Showing posts with label Mataram Islam. Show all posts
Showing posts with label Mataram Islam. Show all posts

Peristiwa mengerikan di istana Mataram Kartasura di awal abad 18 Masehi.

July 19, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Peristiwa mengerikan di istana Mataram Kartasura di awal abad 18 Masehi.
Satu ilustrasi dalam buku J.H. Maronier, Pictures of the Tropics, memberi gambaran peristiwa mengerikan di istana Mataram Kartasura di awal abad 18 Masehi. Susuhunan Amangkurat III (bertakhta 1703-1708) , yang juga dikenal sebagai Amangkurat Mas, menitahkan sekaligus menyaksikan eksekusi mati permaisurinya, Raden Ayu Lembah (Kanjeng Ratu Lembah).

Sang ratu, putri Pangeran Puger yang kelak menjadi raja Mataram bergelar Sunan Pakubuwono I, dibunuh bersama kekasih gelapnya, Raden Sukro, putra Adipati Sindurejo. Lembah dibunuh oleh saudara laki-lakinya sendiri dengan seutas jarik mencengkeram lehernya. Ia mati terbunuh bersama dengan para embannya di kaputren yang dilemparkan telanjang di kandang macam untuk jadi santapan harimau-harimau Jawa.

Ilustrasi yang aslinya dibuat pelukis Jawa-Tionghoa pada 1703 di keraton Kartasura itu menunjukkan muka bengis Sunan Mas, dibawah payung emas, yang tampak puas atas keputusannya itu.

Sementara Babad Tanah Jawi memberi kisah sedikit berbeda dan penuh haru (W.L. Oltholf, 2011: 548-554). Pembunuhan atas Raden Ayu Lembah justru dititahkan oleh ayahnya sendiri, Pangeran Puger, di ndalem Pugeran.

Sunan Mas belumlah menjadi raja dan masih menjadi Adipati Anom (putra mahkota). Ia membuat surat aduan kepada Puger, pamannya, bahwa anak perempuan Puger yang telah dinikahinya itu telah minggat serta selingkuh dengan Raden Sukro.

Puger marah ketika mendapati anak perempuannya itu menyimpan surat kekidungan kiriman Raden Sukro dan segera menitahkan pembunuhan. Raden Sudiro dan adiknya, Raden Ontowiryo, segera diutus Puger untuk membunuh kakaknya itu. Mereka ragu menjalankan perintah ini hingga Ontowiryo harus bolak-balik menghadap ayahnya untuk mengubah keputusan itu.

Tapi keinginan Puger sudah jelas, barangsiapa tak mau melaksanakan titahnya akan kena kutukan. Raden Sudiro, Ontowiryo dan Ayu Lembah menangis. Mereka saling berpelukan sebagai tanda perpisahan.

Lembah mempersiapkan diri menyambut kematiannya. Ia mandi, berdandan dan memakai wewangian lalu duduk menutup muka. Adik-adiknya segera menjerat lehernya dengan kain. Yang lain memegangi tangan dan kaki Lembah. Dengan semakin kencangnya ikatan kain diiringi dengan airmata yang keluar dari mata adik-adiknya, nyawa Raden Ayu Lembah lenyap.

Sekalipun gambaran-gambaran yang diberikan sedikit berbeda, karena Babad Tanah Jawi mengabarkan secara terpisah pembunuhan Raden Sukro yang ditusuk keris beramai-ramai di ndalem Sindurejan oleh para algojo Sunan Amangkurat II, tetapi semuanya tetaplah sama: cinta terlarang Raden Ayu Lembah dan Raden Sukro dianggap aib yang amat memalukan kalangan istana Kartasura. Hubungan mereka dianggap sebagai satu tindak pembangkangan hingga kematian mereka menjadi satu keputusan yang dianggap benar.

Tubuh Raden Ayu Lembah yang sudah tak lagi bernyawa itu segera dibawa dan dibenamkan di pasareyan Banyusumurup. Itulah satu tempat dimana priyayi-priyayi Mataram, hingga penerusnya di Yogyakarta dan Surakarta, tak pernah sudi dimakamkan di sana.

Tempat terakhir kaum kraman
Babad Alit, terutama bagian yang banyak menjelaskan tentang makam Mataram, menyebut bahwa "semua yang dimakamkan di sana, merupakan orang-orang yang telah berbuat dosa terhadap raja" (R. Prawira Winarsa dan Raden Ngabei Jayeng Pranata, 1921: 34). Banyusumurup menjadi pemakaman khusus (pasareyan mirunggan). Tak dapat dipastikan sejak kapan Banyusumurup menjadi tempat pemakaman para "pendosa" Mataram.

Pembangunannya tak juga pernah diberitakan secara khusus seperti dua pemakaman di sebelah utara: makam raja-raja Imogiri yang dibangun Susuhunan Hanyakrakusumo (Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo, bertahta 1613-1646) serta yang lebih tua, pemakaman Giriloyo, yang ditempati pertama kali oleh jasad Panembahan Juminah, paman Sultan Agung.

Para "pendosa" raja yang berada di Banyusumurup umumnya para pejabat tinggi, atau keluarga raja, yang dianggap tak dikehendaki, atau mereka yang memberontak (kraman). Dengan demikian, Banyusumurup menjadi semacam monumen pengingatan kebencian-kebencian penguasa Mataram, dan penerusnya, terhadap siapa saja di kalangan istana yang dianggap "musuh".

Di sisi lain,pasareyanBanyusumurup sekaligus juga sebagai penanda kekejaman-kekejaman penguasa Mataram, berikut penerusnya, terutama Kasultanan Yogyakarta, terhadap orang-orang yang tidak diinginkan.

De Graaf dalam Puncak Kekuasaan Matarammencatat kisah Raden Aryo Wirokusumo, putra Panembahan Juru Kiting. Kisah tradisi mencatat namanya sebagai Raden Mas Sasmitro Sastro (H.J. de Graaf, 1990: 90). Keluarganya masyur sebagai trah Mondorakan, keluarga patih pertama Mataram, Kyai Mondoroko (Ki Juru Mertani). Kyai Mondoroko bertempat di Gambiran dan tampaknya diberi hak memimpin "kota lama" Kutha Gede selepas Sultan Agung memindahkan ibukota Mataram lebih ke selatan, Karta.

Juru Kiting punya jasa besar dalam penaklukan Madura pada 1624. Sasmitro Sastro dianggap sebagai cikal bakal juru kunci Imogiri, tetapi ia dikuburkan--tidak di Imogiri maupun di Gambiran--di Banyusumurup. De Graaf memberi alasannya mengapa Sasmitro Sastro "terlempar" ke Banyusumurup: mungkin karena ada kaitan dengan tingkah polah kerabatnya dari trah Mondorakan yang lain, Adipati Mandurorejo dan Upo Sonto.

Nama yang pertama dicurigai ikut terlibat dalam pemberontakan Pajang pada 1617. Kedua-duanya akhirnya dihukum mati, melalui tangan Tumenggung Suro Agul-agul, oleh Sultan Agung pada 1 Desember 1628, saat pasukan Mataram gagal merebut benteng Batavia pada fase pertama.

Kisah kerabat keraton Mataram yang terkubur di Banyusumurup dan paling tragis adalah kisah pembantaian keluarga Pangeran Pekik. Pekik merupakan adik ipar Sultan Agung. Ia juga mertua Susuhunan Amangkurat Agung (Amangkurat I, bertahta 1646-1677). Sekaligus ia adalah kakek Adipati Anom yang akhirnya menjadi Amangkurat Amral/Amangkurat II (bertahta 1677-1703).

Posisinya yang penting di keraton Mataram tak menjamin keselamatan jiwanya berikut keluarganya.

Satu berita dari Daghregister(catatan harian) Batavia tertanggal 7 Maret 1659, seperti dikutip de Graaf dalam Runtuhnya Istana Mataram, mengabarkan bahwa Susuhunan "telah menyuruh bunuh dengan keris Pangeran Surabaya [...] bapak mertua dan iparnya, dan juga kakak perempuannya dan anak perempuannya yang dikawininya, beserta tujuh orang putra-putranya di Mataram" (H.J. de Graaf, 1987:6).

Tanpa pengusutan terlebih dahulu, selepas Susuhunan Amangkurat Agung mendengar laporan bahwa Pangeran Pekik memimpin komplotan percobaan pembunuhan Susuhunan, petinggi-petinggi istana dikirim ke rumah Pekik dengan tujuan mempersembahkan kepala-kepala komplotan gelap itu di hadapan Susuhunan.

Perwakilan VOC di Jepara, Evert Michielsen, melaporkan pembunuhan itu terjadi pada 21 Februari 1659 dan lebih dari 60 orang terbunuh. Amangkurat Agung belum puas. Ia masih memburu keluarga Pekik yang lain, seperti Raden Sejonopuro.

Selepas tahun 1659, Amangkurat terus memburu petinggi istana yang dicurigainya. Tindakan Susuhunan membikin gempar istana, juga Kumpeni. Michielsen, dengan muak dan ketakutan, menulis "Semoga pada suatu saat ia jenuh mengalirkan darah orang" (H.J. de Graaf, 1987: 11).

Tampaknya harapan itu tak terwujud karena pada akhir 1669, paman Susuhunan sendiri, Pangeran Silarong, akhirnya juga dibunuh karena pernah dianggap "mencoba bersikap lebih berkuasa daripada Sri Baginda" (H.J. de Graaf, 1987: hlm.32). Jasadnya segera diistirahatkan di Banyusumurup yang suram.

Sementara jasad-jasad keluarga Pekik yang terbunuh terlebih dahulu juga dikirim ke Banyusumurup. Kemungkinan sejak jenazah keluarga Pekik dimakamkan di sana, pasareyanBanyusumurup secara resmi digunakan sebagai tempat terakhir kaum kraman beristirahat. Makam Pangeran Pekik berikut kerabatnya menjadi makam-makam utama, tetapi mereka bukan yang terakhir.

Semenjak keraton Plered jatuh ke tangan aliansi Trunajaya-keluarga Kajoran pada 28 Juni 1677, serta Amangkurat II telah naik takhta dan membangun keraton barunya di alas Wonokerto (Kartasura), gangguan-gangguan kaum kraman masih terus berlanjut. Selepas terbunuhnya ulama-ningrat karismatik Panembahan Romo di Melambang (Wonogiri) oleh pasukan Jan Albert Sloot pada 14 September 1679, keluarga Kajoran masih melakukan perlawanan untuk meruntuhkan kuasa Amangkurat II di Kartasura hingga akhir tahun 1683 (H.J. de Graaf, 1987/88: 97-99).

Orang-orang Kajoran pimpinan Raden Kartonadi -keponakan Panembahan Romo- serta Raden Kartonegoro -anak Panembahan Romo- menggabungkan diri dengan pasukan-pasukan pimpinan Kyai Wonokusumo (keturunan Giring-Tembayat) di pegunungan selatan. Perlawanan mereka akhirnya dapat dipadamkan oleh Susuhunan dibantu Kumpeni.

Raden Kartonadi beserta Raden Kartonegoro yang semakin terdesak, akhirnya terbunuh pada Juni 1683. Sementara pada November 1683, perlawanan Kyai Wonokusumo juga telah padam, sekalipun berita tentang sisa-sisa laskarnya masih terdengar hingga 1685.

Jasad-jasad para pemimpin kaum pemberontak yang tersisa itu, Raden Kartonadi dan Kartonegoro, disemayamkan di Banyusumurup. Raden Wirokusumo -anak Panembahan Romo yang lain0 serta Kyai Wonokusumo juga dimakamkan di Banyusumurup karena nama-nama itu ada dalam daftar nama "penghuni" Banyusumurup.

Mereka yang dipulihkan
Bukan berarti bahwa seluruh "pembangkang" yang menghuni Banyusumurup harus berada di tempat yang muram itu selamanya. Ada koreksi yang dilakukan para penguasa, terutama keraton Kasultanan Yogyakarta, atas apa yang telah dilakukan terhadap petinggi-petinggi keraton yang dibenci.

Hingga awal abad 19, Banyusumurup masih dipergunakan Sultan Hamengkubuwono II (dikenal juga sebagai Sultan Sepuh, bertahta 1792-1810; 1811-12; 1826-28).

Peter Carey dalam Kuasa Ramalan, menyebutkan petinggi-petinggi keraton Kasultanan Yogyakarta mengalami nasib buruk: terbunuh lalu jasadnya "ditanam" di Banyusumurup. Di keraton, dua petinggi yang masuk golongan Karajan(para pendukung putra mahkota) harus menemui ajal terlalu dini akibat kemarahan Sultan Hamengkubuwono II.

Raden Adipati Danurejo II, patih Yogyakarta (menjabat 1799-1811) yang masih berusia 39 tahun, pada 28 Oktober 1811 dipanggil ke keraton lalu diringkus oleh tujuh pejabat tinggi istana atas suruhan Sultan. Lehernya dijerat dengan kain putih hingga mati. Dengan diam-diam, jasadnya lalu "dibuang" ke Banyusumurup.

Nasib serupa menimpa ayah sang patih, Raden Tumenggung Danukusumo I. Ia sesungguhnya penasehat Sultan dan pernah menjabat panglima pasukan kasultanan di Srondol (Semarang).

Tetapi karena kebencian Sultan yang tak bisa diredam, Danukusumo yang awalnya diasingkan ke Pacitan pada 15 Januari 1812, akhirnya dibunuh di sebuah langgar di tepi jalan. Mayatnya, yang telah dikuburkan, dibawa kembali ke Yogyakarta untuk mengalami nasib yang tak lebih baik: jasadnya akhirnya juga dimakamkan di Banyusumurup.

Kisah yang paling tragis adalah kisah pemberontakan Raden Ronggo Prawirodirdjo III, Bupati Wedono Madiun (menjabat 1796-1810). Menantu Sultan Hamengkubuwono II yang masih berusia 31 tahun dan karismatik ini harus menemui ajal akibat ketegangan Sultan dengan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.

Ia memberontak untuk "menyingkirkan kecemaran dari Jawa" (Peter Carey, 2011:285) saat pergi meninggalkan keraton Yogyakarta pada 21 November 1810. Dukungan-dukungan yang diharapkannya tak pernah didapatkan dan belum genap sebulan, Raden Ronggo bersama wakilnya, Tumenggung Sumonegoro, terbunuh di tepi kali Bengawan Solo pada 17 Desember 1810.

Jasad keduanya dimandikan dan dibungkus kain putih, lalu dibawa ke Yogyakarta untuk dipermalukan. Pada 21 Desember, dalam sebuah keranda terbuka yang digantungkan, jasad Raden Ronggo dan Sumonegoro dipertontonkan di muka umum di Pangurakan Alun-alun Utara, layaknya mayat kaum kriminal pendosa yang dipertontonkan.

Sehari setelahnya, kedua tubuh tak bernyawa itu dibawa ke "pekuburan para pengkhianat". Mungkin kepala Raden Ronggo dipenggal karena Babad Alitmenyebut kotak bekas tempat menaruh kepala Raden Ronggo tersimpan di Banyusumurup.

Keabadian memang tak menyapa ketiga petinggi keraton Yogyakarta itu di Banyusumurup. Nama baik Tumenggung Danukusumo I terlebih dahulu dipulihkan dengan pemindahan jasadnya pada 27 November 1812 ke pemakaman keluarga di Melangi atas perintah Sultan Hamengkubuwono III (bertahta 1810-11; 1812-14).

Sementara anaknya, Raden Adipati Danurejo II baru dipulihkan namanya oleh Sultan Hamengkubuwono IV (bertahta 1814-1822). Sisa-sisa jasadnya dipindahkan ke makam Melangi pada 11 Mei 1865.

Sementara sisa-sisa kerangka Raden Ronggo Prawirodirdjo III baru dipindahkan dari Banyusumurup pada 1957 atas perintah Sultan Hamengkubuwono IX (1939-1988). Jasad Raden Ronggo akhirnya bersatu dengan jasad istri yang amat dikasihinya, Ratu Maduretno, di Gunung Bancak dekat Maospati, setelah lebih dari satu abad terpisah.

Ingatan tentang pasareyan Banyusumurup nampaknya akan selalu sama sejak tempat itu dijadikan pemakaman khusus bagi kalangan keraton Mataram dan penerusnya: tempat para "pendosa-pendosa" Mataram harus dibenamkan.

Bahkan, dimasa Perang Jawa, juru kunci Banyusumurup, Kyai Semangun, berhubungan dengan Pangeran Diponegoro. Satu hubungan yang mempertegas tempat ini sebagai tempat "pembangkangan".

Akhirnya, fungsi tempat ini jauh berlainan dengan makna magis namanya, Banyusumurup, yang berarti "air yang bercahaya". Di sana, jasad-jasad yang terkubur itu justru mengalami nasib yang suram dan menyedihkan.
☆☆☆☆☆

Baca Tags Terkait:

Perang Diponegoro: The Java War, De Java Oorlog adalah perang besar dan berlangsung selama lima tahun (1825-1830)

May 24, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Perang Diponegoro: The Java War, De Java Oorlog adalah perang besar dan berlangsung selama lima tahun (1825-1830)
Perang Diponegoro yang juga dikenal dengan sebutan Perang Jawa (Inggris: The Java War, Belanda: De Java Oorlog adalah perang besar dan berlangsung selama lima tahun (1825-1830)) di Pulau Jawa, Hindia Belanda (sekarang Indonesia). 
Perang ini merupakan salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama masa pendudukannya di Nusantara, melibatkan pasukan Belanda di bawah pimpinan Jenderal Hendrik Merkus de Kock yang berusaha meredam perlawanan penduduk Jawa di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro. 

Akibat perang ini, penduduk Jawa yang tewas mencapai 200.000 jiwa, sementara korban tewas di pihak Belanda berjumlah 8.000 tentara Belanda dan 7000 serdadu pribumi. Akhir perang menegaskan penguasaan Belanda atas Pulau Jawa.

Berkebalikan dari perang yang dipimpin oleh Raden Ronggo sekitar 15 tahun sebelumnya, pasukan Jawa juga menempatkan masyarakat Tionghoa di tanah Jawa sebagai target penyerangan. 

Namun, meskipun Pangeran Diponegoro secara tegas melarang pasukannya untuk bersekutu dengan masyarakat Tionghoa, sebagian pasukan Jawa yang berada di pesisir utara (sekitar Rembang dan Lasem) menerima bantuan dari penduduk Tionghoa setempat yang rata-rata beragama Islam.

Latar Belakang Perperangan
Pemerintahan Daendels dan Raffles (Geger Sepehi)
Perseteruan pihak keraton Jawa dengan Belanda dimulai semenjak kedatangan Marsekal Herman Willem Daendels di Batavia pada tanggal 5 Januari 1808. 

Meskipun ia hanya ditugaskan untuk mempersiapkan Jawa sebagai basis pertahanan Prancis melawan Inggris (saat itu Belanda dikuasai oleh Prancis), tetapi Daendels juga mengubah etiket dan tata upacara yang menyebabkan terjadinya kebencian dari pihak keraton Jawa. 

Ia memaksa pihak Keraton Yogyakarta untuk memberinya akses terhadap berbagai sumber daya alam dan manusia dengan mengerahkan kekuatan militernya, membangun jalur antara Anyer dan Panarukan, hingga akhirnya terjadi insiden perdagangan kayu jati di daerah mancanegara (wilayah Jawa di timur Yogyakarta) yang menyebabkan terjadinya pemberontakan Raden Ronggo. 

Setelah kegagalan pemberontakan Raden Ronggo (1810), Daendels memaksa Sultan Hamengkubuwana II membayar kerugian perang serta melakukan berbagai penghinaan lain yang menyebabkan terjadinya perseteruan antar keluarga keraton (1811). 

Namun, pada tahun yang sama, pasukan Inggris mendarat di Jawa dan mengalahkan pasukan Belanda.

Meskipun pada mulanya Inggris yang dipimpin Thomas Stamford Bingley Raffles memberikan dukungan kepada Sultan Hamengkubuwana II, pasukan Inggris akhirnya menyerbu Keraton Yogyakarta (19-20 Juni 1812) yang menyebabkan Sultan Hamengkubuwana II turun tahta secara tidak hormat dan digantikan putra sulungnya, yaitu Sultan Hamengkubuwana III. 

Perisitwa ini dikenal dengan nama Geger Sepehi. 

Inggris memerintah hingga tahun 1815 dan mengembalikan Jawa kepada Belanda sesuai isi Perjanjian Wina (1814) di bawah Gubernur Jenderal Belanda van der Capellen. Pada masa pemerintahan Inggris, Hamengkubuwana III wafat dan digantikan putranya, adik tiri Pangeran Diponegoro, yaitu Hamengkubuwana IV yang berusia 10 tahun (1814), sementara Paku Alam I menjadi adipati di Puro Kadipaten Pakualaman sekaligus wali Raja sedangkan Patih Danuredjo III bertindak sebagai wali Raja.

Pengangkatan Hamengkubuwana V dan pemerintahan Smissaert
Pada tanggal 6 Desember 1822, Hamengkubuwana IV meninggal pada usia 19 tahun. 

Ratu Ageng (permaisuri Hamengkubuwana II) dan Gusti Kangjeng Ratu Kencono (permaisuri Hamengkubuwana IV) memohon dengan sangat kepada pemerintah Belanda untuk mengukuhkan putra Hamengkubuwana IV yang masih berusia 2 tahun untuk menjadi Hamengkubuwana V serta tidak lagi menjadikan Paku Alam sebagai wali. Pangeran Diponegoro selanjutnya diangkat menjadi wali bagi keponakannya bersama dengan Mangkubumi. Sebagai putra tertua Hamengkubuwana III meskipun bukan dari istri resmi (permaisuri), ia merasa sangat sakit hati dan sempat berpikir untuk bunuh diri karena kecewa. 

Pada tahun 1823, tahta keraton yang seharusnya diduduki wali sultan yang masih balita ternyata ditempati oleh Residen Belanda saat itu, yaitu Smissaert, sehingga sangat melukai hati masyarakat Yogya dan Pangeran Diponegoro, meskipun ada kecurigaan bahwa tindakan Smissaert disebabkan kedua ratu tidak ingin melihat Diponegoro duduk di atas tahta.

Menindaklanjuti pengamatan Van der Graaf pada tahun 1821 yang melihat para petani lokal menderita akibat penyalahgunaan penyewaan tanah oleh warga Belanda, Inggris, Prancis, dan Jerman, van der Capellen mengeluarkan dekret pada tanggal 6 Mei 1823 bahwa semua tanah yang disewa orang Eropa dan Tionghoa wajib dikembalikan kepada pemiliknya per 31 Januari 1824. 

Namun, pemilik lahan diwajibkan memberikan kompensasi kepada penyewa lahan Eropa. Keraton Yogyakarta terancam bangkrut karena tanah yang disewa adalah milik keraton sehingga Pangeran Diponegoro terpaksa meminjam uang kepada Kapitan Tionghoa di Yogyakarta pada masa itu. 

Smissaert berhasil menipu kedua wali sultan untuk meluluskan kompensasi yang diminta oleh Nahuys atas perkebunan di Bedoyo sehingga membuat Diponegoro memutuskan hubungannya dengan keraton. 

Putusnya hubungan tersebut terutama disebabkan tindakan Ratu Ageng (ibu tiri pangeran) dan Patih Danurejo yang pro kepada Belanda. 

Pada 29 Oktober 1824, Pangeran Diponegoro mengadakan pertemuan di rumahnya, di Tegalrejo, untuk membahas mengenai kemungkinan pemberontakan pada pertengahan Agustus. 

Pangeran Diponegoro membulatkan tekad untuk melakukan perlawanan dengan membatalkan pajak Puwasa agar para petani di Tegalrejo dapat membeli senjata dan makanan.

Mulainya Perang
(Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati)
Pada pertengahan bulan Mei 1825, Smissaert memutuskan untuk memperbaiki jalan-jalan kecil di sekitar Yogyakarta. 

Namun, pembangunan jalan yang awalnya dari Yogyakarta ke Magelang melewati Muntilandibelokkan melewati pagar sebelah timur Tegalrejo. 

Pada salah satu sektor, patok-patok jalan yang dipasang orang-orang kepatihan melintasi makam leluhur Pangeran Diponegoro. 

Patih Danurejo tidak memberitahu keputusan Smissaert sehingga Diponegoro baru mengetahui setelah patok-patok dipasang. Perseteruan terjadi antara para petani penggarap lahan dengan anak buah Patih Danurejo sehingga memuncak di bulan Juli. 

Patok-patok yang telah dicabut kembali dipasang sehingga Pangeran Diponegoro menyuruh mengganti patok-patok dengan tombak sebagai pernyataan perang.

Pada hari Rabu, 20 Juli 1825, pihak istana mengutus dua bupati keraton senior yang memimpin pasukan Jawa-Belanda untuk menangkap Pangeran Diponegoro dan Mangkubumi di Tegalrejo sebelum perang pecah. 

Meskipun kediaman Diponegoro jatuh dan dibakar, pangeran dan sebagian besar pengikutnya berhasil lolos karena lebih mengenal medan di Tegalrejo.

Pangeran Diponegoro beserta keluarga dan pasukannya bergerak ke barat hingga Desa Dekso di Kabupaten Kulonprogo, dan meneruskan ke arah selatan hingga keesokan harinya tiba di Goa Selarong yang terletak lima kilometer arah barat dari Kota Bantul. 

Pangeran Diponegoro kemudian menjadikan Goa Selarong, sebuah goa yang terletak di Dusun Kentolan Lor, Guwosari Pajangan Bantul, sebagai basisnya. 

Pangeran menempati goa sebelah Barat yang disebut Goa Kakung, yang juga menjadi tempat pertapaan dia. 

Sedangkan Raden Ayu Retnaningsih (selir yang paling setia menemani Pangeran setelah dua istrinya wafat) dan pengiringnya menempati Goa Putri di sebelah Timur.

Penyerangan di Tegalrejo memulai perang Diponegoro yang berlangsung selama lima tahun. 

Diponegoro memimpin masyarakat Jawa, dari kalangan petani hingga golongan priyayi yang menyumbangkan uang dan barang-barang berharga lainnya sebagai dana perang, dengan semangat "Sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi tekan pati"; "sejari kepala sejengkal tanah dibela sampai mati". 

Sebanyak 15 dari 19 pangeran bergabung dengan Diponegoro. 

Bahkan Diponegoro juga berhasil memobilisasi para bandit profesional yang sebelumnya ditakuti oleh penduduk pedesaan, meskipun hal ini menjadi kontroversi tersendiri.

Perjuangan Diponegoro dibantu Kyai Mojo yang juga menjadi pemimpin spiritual pemberontakan. 

Dalam perang jawa ini Pangeran Diponegoro juga berkoordinasi dengan I.S.K.S. Pakubowono VI serta Raden Tumenggung Prawirodigdoyo Bupati Gagatan.

Perang Sabil
Bagi Diponegoro dan para pengikutinya, perang ini merupakan perang jihad melawan Belanda dan orang Jawa murtad. 

Sebagai seorang muslim yang saleh, Diponegoro merasa tidak senang terhadap religiusitas yang kendur di istana Yogyakarta akibat pengaruh masuknya Belanda, disamping kebijakan-kebijakan pro-Belanda yang dikeluarkan istana.

Infiltrasi pihak Belanda di istana telah membuat Keraton Yogyakarta seperti rumah bordil. 

Di lain pihak, Smissaert menulis bahwa Pangeran Diponegoro semakin lama semakin hanyut dalam fanatisme dan banyak anggota kerajaan yang menganggapnya kolot dalam beragama.

Dalam laporannya, Letnan Jean Nicolaas de Thierry menggambarkan Pangeran Diponegoro mengenakan busana bergaya Arab dan serban yang seluruhnya berwarna putih. 

Busana tersebut juga dikenakan oleh pasukan Diponegoro dan dianggap lebih penting dibandingkan busana adat Jawa meskipun perang telah berakhir. 

Laporan Paulus Daniel Portier, seorang indo, menyebutkan bahwa para tawanan perang Belanda memperoleh ancaman nyawa jika tidak bersedia masuk Islam.

Jalan peperangan
Photo: Peta Mataram Baru setelah Perang Diponegoro pada tahun 1830
Photo: Diponegoro
Photo: Alibasah Sentot

Pertempuran terbuka dengan pengerahan pasukan-pasukan infantri, kavaleri dan artileri (yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal) di kedua belah pihak berlangsung dengan sengit. 

Front pertempuran terjadi di puluhan kota dan desadi seluruh Jawa. 

Pertempuran berlangsung sedemikian sengitnya sehingga bila suatu wilayah dapat dikuasai pasukan Belanda pada siang hari, maka malam harinya wilayah itu sudah direbut kembali oleh pasukan pribumi; begitu pula sebaliknya. 

Jalur-jalur logistik dibangun dari satu wilayah ke wilayah lain untuk menyokong keperluan perang. 

Berpuluh-puluh kilang mesiu dibangun di hutan-hutan dan di dasar jurang. 

Produksi mesiu dan peluru berlangsung terus sementara peperangan sedang berkecamuk. 

Para telik sandi dan kurir bekerja keras mencari dan menyampaikan informasi yang diperlukan untuk menyusun strategi perang. 

Informasi mengenai kekuatan musuh, jarak tempuh dan waktu, kondisi medan, curah hujan menjadi berita utama, karena taktik dan strategi yang jitu hanya dapat dibangun melalui penguasaan informasi.

Serangan-serangan besar rakyat pribumi selalu dilaksanakan pada bulan-bulan penghujan; para senopati menyadari sekali untuk bekerja sama dengan alam sebagai "senjata" tak terkalahkan. 

Bila musim penghujan tiba, gubernur Belanda akan melakukan usaha-usaha untuk gencatan senjata dan berunding, karena hujan tropis yang deras membuat gerakan pasukan mereka terhambat. 

Penyakit malaria, disentri, dan sebagainya merupakan "musuh yang tak tampak", melemahkan moral dan kondisi fisik bahkan merenggut nyawa pasukan mereka. 

Ketika gencatan senjata terjadi, Belanda akan mengonsolidasikan pasukan dan menyebarkan mata-mata dan provokator mereka bergerak di desa dan kota; menghasut, memecah belah dan bahkan menekan anggota keluarga para pengeran dan pemimpin perjuangan rakyat yang berjuang di bawah komando Pangeran Diponegoro. 

Namun pejuang pribumi tersebut tidak gentar dan tetap berjuang melawan Belanda.
Photo: Pencarian Diponegoro di Magelang.

Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. 

Pada tahun 1829, Kyai Mojo, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. 

Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Alibasah Sentot Prawirodirjo menyerah kepada Belanda. 

Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. 

Di sana, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. 

Oleh karena itu, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.
Photo: Pertempuran di Pluntaran.

Berakhirnya Perang Jawa merupakan akhir perlawanan bangsawan Jawa. 

Perang Jawa ini banyak memakan korban dipihak pemerintah Hindia sebanyak 8.000 serdadu berkebangsaan Eropa, 7.000 pribumi, dan 200.000 orang Jawa.

Setelah perang berakhir, jumlah penduduk Yogyakarta menyusut separuhnya.

Karena bagi sebagian orang Kraton Yogyakarta Diponegoro dianggap pemberontak, konon keturunan Diponegoro tidak diperbolehkan lagi masuk ke Kraton hingga Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberi amnesti bagi keturunan Diponegoro dengan mempertimbangkan semangat kebangsaan yang dipunyai Diponegoro kala itu. 

Kini anak cucu Diponegoro dapat bebas masuk Kraton, terutama untuk mengurus silsilah bagi mereka, tanpa rasa takut akan diusir.

Akhir Perang
Di sisi lain, sebenarnya Belanda sedang menghadapi Perang Padri di Sumatra Barat. 

Penyebab Perang Paderi adalah perselisihan antara Kaum Padri (alim ulama) dengan Kaum Adat (orang adat) yang mempermasalahkan soal agama Islam, ajaran-ajaran agama, mabuk-mabukan, judi, maternalisme dan paternalisme. 

Saat inilah Belanda masuk dan mencoba mengambil kesempatan. 

Namun pada akhirnya Belanda harus melawan baik kaum adat dan kaum paderi yang belakangan bersatu. Perang Paderi berlangsung dalam dua babak: babak I antara 1821-1825, dan babak II.

Untuk menghadapi Perang Diponegoro, Belanda terpaksa menarik pasukan yang dipakai perang di Sumatra Barat untuk menghadapi Pangeran Diponegoro yang bergerilya dengan gigih. 

Sebuah gencatan senjata disepakati pada tahun 1825, dan sebagian besar pasukan dari Sumatra Barat dialihkan ke Jawa. 

Namun, setelah Perang Diponegoro berakhir (1830), kertas perjanjian gencatan senjata itu disobek, dan terjadilah Perang Padri babak kedua. 

Pada tahun 1837 pemimpin Perang Paderi, Tuanku Imam Bonjolakhirnya ditangkap. Berakhirlah Perang Padri.

Setelah perang Dipenogoro, pada tahun 1932 seluruh raja dan bupati di Jawa tunduk menyerah kepada Belanda kecuali bupati Ponorogo Warok Brotodiningrat III, justru hendak menyerang seluruh kantor belanda yang berada di kota-kota karesidenan Madiun dan di jawa tengah seperti Wonogori, karanganyar yang banyak di huni oleh Warok.

Dalam catatan Belanda, para Warok yang memiliki skill berperang dan ilmu kebal sangat tangguh bagi pasukan Belanda. 

Maka dari itu untuk menghindari yang merugikan pihak Belanda, terjadinya sebuah kesepakatan untuk di buatkanlah kantor Bupati di pusat Kota Ponorogo, serta fasilatas penunjang seperti jalan beraspal, rel kereta api, kendaran langsung dari Eropa seperti Mobil, motor hingga sepeda angin berbagai merek, maka tidak heran hingga saat ini kota dengan jumlah sepeda tua terbanyak berada di ponorogo yang kala itu di gunakan oleh para Warok juga.

Sinofobia
Masyarakat Tionghoa yang dipandang sebagai sekutu oleh Raden Ronggo dalam pemberontakannya berubah menjadi musuh dalam peperangan Diponegoro. 

Hal tersebut disebabkan mencuatnya sikap anti-tionghoaoleh masyarakat Jawa yang disebabkan oleh beberapa hal berikut:
  1. Kebijakan ekonomi yang memberatkan rakyat oleh Keraton Yogyakarta akibat intervensi pemerintah Belanda dijalankan melalui perantaraan etnis Tionghoa.
  2. Monopoli perdagangan kayu jati yang dipaksakan oleh Daendels (1809) menyebabkan bupati-bupati lokal kehilangan pemasukannya yang jatuh ke tangan pengusaha-pengusaha Tionghoa.
  3. Bantuan yang diberikan Kapitan Tionghoa di Yogyakarta, Tan Jin Sing, saat penyerbuan tentara Inggris, sepoy, dan pasukan Notokusumo ke Keraton Yogyakarta (Juni 1812).
  4. Kebijakan pajak Raffles (1812-1813) agar petani membayar pajak tanah dalam bentuk uang tunai dan menghilangkan kerja rodi tidak tepat sasaran karena para petani Jawa pada saat itu terbiasa dengan barter. Akibatnya, mereka terjerumus hutang kepada para renternir Tionghoa setempat yang diberi wewenang dalam mengurus pajak.
  5. Kebijakan monopoli gerbang cukai (bandar) oleh Belanda (1816) menyebabkan biaya fiskal yang harus dikeluarkan pengusaha Tionghoa meningkat tajam dan berdampak pada para petani Jawa yang mereka pekerjakan.
  6. Larangan Pangeran Diponegoro untuk menjalin relasi politik dengan etnis Tionghoa sesuai peringatan leluhurnya yaitu Sultan Mangkubumi.
  7. Anggapan Pangeran Diponegoro yang ditulis dalam Babadnya bahwa dirinya tergoda oleh tukang pijat beretnis Tionghoa pada malam sebelum perang Gawok (Oktober 1886) sehingga menyebabkan dirinya kehilangan kekebalan tubuhnya (mendapat luka saat perang) dan mengalami kekalahan.
  8. Kekalahan Tumenggung Sosrodilogo, bupati Bojonegoro sekaligus saudara ipar pangeran, di bulan Januari 1828 dianggap Diponegoro disebabkan Sosrodilogo telah menjamahi seorang peranakan Tionghoa di Lasem.
Penyerangan terhadap etnis Tionghoa di Jawa Tengah dan Jawa Timur terjadi semenjak awal peperangan. 

Catatan Payen, seorang arsitek di Yogyakarta, menyebutkan bahwa komunitas Tionghoa di Yogyakarta dibantai tanpa mempedulikan wanita maupun anak-anak. 

Komunitas Tionghoa di Bagelen sempat bertahan hingga tahun 1827 sebelum akhirnya diungsikan ke Wonosobo. 

Meskipun demikian, masyarakat Tionghoa di pesisir pantai utara (sekitar Tuban dan Lasem) ikut memasok pasukan Diponegoro dengan senjata, uang, dan opium (pada masa tersebut penduduk Jawa banyak yang kecanduan opium, termasuk pasukan Diponegoro). 

Setelah perang berakhir, kerukunan antara komunitas Tionghoa dan masyarakat lain di Jawa tidak dapat kembali seperti semula karena timbulnya rasa saling curiga akibat trauma selama perang, misalnya peristiwa di Bagelen saat penduduk Jawa lokal meminta komunitas Tionghoa yang mengungsi agar kembali.
☆☆☆☆☆

Baca Tags Terkait:

Perjanjian Giyant (Peasantization Islam atau Petanisasi Islami)

November 25, 2018 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Perjanjian Giyant (Peasantization Islam atau Petanisasi Islami)
Di masa lalu, kerajaan-kerajaan lokal tersebut menjadi sarana pembentukan corak masyarakat, baik dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial, maupun budaya. 

Sarana pembentukan corak masyarakat dalam proses integrasi tersebut, hingga saat ini masih terasa pengaruhnya, meskipun hanya tinggal pada dimensi kehidupan budaya (culture) dan tradisi masyarakat. 
Hampir semua bekas pusat-pusat kerajaan ini masih menjadi penjaga tradisi (tradition) dan budaya setempat, dan masyarakat tetap menganggapnya sebagai warisan budaya yang amat tinggi (adiluhung) yang perlu dilestarikan. 

Di antara kerajaan-kerajaan lokal di Nusantara yang perlu mendapat perhatian adalah Kasunanan Surakarta. 

Kasunanan Surakarta merupakan kerajaan Jawa Islam yang berkedudukan di kota Surakarta. 

Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Pura Mangkunegaran, dan Pura Pakualaman, dipandang sebagai pewaris kerajaan Mataram Islam yang hingga kini tetap mempertahankan budaya dan tradisi masa lalunya. 
Keraton Surakarta yang didirikan oleh Sunan Paku Buwana II pada tahun 1745, pada awalnya merupakan pusat pemerintahan kerajaan Mataram secara keseluruhan.

Namun, akibat dari peristiwa palihan nagari yang ditandai dengan adanya Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755 menjadikan kerajaan Mataram selanjutnya dibagi menjadi dua, yaitu:
  1. Kasunanan Surakarta di bawah pemerintahan Sunan Paku Buwana III dan 
  2. Kasultanan Yogyakarta di bawah pemerintahan Sultan Hamengkubuwono I (Pangeran Mangkubumi).
Sejak saat itu, keraton Surakarta hanya menjadi ibukota kerajaan atau Kasunanan Surakarta dan berkuasa atas separoh wilayah kerajaan Mataram Islam. 

Dalam perkembangan selanjutnya, Kasunanan Surakarta ini dapat bertahan hingga kini, dan keraton Surakarta telah menjadi saksi pergantian raja atau sunan yang bertahta dari Sunan Paku Buwana III hingga Sunan Paku Buwana XIII sekarang ini. 

Kasunanan Surakarta secara formal merupakan suatu kerajaan Islam. 

Ciri sebagai kerajaan Islam dapat dicermati dari adanya jabatan penghulu dan abdi dalem ngulama, dalam birokrasi kerajaan, berlakunya peradilan surambi yang didasarkan pada hukum atau ajaran Islam, penggunaan gelar sayidin panatagama oleh Sunan, dan keberadaan Masjid Agung di lingkungan keraton. 

Di samping itu pula banyak upacara keraton yang mencerminkan sifat Islami, karena didasarkan pada peringatan hari raya atau peristiwa keagamaan Islam, dan perhitungannya didasarkan pada kalender Islam yang telah dijawakan. 

Keberadaan upacara grebeg misalnya seperti grebeg pasa yang dikaitkan dengan berakhirnya ibadah puasa Ramadhan dan menyambut hari raya Idul Fitri merupakan salah satu contohnya:
  1. Grebeg besar yang dikaitkan dengan peringatan hari raya Idul Qurban dan 
  2. Garebeg mulud yang dikaitkan dengan peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW.
merupakan bukti tradisi keislaman (islamic tradition) yang terdapat pada Kasunanan Surakarta.

Penyebaran agama Islam di Surakarta memang tidak bisa dilepaskan dari proses penyebaran Islam di Jawa. 

Cerita tutur yang hingga kini masih dipercaya oleh masyarakat Jawa menjelaskan bahwa yang menyebarkan agama Islam adalah para wali, yang kemudian dikenal dengan sebutan wali songo karena jumlahnya sembilan. 

Meskipun bukti-bukti arkeologis  yanh menunjukkan, seperti ditemukannya makam Fatimah binti Maimun bahwa Islam sudah masuk ke tanah Jawa sejak abad ke-XI, namun baru mendapatkan pengaruh yang besar pada awal abad XV. 

Proses Islamisasi Jawa dimantapkan dalam masa Kasultanan Demak dan Pajang serta Mataram Awal. Penganjur terkenal dalam usaha penyebaran Islam ini adalah para Wali (Walisanga).

Dalam bidang kepercayaan, para Wali dengan segala kebijaksanaannya, telah berusaha ke arah penyatuan pandangan, serta mempertahankan kewibawaan Kesultanan Demak. 

Dengan dasar kepercayaan, mereka menyangka akan mudah dibangkitkan perasaan persatuan. 

Namun demikian, dalam pelaksanaannya, para Wali sendiri terpecah ke dalam dua kelompok, yaitu:
  1. Kelompok Tuban dan 
  2. Kelompok Giri. 
1. Kelompok Tuban
Dipimpin oleh Sunan Kalijaga yang pro Pedalaman dan menerima tradisi Jawa Hindu Majapahit di dalam kultur Islam. 
2. Kelompok Giri
Dipimpin oleh Sunan Giri Parapen, yang tidak menghendaki masuknya adat tradisi Jawa Hindu Majapahit ke dalam kultur Islam. 

Bahkan secara tegas, Wertheim menunjukkan bahwa pengaruh psikologis dan sosial religius Islam tampak, meskipun rakyat memeluk Islam, namun mereka pada umumnya masih bertindak sesuai dengan adat tradisi Jawa Hindu Majapahit

Perasaan harga diri dan solidaritas yang diajarkan oleh Islam akan mengancam kedudukan penguasa feoda.

Sebagai akibat dari hal tersebut, timbullah gerakan sosial religius, yang di dalam tradisi babad (babad tradition), banyak disamarkan di dalam bentuk cerita kias. Misalnya cerita keris di dalam Babad Demak. 

Di dalam cerita kias tentang keris tersebut juga diceritakan peranan Sunan Kalijaga dengan Mpu Supa, seorang ahli pembuat keris. 

Cerita-cerita tersebut merupakan gambaran derasnya tumbuhnya gerakan sosial religius, yang menolak terjadinya perubahan secara radikal dan menyeluruh. 

Bahkan, ada di antaranya yang bernada gerakan Ratu Adil, seperti tampak dalam Gerakan Syekh Siti Jenar. 

Selain soal cerita gerakan sosial religius, sang penulis beserta tim penyusun buku ini juga mampu memotret dengan baik kehidupan tradisi dan budaya Islam dalam masyarakat Kasunanan Surakarta. 

Secara historis, kedatangan awal Islam masuk ke tanah Jawa melalui jalur kota-kota pantai di utara pulau Jawa. 

Kemudian, penyebaran agama Islam semakin meluas sejalan dengan semakin berkembangnya hubungan perdagangan antara kota-kota pantai Jawa dengan kota-kota lain di Asia. 

Para pedagang muslim baik dari India, Timur Tengah maupun Cina, ada sebagian yang menetap di Jawa, yang kemudian memunculkan komunitas-komunitas Islam. 

Oleh karena didukung oleh komunitas pedagang, maka Islam yang ada di kota-kota pantai Jawa lebih bersifat kosmopolitan dan puritan. 

Dalam perkembangannya, Islam kemudian mulai masuk ke pedalaman Jawa atas jasa para tokoh penyebarnya (wali) yang sebagian besar adalah orang Jawa. 

Masyarakat pedalaman Jawa yang sebagian besar adalah petani tentu saja membuat para tokoh penyebar ini menyesuaikan diri dengan sifat-sifat dan budaya pedesaan. 

Para tokoh penyebar Islam ini kemudian mengembangkan adaptasi budaya ke berbagai adat dan tradisi petani Jawa, sehingga Islam bisa diterima di pedalaman.

Diterimanya agama Islam oleh masyarakat petani Jawa memberikan warna tersendiri bagi kehidupan ritual, karena banyak tradisi dan adat asli Jawa yang diambil dan dipertahankan, Islam yang awalnya bersifat kosmopolitan dan didukung komunitas pedagang sebagaimana yang ada di kota-kota pantai, maka ketika masuk ke pedalaman Jawa berubah menjadi Islam perdesaan yang berbasis tradisi budaya petani. 

Proses inilah yang kemudian disebut sebagai peasantization Islam atau petanisasi Islam. 

Berkaitan dengan pola-pola yang terdapat dalam kebudayaan tersebut, kebudayaan Jawa dengan ketujuh unsur budaya universal seperti:
  1. bahasa, 
  2. sistem pengetahuan, 
  3. organisasi sosial, 
  4. sistem peralatan hidup dan teknologi, 
  5. sistem tata pencaharian hidup, 
  6. sistem religi, dan 
  7. kesenian.
maka akan mencakup daerah yang luas, terutama di Jawa bagian Tengah dan Timur.

Dalam pemakaian bahasa, yang disebut bahasa Jawa, orang Jawa membedakan ke dalam bahasa tinggi atau bahasa priyayi, dan bahasa rendah atau bahasa wong cilik. 

Di dalam tata pergaulan, baik lisan maupun tulisan/ tertulis, bahasa Jawa mengenal bahasa yang bertingkat-tingkat; misalnya:
  • ngoko, 
  • krama, 
  • bahasa istana (basa kedhaton, basa bagongan), dan 
  • bahasa kasar yang masing-masing masih terbagi lagi menjadi bagian-bagian yang lebih rinci.
Pemakaian bahasaa itu disesuaikan dengan tingkat sosial, pengetahuan, dan keterampilan seseorang di dalam masyarakatnya. 

Di dalam adat dan tradisi Jawa yang bersifat 
  • sosial, misalnya, 
  • gotong royong, 
  • kerukunan, 
  • penghormatan, dan 
  • tata pergaulan.
sedang yang bersifat religius terwujud di dalam bentuk-bentuk upacara ritual, seperti slametan, ruwatan, tradisi ritual istana, dan sebagainya. 

Dalam alam Kejawen, tradisi ritual itu sampai sekarang, dalam kehidupan modern ini masih tetap terpelihara dengan baik, bahkan ada niat untuk tetap mempertahankan eksistensinya. 

Kata slamet mengandung makna keselamatan atau terwujudnya hubungan yang harmonis, baik antara manusia dan manusia, manusia dan alam, manusia dengan makhluk gaib, maupun manusia dengan Tuhannya. 

Semua ini tercermin dari prosesi ritual slametan, di mana yang diundang tidak hanya saudara, teman, dan tetangga, melainkan juga mereka yang sudah meninggal dan makhluk gaib yang ada di sekitarnya.

Slametan bisa dilaksanakan untuk berbagai keperluan, mulai dari peringatan siklus hidup manusia, siklus penanaman padi hingga mendirikan pabrik, bersih desa, dan ruwatan nagari. 

Dalam konsep Jawa, slametan dibutuhkan masyarakat agar kondisi kembali dalam keadaan seimbang dan harmonis tanpa gangguan. 

Perlu dicatat juga berkaitan dengan hal tersebut di atas, bahwa wajah Islam pedalaman yang sinkretik, sebagaimana yang banyak dipraktekkan oleh masyarakat Kasunanan Surakarta, kadang juga bisa memiliki sifat radikal. 

Dalam perjalanan sejarahnya, gerakan-gerakan radikal yang diilhami oleh semangat Islam sudah terjadi di Surakarta sejak pemerintahan Paku Buwana IV.

Terjadinya peristiwa pakepung
Terbentuknya jaringan kiai dan ulama Surakarta yang ikut berjuang bersama Pangeran Dipanegara, lahirnya Sarekat Islam, hingga gerakan radikalisme Islam kontemporer merupakan sebuah keberlanjutan yang terus menerus terjadi di tengah masyarakat Surakarta yang sifat keagamannya dipandang sinkretik. 

Adapun dalam gaya hidup (life style) pada orang Jawa tampak gaya hidup priyayi yang sangat kuat.

Gaya priyayi yang dimaksud adalah suatu gaya yang ingin mempertahankan keharmonisan, keseimbangan, keselarasan, kehalusan budi pekerti manusia Jawa, serta ada upaya untuk menguasai orang lain, tabah dalam penderitaan, setia pada janji seperti:
  • sifat seorang ksatria, dan bersikap alon-alon angger kelakon, 
  • narima ing pandum (menerima takdir Allah), 
  • pasrah ngalah (berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan). 
Dalam bidang religi, orang Jawa mayoritas mengaku sebagai orang Islam, baik Islam santri maupun Islam Abangan atau Islam Kejawen.

Sebagian kecil ada yang menganut agama Nasrani, Hindu, Budha, dan penganut paham kepercayaan dan kebatinan, serta agama kerakyatan (animisme, dinamisme, fetisisme, dan sejenisnya). 

Mereka percaya adanya makhluk halus yang mereka sebut dhemit, lelembut, gendruwo, tuyul, memedi, jin, setan, wedhon, wewe, banaspati, kemamang, dan sebagainya.

Kajian historiografi di dalam buku ini sebagaimana diungkapkan Abdurrahman Mas’ud memberi informasi penting tentang kekayaan khazanah budaya keagamaan, sehingga dapat menjadi pijakan bagi proses pembuatan kebijakan (policy maker) publik tentang strategi kebudayaan (culture strategy). 

Mereka yang abai kajian historiografi (kesejarahan), berarti lupa kekayaan diri sendiri. 

Apa yang ditulis dalam buku ini cukup penting, terutama bagi generasi muda milenial dalam mengenal khazanah budaya keagamaan masa silam yang kaya akan kearifan lokal (local wisdom) dan penuh makna yang mendalam serta menggugah.
☆☆☆☆☆

Baca Tags Terkait: