatan medis yang biasanya dilakukan oleh dokter atau tenaga profesional kesehatan lainnya (seperti perawat dan terapis fisik). 
Beberapa orang juga menyebutnya sebagai pengobatan “integratif,” atau “pelengkap”.

Contoh dari pengobatan alternatif adalah :
akupunktur, bekam, pengobatan aura, obat-obatan herbal dan jamu, reiki, ceragem (pijat batu giok), pijat refleksi, hipnosis, hingga gurah.

Pengobatan alternatif sebaiknya jangan diutamakan sebagai terapi mengobati penyakit.
Istilah pengobatan komplementer atau alternatif seringkali disalahpahami oleh banyak orang. Sesuai dengan namanya, kata “alternatif” itu sendiri berarti “pilihan lain”. 

Pengobatan komplementer fungsinya bukan untuk menggantikan, tapi hanya digunakan sebagai tambahan/ pelengkap di samping pengobatan medis konvensional. Artinya, terapi penyembuhan penyakit yang ideal seharusnya tetap mengutamakan pengobatan medis dokter.

Pasalnya, pengobatan tradisional tidak menjanjikan kesembuhan untuk penyakit apapun. 

Pengobatan alternatif yang ada di masyarakat saat ini sebagian besar tidak memiliki bukti ilmiah yang kuat karena kebanyakan hanya berdasarkan sugesti dan pengalaman dari pasien saja. 

Sebuah terapi atau obat baru bisa dibilang efektif dan aman digunakan oleh publik ketika sudah diuji berulang kali dan melewati beragam proses pembuktian ilmiah untuk menunjukkan keamanan, efektivitas, serta mutunya.

Kurangnya bukti medis ini dapat diartikan bahwa penggunaan pengobatan alternatif tidak direkomendasikan

Terlebih, masing-masing metode pengobatan tradisional dapat menimbulkan reaksi yang berbeda antar satu orang dan lainnya. 

Meski punya keluhan sama, belum tentu pengobatan yang ternyata cocok untuk Sahabat Bitter akan memberikan khasiat yang sama pada anak atau tetangga Sahabat Bitter. 

Selain itu, banyak pakar kesehatan profesional yang percaya bahwa potensi efek samping dari pengobatan tradisional lebih besar dari manfaatnya.

Pengobatan alternatif tetap rentan risiko komplikasi dan efek samping
Pengobatan alternatif biasanya baru menampakkan manfaatnya jika dilakukan rutin dalam jangka panjang. 

Yang perlu diperhatikan, beberapa bahan atau metode yang dilibatkan dalam pengobatan ini mungkin dapat membawa risiko komplikasi dan/ atau efek samping tertentu jika dilakukan terlalu lama atau sembarangan tanpa pengawasan dokter.

Misalnya saja, meski pada umumnya pijat refleksi itu aman, teknik ini dapat menimbulkan kontraksi dini pada ibu yang usia kehamilannya kurang dari 38 minggu. 

Kontraksi dini menempatkan ibu hamil pada risiko kelahiran prematur dan keguguran. 

Lain lagi ceritanya dengan metode akupunktur. 

Jika dilakukan sembarangan oleh terapis yang tidak bersertifikat, jarum berisiko didorong terlalu dalam sehingga bisa menusuk organ internal, khususnya paru-paru. Ini adalah komplikasi yang sangat jarang terjadi di tangan dokter yang berpengalaman.

Contoh lainnya adalah jamu dan obat-obatan herbal. Temulawak, misalnya, diklaim ampuh sebagai obat sembelit, namun tak banyak yang tahu bahwa temulawak memiliki sifat pengencer darah yang bisa menyebabkan perdarahan ginjal akut pada penderita penyakit hati. 

Jika Anda kebetulan minum teh herbal daun belalai gajah saat sedang menjalani kemoterapi, efek kemoterapi tambahan dari daun belalai gajah dicurigai dapat meningkatkan toksisitas pada organ tubuh.

Bahkan tak menutup kemungkinan pula jika pengobatan tradisional yang Sahabat Bitter jalani dapat menghambat efektivitas obat kimia yang diresepkan dokter. 

Akibatnya, proses pemulihan pun akan berjalan lebih lama atau mungkin malah memburuk.

Penelitian yang dilakukan oleh tim periset di Yale University menemukan bahwa risiko pasien kanker untuk meninggal justru lebih tinggi ketika mengutamakan pengobatan komplementer untuk mengobati kankernya. 

Dari 560 partisipan yang memiliki kanker payudara, prostat, paru-paru dan kanker usus besar yang mencoba pengobatan alternatif daripada dirawat oleh dokter, 281 orang meninggal karena komplikasi kanker yang tidak tertangani secara menyeluruh.

Berhati-hatilah memilih pengobatan alternatif
Penjelasan di atas tidak berarti bahwa pengobatan alternatif itu buruk. 

Sah-sah saja untuk menjalani pengobatan alternatif. 

Namun sekali lagi ditekankan, jangan memprioritaskan pengobatan tradisional untuk menyembuhkan penyakit. 

Pengobatan alternatif hanya dilakukan untuk menjaga kesehatan secara umum, mengurangi gejala, pemulihan penyakit, atau menurunkan risiko dari penyakit—bukan jalan utama untuk menyembuhkan. 
Untuk menyembuhkan penyakit tetap dibutuhkan obat resep dan terapi dari dokter.

Jadi, alangkah lebih baik jika Sahabat Bitter memprioritaskan rencana pengobatan Sahabat Bitter dengan perawatan medis yang didapat dari dokter dan tenaga profesional kesehatan lainnya. 

Namun bila memang Sahabat Bitter ingin mencoba pengobatan alternatif, bicarakan terlebih dahulu dengan dokter yang memahami kondisi Sahabat Bitter. 

Dokter akan memberikan rekomendasi terbaik supaya Sahabat Bitter cepat pulih, bukannya malah memperburuk kondisi Sahabat Bitter.

Terakhir, pastikan bahwa tempat praktek, ahli pengobatan alternatif, dan/ atau produk yang Sahabat Bitter pilih memiliki izin legal dari Kementerian Kesehatan untuk menjamin keamanannya.

Diambil dari: HeloSehat.com
☆☆☆☆☆

Bagaimana Mengetahui Orang Pintar Dan Pura-pura pintar?

October 25, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Bagaimana Mengetahui Orang Pintar Dan Pura-pura pintar?
Ajak bicara. 
Kebanyakan orang pintar akan lebih cenderung diam di awal. 

Mereka akan mendengarkan Sahabat Bitter terlebih dahulu dan sesekali mereka ikut mengajukan pertanyaan. 

Tapi setelah itu mereka akan menyampaikan pemikirannya, dan pemikiran mereka sangat valid. 

Mereka akan bisa memberikan alternatif yang lebih baik atau mengkoreksi kesalahan.

O ya, mereka juga tidak segan bilang “tidak tahu”. 

Ini yang paling membedakan mereka dari orang-orang sok pintar. 

Orang sok pintar selalu tahu semuanya. 

Seperti para bacotan warganet kebanyakan adalah hasil karya orang-orang sok pintar.

Bagaimana rasanya bicara sama orang pintar?
Sebelum bicara (dan kenal) dengan orang pintar, biasanya Sahabat Bitter akan merasa lebih pintar dari dia.

Saat berbicara dengan orang pintar, maka Sahabat Bitter akan merasa sedang memimpin pembicaraan. Tapi diam-diam, Sahabat Bitter akan diarahkan ke sesuatu yang lebih baik.

Setelah bicara dengan orang pintar, Sahabat Bitter akan merasa terinspirasi.

Apakah Sahabat Biter ingin jadi orang pintar?
Ikuti Tips berikut ini
  1. Coba perbanyak diam (dan mendengar), 
  2. Perbanyak membaca, 
  3. Turunkan ego, dan 
  4. Jangan terlalu berasumsi. 
(Yang ini jangan terlalu dipercaya, Bitter Coffee Park sudah coba, tapi sampai sekarang masih sok pintar, belum sungguh-sungguh pintar)

Bitter Coffee Park percaya bahwa orang pintar memiliki pikiran pemburu-pengumpul (Intuisi dalam Myers-Briggs), sedangkan kebanyakan orang memiliki pikiran petani dan keduanya sering tidak cocok.

Orang pemburu-pengumpul sering menjadi sangat introvert di masa kanak-kanak, karena mereka mengerti bahwa mereka berbeda dari sebagian besar orang (hanya sekitar 10% dari populasi) dan ketika mereka tumbuh dewasa mereka merasa disalahpahami dan bahwa mereka toh tidak bisa membuat perubahan.

The Little Prince baca “Pangeran Kecil” dan Sahabat Bitter mendapatkan gambaran bagaimana rasanya bagi anak yang berbakat untuk tumbuh dewasa: Sahabat Bitter melihat gajah di dalam boa di mana orang lain melihat topi (NB: ini adalah metafora):
Setiap kali Bitter Coffee Park bertemu dengan orang dewasa yang tampaknya cerdas, Bitter Coffee Park akan bereksperimen dengannya dengan gambar Bitter Coffee Paek Nomor Satu, yang selalu Bitter Coffee Park simpan. Bitter Coffee Parm ingin melihat apakah dia benar-benar mengerti sesuatu.

Tetapi dia akan selalu menjawab, "Itu topi.".

Jadi Bitter Coffee Park hidup sendiri, tanpa ada orang untuk diajak bicara.

Jadi, apa gunanya membicarakan sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain ??? 90% dari waktu dan energi kita akan terbuang dan itulah sebabnya kita tetap diam. Orang akan berpikir kita gila.
Artinya:
Saya pikir mungkin dia gila, tetapi dia hanya sangat intuitif.

Lebih lanjut tentang pikiran pemburu-pengumpul di sini:
While introversion is usually not mentioned as a problem for standard evolutionary psychology, it should become clear that for any theory that assumes that females will have a preference for successful alpha males, introversion in males should be a puzzle. I have cursed my deep introversion many times in my life, not because I couldn’t reach for alpha positions, which I actually do not want, but because it has left me feeling like an omega male instead. I never was able to even make a big effort to try to impress a girl, because it actually feels “fake” for me, just like showing off with an expensive flashy car or a shiny new iPhone would feel “fake” for me.
For these reasons I had the feeling, I was a born “omega male” when I was a teenager. I wasn’t even interested in the usual stuff my teenage friends were interested in: cars, sports, and hanging out in clubs.

Later, at university when I came across Evolutionary Psychology, I used the following explanation for girls who complained about guys to me: females get exactly those guys who the previous female generations chose to mate with. So, there is not much reason to complain about guys whose genes were actually chosen by females.

As true this actually is, there is an important detail missing here. Not all girls go for alpha males. Not because they can’t get one, but because their genes are programmed not to want one in the first place. They prefer nice and intelligent guys to muscle-flexing sporty guys. At university, I met quite a lot of girls, who seemed to be happy with introverted, geeky “omega males” like me. And in my 30s I finally found the girl who would be happy to get married to me.

What does this mean for evolutionary psychology? It means that instead of postulating one general mating strategy it there should be at least two opposing mating strategies with many shades in between. In general, the girls who start to have sex earlier are more interested in the alpha males, whereas the girls who tend to start sex later prefer “partners in child-rearing” (alloparenting), who are actually less sexually dimorphic.
More r-selected
More K-selected
Early-onset of puberty
Late-onset of puberty
More hierarchically structures
More egalitarian
Partner: status-oriented (alpha males)
Partner: alloparenting oriented
Higher sexual dimorphism is more attractive
Lower sexual dimorphism is more attractive
More promiscuous
More monogamous

Where do these two different mating strategies come from? They stem from our evolutionary past as hunter-gatherers and farmers/herders respectively.

Hunter-gatherer societies practice alloparenting, with many members of the band helping to raise the children. They are highly egalitarian and showing-off, as well as a display of status, are discouraged and mocked at. There are simply no hierarchical positions like “alphas” and “omegas”. One way of achieving this is for females to mate with humble, introverted males instead of assertive, extraverted ones. It is in this way that females actually have indirectly control over males. This means that introversion in males is ancient and goes back at least 200.000 years when early homo sapiens appeared.

Here are some reasons why hunter-gatherer females chose introverted males, all of which help maintain the egalitarian and monogamous hunter-gatherer lifestyle:
  1. More humble and potentially less aggressive
  2. Less able to form big coalition to achieve and maintain alpha positions
  3. Spending more time with “family” and children than trying to make allies or find new mating opportunities
  4. More monogamous
When humans took to farming and herding they could have a more steady supply of calories and they could double the rate of having children (every 2.5 years instead of every 5 years) and start puberty earlier. It also allowed the more extraverted (higher levels of dopamine) and physically stronger (higher levels of testosterone) males to accumulate more resources than those males who didn’t have as much “drive”. 

These two mating strategies (with the shades in between) accounts much better for the patterns we see today: some girls starting sex early and going for the “herder” alpha males and some girls starting late going for the kinder and more intelligent “hunter” types, with “farmer” types typically in-between. Of course, evolution has produced many mixed strategies too.

Currently, our world seems to become both more extroverted and more introverted. While the world of work has been getting more extroverted, or private lives have been getting more introverted. I suppose it is because extroverted types tend to be less willing to settle down have children, as the possibilities for them seem endless both in the job and mating markets, whereas introverts quickly reach their limits in both domains. It would at least explain the table below:
The psychology and biology of gifted children and highly intelligent people
Much has been written about gifted and high IQ people and to a large extent, the focus has been on their cognition, for obvious reasons. I have a gifted son and as many parents of gifted children can attest, these kids can be quite challenging for any parent: from daily chores, such as buckling up the kiddo in a car seat to the point when he or she fails in conventional schools.

While cognitive psychology has been a passion of mine since my early years at university, there comes a point when you can’t explain giftedness in cognitive terms anymore. For example, when your kid prefers to cry for an hour over some simple piece of homework he could easily do in a matter of a few minutes and threatens you to run away from home. Why would an eight-year-old child say "I wish I were never born"? Such behaviour would leave any parent just puzzled and perplexed. What is the biological foundation of such seemingly irrational behaviour? 

Here are some traits gifted kids typically display, that have little to do with cognition: 
  1. look younger than their age/ have neotenous traits
  2. look more “unisex”, i.e. they don’t accentuate their gender
  3. start sex later than their peers
  4. have a highly developed sense of justice
  5. might be clumsy and/or ADHD sufferers
  6. tend to be socially awkward and at least a bit autistic;
  7. tend to suffer from social anxiety
  8. are likely into “alternative reality” stuff like fantasy, sci-fi, comics, etc.
  9. are playful and many of them really heavily into computer gaming
  10. might be quite lazy and reluctant to do work when they don’t see any point
  11. as a consequence might show signs of ODD (oppositional defiant disorder)
  12. picky eaters
  13. highly sensitive (HSPs)
  14. external motivation (like grades at school or money) is much less important than internal motivation (their passions) 

In order to make sense of these diverse behaviors and traits, I delved into personality psychology. The one personality trait that correlates with high IQ is “Openness to experience”, which in turn correlates with the (controversial) trait N (iNtuitive) in Myers-Briggs, first described by the Swiss psychologist Carl Gustav Jung.

Giftedness and trait N are highly correlated, as you can see from the following statistics:
From Myers-Briggs studies some of the above traits can be accounted for: Ns tend to be very creative (cognitive fluidity) and idealistic. It is also known that the introverted intuitives often suffer from mental problems such as social anxiety and ASD.

However, I still couldn’t account for half of the traits on the above list, so I turned to evolutionary biology. r/K selection seems to explain a lot: highly intelligent people have faster brain growth in infancy but grow more slowly in general. My two boys (both IN types) are both quite short for their age and their skeleton is almost two years behind the average. 

What in our biology could make people grow more slowly? The answer is probably buried deep in our past: hunter-gatherers grew up more slowly than later farmers and herders who had more caloric intake at their disposal. They were highly egalitarian as they couldn’t accumulate wealth and that also made them highly defiant when facing hierarchical power structures (European colonialists never really could “domesticate” hunter-gatherers).

One by one those giftedness traits began to make sense: picking eating and being highly sensitive were probably more advantageous out in the wilderness than in a farming village. Hunter-gatherers (Ns in Myers-Briggs) are also more monogamous than herders (SP in Myers-Briggs), who have the earliest onset of puberty and the shortest life span among the different early modes of subsistence (the third being farmers or SJ in Myers-Briggs). It is, therefore, no big surprise that highly intelligent people do not accentuate their gender, whereas people who inherited their personality from herders or pastoralists do so to a high degree, i.e. sexual dimorphism is diminished in hunter-gatherers as well as gifted people. Hunter-gatherers are also quite playful into adulthood, as play is used to reduce conflict among them. Farmer personalities are more serious and business-like in contrast to hunter-gatherer personalities. 

The final piece of the puzzle is trying to explain why hunter-gatherer personalities should be more intelligent than their farmer and herder counter-parts:

One explanation is that hunter-gatherers needed more cognitive fluidity and vigilance (hence the ADHD) to survive in the Savannah than farmers who had to rely far more on conscientiousness, routine and hard work. This explanation still doesn’t account for why hunter-gatherers (Ns) tend to be more intelligent on average than herders (SPs). Here the answer lies probably in natural selection. Hunter-gatherers have an out-group sociality and sharing and caring attitude. In mixed hunter-gatherer, farmer and herder societies hunter-gatherer minds who were of average intelligence probably lost out (nice guys came last) in the genetic race and there were high selective pressures on hunter-gatherer genotypes to become more intelligent. 

So, higher IQ might at the end of the day be nothing more than a protective mechanism! Just like social anxiety: if you are very open, you better have a defense shield in place! Introverted intuitives are already socially anxious by the time they go to kindergarten because they are aware they are different. By the time they are in their teens, they might be complete outcasts because they don't play power/alpha games and as they tend not to be violent they can become easy targets for bullying. The extraverted intuitives also are in danger of becoming outsiders and social phobics during their teens, unless they already have an established network with other hunter-gatherer minds.

Di dalam Islam, apakah tindakan Basuki Tjahaja Purnama kemarin benar-benar disebut penistaan agama?

June 03, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Di dalam Islam, apakah tindakan Basuki Tjahaja Purnama kemarin benar-benar disebut penistaan agama?
Dama Novantono
Dama Novantono, Direktur Utama di Bitter Coffee Park (2016-sekarang)
Menurut Pieter Loman:
Pieter Loman Mengatakan:
Menjawab pertanyaan diatas, kemungkinan akan ada 3 jawaban pokok setidaknya:
  1. Menista agama atau menista Tuhan adalah sama saja, alasanya karena esensi dari keberadaan dan kebesaran Tuhan sudah termaktub di dalam agama itu sendiri.
  2. Menista Tuhan jauh lebih serius dari pada menghina agama, karena Tuhan punya kedudukan tertinggi atas segalanya, agama adalah sarana untuk menuju kepada Tuhan dan Tuhan adalah sumber dari segala keberadaan atas apapun yang bisa kita bisa sebut dengan kata-kata. Agama tidak mempunyai kesetaraan dengan Tuhan.
  3. Menista agama lebih serius dari pada menghina Tuhan, karena itu menyangkut kehormatan penganutnya, merendahkan dan menghina kepercayaan dan iman pemeluknya, dengan kata lain agama adalah tambatan hidup yang dipertaruhkan (urusanya hidup dan mati) sehingga ini sangat serius.
Setelah membaca 3 jawaban pokok di atas, merilah kita tela'ah satu-persatu jawaban tesebut.
Catatan: 
Tela'ah Pieter Loman ini bukanlah tela'ah agama tetapi tela'ah universal yang mengandalkan nurani tanpa kebenciaan dan pikiran yang tentunya "apa adanya" sesuai kapasitas yang Pieter Loman punya.

Kembali ke pertanyaan:
Di dalam Islam, 
Apakah tindakan Basuki Tjahaja Purnama kemarin benar-benar disebut penistaan agama?
Menurut Bitter Coffee Park, Bapak Basuki Tjahaja Purnama tidaklah menistakan agama Islam pada saat kejadian itu.

KENAPA????
Karena ketidak tauannya dalam sebuah tafsir Al-Qur'an. Dan apa yang di ucapkannya hanya mengikuti apa yang pernah di sampaikan Alm. Gusdur. (Bisa di Cari jejaknya di Mbah Google). Kalau bahasa ngetrennya hanya sekedar CHOPAS brow……

Terlepas itu semua, Basuki Tjahaja Purnama adalah seoarang Non-Muslim. (Jangankan Non-Muslim, yang ngaku muslim aja banyak yang gak tau isi Al-Qur'an)

Justru sesunggunya orang munafiklah yang lebih menistakan Agama terutama Al-Qur'an didalam kehidupannya. Dia menjadikan Olok-olok dan senda gurau…

BTP dalam hal ini hanyalah seorang yang menjadi Korban Politik Yang Mengatas namakan Agama.

Cukup kita ketahui, jejak ruang Politik BTP selama menjadi Gubernur DKI kurang harmonis dengan salah satu Ormas Islam di Indonesia.

Bitter Coffee Park pribadi mengacungi jempol sikap Ksatria Basuki Tjahaja Purnama dalam menjalani proses peradilan tentang kasus Penistaan Agama.

Namun, lagi-lagi janji Allah Maha Benar. Lihatlah Doa orang terdzolimi itu benar-benar melesat bagaikan panah tanpa perduli Agama mereka Apa dan menimpa orang-orang yang mendzoliminya.

Basuki Tjahaja Purnama memang mengucapkan yang tak seharusnya di ucapkan, dia mengucapkan sesuatu karena ketidak tahuan.

Maka Bitter Coffee Park yakin 100% kalau Basuki Tjahaja Purnama tidak ada niat menistakan Agama Islam.

Wallah'u alam.
☆☆☆☆☆
Dama Novantono
Dama Novantono
Penulis di Blog Bitter Coffee Park
Filosofi Blog BITTER COFFEE PARK
Pesan yang tertuang dalam BITTER COFFEE PARK:
Kita harus menyudahi menganggap yang bukan ilmu atau belum ilmu sebagai ilmu dan kebenaran.
Jangan sampai kita salah sangka sehingga menganggap segala sesuatu yang ada di Artikel Blog BITTER COFFEE PARK sebagai sebab timbulnya perasaan terancam, kebingungan dan ketakutan.
Oleh karena itu, koreksi dari Sahabat Bitter tentang Tulisan-Tulisan Artikel yang ada bisa menjadi Referensi yang baru.
Obrolan yang baik bukan hanya sebuah obrolan yang mengkritik saja, tetapi juga memberi saran dan dimana saran dan kritik tersebut terulas kekurangan dan kelebihan dari saran dan kritik.

Salam Hangat.... 
Salam Secangkir Kopi...

Apa pengalaman nakal Anda yang tidak akan pernah Anda lakukan lagi?

June 03, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Apa pengalaman nakal Anda yang tidak akan pernah Anda lakukan lagi?
Dama Novantono
Dama Novantono, Penulis di Blog Bitter Coffee Park
Nakal Terburuk Adalah Membunuh.. Yaa.. Membunuh terlihat mengasikkan.. Membuat Jantung saya berdebar.. Dan ketika saya melihat dia mati, betapa lega dan bahagianya hati saya…

Itu tandanya Saya memenangkan Permainan ini..

Darah-darah yang berceceran membuat saya takjub dengan pemandangan itu. Seakan-akan saya ingin mengulanginya lagi.

Kepala yang putus berserakan.. mayat-mayat bergelimpangan, menjadikan lantai dipenuhi darah.

Itulah Petualangan Saya di Game Resident Evil yang membuat saya lupa pulang hingga pagi.

Dan Sesampai Rumah kena Lempar Sepatu deh..
☆☆☆☆☆
Dama Novantono
Dama Novantono
Penulis di Blog Bitter Coffee Park
Filosofi Blog BITTER COFFEE PARK
Pesan yang tertuang dalam BITTER COFFEE PARK:
Kita harus menyudahi menganggap yang bukan ilmu atau belum ilmu sebagai ilmu dan kebenaran.
Jangan sampai kita salah sangka sehingga menganggap segala sesuatu yang ada di Artikel Blog BITTER COFFEE PARK sebagai sebab timbulnya perasaan terancam, kebingungan dan ketakutan.
Oleh karena itu, koreksi dari Sahabat Bitter tentang Tulisan-Tulisan Artikel yang ada bisa menjadi Referensi yang baru.
Obrolan yang baik bukan hanya sebuah obrolan yang mengkritik saja, tetapi juga memberi saran dan dimana saran dan kritik tersebut terulas kekurangan dan kelebihan dari saran dan kritik.

Salam Hangat.... 
Salam Secangkir Kopi...

Apa itu sebenarnya Tauhid?

June 03, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Apa itu sebenarnya Tauhid?
Dama Novantono
Dama Novantono, Penulis di Blog Bitter Coffee Park
Tauhid (Arab: توحيد, tawhīd) adalah konsep dalam aqidah Islam yang menyatakan keesaan Allah. Pembahasan dalam ilmu Tauhid dibagi menjadi 3 macam yakni tauhid rububiyah, uluhiyah dan Asma wa Sifat. Mengamalkan tauhid dan menjauhi syirik merupakan konsekuensi dari kalimat syahadat yang telah diikrarkan oleh seorang muslim.

Secara istilah syar’i, makna tauhid adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan yang benar dengan segala kekhususannya (Syarh Tsalatsatil Ushul, 39). Dari makna ini sesungguhnya dapat dipahami bahwa banyak hal yang dijadikan sesembahan oleh manusia, bisa jadi berupa Malaikat, para Nabi, orang-orang shalih atau bahkan makhluk Allah yang lain, namun seorang yang bertauhid hanya menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan saja.

Baca selengkapnya: Makna Tauhid
☆☆☆☆☆
Dama Novantono
Dama Novantono
Penulis di Blog Bitter Coffee Park
Filosofi Blog BITTER COFFEE PARK
Pesan yang tertuang dalam BITTER COFFEE PARK:
Kita harus menyudahi menganggap yang bukan ilmu atau belum ilmu sebagai ilmu dan kebenaran.
Jangan sampai kita salah sangka sehingga menganggap segala sesuatu yang ada di Artikel Blog BITTER COFFEE PARK sebagai sebab timbulnya perasaan terancam, kebingungan dan ketakutan.
Oleh karena itu, koreksi dari Sahabat Bitter tentang Tulisan-Tulisan Artikel yang ada bisa menjadi Referensi yang baru.
Obrolan yang baik bukan hanya sebuah obrolan yang mengkritik saja, tetapi juga memberi saran dan dimana saran dan kritik tersebut terulas kekurangan dan kelebihan dari saran dan kritik.

Salam Hangat.... 
Salam Secangkir Kopi...

Apakah Indonesia saat ini adalah negara yang religius?

June 03, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Apakah Indonesia saat ini adalah negara yang religius?
Dama Novantono
Dama Novantono, Penulis di Blog Bitter Coffee Park
Indonesia Sejak dahulu dan sekarang masilah Negara Religius.

Itu dapat dilihat dari dasar negara Kita Pada Sila Ke-1.

Ketuhanan Yang Maha Esa.

Jelas bahwadasar negara ini terbentuk dengan adanya Nilai-Nilai kereligiusan.

Terdapat ada 3 Aspek yang ada di dalam Masyarakat Indonesia

Aspek Ihsan
Menyangkut pengalaman dan perasaan tentang kehadiran Tuhan, takut melanggar larangan dan lain-lain.

Aspek Ilmu
Menyangkut pengetahuan seseorang tentang ajaran-ajaran agama.

Aspek Amal
Menyangkut tingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat, misalnya menolong orang lain, membela orang lemah, bekerja dan lain sebagainya.

Religius dapat di artikan sebagai sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
☆☆☆☆☆
Dama Novantono
Dama Novantono
Penulis di Blog Bitter Coffee Park
Filosofi Blog BITTER COFFEE PARK
Pesan yang tertuang dalam BITTER COFFEE PARK:
Kita harus menyudahi menganggap yang bukan ilmu atau belum ilmu sebagai ilmu dan kebenaran.
Jangan sampai kita salah sangka sehingga menganggap segala sesuatu yang ada di Artikel Blog BITTER COFFEE PARK sebagai sebab timbulnya perasaan terancam, kebingungan dan ketakutan.
Oleh karena itu, koreksi dari Sahabat Bitter tentang Tulisan-Tulisan Artikel yang ada bisa menjadi Referensi yang baru.
Obrolan yang baik bukan hanya sebuah obrolan yang mengkritik saja, tetapi juga memberi saran dan dimana saran dan kritik tersebut terulas kekurangan dan kelebihan dari saran dan kritik.

Salam Hangat.... 
Salam Secangkir Kopi...

Bagaimana cara mengatasi emosi yang berlebihan?

June 03, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Bagaimana cara mengatasi emosi yang berlebihan?
Dama Novantono
Dama Novantono, Penulis di Blog Bitter Coffee Park
Kebencian merupakan emosi yang sangat kuat dan melambangkan ketidaksukaan, permusuhan, atau antipati untuk seseorang, sebuah hal, barang, atau fenomena. Hal ini juga merupakan sebuah keinginan untuk, menghindari, menghancurkan atau menghilangkannya.

Kadangkala kebencian dideskripsikan sebagai lawan daripada cinta atau persahabatan; tetapi banyak orang yang menganggap bahwa lawan daripada cinta adalah ketidakpedulian.

Kebencian yang mendasar dihati adalah penyakit hati yang paling menjerumuskan pada kehinaan, sebab kebencian adalah sumber dari penyakit hati lainnya, seperti penyakit dendam, iri hati, hasad, dan dengki.

Karena bila sudah ada kebencian didalam hati, maka segunung kebaikanpun tidakkan pernah terlihat baik oleh mata kita, sebab saat benci sudah bersarang dihati, maka yang tampak besar dihadapan kita hanya amarah dan amarah.

Sifat tulus seseorang akan selalu kita pandang sebelah mata, saat kita tak membersihkan hati kita dari yang namanya amarah sebab rasa benci yang ada. Oleh karena itu berhati-hatilah saat sahabat bitter tidak mampu meredam amarah sahabat bitter.
Coba Baca Artiket berjudul: 

Apabila Sahabat Bitter bisa belajar dari kejadian yang telah berlalu niscaya ada pelajaran berharga yang dapat Sahabat Bitter petik dibalik semuanya itu.

Dalam gejolak sosial yang Sahabat Bitter hadapi banyak tantangan yang harus dilalui agar Sahabat Bitter mampu menemukan kedamaian dalam hati sendiri.

Situasi diluar tidak dapat dikendalikan oleh karena itu hati yang damai sangat baik untuk menjalani hidup bersosial di masyarakat.

Dalam segala sesuatu selalu mengusahakan yang terbaik, itulah manusia.

Namun, kita hanyalah manusia biasa yang tidak sempurna dan terkadang teledor/ khilaf sehingga melakukan kesalahan fatal yang mempermalukan diri sendiri lewat emosi yang membara.

Sadarilah, bawa apabila rasa kemarahan yang terlalu diekspresikan (lebay) tidak mendatangkan kebaikan bagi diri ini dan juga bagi orang lain.

Marah itu manusiawi dan inilah kenyataannya. Akan tetapi Sahabat Bitter tidak harus seperti hewan yang menggunakan otot dan taringnya saat marah? Harus lebih manusiawi.

Menggunakan bibir, lidah, tangan dan kaki secara berlebihan dapat melukai hati lawan bahkan orang yang tidak ada hubungannyapun turut sinis melihat Sahabat Bitter.

Kemarahan seperti ini sudah menggila hingga tidak dapat mengendalikan diri sendiri.

Biasakan diri menghadapi situasi sulit agar kelak jika itu terjadi Sahabat Bitter tidak terkejut setengah mati lalu melampiaskan keburukan kepada semua yang ada.

Sahabat Bitter tidak berhak marah kepada sesama hanya disebabkan oleh kesalahan yang sepele.

Ada baiknya kemarahan itu mulai dilampiaskan dengan cara yang santun jika kesalahan yang dilakukannya terjadi secara berulang-ulang.

Sumber:
☆☆☆☆☆
Dama Novantono
Dama Novantono
Penulis di Blog Bitter Coffee Park
Filosofi Blog BITTER COFFEE PARK
Pesan yang tertuang dalam BITTER COFFEE PARK:
Kita harus menyudahi menganggap yang bukan ilmu atau belum ilmu sebagai ilmu dan kebenaran.
Jangan sampai kita salah sangka sehingga menganggap segala sesuatu yang ada di Artikel Blog BITTER COFFEE PARK sebagai sebab timbulnya perasaan terancam, kebingungan dan ketakutan.
Oleh karena itu, koreksi dari Sahabat Bitter tentang Tulisan-Tulisan Artikel yang ada bisa menjadi Referensi yang baru.
Obrolan yang baik bukan hanya sebuah obrolan yang mengkritik saja, tetapi juga memberi saran dan dimana saran dan kritik tersebut terulas kekurangan dan kelebihan dari saran dan kritik.

Salam Hangat.... 
Salam Secangkir Kopi...

Apakah Kamu Tahu Caranya Menyantet Orang? Dan mungkin kamu pernah atau punya pengalaman Mistik yang lainnya?

June 03, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Apakah Kamu Tahu Caranya Menyantet Orang? Dan mungkin kamu pernah atau punya pengalaman Mistik yang lainnya?
Dama Novantono
Dama Novantono, Penulis di Blog Bitter Coffee Park
Sebagai Orang Jawa, pasti kita tidak tabu dengan istilah Santet.

Paranormal (Dukun atau orang pintar) adalah sebuah istilah yang secara umum dipahami dalam pengertian orang yang memiliki kelebihan dalam hal kemampuan supranatural.

Dimana Paranormal yang dapat memahami hal tidak kasat mata serta mampu berkomunikasi dengan arwah dan alam gaib, yang dipergunakan untuk membantu menyelesaikan masalah di masyarakat, seperti:
- penyakit,
- gangguan sihir,
- kehilangan barang,
- kesialan,
- dan lain-lain.
Istilah Dukun biasanya digunakan di daerah pedesaan, sedangkan orang pintar atau paranormal, untuk menyatakan hal yang sama dan digunakan lebih umum di antara populasi perkotaan.

Penerimaan sosial terhadap istilah orang pintar pun biasanya lebih positif dibandingkan penggunaan istilah dukun.
☆☆☆☆☆
Dama Novantono
Dama Novantono
Penulis di Blog Bitter Coffee Park
Filosofi Blog BITTER COFFEE PARK
Pesan yang tertuang dalam BITTER COFFEE PARK:
Kita harus menyudahi menganggap yang bukan ilmu atau belum ilmu sebagai ilmu dan kebenaran.
Jangan sampai kita salah sangka sehingga menganggap segala sesuatu yang ada di Artikel Blog BITTER COFFEE PARK sebagai sebab timbulnya perasaan terancam, kebingungan dan ketakutan.
Oleh karena itu, koreksi dari Sahabat Bitter tentang Tulisan-Tulisan Artikel yang ada bisa menjadi Referensi yang baru.
Obrolan yang baik bukan hanya sebuah obrolan yang mengkritik saja, tetapi juga memberi saran dan dimana saran dan kritik tersebut terulas kekurangan dan kelebihan dari saran dan kritik.

Salam Hangat.... 
Salam Secangkir Kopi...