Showing posts with label Jokowi. Show all posts
Showing posts with label Jokowi. Show all posts

Akhir dari sengketa Pilpres 2019 di MK (Mahkamah Konstitusi)

June 28, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Akhir dari sengketa Pilpres 2019 di MK (Mahkamah Konstitusi)
Mahkamah Konstitusi menggelar sidang putusan sengketa Pilpres 2019 hari ini, Kamis, 27 Juni 2019. 
Dalam sidang yang digelar sejak Kamis, Mahkamah Konstitusi memutuskan menolak seluruh gugatan kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno terkait sengketa Pilpres. Putusan dibacakan oleh Ketua MK Anwar Usman dalam sidang yang selesai pukul hari ini, Kamis, 27 Juni 2019.

Mahkamah menilai dalil tim Prabowo-Sandiaga terkait kecurangan Pemilu yang terstruktur, sistematis, dan masif tak terbukti dan tak beralasan secara hukum.
Menolak seluruh permohonan pemohon.
kata Ketua Hakim MK Anawar Usman.
Calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo dan calon Wapres Ma'ruf Amin menanggapi hasil putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak seluruh gugatan pihak pemohon yaitu BPN di Pilpres 2019. Jokowi menegaskan dirinya akan memimpin untuk semua rakyat Indonesia tanpa kecuali.

Kubu Prabowo-Sandiaga mengajukan gugatan terkait sengketa Pilpres karena menuding kubu Joko Widodo atau Jokowi-Ma'ruf Amin melakukan kecurangan yang secara Terstruktur, Sistematis, dan Masif (TSM). Badan Nasional Pemenangan Prabowo pun mendaftarkan gugatan pada medio Mei 2019.

Ada beberapa dalil TSM yang diajukan oleh kubu Prabowo, yaitu:
  1. Pertama, tim kuasa hukum pemohon menuding ada penyalahgunaan anggaran oleh kubu Jokowi. Misalnya, mereka menuding kubu Jokowi sengaja menaikkan gaji dan rapel PNS.
  2. Kedua, BPN Prabowo pun menuding Jokowi menyalahgunakan birokrasi dengan mengerahkan pegawai BUMN. 
  3. Ketiga, kubu Prabowo pun menuding ada pembatasan kebebasan pers, kemudian pengerahan aparat negara, dan diskriminasi perlakuan terhadap pendukung mereka.
Namun, hakim MK mematahkan semua dalil kubu Prabowo-Sandiaga. 

Majelis Hakim MK juga tidak bisa menerima argumen penyalahgunaan birokrasi, politik uang, dan jual beli suara oleh kubu Jokowi.

Soal ketidaknetralan aparat, misalnya, hakim melihat kubu pemohon tak bisa membuktikan adanya kecurangan tersebut. Alih-alih, hakim menolak bukti berupa link berita yang diajukan kubu Prabowo.
Sidang yang dibuka sejak pukul 12.40 ini sudah dua kali diskors. 

Sejauh ini, hakim sudah bolak-balik mementahkan dalil gugatan kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang menjadi dasar sidang. 

Selain itu, Prabowo menuturkan akan berkonsultasi dengan tim hukum untuk mencari langkah konstitusional lainnya. 
Kami akan konsultasi untuk meminta saran dan pendapat apakah masih ada langkah konstitusional.
kata Prabowo.

Berikut poin-poin dalil yang ditolah Majelis Hakim MK:
TRIBUN-VIDEO.COM
Calon Presiden 02 Prabowo Subianto memberikan pernyataan setelah Mahkamah Konstitusi memberikan putusan hasil sidang sengketa Pilpres.
Pidato tersebut disampaikan Prabowo bersama dengan calon wakil presiden Sandiaga Uno di Kertanegara, Kamis (27/6/2019) malam.
Calon Presiden 02, Prabowo Subianto mengaku kecewa atas hasil putusan sengketa hasil Pilpres 2019.
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra yang menjabat Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon mengunggah naskah pidato Prabowo Subianto yang menanggapi hasil keputusan MK.
"Berikut pernyataan P @prabowo n P @sandiuno menanggapi hasil MK @Humas_MKRI,". ucap Fadli Zon diakun Twitter nya @fadlizon.
Dikutip Kompas.com Dalam jumpa pers ini, Prabowo didampingi oleh calon wakil presiden 02 Sandiaga Uno beserta sejumlah petinggi partai koalisi Adil Makmur.
Prabowo menyadari, putusan MK itu telah menimbulkan kekecewaan termasuk di kalangan pendukungnya.
"Walaupun kami mengerti keputusan itu sangat mengecewakan bagi kami, dan para pendukung Prabowo Sandi. Namun sesuai kesepakatan, kami akan tetap patuh dan ikuti jalur konstituisi kita yaitu UUD 1945 dan sistem perundangan yang berlaku," kata Prabowo.
Dia berterima kasih kepada seluruh pendukungnya yang sudah ikhlas mendoakan dan membantunya selama pelaksanaan pemilihan presiden lalu.
1. Ajakan mengenakan baju putih ke TPS
Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi mengesampingkan dalil pemohon terkait dalil pemohon soal ajakan mengenakan baju putih ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Menurut mereka ajakan yang digaungkan oleh pasangan calon Joko Widodo atau Jokowi-Ma’ruf Amin ini tak bersifat intimidatif.

Menurut majelis hakim selama berlangsungnya persidangan mereka tidak menemukan fakta adanya intimidasi sebagai akibat ajakan tersebut seperti dalil pemohon.

Lebih-lebih pengaruhnya terhadap perolehan suara pemohon maupun pihak terkait oleh karena itu mahkamah berpendapt dalil pemohon a quo tidak relevan dan oleh karenanya harus dikesampingkan.
ujar anggota majelis hakim konstitusi Arief Hidayat dalam persidangan, Kamis 27 Juni 2019.

2. Dalil politik uang
ADVERTISEMENT
Majelis hakim menyebut tim kuasa hukum Prabowo Subianto-Sandiaga Uno hanya mendasarkan dalil kecurangan money politic dan vote buying dengan penalaran logika, tanpa ada bukti hukum. Hakim mengatakan mereka tak mungkin membenarkan dalil tersebut.

Sangat tidak mungkin bagi mahkamah untuk membenarkan dalil pemohon a quo bahwa hal-hal yang didalilkan tersebut merupakan modus lain dari money politic atau vote buying.
ucap anggota majelis hakim Arief Hidayat dalam persidangan, Kamis 27 Juni 2019.

Prabowo mengatakan menerima keputusan Mahkamah Konstitusi meski dengan berat hati. 

Menurut dia, keputusan MK itu mengecewakan para pendukung Prabowo - Sandiaga.

3. Dalil hilangnya suara 
Hakim Mahkamah Konstitusi, Enny Nurbaningsih, menyebut dalil pihak pemohon, Badan Pemenangan Nasional (BPN) menyebutkan kehilangan 2.871 suara dalam sehari, dari semula perolehan 18.002 suara menjadi 15.131 suara.

Sementara perolehan suara pada pasangan calon 01 Jokowi-Ma'ruf Amin dikatakan semula mendapat 14.254 suara, bertambah menjadi 15.245 suara pada hitung cepat.

Mahkamah, terhadap bukti video dimaksud hanyalah narasi yang menceritakan adanya akun 'Facebook,' yang menarasikan bertambah atau hilangnya suara paslon.
ujar Enny saat membacakan pertimbangan hakim di Mahkamah Konstitusi Jakarta pada Kamis, 27 Juni 2019.

4. Dalil Ketidaknetralan Aparat
Hakim menyebut kubu Prabowo Subianto - Sandiaga Uno tidak bisa membuktikan tudingannya bahwa calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo atau Jokowi membentuk tim buzzer untuk memenangkan pemilihan presiden 2019.

"Bukti yang diberikan hanya link berita online dan tidak didukung bukti lain bahwa peristiwa itu benar-benar terjadi," kata Hakim MK Aswanto saat membacakan pertimbangan hakim dalam sidang putusan sengketa pilpres di gedung MK, Jakarta pada Kamis, 27 Juni 2019.

Sebelumnya, Kuasa Hukum Prabowo - Sandiaga, Denny Indrayana menyebut, Polri membentuk tim buzzer di media sosial yang mendukung pasangan calon (paslon) nomor urut 01 dalam sidang di Mahkamah Konstitusi.
ADVERTISEMENT
Denny menyebut hal tersebut terlihat dari bocoran informasi yang diungkap oleh akun twitter @Opposite6890. Dia menyebut akun tersebut mengunggah beberapa video dengan narasi 'Polisi membentuk tim buzzer 100 orang per Polres di seluruh Indonesia yang terorganisir dari Polres hingga Mabes'


5. Dalil Kedekatan Kepala Intelejen dengan Megawati
Hakim MK Aswanto menyebut bahwa tuduhan ketidaknetralan Badan Intelijen Negara (BIN) dalam pilpres yang disebut kubu Prabowo-Sandi dalam gugatannya, tidak terbukti. Menurut pertimbangan hakim, bukti kedekatan antara Kepala BIN Budi Gunawan atau BG dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri tidak bisa serta merta menjadi alasan tuduhan ketidaknetralan BIN dalam pemilu.

Terkait bukti kedekatan Kepala BIN dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, apakah serta merta berarti BIN diperalat?
ujar Aswanto saat membacakan pertimbangan hakim dalam sidang putusan sengketa pilpres di gedung MK, Jakarta pada Kamis, 27 Juni 2019. 
Untuk itu, mahkamah berpendapat, dalil pemohon a quo tidak beralasan menurut hukum.

6. Kewenangan MK mengadili pelanggaran TSM
Majelis hakim Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan bahwa lembaganya tidak berwenang mengadili pelanggaran administrasi pemilihan umum yang bersifat terstruktur, sistematis, dan masif (TSM). MK hanya berwenang mengadili perkara perselisihan hasil pemilu.
ADVERTISEMENT
Kewenangan menyelenggarakan pelanggaran pemilu yang bersifat TSM ada pada Bawaslu
kata hakim Manahan MP Sitompul dalam sidang putusan sengketa pilpres di gedung MK, Jakarta, Kamis, 27 Juni 2019.
☆☆☆☆☆

Narasi Politik Amin Rais Menurut Bitter Coffee Park

June 27, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Narasi Politik Amin Rais Menurut Bitter Coffee Park

Banyak orang yang sebenarnya juga bingung bagaimana arah politik Amien Rais ini. Sebenarnya bukan kali ini saja Amien menentang pemerintahan, namun dari zaman Suharto-pun dia sudah mulai gerakannya itu.

Sewaktu zaman '98, Amien Rais (dan beberapa tokoh lainnya termasuk Megawati Soekarnoputri) dikenal sebagai penggerak mahasiswa dan dijuluki tokoh penggerak reformasi. 

Karena determinasi dan kegigihannya dalam melakukan tekanan dari banyak pihak, Suharto-pun mundur dari jabatannya. 

Hal inilah yang pernah Bitter Coffee Park kagumi dari Sosok Amin Rais dulu, maju di depan pengunjuk rasa dan meneriakan Reformasi menggulingkan Orde Baru.

Namun, Alih-alih ingin mendapatkan tempat RI-1—Suharto tetap memilih wakilnya (B.J Habibie) untuk melanjutkan posisi Presiden. Mega dan Amien-pun mengurungkan niat Presidensialnya.
Tidak berlangsung lama, masih karena kegigihan Amien dkk, setahun kemudian B.J Habibie juga turun dari posisi presiden karena banyak penolakan terhadapnya. Dan kali ini digantikan oleh Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. 

Sosok Presiden yang dicintai rakyatnya karena kesederhanaan dan keasliannya dalam memimpin. Kembali berhasil digulingkan oleh Mahkamah yang dipimpin oleh Amien. 

Gus Dur hanya menjabat 3 tahun sebelum digantikan oleh Sang Putri Proklamator, yaitu Megawati Soekarnoputri.

Semasa kepemimpinannya-pun juga tidak luput dari tekanan sana-sini yang lagi-lagi dilancarkan oleh Amien dkk. 

Akhirnya Presiden yang baru menjabat 23 Juli 2011 inipun harus melepaskan jabatannya pada 20 Oktober 2004 bersamaan juga digantikan oleh Sang Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono.

Pada masa Susilo Bambang Yudhoyono-pun gelombang kritik dan intervensi dilakukan oleh kubu-kubu ini yang diprakasai oleh Amien. 

Walaupun sepertinya, usaha Amien ini sangat mentah di zaman Susilo Bambang Yudhoyono dan terasa tidak terlalu sekuat dulu. 

Amien mungkin sudah menyadari betapa berkurangnya semangat dan determinasinya untuk menentang pemerintah dan tidak seperti dulu. 10 tahun rezim SBY-pun terasa sepi tidak ada koar-koar bersemangat Amien lagi.

Tahun 2014, dan Terpilihnya Presiden baru harapan banyak rakyat yaitu Joko Widodo

Pribadi rendah hati, lemah lembut, dan bukan dari kalangan elit partai. 

Tapi seakan sudah bisa ditebak juga, Joko Widodo juga tidak tanpa cela. 

Bergabungnya kubu Amien dengan oposisi adalah bukan hal yang sama sekali baru.

Hal-hal sentimentil keberagaman-pun dikembangkan seiring berakhirnya masa jabatannya. 

Adu domba disana-sini, rakyat kecil sudah miskin, susah kenyang tapi masih harus berjibaku dengan sentimen tetangga mereka yang non-muslim, kriminalisasi ulama dll. 

Sementara disana, Amien masih sama dengan narasi sama persis dengan sebelumnya: merongrong pemerintah

Ajakan People Power-pun di gaungkan, sampai terjadinya kerusuhan di depan Gedung Bawaslu beberapa waktu kebelakang ini.

Tanpa diberitahu, Bitter Coffee Park rasa semua orang tahu siapa Amien Rais ini. 

Dia adalah seorang yang berhasil menggerakan reformasi, memimpin demonstrasi mahasiswa untuk menggulingkan pemerintahan Suharto. 

Dan terjadi juga hal yang sama dengan Presiden setelahnya. 

Tapi, semakin lama narasi-narasi yang dibangun Amien sungguhlah banyak yang sudah tidak relevan lagi bila dibandingkan dengan zaman setelah SBY naik menjadi RI-1.

Jadi kalau kali ini Amien menentang Presiden Joko Widodo, menurut Bitter Coffee Park sudah tidak ada yang baru dari manuver politiknya itu. 

Karena semuanya sudah dilakukan generasi bergenerasi. 

Biarlah pemerintah bekerja sebagaimana harus mestinya. Ingatkan mereka bila mereka melenceng. 

Tapi juga jangan membangun opini menggerakan banyak orang untuk memuluskan suatu agenda (Sok Ngerti Politik Aja Si Bitter Coffee Park kali ini).

Semoga Pak Amin Rais selalu diberi kesehatan.
Amin..
☆☆☆☆☆

Pujian Kaca Mata Hitam di sidang Sengketa Pilpres 2019

June 23, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Pujian Kaca Mata Hitam di sidang Sengketa Pilpres 2019
Seorang tahanan kota bisa meninggalkan Kabupaten Batubara, Sumatra Utara, untuk bersaksi bagi kepentingan capres Prabowo-Sandi di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, pekan ini.

Rahmadsyah Sitompul bisa hadir di ruang sidang Rabu lalu (19/06/2019) tanpa izin khusus dari kejaksaan negeri kota asalnya. Dia hanya minta izin akan mengantar ibunya berobat ke Ibu Kota.

Tim hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno tak memberikan alasan kenapa hal itu terjadi. Teuku Nasrullah, pengacara BPN, malah menyatakan, 
Kita tidak tahu, baru kita tahu. Kalau kita tahu kita tidak akan menempatkan dia pada posisi terjepit itu, kita baru tahu di persidangan ini.

Pengacara lain dari BPN, Bambang Widjojanto, juga mengaku tak tahu status Rahmadsyah. Lalu Bambang bilang, 
Sebenarnya yang kita perlu apresiasi dari dia, dalam situasi yang seperti begitu masih mau bersaksi. Apalagi dia ketua sekber di sana kan?
Rahmadsyah adalah ketua Sekretariat Bersana BPN di Batubara. Dia berstatus tahanan kota karena kasus 2017, melanggar Pasal 27 ayat (3) UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Status Rahmadsyah terungkap dalam persidangan karena malam hari pun berkacamata gelap dan tampak ketakutan.

Tentang tahanan kota, hal itu diatur dalam Pasal 22 KUHAP. 

Terus bagaimana kelanjutan cerita si tahanan kota?
Nasrullah berharap polisi tidak mengkriminalisasikan Rahmadsyah dengan menahannya karena bersaksi untuk Prabowo-Sandi.
☆☆☆☆☆

Apa yang harus diungkap dari kejanggalan korban tewas pada demo Aksi 22 Mei 2019? Dan kenapa manusia cenderung dengan kekerasan?

May 28, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Apa yang harus diungkap dari kejanggalan korban tewas pada demo Aksi 22 Mei 2019? Dan kenapa manusia cenderung dengan kekerasan?
Indonesia dalam kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta.
Aksi 22 Mei 2019 mempertontonkan kekerasan dan kekacauan yang dapat membuat kita merasa takut dan waspada, meski sebenarnya konfrontasi tersebut bukanlah hal yang baru atau langka terjadi.

Lantas:
  • Apa sebenarnya yang membuat kita tertarik pada kekerasan, dan juga memiliki kecenderungan untuk berperilaku kasar dan agresif? 
  • Apakah manusia memang memiliki insting untuk bertindak demikian secara alamiah?

Jika kita membandingkan dengan hewan, sangat sedikit dari mereka yang menggunakan kekerasan layaknya manusia.

Beberapa hewan memang dapat berperilaku agresif dan melukai individu lain sebagai bentuk kompetisi untuk memperebutkan pasangan atau makanan, tetapi hal tersebut jarang dilakukan dengan niatan untuk membunuh lawannya, kecuali pada beberapa kasus khusus.

Perbandingan terdekat dengan perilaku kekerasan seperti manusia dapat ditemukan di koloni simpanse.

Ilmuwan telah mengamati bahwa simpanse dapat membentuk kelompok penyergap yang berpatroli di sekitar perbatasan teritorialnya. Kelompok ini terdiri dari pejantan yang secara aktif mencari keberadaan anggota koloni lain yang menyusup ke wilayah mereka.

Jika mendapati penyusup, mereka akan menyerang beramai-ramai, melukai bahkan membunuh individu tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa terdapat dasar biologis dan evolusioner yang membentuk kecenderungan manusia untuk berbuat kasar dan agresif.

Di sisi lain, menyalahkan aspek biologis semata sebagai faktor utama adalah suatu penyerderhanaan yang salah arah. Jika manusia memang secara alamiah menganggap kekerasan sebagai solusi setiap permasalahan, maka kita seharusnya sudah punah sejak dulu.

Hal ini menimbulkan pertanyaan lanjutan: Apakah kecenderungan alamiah ini dapat dipicu oleh faktor lain untuk dapat muncul? Apakah perilaku kekerasan dapat dipelajari dan menyebar luas? Apakah relasi sosial menekan atau justru mendorong kekerasan?

Berbagai ahli, baik di bidang psikologi, sosiologi, antropologi, maupun ethologi, berjuang untuk menjawab pertanyaan tersebut. 

Namun, tidak ada jawaban sederhana yang dapat memberikan penjelasan yang memuaskan.

Manusia adalah makhluk yang kompleks, di mana ia dapat merencanakan dan merefleksikan suatu tindakan yang belum ia perbuat, serta membayangkan konsekuensi dari hal tersebut. 

Kita juga dapat mempertanyakan motivasi dari orang lain terkait perilaku yang ia lakukan.

Agaknya, terdapat beragam faktor yang saling berkaitan dan mempengaruhi hingga dapat memicu tindakan kekerasan.

Secara statistik, komunitas yang terdiri dari keluarga dengan kondisi sosio-ekonomi yang tidak stabil memiliki angka kekerasan lebih tinggi. Kondisi ini juga dapat mempengaruhi dan menganggu perkembangan anak, bahkan sebelum ia dilahirkan.

Adrian Raine, peneliti dari University of Pennsylvannia menerangkan bahwa anak yang menerima asupan nutrisi rendah dari ibunya saat berada dalam kandungan memiliki 2,5 kali peluang lebih besar untuk mengembangkan perilaku antisosial dan agresif.

Hal ini memunculkan dilema moral atas hukuman yang dijatuhkan pada beberapa kasus kriminal, seperti sosiopat dan psikopat.

Apakah hukuman terhadap psikopat itu sesuai standar moral, jika diasumsikan bahwa mereka tidak bertanggung jawab atas kelainan amygdala yang menentukan kondisi emosional mereka, yang menyebabkan perilaku asosial sedari awal?
ujarnya seperti dilansir dari Psychological Science.

Nilai budaya dan kepercayaan juga dapat memainkan peranan penting. 

Kepercayaan dan nilai yang dianut suatu kelompok dapat mendorong anggotanya untuk melakukan kekerasan, karena dianggap merupakan penyelesaian yang sesuai dengan norma kelompok tersebut, terutama jika korban dinilai sudah melanggar aturan yang berlaku di dalamnya.

Kepribadian kita merupakan produk dari beragam pengaruh luar dan dalam. 

Beberapa merupakan faktor biologis yang berasal dari masa lampau, bahkan sebelum manusia eksis sebagai suatu spesies. 

Faktor lainnya berkembang sebagai bagian dari praktik sosial dan kultural seiring perkembangan peradaban.

Kita mungkin tidak dapat menemukan jawaban konkrit yang menjelaskan permasalahan ini, yang jelas, kita tidak boleh berhenti mengajukan pertanyaan, agar kita dapat merefleksikan perilaku kekerasan yang mewarnai sejarah manusia agar dapat dikurangi kemunculannya di masa mendatang.
☆☆☆☆☆
Berry Juliandi
Lecturer in Biology, Head of Veterinary Stem Cells Laboratory (PPSHB-IPB), Institut Pertanian Bogor
Peristiwa pemilihan presiden dalam dua dekade terakhir terbukti meningkatkan tingkat emosi masyarakat seiring dengan polarisasi yang semakin tajam antara kubu Joko “Jokowi” Widodo dan lawannya, Prabowo Subianto.

Tahun ini dengan semakin meluasnya penggunaan telepon seluler dan media sosial, masyarakat terpapar beragam informasi, palsu maupun valid, yang memicu perasaan cemas, amarah, takut. 

Hal ini mendorong individu-individu untuk bereaksi dalam beragam cara, dari berceloteh di media sosial hingga terlibat dalam kerusuhan dan menyulut bom molotov.

Hal ini terjadi pada aksi kerusuhan di beberapa titik di Jakarta yang diduga disulut oleh penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan di media sosial.

The Conversation Indonesia melakukan tanya jawab dengan Berry Juliandi, peneliti neurosains dari Institut Pertanian Bogor untuk mengetahui mengapa aksi kerusuhan ini bisa terjadi dari aspek bagaimana otak manusia bekerja ketika menerima (dis) informasi.

Dengan memahami cara kerja otak, kita akan lebih menyadari jika tindakan kita didorong oleh emosi yang tidak teregulasi dengan baik.

Apa yang terjadi dengan otak manusia ketika menerima informasi, baik yang benar atau palsu?
Ketika manusia menerima stimuli informasi otak kita memiliki dua cara untuk memproses informasi tersebut.

Cara pertama, terjadi secara cepat dan didorong oleh naluri bertahan hidup, diatur oleh bagian otak yang disebut otak “kuno”. Sementara cara kedua, terjadi secara lebih lambat dan menggunakan logika, diatur oleh bagian otak yang disebut otak “baru”.
Otak Kuno
Otak “kuno” mengatur fungsi hewani seperti nafas, nafsu makan, dan rasa takut. 
Otak kuno ini dimiliki oleh semua hewan bertulang belakang. 
Bagian dari otak kuno yang mengatur bermacam-macam nafsu (seperti nafsu berahi, amarah, dan makan) disebut hipotalamus. Sementara bagian dari otak kuno yang mengatur rasa takut disebut amigdala.
Otak Kuno
Otak “baru” atau neocortex membentuk otak besar atau cerebrum yang mengatur rasionalitas, kognisi, penglihatan–hal-hal yang membantu manusia mengambil keputusan yang didasari logika. 
Otak baru berkembang pesat di hewan mamalia golongan primata, yaitu monyet, kera dan manusia.

Ketika manusia menerima pesan dari lingkungan melalui indera mata, telinga, kulit, penciuman, mulut, otak menganalisis pesan tersebut.
Sebelum pesan tersebut sampai ke otak besar, pesan tersebut melewati pengolahan di otak kuno terlebih dahulu. Amigdala akan bertugas menilai apakah pesan ini mengandung sesuatu yang berbahaya. Jika amigdala menganggap pesan tidak berbahaya, pesan ini akan dilanjutkan ke otak besar untuk diolah dengan mempertimbangkan bermacam-macam hal.
Jika amigdala menilai pesan berbahaya, proses pengolahan informasi di otak besar akan diloncati, dan ia akan langsung menghubungi hipotalamus yang mengatur nafsu.
Otak manusia. Shutterstock

Bagaimana proses di otak kemudian menyulut tindak kekerasan?
Amigdala yang mengatur rasa takut dan hipotalamus yang mengatur nafsu merupakan bagian integral dari kemampuan leluhur manusia bertahan hidup. Contohnya, ketika melihat predator yang berbahaya, amigdala akan merangsang rasa takut yang akan mengaktifkan hipotalamus.

Hipotalamus berfungsi untuk mengatur kelenjar-kelenjar hormon seperti hipofisis yang merangsang kelenjar adrenal menghasilkan adrenalin, hormon yang mendorong pengaturan energi.

Adrenalin membuat jantung berdetak lebih kencang sehingga persediaan oksigen dalam darah meningkat dan dapat mengubah cadangan glukosa dalam tubuh manusia menjadi energi lebih cepat.

Reaksi yang timbul bisa dua: lari atau bertarung menghadapi ancaman. Keduanya membutuhkan energi.

Otak kuno manusia masih mengatur cara manusia modern bereaksi terhadap rangsangan yang kita terima, meskipun rangsangan bukan melihat singa berdiri di depannya, tetapi misalnya membaca pesan yang mengancam keyakinannya.

Membaca berita, baik palsu maupun benar, tetap dapat menghasilkan reaksi lari atau bertarung.

Pesan-pesan hoaks yang disisipi simbol keagamaan, misalnya takbir untuk komunitas muslim dapat mengancam keyakinan penerima pesan jika tidak diikuti. 

Otak kuno kita yang ingin mempertahankan keyakinan yang kita pegang akan sampai pada kesimpulan, jika kita tidak mempercayai pesan ini berarti kita tidak beragama.

Keputusan otak kita untuk bereaksi lari atau bertarung diambil dalam waktu yang sangat cepat mempertimbangkan keuntungan untuk dirinya, probabilitas keberhasilan, serta risiko.

Karena itulah berada dalam kerumunan biasanya meningkatkan rasa percaya diri untuk bertarung karena meningkatkan probabilitas keberhasilan dan mengurangi resiko keamanan ketimbang melawan sendirian.

Bagaimana cara mencegahnya?
Banyak pihak yang mencoba memanfaatkan proses bertindak yang didorong oleh otak kuno kita. Pengiklan biasanya mengirimkan pesan-pesan yang membuat seseorang tidak percaya diri sehingga mendorong mereka membeli produk. Untuk kepentingan politik, berbagai pihak kerap menyebar pesan yang menyulut emosi.

Kita bisa mengendalikan itu jika kita mengetahui cara otak kita bekerja, dan bahwa kemungkinan besar rasa takut dan nafsu amarah kita didorong oleh proses informasi secara cepat tanpa logika oleh otak kuno kita.

Seringkali penyebar hoaks menyisipi pesannya dengan berbagai aksesori yang menyentuh keyakinan penerima pesan. Misalnya dalam pesan tersebut banyak sisipan pesan agama atau embel-embel predikat gelar dari penulis atau narasumber.

Kita perlu tidak terburu-buru terpengaruh oleh aksesoris simbol agama atau gelar dalam suatu pesan. Semakin banyak aksesoris tersebut kita harus waspada untuk mengaktifkan otak besar kita dan tidak dikendalikan oleh otak kuno kita.
☆☆☆☆☆
Sejumlah peserta aksi Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat melakukan penyerangan kepada petugas Kepolisian dalam Aksi 22 Mei di depan gedung Bawaslu, Jakarta, 22 Mei 2019. Massa terus melempari polisi dengan batu serta bom molotov. Mereka juga mengarahkan kembang api dan petasan ke blokade polisi. TEMPO/M Taufan Rengganis
1. Kejanggalan Korban Tewas Aksi 22 Mei
Bitter Coffee Park mengutil dari TEMPO.CO diunggah pada 26 Mey 2019 yang di tulis oleh reporter Andita Rhama dan Editor Tulus Wijanarko dengan judul:
Berikut Ulasannya:
Profesor Riset bidang Perkembangan Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hermawan Sulistyo menemukan sejumlah kejanggalan dalam tewasnya delapan orang dalam insiden kericuhan aksi 22 Mei 2019.

Hermawan menuturkan, delapan korban tersebut ditembak dengan metode single bullet dan semua terkena di bagian leher serta dada pada sisi yang sama. 
Semua tembakan single bullet di leher belakang telinga. Cuma satu tapi langsung mematikan.
kata dia saat dihubungi, Ahad, 26 Mei 2019.

Menurut Hermawan, 
Tembakan aparat kepolisian biasanya random dan bukan single bullet di bagian kepala.
Ada unsur kesengajaan dengan melihat titik sasaran penembakan di tempat yang sama.
Kan, tidak mudah menembak (di bagian) leher itu.

Dalam aksi tersebut ditemukan jenis senjata api yang digunakan adalah pistol jenis Glock yang biasa dipakai perwira termasuk jenderal.

Selain itu, kejanggalan lain yang dilihat Hermawan adalah tidak jelasnya orang yang membawa para korban ke rumah sakit. 
Mosok RS tidak tanya: sampeyan siapa, kok, bawa-bawa mayat ketembak ini?
kata dia. 

Sehingga tidak diketahui lokasi penembakan akibat tidak jelasnya identitas yang membawa korban.
ADVERTISEMENT
Dalam rangkaian aksi 21-22 Mei 2019 di gedung Bawaslu, Jakarta, yang berujung pada kericuhan di beberapa tempat, tercatat delapan orang tewas dan ratusan orang lainnya luka-luka. 

Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian membentuk tim investigasi untuk mengusut kerusuhan 22 Mei 2019.

Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Mohammad Iqbal di Gedung Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Jakarta Pusat pada Kamis, 23 Mei 2019, memgatakan:
Kapolri sudah bentuk tim investigasi dipimpin Inspektorat Pengawasan Umum Polri Komisaris Jenderal Moechgiyarto untuk mengetahui penyebab dan semua aspek.
☆☆☆☆☆
Seorang pria memperlihatkan perutnya yang terluka dan seorang temannya menunjukkan sejumlah selongsong peluru yang telah digunakan saat terjadinya bentrokan di Jatibaru, Jakarta, Rabu, 22 Mei 2019. Bentrokan antara massa dan petugas kepolisian ini merupakan ketegangan usai demo di depan Gedung Bawaslu kemarin. TEMPO/ Muhammad Hidayat
2. Hasil Otopsi 4 Korban Rusuh Aksi 22 Mei
Bitter Coffee Park mengutil dari TEMPO.CO diunggah pada 24 Mey 2019 yang di tulis oleh reporter Non Korespinden dan Editor Dwi Arjanto dengan judul:
Hasil Otopsi 4 Korban Rusuh 22 Mei, RS Polri: Tewas Tertembak
Rumah Sakit Polri Kramat Jati sampai dengan Kamis kemarin atau tanggal 23 Mei 2019 menerima empat jenazah korban rusuh 22 Mei.

Kepala Rumah Sakit Polri Kramat Jati Brigjen Pol. Dr. Musyafak mengatakan empat korban yang diterima sudah dilakukan otopsi dan korban tersebut meninggal karena luka tembak.
Semua sudah kita otopsi berdasarkan permintaan dari penyidik dan persetujuan dari keluarga, memang meninggal karena ada luka tembak.
Kita tidak bisa menyimpulkan itu karet atau tajam, namun barang bukti sudah di bawa ke puslabfor.
ujar Musyafak di RS Bayangkara Polri, Kamis, 23 Mei 2019.

Namun sampai saat berita ini ditulis dia belum bisa menyimpulkan apakah peluru yang di pakai adalah peluru tajam atau karet.

Lebih lanjut, Musyafak mengatakan dua jenazah dikirim dari RS Pelni, satu jenazah dari RS Angkatan Laut Mintohardjo.

Kerusuhan pecah menjelang aksi 22 Mei di kantor Badan Pengawas Pemilu pada Selasa, 21 Mei 2019, sekitar pukul 22.30. Massa membubarkan diri dan meninggalkan kantor Bawaslu.

Sekitar pukul 03.00 dinihari, 22 Mei 2019, massa tiba-tiba merangsek ke arah Asrama Brimob di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Mereka diduga merusak dan membakar kendaraan yang parkir.

Sedikitnya 11 mobil dan sejumlah sepeda motor hangus dibakar buntut dari rusuh 22 Mei. Saat itulah polisi melakukan pengejaran dan terjadi kerusuhan di kawasan Petamburan. Dalam kerusuhan aksi 22 Mei ini dikabarkan enam orang tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka.


ADVERTISEMENT

Apa tugas berat Jokowi di periode ke 2?

May 24, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Apa tugas berat Jokowi di periode ke 2?
Kemenangan Jokowi menunjukkan kemungkinan pembaruan melalui proses demokrasi, bahkan di negara mayoritas Muslim yang berkembang dan besar. Melindungi hak-hak minoritas akan menjadi ujian terbesarnya dalam masa jabatan kedua sebagai Presiden Indonesia. Jokowi memiliki satu kesempatan lagi untuk dicatat dalam sejarah sebagai presiden yang hebat, yang berhasil menyatukan bangsa yang kini tengah terpecah belah.

Ketika Joko Widodo terpilih sebagai Presiden Indonesia pada tahun 2014, itu adalah permulaan baru bagi kawasan tersebut. 

Demokrasi di Asia biasanya dipengaruhi oleh pemeran tokoh yang sama: 
Para ahli waris dinasti, orang kuat militer, pengusaha, dan agama garis keras.

Kemenangan Jokowi menunjukkan kemungkinan pembaruan melalui proses demokrasi, bahkan di negara mayoritas Muslim yang berkembang dan besar. Dia adalah jenis pemimpin yang diidamkan: 
Kelas menengah dan rendah hati, dengan pandangan pluralistik dan komitmen untuk membersihkan pemerintahan.

ISLAM, KEKUATAN ARUS UTAMA
Pada tahun 2019, Jokowi kembali memimpin Indonesia, sekali lagi mengalahkan lawannya, Prabowo Subianto, seorang mantan jenderal militer yang dirundung tuduhan pelanggaran hak asasi manusia. Tapi kali ini dampak politiknya lebih serius.

Tahun-tahun kekuasaan Jokowi telah menyaksikan perubahan dalam peran yang dimainkan Islam politik dalam kehidupan publik negara demokrasi terbesar ketiga di dunia ini, dari yang tadinya adalah faktor yang relatif marjinal menjadi kekuatan arus utama yang tidak dapat diabaikan oleh partai politik.

Jokowi tak terkecuali, menunjukkan kesediaan untuk tunduk pada pertimbangan agama, bahkan ketika itu bertentangan dengan kecenderungannya.
Pendukung Prabowo meneriakkan slogan sambil memegang spanduk bertuliskan “2019 Ganti Presiden”, saat kampanye akbar Prabowo Subianto di stadium Gelora Bung Karno, Jakarta, 7 April 2019. 
(Foto: Reuters/Willy Kurniawan)

Selama musim kampanye yang panjang, kedua kandidat mencoba untuk mengalahkan satu sama lain dengan meningkatkan kredibilitas Muslim mereka, meskipun pada kenyataannya tidak ada yang secara tradisional saleh. 

Ibu dan saudara laki-laki Prabowo adalah Kristen, sedangkan Jokowi adalah penggemar musik heavy metal.

Tetapi janji untuk mendukung ulama menjadi agenda utama kampanye Prabowo, di mana ia mengorganisasi doa massal dan mengakhiri pidato dengan teriakan “Allahu Akbar”. 

Para pendukungnya diketahui telah melakukan kampanye berita palsu yang menggambarkan Jokowi sebagai seorang Kristen atau seorang Komunis ateis.

Di pihaknya, Jokowi bergegas ke Arab Saudi untuk umroh hanya seminggu sebelum pemilu, dan menyatukan demonstrasi publik dengan lagu-lagu tradisional pengabdian kepada Nabi Muhammad.

Tetapi upayanya yang paling tajam untuk melobi kelompok agama (dan yang paling mengecewakan bagi para pendukung liberal-nya) adalah penunjukan Ma’ruf Amin (seorang ulama Islam konservatif) sebagai calon wakil presiden. Pilihan ini dimaksudkan sebagai tameng melawan tuduhan ketidaksalehan (tuduhan yang telah menjadi kelemahan politik Jokowi di masa lalu). 

Taktik ini telah membuahkan hasil, tetapi implikasi strategisnya tetap terbuka dan mengkhawatirkan.

Rekam jejak Jokowi selama menjabat untuk merayu para Islamis garis keras terlihat suram. 

Dia telah mengambil tindakan tegas terhadap para ekstremis agama, melarang Hizbut Tahrir (kelompok radikal yang bertujuan untuk mendirikan kekhalifahan global).

Dia juga mengambil keputusan untuk mengizinkan Abu Bakar Baashir (pemimpin spiritual organisasi teroris Jemaah Islamiyah) untuk bebas dari penjara dengan alasan kemanusiaan. 

Namun, keputusan itu dibatalkan setelah protes internasional yang besar.

Kegagalan terbesar Jokowi adalah sikap diamnya selama gerakan untuk menuntut mantan wakilnya, Basuki Tjahaja Purnama, atas penistaan agama. 

Ahok (sebagaimana ia dikenal), seorang Kristen keturunan China, adalah calon wakil gubernur untuk Pemilihan Gubernur Jakarta 2012.
Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama saat tiba di pengadilan. 
(Foto: AFP)

Pada 2017, ia dijatuhi hukuman dua tahun penjara karena mengatakan kepada para pemilih dalam pidatonya, bahwa mereka tidak boleh ditipu oleh para pemimpin agama yang menyalahgunakan ayat Al-Qur'an tertentu untuk membenarkan klaim bahwa umat Muslim seharusnya tidak memiliki pemimpin non-Muslim. 

Jokowi tidak hanya diam selama penuntutan Ahok, ia bahkan bergabung dengan para demonstran dalam doa. 

Wakil Presiden barunya, Ma’ruf Amin, bersaksi melawan Ahok di persidangan.

Di bidang ekonomi, masa jabatan pertama Jokowi sebagai Presiden cukup memadai. 

Pertumbuhan tahunan rata-rata 5 persen, jauh di bawah target 7 persen, sebagian karena ia menyerah pada tekanan dan mundur pada reformasi yang sulit, seperti mengekang subsidi bahan bakar.

Di sisi positifnya, ia menyiapkan lebih dari $300 miliar proyek infrastruktur, termasuk pembukaan jalur kereta bawah tanah pertama di Jakarta setelah 34 tahun perencanaan. 

Dia juga meluncurkan skema asuransi kesehatan nasional yang populer dan memompa uang untuk pendidikan.

APA YANG MENANTI?
Kedepannya, Jokowi akan berupaya untuk meningkatkan investasi asing di tengah iklim nasionalisme ekonomi. 

Juga masih harus dilihat:
Apakah dan bagaimana ia (Jokowi) memutuskan untuk menangani masalah pelik undang-undang perburuhan yang sulit?

Tantangan perburuhan ini akan memerlukan tanggapan Indonesia terhadap pengaruh ekonomi China yang berkembang di Indonesia. 

China telah muncul sebagai investor asing utama di Indonesia, tetapi ada kekhawatiran tentang konsekuensinya. 

Salah satu yang disuarakan kampanye Prabowo adalah klaim bahwa di bawah Jokowi, barang dan pekerja China telah membanjiri negara.

Tapi perlindungan terhadap hak-hak minoritas-lah yang masih menjadi ujian terbesar dan paling berat bagi Jokowi. 

Membentuk identitas nasional yang bersatu dari demografi etnis dan agama yang retak, telah menjadi prestasi luar biasa bagi Indonesia.

Tujuh dari delapan orang Indonesia mengidentifikasi diri sebagai Muslim; lebih banyak Muslim yang tinggal di Indonesia daripada di negara lain. 

Namun Indonesia juga mengakui lima agama lain:
  • Hindu, 
  • Buddha, 
  • Protestan, 
  • Katolik, dan 
  • Konfusianisme.
Kepulauan ini menampung 719 bahasa, yang dituturkan oleh orang-orang dari lebih dari 360 kelompok etnis. 

Bhinneka Tunggal Ika adalah frase yang menggambarkan Indonesia modern, dan itu akan menjadi tugas Jokowi untuk memastikan substansi terhadap semboyan itu.

Mengingat adanya batasan jangka waktu, ini akan menjadi periode terakhir Jokowi sebagai presiden. 

Skenario optimisnya adalah:
Bahwa ia mampu menghilangkan pertimbangan pemilu dan akhirnya menangani reformasi dan kebijakan liberal secara sungguh-sungguh.

Namun, dengan mempertimbangkan rekam jejaknya, tampaknya lebih mungkin bahwa dia akan terus mengkooptasi lawan-lawannya daripada menghadapi mereka. 

Dia telah muncul sebagai penggerutu dan inkrementalis, daripada visioner. 

Pada tingkat tertentu, ini diperlukan dan bahkan menguntungkan dalam lanskap politik yang ditandai oleh koalisi dan pembangunan konsensus.

Jokowi memimpin aliansi 10 partai dan perlu mengumpulkan dukungan dari Parlemen yang terpolarisasi. 

Namun, ada garis tipis antara pragmatisme dan oportunisme, dan belum ditentukan di sisi mana ia akhirnya akan berada.

Jokowi memiliki satu kesempatan lagi untuk dicatat dalam sejarah sebagai presiden yang hebat. 

Kemungkinannya adalah bahwa dia akan dikenang sebagai orang baik yang berusaha, tetapi tidak cukup keras.

NB Di Copas dari Mata-Mata Politik:
Pallavi Aiyar adalah seorang penulis dan jurnalis yang tinggal di Tokyo.
Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis sendiri (Pallavi Aiyar) dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Mata-Mata Politik.
☆☆☆☆☆