Showing posts with label Prasasti. Show all posts
Showing posts with label Prasasti. Show all posts

Prasasti Canggal

July 23, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Prasasti Canggal
Prasasti Canggal (juga disebut Prasasti Gunung Wukir atau Prasasti Sanjaya) adalah prasasti dalam bentuk candra sengkalaberangka tahun 654 Saka atau 732 Masehi yang ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir di desa Kadiluwih, kecamatan Salam, Magelang, Jawa Tengah.

Prasasti yang ditulis pada stela batu ini menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta. Prasasti dipandang sebagai pernyataan diri Raja Sanjaya pada tahun 732 sebagai seorang penguasa universal dari Kerajaan Mataram Kuno.

Prasasti ini menceritakan tentang pendirian lingga (lambang Siwa) di desa Kunjarakunja oleh Sanjaya. Diceritakan pula bahwa yang menjadi raja mula-mula adalah Sanna, kemudian digantikan oleh Sanjaya anak Sannaha, saudara perempuan Sanna.

Terjemahan bebas isi prasasti adalah sebagai berikut:
Bait 1 : 
Pembangunan lingga oleh Raja Sanjaya di atas gunung
Bait 2-6 : 
Pujaan terhadap Dewa Siwa, Dewa Brahma, dan Dewa Wisnu
Bait 7 : 
Pulau Jawa yang sangat makmur, kaya akan tambang emas dan banyak menghasilkan padi. Di pulau itu didirikan candi Siwa demi kebahagiaan penduduk dengan bantuan dari penduduk Kunjarakunjadesa.
Bait 8-9 : 
Pulau Jawa yang dahulu diperintah oleh raja Sanna, yang sangat bijaksana, adil dalam tindakannya, perwira dalam peperangan, bermurah hati kepada rakyatnya. Ketika wafat Negara berkabung, sedih kehilangan pelindung.
Bait 10-11 :
Pengganti raja Sanna yaitu putranya bernama Sanjaya yang diibaratkan dengan matahari. Kekuasaan tidak langsung diserahkan kepadanya oleh raja Sanna tetapi melalui kakak perempuannya (Sannaha)
Bait 12 :
Kesejahteraan, keamanan, dan ketentraman Negara. Rakyat dapat tidur di tengah jalan, tidak usah takut akan pencuri dan penyamun atau akan terjadinya kejahatan lainnya. Rakyat hidup serba senang.

Kunjarakunja-desa dapat berarti tanah dari pertapaan Kunjara, yang diidentifikasikan sebagai tempat pertapaan Resi Agastya, seorang maharesi Hindu yang dipuja di India selatan. Dalam epik Ramayana, diceritakan bahwa Rama, Sinta, dan Laksmana mengunjungi pertapaan Agastya di gunung Kunjara.
☆☆☆☆☆

Baca Tags Terkait:

Prasasti Mantyasih

July 23, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Prasasti Mantyasih
Prasasti Mantyasih, juga disebut Prasasti Balitung atau Prasasti Tembaga Kedu, adalah prasasti berangka tahun 907 M yang berasal dari Wangsa Sanjaya, kerajaan Mataram Kuno. 

Prasasti Mantyasih ini ditemukan di kampung Mateseh, Magelang Utara, Jawa Tengah dan memuat daftar silsilah raja-raja Mataram sebelum Raja Balitung. Prasasti ini dibuat sebagai upaya melegitimasi Balitung sebagai pewaris tahta yang sah, sehingga menyebutkan raja-raja sebelumnya yang berdaulat penuh atas wilayah kerajaan Mataram Kuno.

Dalam prasasti juga disebutkan bahwa desa Mantyasih yang ditetapkan Balitung sebagai desa perdikan (daerah bebas pajak). 

Di kampung Meteseh saat ini masih terdapat sebuah lumpang batu, yang diyakini sebagai tempat upacara penetapan sima atau desa perdikan. Selain itu disebutkan pula tentang keberadaan Gunung Susundara dan Wukir Sumbing (sekarang Gunung Sindoro dan Sumbing).

Kata "Mantyasih" sendiri dapat diartikan "beriman dalam cinta kasih".

Silsilah Raja
Prasasti ini bertarikh 828 Saka, bagian yang memuat silsilah raja adalah pada bagian B baris 7-9:
  • ta < 7 > sak rahyang ta rumuhun. sirangbăsa ing wanua. sang mangdyan kahyaňan. sang magawai kadatwan. sang magalagah pomahan. sang tomanggöng susuk. sang tumkeng wanua gana kandi landap nyan paka çapatha kamu. rahyang
  • < 8 > ta rumuhun. ri mdang. ri poh pitu. rakai mataram. sang ratu sańjaya. çri mahǎrǎja rakai panangkaran. çri mahǎrǎja rakai panunggalan. çri mahǎrǎja rakai warak. çri mahǎrǎja rakai garung. çri mahǎrǎja rakai pikatan
  • < 9 > çri mahǎrǎja rakai kayuwańi. çri mahǎrǎja rakai watuhumalang. lwiha sangkā rikā landap nyān paka çapatha çri mahǎrǎja rakai watukura dyah dharmmodaya mahāçambhu.
Penafsiran Prasasti
Sriwijaya, de Sailendrawamsa en de Sanjayawamsa (1952) 
Bosch dalam karyanya Sriwijaya, de Sailendrawamsa en de Sanjayawamsa (1952) berpendapat bahwa di Kerajaan Medang dua dinasti yaitu Wangsa Sanjaya dan Wangsa Sailendra sama-sama berkuasa. 

Wangsa Sanjaya didirikan oleh Sanjaya, pendiri Kerajaan Medang yang beragama Hindu Siwa. Maharaja selanjutnya ialah Rakai Panangkaran, yang menurutnya dikalahkan oleh Wangsa Sailendra. 

Maka di Medang terdapat Wangsa Sanjaya berkuasa di utara Jawa dan Wangsa Sailendra berkuasa di selatan Jawa. 

Namun Putri Maharaja Samaratungga dari Wangsa Sailendra yang bernama Pramodawardhani menikah dengan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya, yang kemudian mewarisi takhta mertuanya dan Wangsa Sanjaya pun berkuasa kembali di Medang.

Bosch berasumsi bahwa gelar rakaiadalah nama silsilah wangsa.

Daftar silsilah raja-raja Wangsa Sanjaya berdasarkan prasasti Mantyasih menurut Bosch, adalah:
  1. Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya,
  2. Sri Maharaja Rakai Panangkaran,
  3. Sri Maharaja Rakai Panunggalan,
  4. Sri Maharaja Rakai Warak,
  5. Sri Maharaja Rakai Garung,
  6. Sri Maharaja Rakai Pikatan,
  7. Sri Maharaja Rakai Kayuwangi,
  8. Sri Maharaja Rakai Watuhumalang, dan
  9. Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Dharmmodaya Mahasambhu.
Pendapat Slamet Muljana
Pendapat berbeda diberikan oleh Slamet Muljana. 

Ia berpendapat daftar tersebut bukanlah silsilah Wangsa Sanjaya, melainkan daftar raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Medang. 

Gelar Rakaimenurutnya berarti penguasa atau pejabat di daerah atau raja bawahan yang masih mempunyai hubungan keluarga dengan maharaja yang masih bertahta. 

Ia pun memperbandingkan isi prasasti Mantyasih dengan:
  1. prasasti Kelurak, 
  2. prasasti Kayumwungan, 
  3. prasasti Siwagraha, dan 
  4. prasasti Nalanda; 
dan berpendapat bahwa Rakai Panangkaran, Rakai Panunggalan, Rakai Warak, dan Rakai Garung adalah dari Wangsa Sailendra, karena Maharaja Rakai Panangkaran Dyah Pancapana sendiri bergelar Sailendrawamsatilaka (Permata Wangsa Sailendra).
☆☆☆☆☆
Baca Tags Terkait:

Prasasti Wanua Tengah III

July 23, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Prasasti Wanua Tengah III
Prasasti Wanua Tengah III adalah prasasti dari tahun 908 M pada zaman Kerajaan Mataram Kuno, yang ditemukan November 1983. Prasasti ini di sebuah ladang di Dukuh Kedunglo, Desa Gandulan, Kaloran, sekitar 4 km arah timur laut Kota Temanggung. Prasasti Prasasti Wanua Tengah III ini disimpan di Balai Arkeologi Yogyakarta.

Di dalam prasasti ini dicantumkan daftar lengkap dari raja-raja yang memerintah bumi Mataram pada masa sebelum pemerintahan Raja Rake Watukara Dyah Balitung. Prasasti ini dianggap penting karena menyebutkan 12 nama raja Mataram, sehingga melengkapi penyebutan dalam Prasasti Mantyasih (atau nama lainnya Prasasti Tembaga Kedu) yang hanya menyebut 9 nama raja saja.

Prasasti Wanua Tengah III ini terdiri dari dua lempengan, pertama dengan ukuran 53,5 x 23,5 cm dan ketebalan kira-kira 2,5 mm, kedua dengan ukuran 56 x 26 cm dan ketebalan sama. Keduanya adalah lempengan tembaga. Lempeng pertama ditulisi satu sisi saja dengan tulisan 17 baris, sedangkan lempeng kedua tulisi bolak-balik, masing-masing 26 dan 18 baris.

Lokasi Prasasti Wanua Tengah III
Prasasti Wanua Tengah III ditemukan di sebuah ladang di Dukuh Kedunglo, Desa Gandulan, Kaloran, sekitar 4 km arah timur laut Kota Temanggung, Jawa Tengah.
Perbedaan Prasasti Mantyāsih 
Pada prasasti Mantyāsih menyebut delapan orang raja yang pernah memerintah Mědang di Wilayah Poh Pitu.

Kedelapan orang raja ini bergelar çri maharaja kecuali Sanjaya yang bergelar Sang Ratu.

Berdasarkan isi prasasti Mantyāsih, nama kerajaan yang didirikan oleh Sanjaya yang ditandai dengan pendirian lingga di atas gunung dalam prasasti Canggal itu adalah Matarām.

Sanjaya yang bergelar Sang Ratu Mataram tampak berdiri sebagai pendiri kerajaan (the founding father) terlebih dengan posisinya yang berada di puncak daftar nama-nama raja yang pernah memerintah di wilayah Poh Pitu, termasuk pada prasasti Mantyāsih serta prasasti Wanua Těngah III.

Adapun daftar raja yang tercantum dalam prasasti Mantyāsih adalah sebagai berikut:
1. Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya
2. Rakai Panangkaran Dyah Sangkhara
3. Rake Panunggalan
4. Sri Maharaja Rakai Warak
5. Rake Garung
6. Rake Pikatan Dyah Saladu
7. Rake Kayu Wangi Dyah Lokapala
8. Sri Maharaja Watuhumalang
9. Rake Watukara Dyah Balitung

Sedangkan daftar raja-raja yang tercantum dalam prasasti Wanua Těngah III yang berangka tahun 830 Saka (903 M) adalah sebagai berikut:
No
Nama
Naik Tahta
1
Rakai Panangkaran
746-784 M
2
Rake Panaraban
784-803 M
3
Rake Warak Dyah Manara
803-827 M
4
Dyah Gula
827-828 M
5
Rake Garung
828-847 M
6
Rake Pikatan Dyah Saladu
847-855 M
7
Rake Kayuwangi Dyah Lokapala
855-885 M
8
Dyah Tagwas
885 M
9
Rake Panumwangan Dyah Dewendra
885-887 M
10
Rake Gurunwangi Dyah Badra
887 M
11
Rake Wungkalhumalang dyah Jbang
894-898 M
12
Rake Watukara Dyah Balitung
898-908 M
Ada empat raja yang tidak disebutkan dalam prasasti Mantyāsih, yaitu:
  1. Dyah Gula (5 Agustus 827-24 Januari 828 M), 
  2. Dyah Tagwas (5 Februari-27 Sebtember 885 M), 
  3. Rake Panumwangan Dyah Dewendra (27 September 885-27 Januari 887),  dan
  4. Rake Gurunwangi Dyah Bhadra yang hanya menjadi raja selama 28 hari sebelum melarikan diri dari keratonnya.
Perbedaan daftar nama-nama raja dalam prasasti Mantyāsih disebabkan oleh perbedaan latar belakang dikeluarkannya prasasti.

Prasasti Mantyāsih diterbitkan dalam rangka melegitimasikan dirinya sebagai pewaris takhta yang sah, sehingga yang disebutkan hanya raja-raja yang berdaulat penuh atas seluruh wilayah kerajaan.

Dyah Gula, Dyah Tagwas, Rake Panumwangan Dyah Dewendra, Rake Gurunwangi Dyah Bhadratidak dimasukkan dalam daftar karena mereka tidak berdaulat penuh atas wilayah kerajaan Matarām Kuno.

Hal ini dapat dilihat dari singkatnya masa pemerintahan mereka.

Sedangkan prasasti Wanua Těngah III sikeluarkan sehubungan dengan perubahan-perubahan status sawah sebagaisîma di Wanua Těngah, sehingga semua penguasa yang mempunyai sangkut paut dengan perubahan status sawah disebutkan.

Nama Sanjaya sebagai cikal bakal kerajaan Matarām Kuno pun tidak disebutkan karena status sawah di Wanua Těngah III sebagai sîma baru dimulai pada masa pemerintahan Rake Panangkaran.
☆☆☆☆☆

Baca Tags Terkait: