Showing posts with label Dinasti. Show all posts
Showing posts with label Dinasti. Show all posts

Prasasti Canggal

July 23, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Prasasti Canggal
Prasasti Canggal (juga disebut Prasasti Gunung Wukir atau Prasasti Sanjaya) adalah prasasti dalam bentuk candra sengkalaberangka tahun 654 Saka atau 732 Masehi yang ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir di desa Kadiluwih, kecamatan Salam, Magelang, Jawa Tengah.

Prasasti yang ditulis pada stela batu ini menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta. Prasasti dipandang sebagai pernyataan diri Raja Sanjaya pada tahun 732 sebagai seorang penguasa universal dari Kerajaan Mataram Kuno.

Prasasti ini menceritakan tentang pendirian lingga (lambang Siwa) di desa Kunjarakunja oleh Sanjaya. Diceritakan pula bahwa yang menjadi raja mula-mula adalah Sanna, kemudian digantikan oleh Sanjaya anak Sannaha, saudara perempuan Sanna.

Terjemahan bebas isi prasasti adalah sebagai berikut:
Bait 1 : 
Pembangunan lingga oleh Raja Sanjaya di atas gunung
Bait 2-6 : 
Pujaan terhadap Dewa Siwa, Dewa Brahma, dan Dewa Wisnu
Bait 7 : 
Pulau Jawa yang sangat makmur, kaya akan tambang emas dan banyak menghasilkan padi. Di pulau itu didirikan candi Siwa demi kebahagiaan penduduk dengan bantuan dari penduduk Kunjarakunjadesa.
Bait 8-9 : 
Pulau Jawa yang dahulu diperintah oleh raja Sanna, yang sangat bijaksana, adil dalam tindakannya, perwira dalam peperangan, bermurah hati kepada rakyatnya. Ketika wafat Negara berkabung, sedih kehilangan pelindung.
Bait 10-11 :
Pengganti raja Sanna yaitu putranya bernama Sanjaya yang diibaratkan dengan matahari. Kekuasaan tidak langsung diserahkan kepadanya oleh raja Sanna tetapi melalui kakak perempuannya (Sannaha)
Bait 12 :
Kesejahteraan, keamanan, dan ketentraman Negara. Rakyat dapat tidur di tengah jalan, tidak usah takut akan pencuri dan penyamun atau akan terjadinya kejahatan lainnya. Rakyat hidup serba senang.

Kunjarakunja-desa dapat berarti tanah dari pertapaan Kunjara, yang diidentifikasikan sebagai tempat pertapaan Resi Agastya, seorang maharesi Hindu yang dipuja di India selatan. Dalam epik Ramayana, diceritakan bahwa Rama, Sinta, dan Laksmana mengunjungi pertapaan Agastya di gunung Kunjara.
☆☆☆☆☆

Baca Tags Terkait:

Prasasti Mantyasih

July 23, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Prasasti Mantyasih
Prasasti Mantyasih, juga disebut Prasasti Balitung atau Prasasti Tembaga Kedu, adalah prasasti berangka tahun 907 M yang berasal dari Wangsa Sanjaya, kerajaan Mataram Kuno. 

Prasasti Mantyasih ini ditemukan di kampung Mateseh, Magelang Utara, Jawa Tengah dan memuat daftar silsilah raja-raja Mataram sebelum Raja Balitung. Prasasti ini dibuat sebagai upaya melegitimasi Balitung sebagai pewaris tahta yang sah, sehingga menyebutkan raja-raja sebelumnya yang berdaulat penuh atas wilayah kerajaan Mataram Kuno.

Dalam prasasti juga disebutkan bahwa desa Mantyasih yang ditetapkan Balitung sebagai desa perdikan (daerah bebas pajak). 

Di kampung Meteseh saat ini masih terdapat sebuah lumpang batu, yang diyakini sebagai tempat upacara penetapan sima atau desa perdikan. Selain itu disebutkan pula tentang keberadaan Gunung Susundara dan Wukir Sumbing (sekarang Gunung Sindoro dan Sumbing).

Kata "Mantyasih" sendiri dapat diartikan "beriman dalam cinta kasih".

Silsilah Raja
Prasasti ini bertarikh 828 Saka, bagian yang memuat silsilah raja adalah pada bagian B baris 7-9:
  • ta < 7 > sak rahyang ta rumuhun. sirangbăsa ing wanua. sang mangdyan kahyaňan. sang magawai kadatwan. sang magalagah pomahan. sang tomanggöng susuk. sang tumkeng wanua gana kandi landap nyan paka çapatha kamu. rahyang
  • < 8 > ta rumuhun. ri mdang. ri poh pitu. rakai mataram. sang ratu sańjaya. çri mahǎrǎja rakai panangkaran. çri mahǎrǎja rakai panunggalan. çri mahǎrǎja rakai warak. çri mahǎrǎja rakai garung. çri mahǎrǎja rakai pikatan
  • < 9 > çri mahǎrǎja rakai kayuwańi. çri mahǎrǎja rakai watuhumalang. lwiha sangkā rikā landap nyān paka çapatha çri mahǎrǎja rakai watukura dyah dharmmodaya mahāçambhu.
Penafsiran Prasasti
Sriwijaya, de Sailendrawamsa en de Sanjayawamsa (1952) 
Bosch dalam karyanya Sriwijaya, de Sailendrawamsa en de Sanjayawamsa (1952) berpendapat bahwa di Kerajaan Medang dua dinasti yaitu Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra sama-sama berkuasa. 

Wangsa Sanjaya didirikan oleh Sanjaya, pendiri Kerajaan Medang yang beragama Hindu Siwa. Maharaja selanjutnya ialah Rakai Panangkaran, yang menurutnya dikalahkan oleh Wangsa Sailendra. 

Maka di Medang terdapat Wangsa Sanjaya berkuasa di utara Jawa dan Wangsa Sailendra berkuasa di selatan Jawa. 

Namun Putri Maharaja Samaratungga dari Wangsa Sailendra yang bernama Pramodawardhani menikah dengan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya, yang kemudian mewarisi takhta mertuanya dan Wangsa Sanjaya pun berkuasa kembali di Medang.

Bosch berasumsi bahwa gelar rakaiadalah nama silsilah wangsa.

Daftar silsilah raja-raja Wangsa Sanjaya berdasarkan prasasti Mantyasih menurut Bosch, adalah:
  1. Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya,
  2. Sri Maharaja Rakai Panangkaran,
  3. Sri Maharaja Rakai Panunggalan,
  4. Sri Maharaja Rakai Warak,
  5. Sri Maharaja Rakai Garung,
  6. Sri Maharaja Rakai Pikatan,
  7. Sri Maharaja Rakai Kayuwangi,
  8. Sri Maharaja Rakai Watuhumalang, dan
  9. Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Dharmmodaya Mahasambhu.
Pendapat Slamet Muljana
Pendapat berbeda diberikan oleh Slamet Muljana. 

Ia berpendapat daftar tersebut bukanlah silsilah Wangsa Sanjaya, melainkan daftar raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Medang. 

Gelar Rakaimenurutnya berarti penguasa atau pejabat di daerah atau raja bawahan yang masih mempunyai hubungan keluarga dengan maharaja yang masih bertahta. 

Ia pun memperbandingkan isi prasasti Mantyasih dengan:
  1. prasasti Kelurak, 
  2. prasasti Kayumwungan, 
  3. prasasti Siwagraha, dan 
  4. prasasti Nalanda; 
dan berpendapat bahwa Rakai Panangkaran, Rakai Panunggalan, Rakai Warak, dan Rakai Garung adalah dari Wangsa Sailendra, karena Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Pancapana sendiri bergelar Sailendrawamsatilaka (Permata Wangsa Sailendra).
☆☆☆☆☆
Baca Tags Terkait:

Prasasti Wanua Tengah III

July 23, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Prasasti Wanua Tengah III
Prasasti Wanua Tengah III adalah prasasti dari tahun 908 M pada zaman Kerajaan Mataram Kuno, yang ditemukan November 1983. Prasasti ini di sebuah ladang di Dukuh Kedunglo, Desa Gandulan, Kaloran, sekitar 4 km arah timur laut Kota Temanggung. Prasasti Prasasti Wanua Tengah III ini disimpan di Balai Arkeologi Yogyakarta.

Di dalam prasasti ini dicantumkan daftar lengkap dari raja-raja yang memerintah bumi Mataram pada masa sebelum pemerintahan Raja Rake Watukara Dyah Balitung. Prasasti ini dianggap penting karena menyebutkan 12 nama raja Mataram, sehingga melengkapi penyebutan dalam Prasasti Mantyasih (atau nama lainnya Prasasti Tembaga Kedu) yang hanya menyebut 9 nama raja saja.

Prasasti Wanua Tengah III ini terdiri dari dua lempengan, pertama dengan ukuran 53,5 x 23,5 cm dan ketebalan kira-kira 2,5 mm, kedua dengan ukuran 56 x 26 cm dan ketebalan sama. Keduanya adalah lempengan tembaga. Lempeng pertama ditulisi satu sisi saja dengan tulisan 17 baris, sedangkan lempeng kedua tulisi bolak-balik, masing-masing 26 dan 18 baris.

Lokasi Prasasti Wanua Tengah III
Prasasti Wanua Tengah III ditemukan di sebuah ladang di Dukuh Kedunglo, Desa Gandulan, Kaloran, sekitar 4 km arah timur laut Kota Temanggung, Jawa Tengah.
Perbedaan Prasasti Mantyāsih 
Pada prasasti Mantyāsih menyebut delapan orang raja yang pernah memerintah Mědang di Wilayah Poh Pitu.

Kedelapan orang raja ini bergelar çri maharaja kecuali Sanjaya yang bergelar Sang Ratu.

Berdasarkan isi prasasti Mantyāsih, nama kerajaan yang didirikan oleh Sanjaya yang ditandai dengan pendirian lingga di atas gunung dalam prasasti Canggal itu adalah Matarām.

Sanjaya yang bergelar Sang Ratu Mataram tampak berdiri sebagai pendiri kerajaan (the founding father) terlebih dengan posisinya yang berada di puncak daftar nama-nama raja yang pernah memerintah di wilayah Poh Pitu, termasuk pada prasasti Mantyāsih serta prasasti Wanua Těngah III.

Adapun daftar raja yang tercantum dalam prasasti Mantyāsih adalah sebagai berikut:
1. Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya
2. Rakai Panangkaran Dyah Sangkhara
3. Rake Panunggalan
4. Sri Maharaja Rakai Warak
5. Rake Garung
6. Rake Pikatan Dyah Saladu
7. Rake Kayu Wangi Dyah Lokapala
8. Sri Maharaja Watuhumalang
9. Rake Watukara Dyah Balitung

Sedangkan daftar raja-raja yang tercantum dalam prasasti Wanua Těngah III yang berangka tahun 830 Saka (903 M) adalah sebagai berikut:
No
Nama
Naik Tahta
1
Rakai Panangkaran
746-784 M
2
Rake Panaraban
784-803 M
3
Rake Warak Dyah Manara
803-827 M
4
Dyah Gula
827-828 M
5
Rake Garung
828-847 M
6
Rake Pikatan Dyah Saladu
847-855 M
7
Rake Kayuwangi Dyah Lokapala
855-885 M
8
Dyah Tagwas
885 M
9
Rake Panumwangan Dyah Dewendra
885-887 M
10
Rake Gurunwangi Dyah Badra
887 M
11
Rake Wungkalhumalang dyah Jbang
894-898 M
12
Rake Watukara Dyah Balitung
898-908 M
Ada empat raja yang tidak disebutkan dalam prasasti Mantyāsih, yaitu:
  1. Dyah Gula (5 Agustus 827-24 Januari 828 M), 
  2. Dyah Tagwas (5 Februari-27 Sebtember 885 M), 
  3. Rake Panumwangan Dyah Dewendra (27 September 885-27 Januari 887),  dan
  4. Rake Gurunwangi Dyah Bhadra yang hanya menjadi raja selama 28 hari sebelum melarikan diri dari keratonnya.
Perbedaan daftar nama-nama raja dalam prasasti Mantyāsih disebabkan oleh perbedaan latar belakang dikeluarkannya prasasti.

Prasasti Mantyāsih diterbitkan dalam rangka melegitimasikan dirinya sebagai pewaris takhta yang sah, sehingga yang disebutkan hanya raja-raja yang berdaulat penuh atas seluruh wilayah kerajaan.

Dyah Gula, Dyah Tagwas, Rake Panumwangan Dyah Dewendra, Rake Gurunwangi Dyah Bhadratidak dimasukkan dalam daftar karena mereka tidak berdaulat penuh atas wilayah kerajaan Matarām Kuno.

Hal ini dapat dilihat dari singkatnya masa pemerintahan mereka.

Sedangkan prasasti Wanua Těngah III sikeluarkan sehubungan dengan perubahan-perubahan status sawah sebagaisîma di Wanua Těngah, sehingga semua penguasa yang mempunyai sangkut paut dengan perubahan status sawah disebutkan.

Nama Sanjaya sebagai cikal bakal kerajaan Matarām Kuno pun tidak disebutkan karena status sawah di Wanua Těngah III sebagai sîma baru dimulai pada masa pemerintahan Rake Panangkaran.
☆☆☆☆☆

Baca Tags Terkait:

Mitologi Candi Pari

July 19, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Mitologi Candi Pari
Salah satu cagar budaya yang bisa dikatakan utuh sampai sekarang adalah Candi Pari. 

Candi yang terletak di kecamatan Porong ini di bangun pada jaman Majapahit atau seperti yang tertulis pada 1293 C (1371 M). 

Candi Pari yang terletak di ketinggian 4,42 meter di atas permukaan air laut ini memiliki area luas mencapai 1310 meter persegi. 

Sementara bangunan induknya terletak di sisi timur area. 

Ada dua versi cerita tentang Candi Pari yang saling bertolak belakang.
Versi 1.
Di satu versi Candi Pari di sebut sebagai bangunan persembahan untuk Ratu Campa, atau lebih tepatnya sebagai tempat persinggahan sang ratu bila ingin mengunjungi saudaranya di Majapahit.
Versi 2.
Candi Pari menjadi simbol pembangkang an rakyat sekitar candi terhadap penarikan upeti dari Majapahit yang saat itu diperintah Hayam Wuruk (Rajasa Negara). Menurut versi ini kondisi daerah di Candi Pari adalah hutan rimba.

Adalah Jaka Pandelegan (konon masih anak Prabu Brawijaya dari perselingkuhannya dengan seorang gadis desa bernama Ni Jinjingan) yang berjasa menyulap daerah hutan menjadi daerah pertanian yang makmur. 

Kemakmuran itu membuat Majapahit menuntut upeti dengan jumlah yang tinggi. 

Jaka Pandelegan yang merasa tidak berhutang budi dengan Majapahit menolak tuntutan itu. 

Hasil pertanian tidak diserahkan ke Majapahit tetapi untuk kepentingan masyarakat di daerah itu. 

Majapahit yang sedang jaya itu menganggap sikap Jaka Pandelegan sebagai tantangan terhadap bala tentaranya. 

Untuk itu Majapahit kemudian mengirim pasukan untuk menangkap dan menghukum Jaka Pandelegan.

Singkat cerita pasukan itu sampai di desa Jaka Pandelegan.

Mereka bergerak cepat untuk menangkap tokoh yang dianggappembangkang itu. Jaka Pandelegan lari menghindari tangkapan prajurit Majapahit dan melompat di tumpukan padi, di sana ia muksa. 

Merasa tidak bisa menangkapnya, prajurit Majapahitbergerak untuk menangkap istri Jaka Pandelegan yang bernama Nyi Walang Angin. 

Sama dengan suaminya, wanita itu berlari dan menceburkan diri di sebuah sumur di sebelahselatan tumpukan padi itu, disana ia juga tidak pernahditemukan. 

Untuk mengenang suami istri yang berjasa padadaerah itu maka didirikanlah Candi Pari di bekas tumpukanPadi dan Candi Sumur di daerah itu.
Seperti yang telah diutarakan di atas bahwa kedua versi itu saling bertolak belakang. Salah satu versi melambangkan Candi Pari sebagai persembahan bagi penguasa, sedangkanversi satunya menjadikan Candi Pari sebagai simbol bagiperlawanan terhadap penguasa. 

Walaupun berbeda setidaknya kedua versi itu akan saling melengkapi, apalagi jika mau kita juga menggali, mengumpulkan dan mendokumentasi kejadian masalampau.
☆☆☆☆☆

Baca Tags Terkait:

Dewi Sekartaji dan Kehancuran Kerajaan Jenggala

July 19, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Dewi Sekartaji Kehancuran Kerajaan Jenggala
Seperti yang telah dikemukakan bahwa Bandar dagang Porong merupakan sumber perselisihan yang mengarah pada pertumpahan darah. 

Sri Jayawarsa yang memerintah Kediri (Dhaha) menuntut kepada kerajaan Jenggala agar Bandar dagang di Porong diserahkan pada Dhaha. 

Tuntutan ini di tolak oleh Raja Jenggala yang mendasarkan pada hasil pembelahan Kahuripan di Jaman Airlangga. 

Atas jawaban ini raja Dhaha mengancam akan merebut Bandar dagang Porong dan menyerbu Jenggala dengan kekuatan militer. 

Patut diketahui dalam bidang militer Dhaha lebih unggul dari pada Jenggala. 

Karenanya dapat dipastikan bila terjadi perang maka Jenggala akan berada di pihak yang kalah.

Untuk menghindari terjadinya peperangan saudara ini, danjuga untuk agar Bandar dagang Porong dikuasai dua kerajaan, maka diusulkan untuk menggelar perkawinan antar dua putra mahkota. 

Dua orang itu adalah Inu Kertapati anak raja Jenggala, dan Dewi Sekartaji putri. 

Perkawinan ini diharapkanbisa mereda ketegangan antara Jenggala dan Dhaha.

Tetapi konsensus yang digagas itu kenyataannya tidak berjalan mulus. 

Walaupun Dewi Sekartaji sangat mencintai Inu Kertapati, tetapi Inu kertapati ternyata tidak mencintai sepupunya itu. 

Ia lebih memilih Dewi Anggaraini anak patih Jenggala. akibatnya ketegangan memuncak lagi. 

Kerajaan Dhaha kembali mengancam akan membumi hanguskanJenggala bila perkawinan politik itu gagal. 

Oleh Kecemasan akan serbuan Dhaha itu, raja Jenggala membuat kebijakan dengan membunuh Dewi Anggraini. 

Sehingga diharapkan perkawinan antara Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji bisa berjalan Lancar.

Namun permasalahan tidak berhenti disini. Sedih karena kematian kekasihnya, Inu Kertapati diam-diam meninggalkan istana Jenggala dam pergi berkelana. 

Sedangkan Dewi Sekartaji yang merasa malu karena Inu Kertapati lebih mencintai Orang lain juga melakukan hal yang serupa. Sekartaji (atau juga disebut Galih Candra Kirana) meninggalkan Dhaha.

Dari perjalanan ini pula timbul banyak legenda Jawa yang terkenal sampai sekarang, Ande-ande lumut, entet dan mbok Rondo Dadapan. 

Dimana dalam cerita itu Inu Kertapati di simbolkan sebagai Ande-ande Lumut, Entit yaitu seorang jejaka anak pungut Mbok Rondo Dadapan yang membuat hati para gadis takluk. 
Sedangkan Dewi Sekartaji disimbolkan sebagai Klenting Kuning, seorang anak pungut yang disia-siakan saudara dan ibu tirinya, tetapi pada akhirnya ia yang dipilih Ande-ande lumut menjadi istri. 

Dan disamping itu Cah Ayu yang menggoda Si Entit adalah Dewi Sekartaji yang juga menyamar sebagai wanita desa. 

Perjalanan kedua putra mahkota ini juga di tulis oleh Mpu Dharmaja, seorang pujangga Dhaha, dalam kekawin Asmaradahana pada pemerintahan Kameswara 1.

Kemudian mereka melaksanakan pernikahan di Dhaha dan Inu Kertapati Marak dinobatkan menjadi Raja Dhaha dengangelar Kamesywara 1 (1115-1130), bergelar Sri maharaja rakesirikan sri Kameswara Sakalabhuwanatustikarana Sarwwaniwaryyawiryya Parakrama Digjayottunggadewa, lencana kerajaan berbentuk tengkorak bertaring yang disebut Chandrakapala, dan adanya Mpu Dharmaja yang telah menggubah kitab Asmaradahana (berisi pujian yangmengatakan raja adalah titisan dewa Kama, ibukota kerajaan bernama Dahana yang dikagumi keindahannya oleh seluruh dunia, permaisuri yang sangat cantik bernama Dewi Candhra Kirana). 
Mereka dalam kesusasteraan Jawa terkenal dalamcerita Panji. 

Dengan dinobatkannya Inu Kertapati sebagai Raja Dhaha maka kerajaan Jenggala dan Dhaha disatukan. 

Peristiwaini terjadi pada tahun 1045 M. Terhitung dari tahun ini Jenggalasebagai kerajaan Besar pelan-pelan menutup buku sejarah.

Dengan diangkatnya Inu Kertapati menjadi raja di Dhaha, maka secara tidak langsung wilayah Kahuripan yangsebelumnya terpecah dapat disatukan lagi. 

Hanya saja wilayah itu tidak dibawah bendera Jenggala tetapi bendera Kerajaan Dhaha. 

Bisa dikatakan bahwa pada saat itu Kerajaan Jenggala mulai surut. 

Raja-raja Jenggala setalah Sri Jayantaka menarikKerajaan lebih ke jauh di Utara.

Sejarah masih bisa melacak keberadaan Jenggala hinggatahun 1059, peristiwa ini bisa dilihat dari prasasti KembangPutih di Lamongan. 

Prasasti ini menulisakn bahwa kraton Jenggala berada di sebelah utara sungai Lanang.

Kraton ini berada di sana sampai dengan pemerintahan raja Jenggala terakhir Sri Samarattongga. 

Setelah itu Jenggala hilang daripanggung sejarah.


Sampai saat ini masih belum didapat sebuah sumber yang menjelaskan secara tepat perginya orang Jenggala setelah 1059. 

Apakah mereka dari raja hingga rakyatnya habis ditumpas bala tentara Dhaha ataukah orang-orang Jenggala itu hijrah ke tempat lain?
☆☆☆☆☆

Baca Tags Terkait:

Pusat Politik Dan Bandar Perdagangan Kerajaan Jenggala

July 19, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Pusat Politik Dan Bandar Perdagangan Kerajaan Jenggala
Pada masa pemerintahan Sri Jayantaka, bandar dagang di Porong sedang dalam puncaknya. 

Konon bandar dagang ini dikatakan terbesar kedua setelah Sriwijaya. 

Banyaknya orang-orang asing yang berdagang semakin menunjukkan bandar dagang ini diperhitungkan di dunia internasional. 

Boleh jadi lahirnya bandar dagang ini merupakan babak baru bagi perjalanan sejarah Jawa.
Pada awalnya, kerajaan di Jawa bersifat agraris dan beradadi lereng-lereng gunung. 

Segala aktifitas pemerintahan banyak dilakukan di sana. 

Tingkat interaksi dengan dunia luar tidak secepat Sriwijaya. 

Dengan keberadaan bandar dagang ini secara tidak langsung memindahkan kerajaan gunung ke kerajaan Pantai. 

Merubah budaya agraris dengan budaya merkantilis (perdagangan).

Ada dua orang dari negeri Cina yang sempat mencatat keberadaan Bandar dagang Porong.

1. Menurut Chou Yu Kua,
Menyatakan bahwa Bandar dagang di Porong merupakan sebuah pelabuhan yangbesar dengan pajak murah dan kantor-kantor dagang yang berjejer dengan suasana yang menyenangkan. 

Kantor-kantor dagang itu mengurusi palawija, emas, gading, perak dan kerajinan tangan yang selalu disenangi dan dikagumi Orang Ta-shi (Arab). 

Pusat perdagangan berada di tempat yang bernama Yeo-thong (Jedong, sekarang wilayah Ngoro). 

Di belakangnya ada gunung dengan sembilan puncak yang selalu diselimuti kabut tebal.

Gunung yang bernama Pau-lian-an (Penanggungan) itu menjadi pedoman navigasi kapal yang akan masuk pelabuhan Porong.
2. Chou Ku Fei, 
Seorang Pedagang, menuliskan kondisi subur tanah Jung-galuh (Jenggala) yang banyak dikelilingi sungai- sungai besar yang tembus dampai di gunung Pau-lain-an (Penanggungan). 

Sedangkan Bandar dagang di Porong banyak didatangi oleh para pedagang dari Cina, Arika, Thailand, Ta-shi (Arab) yang mengimpor beras, kayu Cendana, Kayu Gaharu dan bunga-bunga kering seperti Kenanga dan Melati.
Dalam sejarah kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa Timur, Gunung Penanggungan adalah sebuah gunung yang penting (Daldjoeni, 1984; Lombard, 1990). 

Kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Jawa Timur, selain berurat nadi Sungai Brantas, kerajaan-kerajaan itu mengelilingi Gunung Penanggungan, misalnya Kahuripan, Jenggala, Daha, Majapahit, dan Tumapel (Singhasari). 

Daerah genangan LUSI sekarang dulunya adalah wilayah Medang atau Kahuripan dari zaman Sindok dan Airlangga, juga termasuk ke dalam wilayah Majapahit.

Setiap kali ada kekacauan di wilayah kerajaan-kerajaan itu, maka Gunung Penanggungan dijadikan ajang strategi perang. 

Airlangga pun pada saat pengungsian dari serangan Worawari tahun 1016 yang menewaskan Dharmawangsa mertuanya (Peristiwa Mahapralaya), bersembunyi di Penanggungan sambil memandang ke utara menuju lembah Porong dan Brantas memikirkan bagaimana membangun kerajaannya yang baru. 

Penanggungan pun dijadikan tempat-tempat untuk memuliakan tokoh-tokoh kerajaan. 

Di lereng timur gunung ini di Belahan terdapat makam Airlangga, makam Sindok di Betra, dan makam ayah Airlangga di Jalatunda. 

Di Penanggungan pun terdapat ratusan candi, yang saat ini tidak terawat. 

Makam-makam keramat ini ditemukan penduduk Penanggungan pada awal abad ke-20 setelah beratus-ratus tahun terkubur, saat mereka membakar gelagah yang menutupinya untuk keperluan pembuatan pupuk.

Dari Gunung Penanggungan ke lembah dan delta Brantas pemandangannya permai dan subur lahannya, sehingga banyak kerajaan didirikan di dataran Brantas. 
Menurut Nash (1932) "hydrogeologie der Brantas vlakte":
Delta Brantas terbentuk berabad-abad lamanya dan peranannya penting di dalam percaturan politik kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Jawa Timur. 

Kemajuan dan kemunduran kerajaan-kerajaan ini kelihatannya banyak dipengaruhi oleh segala yang terjadi di Delta Brantas.

Denys Lombard, ahli sejarah berkebangsaan Prancis yang menulis tiga volume tebal buku sejarah Jawa tahun 1990 "Le Carrefour Javanais - Essai d'Histoire Globale" (sudah diterjemahkan oleh Gramedia sejak 1996 dan cetakan ketiganya diterbitkan Maret 2005) menulis tentang "Prasasti Kelagyan" zaman Airlangga bercandra sengkala 959 Caka (1037 M). 

Kelagyan adalah nama desa Kelagen sekarang di utara Kali Porong. 

Prasasti Kelagyan mmenceritakan bahwa pada suatu hari sungai Brantas yang semula mengalir ke utara tiba-tiba mengalir ke timur memutuskan hubungan negeri Jenggala dengan laut, merusak tanaman dan menggenangi rumah-rumah penduduk. 

Airlangga bertindak dengan membangun bendungan besar di Waringin Pitu dan memaksa sungai kembali mengalir ke utara. 

Mungkin, inilah yang disebut sebagai bencana Banyu Pindah dalam Buku Pararaton

Bencana seperti ini kelihatannya terjadi berulang-ulanh, bencana yang sama dicatat di dalam buku Pararaton terjadi lagi tahun 1256 Caka (1334 M) pada zaman Majapahit.

Sejak zaman Kerajaan Medang abad ke-9 dan 10, Delta Brantas yang dibentuk dua sungai (Kali Mas dan Kali Porong) diolah dengan baik, muara Brantas dijadikan pelabuhan untuk perdagangan (Pelabuhan Hujung Galuh). 

Ibukota kerajaan didirikan dan dinamakan Kahuripan yang letaknya di dekat desa Tulangan, utara Kali Porong, di sebelah barat Tanggulangin, di dalam wilayah Kabupaten Sidoarjo sekarang (sekitar 10 km ke sebelah utara baratlaut dari lokasi semburan LUSI sekarang). 

Setelah kerajaan Airlangga pecah menjadi dua pada abad ke-11, yaitu Panjalu (Kediri) dan Jenggala (Kahuripan), dan Kahuripan mundur lalu dianeksasi Kediri, pelabuhan dari Brantas ditarik ke pedalaman di Canggu, dekat Mojokerto sekarang. 

Kemudian, Kediri digantikan Singhasari, lalu akhirnya Kerajaan Majapahit pada tahun 1293 M, pusat kerajaan kembali mendekati laut di Delta Brantas, sehingga Majapahit menjadi kerajaan yang menguasai maritim.
☆☆☆☆☆

Baca Tags Terkait:

Kerajaan Jenggala (Ujung Galuh Di Sidoarjo)

July 19, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Kerajaan Jenggala (Ujung Galuh Di Sidoarjo)
Dibandingkan Dhaha, faktor ekonomi Kerajaan Jenggalatumbuh sangat pesat.

Jenggala menguasai sungai-sungaibermuara termasuk Bandar dagang di Sungai Porong memberikan income yang besar bagi kerajaan.

Selain itu jugamembuat Jenggala lebih di kenal oleh manca Negara karena Bandar dagang peninggalan Airlangga ini (berdasarkan catatan kerajaan China) adalah Bandar dagang kedua terbesar dan ramai setelah Sriwijaya.

Tetapi Bandar dagang ini juga menjadi bibit perselisihan dengan Dhaha yang hanya menguasai sungai tanpa muara.

Sebab bagi Dhaha sangat tergantung dengan hasil Agrokultur ini tidak mempunyai pasar yang cukup memadai bagi hasil buminya, karena pasar besar adalah Jenggala.

Kata Jenggala di percaya berasal dari ucapan salah untuk Ujung Galuh.

Walaupun saat ini Ujung Galuh lebih menunjukkan suatu tempat di Surabaya atau Tuban.

Tetapi untuk hubungan kalimat Jenggala dengan Ujung Galuh bisa dilihat dari catatan Pedagang China yang menuliskan Jenggala dengan Jung-ga-luh.

Misalnya pedagang Chou Ku Fei yang datang pada tahun 982 Saka (1060 M) menuliskan:
Negara asing yang merupakan lumbung padi terbesar saat itu adalah Jung-ga-luh (Jenggala) dan San-fo-tsi (Sriwijaya).
Raja-raja Jenggala di antaranya Lembu Amiluhung (Sri Jayantaka). Sri Jayantaka adalah putra Airlangga dari selir.

Ia mulaimemerintah di Jenggala mulai tahun 1042 M.

Pada masa pemerintahannya, Jenggala mengalami jaman keemasansekaligus jaman kecemasan.

Dikatakan jaman keemasan karena pada masa itu Jenggala mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi dari hasil Bandar Dagang Porong.

Sementara dilain pihak Jenggala juga di cemaskan oleh ancaman serangan oleh Dhaha bila Bandar dagang itu tidak diserahkan ke Dhaha.

Kecemasan itu cukup beralasan mengingat kekuatan militer Dhaha lebih kuat dari pada Jenggala.

Raja lainnya adalah Sri Maharaja Mapanji Garasakan (1044 - 1052).

Pada masa pemerintahan Mapanji Garasakan, kerajaan Jenggala mengalami kemunduran akibat serangan dari Dhaha yang saat itu diperintah oleh Kameswara 1 (Inu Kertapati).

Karena serangan itu pusat kerajaan Jenggala di tarik lebih ke Utara, diperkirakan sekarang berada di daerah Lamongan.

Bukti perpindahan pusat kerajaan itu dapat dilihat padaPrasasti Kembang Putih, Malengga yang ditemukan di daerah Tuban.

Pada periode selanjutnya kerajaan Jenggala beribukotadi Lamongan.

Tibalah Mapanji Alanjung Ahyes berkuasa (1052 - 1059).

Jenggala di bawah Mapanji Alanjung Ahyes tetap berpusat di Lamongan. Pada masa pemerintahan nya sering di lancarakan serangan secara sporadis kepada pendudukan Dhaha.

Sri Samarotsaha adalah raja Jenggala terakhir sebelumkerajaan itu hilang dari pengamatan sejarah. Pusat kerajaantetap di daerah Lamongan.

Setalah tahun 1059 keberadaanJenggala seperti hilang di telan bumi.

Batas kerajaan Jenggala adalah sesuai dengan batas Kerajaan Kahuripan sebelah utara.

Dalam hal ini batas daerah kekuasaan Jenggala meliputi Timur (Bali), Tenggara (Pasuruan), Barat daya (Kudus).

Sebagai sebuah catatan:
Istilah Jenggala pada awalnyaadalah untuk menunjukkan sebuah tempat, Ujung Galuh, dan baru dipakai menjadi nama kerajaan setelah peristiwa pembelahan Kahuripan.

Untuk menentukan di mana letak kutaraja (kraton) Jenggala, tulisan ini menggunakan masa pemerintahan Sri jayantaka sebagai rujukan, yang mana kraton Jenggala ditempatkan di wilayah Sidoarjo.

Adapun pertimbangannya adalah karena pada masa Sri Jayantaka yang Cuma tiga tahun itu, kerajaan Jenggala masih merupakan sebuah struktur pemerintahan yang otonom dan aktif.

Artinya Jenggala pada waktu itu masih punya wilayah, pusat pemerintahan, pusat militer, fasilitas umum dan masih memegang kendali perkembangan Bandar dagang di sungai Porong.

Sedangkan untuk masa setelah Sri Jayantaka, Jenggala lebihberbentuk komunitas-komunitas kecil yang tersebar dibeberapa daerah di Jawa Timur.

Termasuk juga padapemerintahan Mapanji Garasakan dan Alanjung ayes yang masih memimpin perlawanan terhadap Kediri secara sporadis.

Selain merujuk pada masa pemerintahan Sri Jayantaka, fakta lain yang menunjukkan hubungan Sidoarjo dengan jenggala adalah:
1. Pertama, 
Sebuah tulisan dari Kitab Negarakertagama yang menceritakan perjalanan dinas Hayam Wuruk untuk meninjau tiga daerah yang berdekatan yaitu Jenggala, Surabaya dan Bawean.
Adapun kalimat dalam kitabtersebut adalah:
Yen ring Jenggala ki sabha nrpati ring Curabhaya melulus mare Buwun 
(Jika raja berada di Jenggala, beliau pasti mengunjungi Surabaya sebelum ke Bawean).

2. Kedua.
Pada masa pemerintahan Mataram, wilayah Sidoarjo masih di sebut Jenggala.
Contohnya kawedanan di Sidoarjo diistilahkan Jenggala 1, Jenggala 2 dan seterusnya.

3. Ketiga.
Banyaknya cerita rakyat yang berkembang dan peninggalan-peninggalan, misalnya:
Makam Mbok Rondo Dadapan di Desa dadapan Ande-Ande lumut, Tawang alun, Candi Kecana, Candi Sari serta bangunan-bangunan kuno di sepanjang sungai Pepe, Gunung Kalang Anyar dan Gunung Pulungan (sekarang telah jadi perkampungan), adanya makam perkampungan lama di Tawang Alun, ditemukan adanya Arca serta ratusan bangunan lain yang banyak tersebar di wilayah Sidoarjo dan penanggungan.

Dengan beberapa fakta di atas bisa dikatakan bahwa kratonJenggala pada mulanya ada wilayah Sidoarjo.

Pertanyaan selanjutnya adalah:
Di wilayah Sidoarjo sebelah manakah kraton Jenggala berdiri? 
Ada beberapa pendapat yang berlainan mengenai keberadaan kraton Jenggala.

Tulisan ini hanya menghimpun pendapat-pendapat itu.

Menurut buku sejarah Sidoarjo yang di himpun PAPENSE (Panitia Penggalian Sejarah Sidoarjo, tahun 1970), letak kratondari Jenggala berada di sekitar sungai Pepe. Hal ini dibuktikan dengan penemuan beberapa arca di lokasi itu.

Pada saat inilokasi yang diyakini kraton Jenggala itu berada di wilayahKecamatan Gedangan.

Lain halnya dengan Totok Widiardi yang menyatakanbahwa kraton Jenggala berada di sekitar alun-alun.

Tepatnya berada di lokasi yang kini menjadi rumah dinas Bupati Sidoarjo.

Pendapat ini mendasarkan bukti tentang adanya patung katak raksasa dan arca Bathara Ismaya (Semar) yang masih berada di sana hingga tahun 1975.

Sampai saat ini kepastian di mana persis nya posisi kratonJenggala masih misterius.

Karena selain tidak adanya penelitian untuk itu juga belum ditemukannya situs purbakala yang menunjukkan bekas Kraton Jenggala.

Di tambah lagi tidak adanya kitab-kitab peninggalan Jenggala.
☆☆☆☆☆

Baca Tags Terkait:

Dewi Kilisuci Dan Terbelahnya Kerajaan Kahuripan

July 19, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Dewi Kilisuci Dan Terbelahnya Kerajaan Kahuripan
Dewi Kilisuci
Andai Dewi Kilisuci bersedia menjadi ratu di Kahuripan, barangkali sejarah tidak mengenal kerajaan Jenggala. 

Tetapi karena sang dewi lebih tertarik pada kesunyian Gua Selomangleng (Kediri) daripada pesta pora hedonistik istana,maka Ayahnya, Airlangga merasa perlu membagi kerajaanmenjadi dua.

Pembelahan kerajaan Kahuripan bukan saja merubah wajah Jawa secara geografis, tapi juga geopolitik dan ekonomi. Pusat pemerintahan yang sebelumnya ada di satu tempat kini menjadi dua. Hanya sayangnya pusat ekonomi tetap menjadi hak sebuah daerah belahan dari Kahuripan. 

Masing-masing dua daerah belahan Kahuripan ini mempunyai kekuatan dan kelemahan. 

Jenggala, belahan sebelah utara ini kuat dalam ekonomi karena bandar dagang di Sungai Porong termasuk dalam wilayahnya. 

Sedangkan Dhaha (Kediri) yang bercorak agraris ini lebih kuat dalam bidang Yudhagama, olah keperajuritan, militer, bahkan mempunyai pasukan gajah.

Pembelahan kerajaan ini memang pada ujungnya jugamenyisakan sebuah sengketa antar dua pewaris. 

Dimana disalah satu belahan mengalami tingkat perekonomian yangtinggi, sementara di belahan lain tingkat ekonominya sangatminus.

Kedua perbedaan inilah yang menimbulkan sebuah perang yang akan meluluh lantakkan sebuah kerajaan dari muka bumi dan kerajaan itu adalah Jenggala.
Prabu Airlangga mempunyai dua istri yaitu Sri dan Laksmi. 

Keduanya adalah Putri Dharmawangsa Teguh Anantawikrama yang tak lain pamannya sendiri. 

Dari perkawinannya dengan Sri, Prabu Airlangga mendapatkan seorang putri yang bergelar Dewi Kilisuci atau disebut juga Dewi Sanggramawijaya yamg ditetapkan sebagai mahamantri i hino (ialah berkedudukan tertinggi setelah raja). 

Setelah tiba masanya menggantikan Airlangga, ia menolak dan memilih sebagai pertapa. 

Semenjak awal Dewi Kilisuci telah menjalani kehidupansebagai seorang pertapa. 

Rupanya Kesunyian Gua Selomangleng (Kediri) dan Pucangan (gunung Penanggungan), ternyata lebih menarik perhatian sang Putri dari pada Hedonistik Istana
Gua Selomangleng
Dia memutuskan untuk menarik diri dari hiruk pikuk keduniawian, Sehingga ia menolak ketika harus menggantikan Airlangga menjadi ratu di Kahuripan.

Selain Dewi Kilisuci, Airlangga juga mempunyai dua orang bernama:
  1. Lembu Amisena dan 
  2. Lembu Amilihung. 
Keduanya putra dari selir. 

Karena pewaris tahta yang sah tidak bisamenggantikannya, Airlangga merasa perlu membagi kerajaan untuk dipimpin kedua putranya. 

Airlangga Meminta Saran Mpu Bharada
Sebelum Keputusan ini diambil, Airlangga terlebih dahulu meminta saran Mpu Bharada yang menjadi penasehatnya. 

Menurut sang Mpu, membagi kerjaan bukanlah sebuah jalan keluar yang baik, sebab dikhawatirkan akan timbul perang saudara antar putra Airlangga.

Kemudian Mpu Bharada menyarankan agar salah satu putra Airlangga memerintah di Bali, karena masih punya darah dengan Udayana (ayah Airlangga). 

Saran Mpu Bharada diterima oleh Airlangga dan segera mengutusnya ke Bali. 

Perundingan Mpu Bharada dengan Mpu Kuturan Si Bali
Di sana Mpu Bharada melakukan perundingan dengan Mpu Kuturan, seorang pandita tinggi. 

Tetapi usul Airlangga itu ditolak Mpu Kuturan karena yang bisa menjadi Raja Bali adalah keturunan Mpu Kuturan sendiri. 

Merasa menemukan jalan buntu, Mpu Bharada kembali ke Kahuripan.

Pembagian Kerajaan Kahuripan
Berdasarkan dua petimbangan di atas, maka Airlangga melaksanakan pembelahan kerajaan Kahuripan 1042. 

Proses pembagian kerajaan itu menjadikan Kahuripan menjadi Dua. 

Di Kahuripan bagian Utara berdiri Kerajaan Jenggala yang dipimpin Lembu Amiluhung yang bergelar Sri Jayantaka, sedangkan di bagian Selatan berdiri Kerajaan Dhaha yang dipimpin Lembu Amisena yang bergelar Sri Jaya Warsa

Mpu Prapanca
Peristiwa pembelahan ini dicatat oleh Mpu Prapanca dalam kitabnya Negarakertagama. 

Alasan pembagian kerajaan dilukiskan Oleh Mpu Prapanca sebagai berikut:
Demikian lah sejarahJawa menurut tutur yang dipercaya. Kisah Jenggala Nata di Kahuripan dan Sri Nata Kahuripan di Dhaha (Kediri). Waktubumi Jawa di belah karena cintanya pada kedua putranya.

Sedangkan sosok tokoh pelaksana pembagian itu, Mpu Bharada, dilukiskan sebagai berikut: 
Mpu Bharada nama beliau, adalah pendeta Budha Mahayana yang telah putus ilmu Tantrayananya, bersemedi di lemah Tulis gunumg Prawito (penanggungan). Ia dikenal sebagai pelindung rakyat dankemana-mana selalu jalan kaki.

Kemudian Mpu Prapanca juga mencatat proses pembagiankerajaan itu sebagai berikut: 
Beliau menyanggupi permintaanRaja untuk membelah kerajaan. Tapal batas dua bakal kerajaan itu di tandai dengan kucuran air dari kendi yang dibawanya terbang ke langit. Dalam kitab ini Mpu Prapanca juga menuliskan sebuah peristiwa kecil yang menimpa Mpu Bharada dalam pekerjaannya: Turun dari langit sang Mpu berhenti di bawah pohon Asam. Kendi Suci di taruh di desa Palungan (sekarang wilayah Gempol). Karena jubahnya tersangkut pohon Asam, marahlan sang Mpu, dan beliau mengutuk pohon Asam itu kerdil untuk selamanya.

Air kucuran kendi itu membuat garis demarkasi untuk kedua kerajaan. 

Mengenai garis itu Negara Kertagama menulis: 
Tapal batas Negara adalah Gunung Kawi sampai dengan aliran sungai Poro (Poro : porong, jawa kawi; dibagi). Itulah tugu gaib yang tidak bisa mereka lalui. Maka dibangunkah Candi Belahan (Sumber Tetek) sebagai prasasti di belahnya Kahuripan. Semoga Baginda tetap teguh, tegak dan berjaya dalam memimpin Negara.

Moksa Airlangga
Candi Belahan
Airlangga turun tahta setelah pembelahan Kahuripan. 

Dua kerajaan baru yang berdiri di atas Kahuripan telah dipimpin oleh putra-putranya. Seperti adat leluhurnya, ia pun lengser keprabon madeg mandita (turun tahta dan hidup seperti pendeta).

Dalam upayanya meninggalkan keduniawian ini ia memilih Gunung Penanggungan dan Gunung Arjuna. 

Selain meninggalkan tahta, ia juga menanggalkan gelarnya. 
Arca Situs Tetek
Sebagai gantinya Airlangga menggunakan nama-nama yang menunjukkan kesiapannya menuju samsara.

Di Daerah Gunung Penanggungan inilah Airlangga dikenal se bagai Resi Jatinindra dan di Gunung Arjuna ia memakai nama Bega wan Mintaraga

Selain itu Airlangga juga dikenal sebagai Resi Gentayu, sebua ungkap an yang berasal dari kata Jatayu (burung Garuda yang menyelamatkan Sintha dalam cerita epos Ramayana). Tujuh tahun kemudian (1049 M) Airlangga wafat.

Jenazahnya diperabukan di Candi Belahan (Sumber Tetek) disana ia diarcakan sebagai Wisnu yang menunggang garuda. 
Arca itu di sebut Garudamukha.
☆☆☆☆☆

Baca Tags Terkait: