Showing posts with label SAS AVENGER. Show all posts
Showing posts with label SAS AVENGER. Show all posts

Nilai Histori Eyang Kudo Kardono dalam rangka mendoakan calon pemimpin menurut Ki Mpu Bagus.

July 31, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Nilai Histori Eyang Kudo Kardono dalam rangka mendoakan calon pemimpin menurut Ki Mpu Bagus.
Sudut di Jalan Cempaka 25, Kota Surabaya, Jawa Timur, ternyata menjadi peristirahatan terakhir Eyang Kudo Kardono

Disana, Komunitas Indigo dan Telepati Surabaya (KITS) mengadakan acara Nilai Histori Eyang Kudo Kardono dalam rangka mendoakan calon Kepala Desa dalam PILDES 2019.

Adapun acara Doa bersama yang dilaksanakan di Eyang Kudo Kardono dalam rangka Mendoakan calon Kepala desa dalam PILDES 2019 di daerah Gresik. 

Dalam acara doa bersama ini juga diikuti oleh perwakilan dari Padang Bulan dan Spiritual yang lainnya juga. 
Ki Mpu Bagus Pada Saat Memimpin Doa
Mengingat hal ini, Eksistensi Spiritual tentunya tetap harus dapat berkiprah dan berjalan selaras dengan keadaan apapun. 

Hal inilah yang mendorong Komunitas Indigo dan Telepati Surabaya (KITS) terketuk untuk bergerak mengadakan doa bersama dengan para Spiritual yang lainnya. 

Dari hal inilah akhirnya pada hari Senin, 29 Juli 2019 pukul 20.00 Team KITS bersama dengan para Pinisepuh lan Spiritual melaksanakan doa bersama di Petilasan Eyang Yudon Kardono. 

Menurut pitutur Ki Mpu Bagus selaku pelaksana acara menyatakan sebagai Simbol bahwa peran Seseorang Spiritual adalah sebagai PENDOA bagi siapapun juga tanpa melihat kelompok, Politik dan Intervensi dari pihak manapun juga dan harus murni keluar dari ke 3 lingkaran tersebut. 

Serta apapun yang dilakukan benar-benar bersih karena dorongan keikhlasan hati dan Proses dari laku Spiritual itu sendiri. 

Menyangkut energi kepemimpinan di Pesarean Eyang Kudo Kardono menjadi alasan dilakukannya ritual tersebut.

Eyang Kudo Kardono adalah Panglima Perang Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raja Jayanegara atau Kalagemet. Nama asli sang panglima adalah Raden Kudo Kardono.
Panglima saat Majapahit diperintah Jayanegara, raja kedua setelah Raden Wijaya, pada masa tahun 1309-1328.

Raden Kudo Kardono merupakan komandan perang kepercayaan Raja Jayanegara atau Kalagemet. Konon, Kudo Kardono merupakan saudara sepupu dari Mahapatih Majapahit, Gajah Mada.

Pada masa pemerintahan Jayanegara ini, sering terjadi pemberontakan di beberapa wilayah kekuasaan Majapahit. Tak ketinggalan di Surabaya, yakni pemberontakan Ra Kuti pada 1319 Masehi.

Jayanegara kemudian mengirim Pangeran Kudo Kardono untuk menumpas pemberontakan yang dipimpin Kuti. Adapun kawasan makam tersebut merupakan daerah di mana Panglima Perang Kerajaan Majapahit itu mendirikan pertahanan untuk melawan pemberontak.

Sementara, penyebutan Panglima Perang Eyang Yudho Kardono sendiri adalah sebutan masyarakat setempat sejak pesarean dipugar dahulu pada 1960-an.

Masyarakat ambil gampangnya, saat itu teringat perang besar yang disebut Bharata Yudha. Akhirnya, nama eyang disebut di depannya, Yudho.

Tempat yang disinggahi Kudo Kardono alias Yudho Kardono adalah berupa tanah tegal dan banyak tumbuhan gading putih yang dijadikan pertahanan saat perang Majapahit.

Menurut cerita turun-temurun orangtua dahulu, di sini banyak sekali tumbuh pohon juwet, sawo, dan gading putih kala itu.
Hanya saja, seiring berjalannya waktu makam Panglima Perang Kerajaan Majapahit ini dipugar oleh Pak Soedjono Hoemardani, asisten Pak Soeharto pada tahun 1960.

Adapun maksud dan tujuannya tidak lain adalah:
  1. Untuk Mendoakan semoga Pelaksanaan PILDES 2019 di beberapa daerah diberi kelancaran, kedamaian dan Proses yang Jujur dan terbuka.
  2. Untuk mendoakan para saudara-saudari kita biar diberi kelapangan Rejeki dan kelancaran usaha atau beraktivitas dalam kehidupan ini. 
  3. Sebagai ajang silaturahmi dan diskusi di sela-sela selesai acara doa bersama 
  4. Melakukan sarasehan atau diskusi beberapa materi terkait rana Spiritual dan kebudayaan. 
  5. Menjadikan momen kekuatan dan kekompakan di antara pelaku Spiritual selama ini. 
Saat lepas acara doa kita berdiskusi tentang tujuan spiritual dalam melestarikan Budaya leluhur.
☆☆☆☆☆

Renungan Spiritual Di Jolotundo Gus Eko Dan Perguruan Silat Angkaraba

July 27, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Renungan Spiritual Di Jolotundo Gus Eko Dan Perguruan Silat Angkaraba
Kelompok Perguruan Silat Angkaraba Pimpinan Gus Damar
Pada hari Jum'at Malam26 Juli 2019, Gus Eko berserta Rombongannya dari Perguruan Silat Angkaraba mengajak kami JJM (Jalan-Jalan Misteri) di Candi Jolotundo Mojokerto Trawas Jawa Timur.

Tidak lupa pula dalam perjalanan kami juga ikut dari KITS (Komunitas Indigo dan Terapis Surabaya) yaitu Ki Mpu Bagus dan Master Yuwono (Darmo Jo).

Rencana perjalanan ini dikarenakan adanya wisik Gus Eko setelah melakukan Rutual dk Jokodolok Surabaya untuk berkunjung di Candi Jokodolok untuk bersinergi dengan Alam sekitar Situs Candi Jolotundo.

Sebelum kita memgupas Ritual Spiritual yang ada di Candi Jolotundo, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu sejarah singkat yang ada di Candi Jolotundo, seperti yang diterangkan di bawah ini:
Logo Perguruan Silat Angkaraba
MENGENAL CANDI JOLOTUNDO
Candi Jolotundo dibuat oleh Raja Udayana yang merupakan raja dari Kerajaan Bedahulu dari Wangsa Warmadewa, Bali.

Raja Udayana menikah dengan seorang Putri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang yaitu Putri Gunapriya Dharmapatni.

Pada masanya, Kerajaan Medang merupakan kerajaan yang cukup kuat di tanah Jawa. Bahkan Kerajaan Medang melakukan penaklukan di Bali, mendirikan koloni di Kalimantan Barat, dan melakukan serangan ke Kerajaan Sriwijaya. Pada tahun 991 masehi, Raja Udayana dan Putri Gunapriya Dharmapatni memiliki seorang anak yang bernama Airlangga. Pemberian nama Airlangga memiliki arti air yang melompat.

Sejarah Candi Jolotundo
Candi Jolotundo merupakan wujud rasa cinta Raja Udayana dalam menyambut kelahiran Airlangga.

Sehingga pada tahun 997 masehi, Raja Udayana membangun Candi Jolotundo.

Namun terdapat sumber lain yang menyebutkan bahwa Candi Jolotundo merupakan tempat pertapaan dari Airlangga setelah mengundurkan diri dari singgasana Kerajaan Kahuripan dan digantikan oleh anaknya.

Kerajaan Kahuripan adalah kerajaan yang didirikan oleh Airlangga pada tahun 1009 masehi.

Kerajaan Kahuripan merupakan lanjutan dari Kerjaaan Medang yang telah runtuh pada tahun 1006 masehi.

Sumber lainnya juga mengatakan bahwa ketika masih berusia muda, Airlangga mengunjungi daerah Jolotundo dalam rangka untuk menenangkan jiwanya.

Airlangga mandi di sumber mata air tersebut dan setelah mandi Airlangga merasakan ketentraman jiwa.

Candi Jolotundo terkenal dengan petirtaannya (pemandian). Konon keberadaan petirtaan tersebut ingin menjelaskan bahwa air yang keluar dari petirtaan tersebut adalah amerta yang seolah-olah keluar dari tubuh Mahameru.

Air amerta adalah air yang digunakan dalam kehidupan manusia dan juga para dewa yang berfungsi sebagai air kebaikan untuk umat manusia.

Banyak pihak yang menganggap bahwa sumber mata air yang berada pada Candi Jolotundo memiliki kualitas terbaik setelah air zam-zam yang berada di Mekah.

Airnya bersih dan memiliki kandungan mineral yang sangat tinggi. Beberapa pihak percaya air dari sumber mata air Candi Jolotundo memiliki banyak khasiat, seperti dapat menyembuhkan berbagai penyakit sampai mampu membuat awet muda.

Sumber mata air ini juga tidak pernah kering walaupun dilanda musim kemarau.

Pada malam satu Suro atau satu Muharam tepat bersinarnya bulan purnama, banyak masyarakat yang mengunjungi Candi Jolotundo, khususnya masyarakat Bali. Mereka datang untuk melaksanakan ritual dengan tujuan ngalap berkah, mensucikan diri, bahkan sampai memandikan pusakanya.

Mitos-mitos yang ada bisa dipercayai ataupun tidak, tergantung dari individu masing-masing.

Kita harus tetap bisa menghargai sejarah Candi Jolotundo sebagai bagian dari salah satu situs bersejarah yang dimiliki Indonesia.

Lokasi Candi Jolotundo
Sejarah Candi Jolotundo merupakan salah satu sejarah Indonesia yang didukung dengan bangunan candi.

Candi Jolotundo merupakan salah satu candi di Jawa Timur dan salah satu candi di Mojokerto, tepatnya di Dukuh Balekambang, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas.

Lokasi candi dapat ditempuh kurang lebih 55 kilometer dari kota Surabaya.

Akses jalan menuju candi dapat ditempuh lewat Trawas dengan menyisiri Lereng Gunung Penanggungan dengan medan yang cukup berkelok-kelok.

Candi Jolotundo juga dapat ditempuh lewat Ngoro Industri Park dengan akses jalan raya yang dilanjutkan dengan melewati perkampungan penduduk.

Secara geografis, Candi Jolutundo berada pada ketinggian kurang lebih 800 meter di atas permukaan laut (Mdpl) dan berada pada bukit Bekel, lereng barat Gunung Penanggungan.

Sehingga sesampainya di Candi Jolotundo, wisatawan dihadiahi pemandangan alam yang hijau dan udara khas pegunungan yang sejuk.

Harga tiket masuk situs bersejarah ini adalah sebesar Rp 10.000,- untuk dewasa dan Rp 7.500,- untuk anak-anak.

Arsitektur dan Relief Candi Jolotundo
Candi Jolotundo atau juga sering disebut dengan Candi Jalatunda memiliki aritektur dan bangunan yang sangat megah.


Pada bagian dinding kanan candi terdapat pahatan yang bertuliskan angka 997 masehi, lalu pada bagian dinding kiri candi terdapat pahatan yang bertuliskan tahun 899 saka atau 977 masehi, dan dibagian dinding kiri belakang candi terdapat tulisan Gempeng.

Menurut tafsiran para ahli, tulisan Gempeng tersebut memiliki arti lebur. Jika dilihat dari arsitektur keseluruhan Candi Jolotundo, maka kata Gempeng dapat diartikan sebagai melebur atau memotong.

Hal ini memiliki arti, candi yang juga merupakan pemandian ini dibangun dengan memotong lereng Gunung Penanggungan, sehingga situs bersejarah ini seolah-olah melebur menjadi satu kesatuan dengan Gunung Penanggungan.

Dahulu di bagian puncak batur utama terdapat deretan panil relief yang juga memiliki fungsi sebagai jaladwara.

Namun saat ini panil-panil relief tersebut sudah tidak lengkap lagi di Candi Jolotundo. Sebagian panil disimpan di Museum Nasional Jakarta, dan sebagian panil lagi hilang.

Pahatan pada panil relief menceritakan adegan-adegan dalam kisah Mahabharata, seperti Bhima yang sedang mengamuk dalam kaitan kisah sayembara Dewi Drupadi, kisah Dewi Mrgayawati dengan Raja Udayana dan penggambaran garuda dalam rentetan kisah Kathasaritsagara.

Bangunan Candi Jolotundo
Bangunan Candi Jolotundo berukuran panjang 16,85 meter dan lebar 13,52 meter.

Candi Jolotundo disusun dari batu andesit yang dipahat halus.

Candi Jolotundo memiliki dua sendang (tempat pemandian) yang berdindingkan batu di sisi kiri dan sisi kanan.

Dua sendang tersebut berukuran 2×2 meter menghadap ke Barat.

Sumber air atau mata air berada di sisi Timur dan keluar dari lubang yang berada di tengah batu dinding.

Jumlah pancuran air pada candi ini adalah 52 pancuran air, dan pancuran ini selalu mengalirkan air disepanjang musim.

Kemudian di bagian tengah terdapat kolam bertingkat dan di bawahnya juga terdapat kolam berukuran 6×8 meter yang berisikan ikan-ikan dengan ukuran yang besar.

Konon jika mengambil ikan tersebut, maka yang mengambil akan terkena musibah.

Tingkat pertama yang teratas merupakan tempat mata air utama yang condong ke luar dari lereng Gunung Penanggungan.

Ketika dulu lapik arca masih ada, pernah bertahta arca dari seorang dewa.


Di belakang lapik tersebut terdapat sisa prabhamandala yang berbentuk lingkaran.

Tahta tempat lapik arca tersebut berada di batur yang lebih tinggi dari permukaan air kolam tingkat pertama.

Pada bagian puncak batur terdapat panil relief layaknya simbar besar yang melebar, kemudian di bagian tengah terdapat lubang untuk mengalirkan air keluar.

Tampak pula di sudut-sudut batur jaladwara yang berbentuk mulut makara yang juga berfungsi sebagai pancuran air.

Dari keterangan salah satu pengelola Candi Jolotundo, dua sendang yang ada pada Candi Jolotundo merupakan tempat pemandian para petinggi dan kerabat kerajaan untuk mensucikan diri.

Kolam di sisi kiri candi digunakan sebagai tempat mandi laki-laki, sedangkan kolam di sisi kanan candi digunakan sebagai tempat mandi wanita.

Dulunya kolam di sisi kiri candi tersebut digunakan oleh sang raja untuk mandi atau berendam, dan kolam di sisi kanan candi digunakan oleh sang ratu untuk mandi atau berendam.

Kolam pemandian yang ada pada Candi Jolotundo memiliki kedalaman 5,2 meter.

Di sekitar Candi Jolotundo, terdapat pendopo dan gazebo untuk bersantai menikmati suasana tenang dan sejuknya udara di lereng pegunungan.

Kawasan Jolotundo juga dijadikan titik awal menuju 17 candi lainnya yang tersebar di sepanjang jalur pendakian Gunung Penanggungan.

Sekitar 1 kilometer sebelum Candi Jolotundo terdapat Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH), Seloliman.
☆☆☆☆☆
HASIL RENUNGAN SPIRITUAL DI JOLOTUNDO

Kami Berangkat dari Kota Surabaya dari pukul 23.00 WIB dan sesampai di Candi Jolotundo Pukul 00.30 WIB dengan menggunakan Kendaraan.

Sesmapai di lokasi kami pun memulainya dengan Saresehan terlebih dahulu di Warung Sekitar Situs untuk memulihkan Stamina.

Sekitar pukul 01.00 WIB kami pun masuk ke Area Situs.

Ritual pertama adalam mencoba mandi di Sendang Jalatundo tempat Petitraan Prabu Udayana.

Setelah Mandi, Ki Mpu Bagus dari KITS memberikan sedikit wedaran dan mengajarkan Teknik Meditasi untuk menghilangkan Hawa Dingin Di sekitar Situs dengan mengaktifkan Cakra Bulan Bintang.

Ki Mpu Bagus pun menerangkan bahwa di wilayah Situs Jolotundo ini, diyakini bisa menetralkan keilmuan baik hitam maupun putih, oleh sebab itu disinilah tempat yang cocok untuk melakukan meditasi dan mengembangkan Chakra pada diri sendiri.

Ki Paut Anomsari dalam meditasinya di Bawah pohon dekat pendopo, melihat seorang putri di atas pemandian yang terlihat seperti keturunan orang-orang China (kemungkinan jelmaan Putri Gunapriya Dharmapatni). Dan melihat adanya gerbang yang di jaga oleh 2 orang raksasa yang membawa Gada di kedua tangannya.

Ki Mpu Bagus menjelaskan, Bahwa Gerbang Yang di jaga itu merupakan Gerbang dimensi waktu yang dikatakan dapat menembus ruang dan waktu.

Tidak ada yang tau dimana letaknya, karena benar-benar misteri keberadaanya dan hanya orang-orang pilihan yang dapat menemukannya.

Ketika melakukan Meditasi bersama Ki Mpu Bagus dan para Rombongan Perguruan Silat Arangkaraba, Ki Paut Anomsari melihat disekilingnya para Meditasi berubah memjadi Monyet Hitam besar dan berwajah sangar.

Dalam kajian ini, Ki Mpu Bagus menerangkan bahawa di wilayab Situs ini terdapat pertapaan Hanoman, kemungkinan menurut Ki Mpu Bagus, apa yang di lihat Ki Paut Anomsari membuktikan bahwa rombongan kita di restui oleh danyang setempat untuk melakukan Ritual disini.

Dan yang terakhir, Ki Paut Anomsari melihat adanya salah satu dari peserta yang memabaw batu memilki pancaran warna merah.

Dan ternyata, Gus Damar yang memiliki Batu Mustika itu dari Sendang Jolotundo.

Didalam Kolam Pemandian tersebut, Gus Damar yang merupakan Guru Besar Gus Eko dan juga sebagai Pimpinan Perguruan Pencak Silat Arangkara menemukan Batu Berwarna Kuning Sebesar Jempol tepat di kepala Gus Damar.

Berdasarkan informasi dari Ibunda Gus Eko selaku penggagas acara ini, sesunggunya Mata Air yang bisa di minun posisinya ada di bawah, bukan di tempat Lokasi Candi Jolotundo.

Mata air yang bisa diminum tersebut, adalah petilasa  dari Prabu Airlangga yang masih keturunan Raja Udayana.

Hal ini bisa dibenarkan, karena Situs Candi Jolotundo yang di sebut Petitraan yang berarti tempat pemandian.

Itulah tadi Renungan Spiritual yang kami dapatkan di Situs Candi Jolotundo, dengan mengadakan Saresean-Saresean seperti inilah diharapkan para generasi tau peradapan nenek moyang mereka.

Dengan mengetahui kisah-kisah yang pernah terjadi, diharapakan dapat menjadi pembelajaran bagi generasi mudah dalam membangun bangsa kedepan.
☆☆☆☆☆

Melihat Kesurupan dari Mata Medis dan Spiritual.

July 17, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Melihat Kesurupan dari Mata Medis dan Spiritual.
LATAR BELAKANG
Sabtu, 13 Juli 2019 kami mengadakan Jalan-jalan dengan Tim SAS Avengers dan JJM KITS dengan tema:
Melihat Kesurupan dari Mata Medis dan Spiritual.
Ada tiga faktor yang di ukur dalam segi medis, yaitu:
  1. Tekanan Darah dan Nadi;
  2. Sakurasi SpO2; dan
  3. Gula Darah Acak.
Momen Pengukuran yang diambil:
  1. Pra Kesurupan;
  2. Pada saat kesurupan; dan
  3. Post Kesurupan.
KISAH PERJALANAN MENCARI LOKASI
1. Hotel Angker Delta Sidoarjo
Jalan-jalan dengan Tim SAS Avengers dan JJM KITS yang rencana awal di Hotel Delta Sidoarjo aloha dibatalkan karena Hotel tersebut sudah di robohkan.

2. Pabrik Testil Bekas Peninggalan Belanda
Akhirnya kami Pindah ke arah Tanggulangin di tempat pabrik tekstil bekas peninggalan Belanda tapi tidak bisa karena tidak di izinkan oleh penjaga Pabrik dan tidak dibolehkannya diekspos.

Menurut kabar dari wonderstar disana, gedung pabrik tersebut pernah makan dua korban yang salah satunya di tiba-tiba dipukul dari belakang oleh sosok mata membesar dan akhirnya meninggal dan yang satunya coba gantung diri dan temukan telah meninggal. Pernah ada seorang Paranormal yang mencoba mensterilkan tempat tersebut akan tetapi gagal dan akhirnya penghuni gedung meminta tumbal, oleh sebab kejadian-kejadian itulah tidak boleh lagi di ekspor oleh pemilik gedung disebut.

3. Ruko Kosong di Lingkar Timur
Akhirnya kami pun pindah ke Lingkar timur di daerah Ruko Kosang. Lagi-lagi disitu kami gagal dan tidak mendapatkan izin oleh keamanan setempat.

4. Petilasan Makam Mbok Rondo Kuning
Pada akhirnya kami pindah di Petilasan makam Mbok Kuning daerah Juanda Sidoarjo.

Disini kita mengungkap misteri dari sang juru kunci penjaga Makam Mbok Rondo Kuning.

TUJUAN
  1. Mengetahui perubahan metabolis tubuh pada manusia pada saat kesurupan.
  2. Mengetahui fenomena kesurupan dari mata awam.
  3. Mengetahui fenomena kesurupan dari sisi medis
GALERI
Tim SAS Avenger Dan Tim JJM KITS (Hendes, Ki Jagat, Master Yuwono, Ki Mpu Bagus, Ki Paut Anomsari, dan Medioator Kesurupan)
Master Yowono
Persiapan Awal di Petilasan Makam Mbok Rondo Kuning
Acara Saresean Di Komplek Petilasan Makam Mbok Rondo Kuning
HASIL YANG DIDAPAT
Dari hasil pengukuran secara medis, didapatkan adanya peningkatan tekanan darah pada saat kesurupan lalu kembali normal tekanan darah tersebet setelah kesurupan dan peningkatan Gula acak pada saat setelah Kesurupan.

Dari Versi Kaca Mata Ki Mpu Bagus selaku Ketua Komunitas Indigo Dan Telepati Surabaya (KITS) dan juga Tim JJM KITS memberika masukan secara Non Medis mengungkapkan bahwa, untuk Penanganan Kesurupan Secara Spiritual bisa dilakukan dengan:
  1. Menempatkan si penderita di tempat yang bersih dari energi negatif (rumah ibadah, ruangan yg terang bercahaya atau di dalam rumah yang bersih);
  2. Di doakan sesuai keyakinan dan agama yang di anut;
  3. Di panggilkan seseorang Paranormal (Ahli di bidang pengobatan non medis);
  4. Setelah tersadarkan diberi motivasi untuk menguatkan jiwanya dan melawan energi negatif yang dirasa masih ada di dalam dirinya; dan
  5. Diberi saran supaya lebih mendekatkan diri kepada sang Pencipta sesuai keyakinan dan agama masing masing.
KESIMPULAN
Dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti ini, diharapakan kedepanya akan di temukannya titik terang dan keselarasan sebagai Ilmu Kesehatan Fisik dan Jiwa baik secara Ilmu Medis dan Non Medis.
Apa Keseruan yang dari perjalanan kami di Petilasan Makam Mbok Rondo Kuning?
Tunggu Videonya ya..!!!
☆☆☆☆☆

Perjalanan Spiritual dengan Gus Eko, Ki Mpu Bagus dan Kang Lupus dari Komunitas KITS di Arca Joko Dolog

July 06, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Perjalanan Spiritual dengan Gus Eko, Ki Mpu Bagus dan Kang Lupus dari Komunitas KITS di Arca Joko Dolog
Photo dari Kiri: Ki Paut Anomsari, Gus Eko, Ki Mpu Bagus dan Kang Lupus
Jum'at malam tepatnya pada tanggal 6 Juli 2019, Bitter Coffee Park melakukan peremuan dengan Gus Eko, dan Ki Mpu Bagus dari komunitas KITS lalu disusul oleh Kang Lupus yang juga dari Komunitas KITS di area Situs Joko Dolog. Pertemuan ini terjadi dengan Spontanitas tanpa ada rencana Awal.
Logo Komunitas KITS
Berawal, dari Gus Eko yang mengajak Ki Mpu Bagus ke makam Eyang Yudokardono, namun dialihkan ke Situs Joko Dolog oleh Ki Mpu Bagus karena mendapakan Wisik didalam jiwanya untuk diarahkan kesana.

Joko Dolog dapat ditemukan di Jalan Taman Aspari. Patung ini adalah patung Budha. Dikatakan telah dilakukan pada tahun 1289 untuk menghormati pemakaman Raja Kertanagara, yang merupakan raja terakhir Singosari. Diyakini telah dibawa ke Surabaya sekitar 300 tahun yang lalu. Patung itu dapat ditemukan langsung di depan rumah gubernur Jawa Timur, dan aroma dupa tetap berada di udara karena masih merupakan situs ziarah yang populer.
Konon Patung Joko Dolog ini pernah hendak di bawa oleh Kolonial Belanda dari Kediri dan hendak di bawa ke Belanda. Namun, ketika hendak di lakukan pemindahan ke, Patung Joko Dolog tidak dapat di angkat, hingga akhirnya di tinggalkan di lokasi tersebut.

PERJALANAN SPIRITUAL GUS EKO DI JOKO DOLOG
1. Ritual Sesembahan
Sebelum kami melakukan hajatan, kami melakukan Sasembahan di depan Arca Joko Dolog agar mendapatkan restu dari Sang Pencipta.

Dengan Bimbingan dari Ki Mpu Bagus, kami melakukan ritual tersebut.
Ki Mpu Bagus menjelaskan bahwa di Patung Joko Dolog ini adalah tempat melakukan Ritual Penarikan Rejeki.

Dengan malakukan doa disini, kemungkinan besar akan terkabul dan dilancarkan rejeki.
2. Ritual Pemagaran Diri
Ritual Pemagaran diri atau bisa disebut Ritual Tri Tungal Suci ini ditujukan agar tidak ada gangguan dari unsur-unsur negatif dari sekitar lokasi.
Pemilihan lokasi ini ditentukan Oleh Gus Eko karena adanya wisik yang membimbing untuk berada di area tersebut.

Arahan di bawah pohon beringin, tuntunan yang didapat dari Trisula Weda yang ada di punggung kirinya.
Dari proses Ritual itu, kami dihadiri berbagai banyak astral yang muncul, seperti sosok Betoro, Siluman Ular dan masih banyak lainnya.

Pada awalnya, Gus Eko sering mendapat gangguan, dari Mahkluk-Mahkluk yang tidak diharapakan. Hingga Ritual harus di ulang berkali-kali.

Ki Mpu Bagus memaparkan, didalam ritual tersebut Ki Mpu Bagus melihat sebuah tungku yang belum penuh didalam diri Gus Eko.

Ini menandakan bahwa masih akan banyak menampung rejeki yang baik dikedepan harinya.
Setelah ritual selesai, kami menutup acara dengan santap Makan Nasi Goreng Krengsengan.

Alhamdulillah Warek n mantep....
Di ujung ritual kami, kami ditemui seseorang wanita setengah baya yang mengtas namakan Mbak Santi.

Mbak Santi merasa prihatin terhadap keberadaan Situs Joko Dolog ini. Tempat yang sakral tetapi sering dilanggar.

Menurut beliau, penataan Arca-Arca kecil yang kurang tepat dalam penemptannya.

Arca-arca yang di anggap sakral ini, sering sekali di langkahi oleh pengunjung-pengunjung di Joko Dolog ini.

Harapan beliau, adanya lebih perhatian pemerintah kepada keberadaan Situs ini karena sebagai warisan budaya leluhur kita.
Agar Kita lebig mengenal Situs Joko Dolok ini, ada baiknya kita memahami sejarah yang sesunggunya.

PATUNG JOGO DOLOG ADALAH ARCA BUDDHA AKSHOBYA
Patung yang Hilang Di Candi Kawi
Gus Eko dan Ki Paut Anomsari Melakukan Ritual Sasembahan di Joko Dolog
Sebuah gambar batu Buddha Akshobya, yang dengan anehnya cocok dengan deskripsi Patung Yang Hilang Di Candi Jawi, dapat ditemukan hari ini di sebuah taman kecil terpencil di Surabaya. Dikenal secara lokal sebagai Joko Dolog, patung ini menampilkan prasasti Sansekerta yang panjang, diukir dengan rapi di sekitar dasarnya. Ketika diterjemahkan untuk pertama kalinya awal abad ini, prasasti itu ditemukan untuk mengungkap informasi sejarah penting yang berasal dari periode segera sebelum berdirinya Majapahit. Diterjemahkan pada tahun 1289 oleh penulis Buddha bernama Nada, isinya kira-kira sebagai berikut

Dikatakan bahwa beberapa tahun yang lalu, orang bijak Mpu Bharada membagi tanah Jawa menjadi Kerajaan Janggala dan Panjalu (Kediri), dengan tujuan menyelesaikan perselisihan antara dua bersaudara atas suksesi.Pembagian itu dibuat secara ajaib, melalui air suci yang ditaburkan keluar dari toples dari langit. Namun, pada masa pemerintahan Sri Wishnuwardhana negara itu dipersatukan kembali untuk kesenangan dan manfaat semua orang. Penguasa, yang patungnya dikatakan potret, adalah putra Wishnuwardhana, Kertanagara, yang menugaskan gambar tersebut sebagai simbol penyatuan ini.

Informasi yang terkandung dalam prasasti Joko Dolog sangat menarik karena tampaknya membangun keaslian tokoh dan peristiwa sejarah tertentu, yang sebelumnya hanya diketahui dari literatur Jawa kuno.

Kisah pembagian Jawa oleh bijak Mpu Bharada tentu saja terkenal, dan mengacu pada pemerintahan Raja Airlangga di abad ke-11. Di sisi lain, dengan memberikan kredit kepada Wishnuwardhana karena telah menyatukan kembali negara, prasasti tersebut telah meragukan keandalan sumber-sumber sastra tradisional. Ini benar dalam kaitannya dengan kisah Ken Angrok dan Ken Dedes, yang telah dianggap oleh sebagian orang sebagai pemalsuan yang lengkap.

Namun, sejak penemuan tahun 1975 dari sejumlah lembaran tembaga bertulis yang berasal dari wilayah Kediri, cahaya baru telah ditumpahkan pada tahun-tahun awal periode Singosari. Dikenal sebagai prasasti Mula Malurung, yang diterbitkan oleh Raja Kertanagara pada tahun 1255, ia menyebutkan nama-nama Wishnuwardhana, Tohjaya, serta sejumlah raja lain yang sebelumnya tidak dikenal oleh para sejarawan.

Akhirnya, dan yang paling menarik, prasasti Mula Malurung nampaknya menyarankan keberadaan Ken Angrok, dengan demikian setidaknya menegaskan dasar historis untuk sebuah cerita yang dianggap hampir seluruhnya sebagai mitos.

LEGNDA JOKO DOLOG YANG BERKEMBANG DI SURABAYA
Joko Dolog adalah sebuah patung di kota Surabaya warisan Kerajaan Majapahit. Tapi menurut cerita rakyat daerah Jawa Timur. Joko Dolog merupakan sebuah patung yang konon merupakan penjelmaan dari tubuh Pangeran Jaka Taruna putra adipati Kediri. 

Menurut cerita, Jaka Taruna ingin mempersunting Purbawati, putri Adipati Jayengrana. 

Adipati Jayengrana merupakan adipati Surabaya. 

Tapi Jaka Taruna kalah bertarung melawan Pangeran Situbondo dan juga Jaka Jumput hingga akhirnya berubah menjadi patung.

Pangeran Situbondo Hendak Memper-sunting Purbawati
Alkisah Purbawati, putri Adipati Jayengrana tengah gelisah karena hendak dilamar oleh Situbondo, seorang pangeran Madura, putra Adipati Cakraningrat. Putri Purbawati ingin menolak lamaran Pangeran Situbondo karena telah mencintai Jaka Taruna dari Kadipaten Kediri. Tapi untuk menolak lamaran Pangeran Sirubondo ia merasa tidak enak mengingat hubungan persahabatan ayahnya dengan ayah Pangeran Situbondo terjalin sangat baik. Ia khawatir akan terjadi permusuhan antara Surabaya dan Madura.

Pangeran Situbondo berlayar dari Madura menuju Surabaya untuk melamar Purbawati. Tidak lama kemudian, Pangeran Situbondo tiba di Surabaya. Ia segera menemui Purbawati. Adipati Jayengrana menyerahkan sepenuhnya keputusan pernikahan pada Purbawati. Karena merasa kebingungan, Purbawati akhirnya memberikan syarat sangat berat pada Pangeran Situbondo jika ingin mempersuntingnya. Ia memberikan syarat agar pangeran Situbondo membuka hutan di wilayah Surabaya yang terkenal sangat angker. Ia beralasan, hutan tersebut dibuka agar bisa menjadi tempat tinggal mereka dan keturunan mereka.

Meskipun syaratnya sangat berat, tapi Pangeran Situbondo menyanggupinya. Ia segera masuk ke dalam hutan Surabaya angker tersebut dan mulai bekerja membuka hutan. Dengan kesaktiannya, Pangeran Situbondo merasa yakin dapat membuka hutan tersebut dengan mudah.

Saat Pangeran Situbondo tengah membuka hutan, datanglah Pangeran Jaka Taruna ke Surabaya. Ia merasa kaget ketika mengetahui bahwa Pangeran dari Madura tengah membuka hutan sebagai syarat mempersunting Purbawati. Demi cintanya, Jaka Taruna segera menemui Adipati Jayengrana. Ia mengatakan bahwa ia telah lama menjalin kasih dengan Purbawati. Jaka Taruna menyatakan ingin mempersunting Purbawati.

Adipati Jayengrana menjadi bingung. Ia menyesalkan mengapa Jaka Taruna terlambat melamar Purbawati. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh Adipati Jayengrana selain menyerahkan masalah tersebut sepenuhnya kepada putrinya, Purbawati.

Purbawati lantas meminta Pangeran Jaka Taruna yang ia cintai untuk ikut membuka hutan sebagai syarat mempersuntingnya.

Pangeran Jaka Taruna Berduel Dengan Pangeran Situbondo
Jaka Taruna segera pergi ke hutan Surabaya untuk ikut membukanya. Ia membuka hutan di lokasi berdekatan dengan hutan tempat Pangeran Situbondo. Ketika keduanya bertemu, Pangeran Situbondo bertanya sedang apa ia di hutan tersebut. Pangeran Jaka Taruna mengatakan bahwa ia tengah membuka hutan sebagai syarat menikahi Purbawati.

Mendengar jawaban Jaka Taruna, Pangeran Situbondo sangat marah. Ia langsung menyerang Jaka Taruna. Keduanya lantas bertarung sengit mengerahkan segala kesaktian masing-masing. Ternyata kesaktian Situbondo jauh di atas kesaktian Jaka Taruna. Tidak lama kemudian Situbondo mampu memukul Jaka Taruna hingga tubuh Jaka Taruna terpental jauh. Tubuh Jaka Taruna tersangkut di atas pohon. Situbondo kemudian pergi dari tempat itu meninggalkan Jata Taruna begitu saja.

Jaka Taruna berteriak-teriak minta tolong karena ia tidak mampu melepaskan diri dari pohon. Namun hutan angker tersebut sangat jarang dilewati manusia sehingga tidak ada seorang pun mendengarnya. Beberapa lama kemudian ada seorang pemuda bernama Jaka Jumput mendengar teriakan Jaka Taruna. Ia kemudian mendekati Jaka Taruna dan menanyakan apa yang telah terjadi. Jaka Taruna kemudian menceritakan hal yang menimpanya. Setelah Jaka Jumput menolongnya melepaskan dari pohon, Jaka Taruna meminta bantuannya untuk mengalahkan Pangeran Situbondo. Ia berjanji jika Jaka Jumput mampu mengalahkan Situbondo, ia akan mengabulkan apapun permintaan Jaka Jumput.

Situbondo Dikalahkan Jaka Jumput
Jaka Jumput menyatakan kesediannya untuk mengalahkan Situbondo. Ia segera mencari Situbondo untuk menantang duel. Setelah ia bertemu Situbondo, ia langsung menantang duel. Situbondo merasa marah karena ditantang duel oleh orang yang baru ia kenal. Mereka berdua langsung bertempur, mengerahkan segala kesaktiannya, sementara Jaka Taruna hanya menonton dari kejauhan.

Setelah sekian lama adu kesaktian, Situbondo mulai terlihat kelelahan. Ternyata Jaka Jumput merupakan pemuda tangguh dan sakti mandraguna. Situbondo akhirnya merasa tidak sanggup melawan Jaka Jumput. Ia kemudian melarikan diri ke wilayah timur Kadipaten Surabaya. Wilayah tersebut di kemudian hari diberi nama Situbondo, sesuai dengan nama Pangeran Situbondo.

Jaka Taruna Berbohong
Melihat Pangeran Situbondo kalah, Pangeran Jaka Taruna segera pergi menemui Adipati Jayengrana dan Purbawati. Ia mengatakan bahwa Situbondo telah kalah bertarung dan lari ke timur. “Paman Adipati, Hamba telah berhasil mengalahkan Pangeran Situbondo. Ia telah lari ke wilayah timur dan tidak akan kembali. Oleh karenanya izinkanlah hamba mempersunting Purbawati.” kata Pangeran Jaka Taruna.

Tapi tidak lama kemudian datanglah Jaka Jumput di Kadipaten Surabaya menemui Pangeran Jaka Taruna. Saat mengetahui bahwa Pangeran Jaka Taruna mengaku-ngaku telah mengalahkan Pangeran Situbondo, Jaka Jumput merasa geram. Ia segera menemui Adipati Jayengrana dan mengatakan bahwa Pangeran Jaka Taruna telah berbohong. 

Mohon maaf atas kelancangan hamba, Adipati Jayengrana. Pangeran Jaka Taruna telah membohongi Kanjeng Adipati. Hamba telah mengalahkan Pangeran Situbondo, bukan Jaka Taruna.
kata Jaka Jumput.

Pangeran Jaka Taruna berang dengan pengakuan Jaka Jumput. Ia membantah telah berbohong pada Adipati Jayengrana. “Jangan percaya dia Kanjeng Adipati. Akulah yang telah mengalahkan Pangeran Situbondo. Jangan percaya orang yang baru dikenal.” kata Pangeran Jaka Taruna.

Adipati Jayengrana terperanjat dengan pengakuan Jaka Jumput. Ia merasa bingung dengan keadaan ini. Ia lantas meminta bukti pada Jaka Taruna dan Jaka Jumput bahwa mereka telah mengalahkan Pangeran Situbondo. 

Jika memang salah satu diantara kalian benar-benar telah mengalahkan Pangeran Situbondo, apa buktinya?
tanya Adipati Jayengrana.

Jaka Jumput kemudian mengeluarkan sebilah keris milik Pangeran Situbondo, kemudian menyerahkannya pada Adipati Jayengrana. 

Ini adalah keris milik Pangeran Situbondo, Kanjeng Adipati. Ini adalah bukti bahwa hamba telah mengalahkan Situbondo, bukan Jaka Taruna.
kata Jaka Jumput. Sedangkan Jaka Taruna tidak memiliki bukti apapun. 

Ia hanya terdiam.

Memang benar ini adalah keris milik Pangeran Situbondo.
kata Adipati Jayengrana. “Lantas mana bukti yang kau miliki hai Jaka Taruna?” tanya Adipati pada Jaka Taruna.

Jaka Taruna Berubah Menjadi Patung Joko Dolog
Pangeran Jaka Taruna hanya terdiam. Ia merasa malu karena kebohongannya terbongkar dengan kedatangan Jaka Jumput. Karena merasa tidak terima, ia lalu menantang Jaka Jumput untuk berduel. 
Kenapa Kanjeng percaya pada orang yang baru dikenal? Saya menantang Jaka Jumput berduel. Kita buktikan siapa lebih kuat diantara kita berdua.

Baiklah, Siapa diantara kalian memenangkan pertarungan maka ia boleh mempersunting putriku, Purbawati.
kata Adipati Jayengrana.

Pangeran Jaka Taruna kemudian berduel dengan Jaka Jumput. Keduanya mengerahkan kesaktian milik mereka. Jaka Taruna menggunakan keris pusakanya sementara Jaka Jumput menggunakan senjata cambuk yang ia beri nama Kyai Gembolo Geni. 

Awalnya pertarungan berjalan seimbang namun lambat laun Jaka Taruna terlihat tidak mampu mengimbangi kesaktian Jaka Jumput. Sampai akhirnya cambuk Jaka Jumput mengenai tubuhnya, sehingga membuat Pangeran Jaka Taruna terjatuh dan tergeletak di tanah tidak berdaya.

Jaka Taruna, mengapa engkau berani membohongiku. Aku kecewa denganmu.
kata Adipati Jayerngrana.

Pangeran Jaka Taruna hanya diam tergeletak di tanah. Tubuhnya lemah seusai bertarung. Ia juga sangat malu.

Mengapa engkau tidak menjawab pertanyaanku hai Jaka Taruna? 
Mengapa sekarang engkau hanya diam seperti patung?
Adipati Jayengrana merasa jengkel.

Tidak lama kemudian terjadi sebuah keanehan, tubuh Pangeran Jaka Taruna berubah menjadi sebuah patung. Ucapan Adipati Jayengrana menjadi sebuah kutukan. Di kemudian hari, patung Pangeran Jaka Taruna dinamakan Joko Dolog.
Referensi:
  1. Agni, Danu. 2013. Cerita Anak Seribu Pulau.Yogyakarta: Buku Pintar.
  2. Komandoko, Gamal. 2013. Koleksi Terbaik 100 plus Dongeng Rakyat Nusantara, PT.Buku Seru.
☆☆☆☆☆
Hay Friends Of Bitter, Bitter Coffee Park this Time will invite you in the stile of the chat coffe shops on:
Joko Dolog Statue
Joko Dolog Statue
Joko Dolog can be found on Taman Aspari Street. This statue is a Buddhist statue. It is said to have been made in the year 1289 in honor of the funeral of King Kertanagara, who was the last king of Singosari. It is believed to have been carried to Surabaya about 300 years ago. The statue can be found directly in front of the mansion of the governor of East Java, and the aroma of incense remains in the air as it is still a popular pilgrimage site.

A stone image of the Buddha Akshobya, curiously matching the description of the ‘"missing statue" at Candi Jawi, can be found today in a small secluded park in Surabaya. Known locally as Joko Dolog, the statue displays a lengthy Sanskrit inscription, carved neatly around its base. When it was translated for the first time early this century, the inscription was found to reveal important historical information dating from the period immediately prior to the founding of Majapahit. Translated in the year 1289 by a Buddhist scribe named Nada, the contents are roughly as follows.
It is said that many years ago, the sage Mpu Bharada divided the land of Java into the kingdoms of Janggala and Panjalu (Kediri), with the purpose of settling a dispute between two brothers over succession. The division was created magically, by means of holy water sprinkled out of a jar from the sky. However, during the reign of Sri Wishnuwardhana the country was reunited to the joy and benefit of all. The ruler, of whom the statue is said to be a portrait, was Wishnuwardhana’s son, Kertanagara, who commissioned the image as a symbol of this unification.
The information contained in the Joko Dolog inscription is especially interesting because it appears to establish the authenticity of certain historical figures and events, previously known only from ancient Javanese literature. The story of the division of Java by the sage Mpu Bharada is of course well known, and refers to the reign of King Airlangga in the 11th century. On the other hand, by giving Wishnuwardhana the credit for having reunited the country, the inscription has cast some doubt upon the reliability of traditional literary sources. This is true in regards to the story of Ken Angrok and Ken Dedes, which has been dismissed by some as complete fabrication.
Yet, since the 1975 discovery of a number of inscribed copper sheets originating from the region of Kediri, new light has been shed on the early years of the Singosari period. Known as the inscription of Mula Malurung, issued by King Kertanagara in 1255, it mentions the names of Wishnuwardhana, Tohjaya, as well as a number of other kings who have previously been unknown to historians. Finally, and most interestingly, the Mula Malurung inscription appears to suggest the existence of Ken Angrok, thus at least confirming a historical basis for a story which was regarded almost entirely as a myth.
☆☆☆☆☆

Belajar Spiritual dari Komunitas Indigo dan Telepati Surabaya (KITS) 

June 18, 2019 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang: 
Belajar Spiritual dari Komunitas Indigo dan Telepati Surabaya (KITS)
Pada Hari Sabtu, tepatnya tanggal 15 Juni 2019, Bitter Coffee Park mempunyai kesempatan menghadiri undangan dan belajar tentang Spiritual dari Komunitas Indigo dan Telepati Surabaya (KITS) dalam gelaran acara halal bihalal antar komunitas indigo dan penggiat spiritual di Jawa Timur, guna mempererat tali silahturahmi.

Empu Batu atau biasa dipanggil Kang Bagus selaku ketua Komunitas Indigo dan Telepati Surabaya ini mengungkapkan bahawa komunitas KITS selalu rajut persaudaraan dan bersinergi positif di segala hal.

Di acara halal bihalal tersebut juga dihadiri berbagai komunitas pelaku Speiritual, seperti:
  1. Omah Pamor Pamungkas, 
  2.  PAKHIS (Pasukan Khusus Terapis), 
  3. KIS (Komunitas Indigo Surabaya), 
  4. KIWB (Komunitas Indigo Wisata Batu), 
  5. FKPPAI (Forum Keluarga Paranormal & Pengobatan Alternatif Indonesia),
  6. SIJ (Spiritual Indonesia Jatim), 
  7. PARAEDAN Surabaya,
  8. SAS (Spiritual Alam Semesta), 
  9. IGSN (Ikatan Guru Spiritual Nusantara), 
  10. GARBHA BUDAYA, PATAKA Surabaya (Paguyuban Pusaka Surabaya), 
  11. Sejarawan Surabaya,
  12. Daya Insan Sejati, Mistik Adventure,
  13. Pelestarin Cagar Budaya (Damar Pendalu), 
  14. Pelestari dan Penggiat Kesenian Jaranan, 
  15. Komunitas Meditasi Surabaya, 
  16. Fakultas Kebudayaan UNAIR, 
  17. Seniman Jatim, 
  18. Komunitas Jenius Indonesia, 
  19.  Majelis Macan Ali. 
Membahas sejumlah agenda untuk menyambut hari jadi KITS Jatim yang ke 4 tahun di bulan Juli 2019, diantaranya menggelar pameran pusaka dan kebudayaan termasuk bakti sosial.

Biasanya disitu ada pameran pusaka, pameran hal-ha yang berhubungan dengan spiritual. Dan harapan Komunitas Indigo dan Telepati Surabaya (KITS) itu sebagai satu komunitas yang mampu menjembatani, mampu mewadahi teman-teman spiritual di Jawa Timur dengan program-program yang kita punyai.

Didalam, acara tersebut, Bitter Coffee Park tergabung dalam SAS (Spiritual Alam Semesta) dari Surabaya dan mendapat julukan Ki Paut Anomsari. (Promosi nih kelihatannya, hehehehehe....)

Sebagai pelaku baru di dunia Spiritual, banyak pengalaman yang Bitter Coffee Park dapat dari para sesepuh Pelaku Spiritual Jawa Timur ini, Bitter Coffee Park perlu banyak belajar dari beliau-beliau ini.
(NB: Hasil Bahasan tidak di tulis disini, karena merupakan Hak Pengalaman dari KITS)

Sebelumnya, Bitter Coffee Park sudah banyak menulis perihal Spiritual di Blog Bitter Coffee Park.


Berikut Tulisan Artikel Bitter Coffee Park Tentang Spiritual:

DIMENSI SPIRITUAL PADA UMUMNYA
Dimensi spiritual adalah sesuatu yang terintegrasi dan berhubungan dengan dimensi yang lain dalam diri seorang individu. 

Spiritualitas mewakili totalitas keberadaan seseorang dan berfungsi sebagai perspektif pendorong yang menyatukan berbagai aspek individual. 

Setiap individu memiliki definisi dan konsep yang berbeda mengenai spiritualitas. Kata-kata yang digunakan untuk menjabarkan spiritualitas termasuk makna, transenden, harapan, cinta, kualitas, hubungan, dan eksistensi.
(Emblen dalam Potter & Perry, 2005).

Keyakinan dan kepercayaan akan Tuhan biasanya dikaitkan dengan istilah agama. 

Di dunia ini, banyak agama yang dianut oleh masyarakat sebagai wujud kepercayaan mereka terhadap keberadaan Tuhan. 

Tiap agama yang ada di dunia memiliki karakteristik yang berbeda mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan dan keyakinan sesuai dengan prinsip yang mereka pegang teguh. 

Keyakinan tersebut juga mempengaruhi seorang individu untuk menilai sesuatu yang ada sesuai dengan makna dan filosofi yang diyakininya. 

Rokeach meyakini bahwa setiap orang memiliki sebuah sistem keyakinan, sikap dan nilai yang sangat teratur yang menjadi panduan perilakunya.
(Littlejohn and Foss, 2005 : 79)

GALERI PHOTO DI ACARA HALAL BIHALAL
Komunitas Indigo dan Telepati Surabaya
(K.I.T.S)








☆☆☆☆☆☆