Legenda Keris Kyai Sengkelat (Brawijaya Ke v) Dan Sunan Ampel

August 17, 2020 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Legenda Keris Kyai Sengkelat (Brawijaya Ke v) Dan Sunan Ampel
Keris Sengkelat adalah keris pusaka luk tiga belas yang diciptakan pada jaman Majapahit (1466 – 1478), yaitu pada masa pemerintahan Prabu Kertabhumi (Brawijaya V) karya Mpu Supa Mandagri.

Mpu Supa adalah salah satu santri Sunan Ampel. Konon bahan untuk membuat keris Sengkelat adalah cis, sebuah besi runcing untuk menggiring onta.

Konon, besi itu didapat Sunan Ampel ketika sedang bermunajat.

Ketika ditanya besi itu berasal darimana, dijawab lah bahwa besi itu milik Muhammad saw.

Maka diberikan lah besi itu kepada Mpu Supa untuk dibuat menjadi sebilah pedang.

Namun sang mpu merasa sayang jika besi tosan aji ini dijadikan pedang, maka dibuatlah menjadi sebilah keris luk tiga belas dan diberi nama keris Sengkelat.

Setelah selesai, diserahkannya kepada Sunan Ampel.

Sang Sunan menjadi kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang dikehendakinya.

Maka oleh Sunan Ampel disarankan agar keris Sengkelat diserahkan kepada Prabu Brawijaya V.

Ketika Prabu Brawijaya V menerima keris tersebut, sang Prabu menjadi sangat kagum akan kehebatan keris Kyai Sengkelat.

Dan akhirnya keris tersebut menjadi salah satu piyandel (maskot) kerajaan dan diberi gelar:
Kangjeng Kyai Ageng Puworo, 
mempunyai tempat khusus dalam gudang pusaka keraton.
loading...

loading...

Pusaka baru itu menjadi sangat terkenal sehingga menarik perhatian Adipati Blambangan.

Adipati ini memerintahkan orang kepercayaannya untuk mencuri pusaka tersebut demi kejayaan Blambangan, dan berhasil.

Mpu Supa yang telah mengabdi pada kerajaan Majapahit diberi tugas untuk mencari dan membawa kembali pusaka tersebut ke Majapahit.

Karena taktik yang jitu dari mpu sumpa akhirnya keris itu ia dapatkan kembali dan tanpa menyebabkan peperangan.

Malah Ki Nambang akhirnya dianugerahi seorang putri kadipaten yang bernama Dewi Lara Upas, adik dari Adipati Blambangan itu sendiri.

Sang Mpu yang berhasil melaksanakan tugas selalu mencari cara agar dapat kembali ke Majapahit.

Ketika kesempatan itu tiba maka beliau pun segera kembali ke Majapahit dan meninggalkan istrinya yang sedang hamil.

Sebelum pergi, beliau meninggalkan pesan kepada sang istri bahwa kelak jika anak mereka lahir laki-laki agar diberi nama Joko Suro, serta meninggalkan besi bahan untuk membuat keris.

Baca Juga:
  1. Legenda Keris Kyai Brojol - 
  2. Legenda Keris Kyai Carubuk - 
  3. Legenda Keris Kyai Sengkelat (Brawijaya Ke v) Dan Sunan Ampel - 
  4. Legenda Keris Kyai Singo Barong - 
  5. Legenda Keris Pandawa Lima - 
  6. Legenda Keris Semar Kuncung Kencana - 
  7. Mengena Senjata Kas Suku Jawa (Keris) - 
☆☆☆☆☆

Legenda Keris Kyai Singo Barong

August 16, 2020 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Legenda Keris Kyai Singo Barong
Tanah nusantara adalah tanah bertuah yang menyimpan beragam benda-benda pusaka peninggalan nenek moyang. 

Legenda Indonesia selalu dihiasi dengan kehadiran keris-keris sakti yang dipercaya mampu memberikan kekuatan kepada pemiliknya. 

Sebut saja keris Mpu Gandring, Nagasasra dan Sabuk Inten, hingga Condong Campur. 

Keris-keris tersebut tidak hanya ternama, namun juga bisa menghasilkan efek tertentu jika digunakan.

Salah satu keris yang cukup disegani di tanah nusantara adalah Kyai Singo Barong. 

Keris dengan dapur singa lanang (singo barong) ini menjadi buruan para pencinta keris, karena diyakini dapur singo barong memiliki kekuatan yang luar biasa. 

Dapur singa (simha) dipercaya akan membuat pemiliknya mempunyai karakter layaknya singa, yakni pemberani, kuat, tangguh, dan ditakuti baik kawan maupun lawan. 

Tidak hanya itu, wibawa yang melekat pada keris ini disebut-sebut dapat meningkatkan kharisma pemiliknya.

Keris Kyai Singo Barong memang salah satu keris langka yang sangat istimewa. 

Jika kharisma keris sudah menyatu dengan pribadi pemiliknya, tidak pelak lagi sang pemilik akan mewarisi sifat singa yang gagah berani. 

Hanya saja, tidak semua orang cocok memegang keris pusaka yang satu ini.

Pusaka Keris Kyai Singa Barong Keris Kyai Singa Barong sebagai mana mestinya benda yang sudah kami ritual diyakini memiliki wasilah/ manfaat/ sarana :
  1. Melesitkan karier jabatan anda.
  2. Mempercepat dalam meraih jabatan sesuai dengan keinginan anda.
  3. Disegani dan dihormati oleh atasan maupun bawahan anda.
  4. Membuka cakra aura kewibawaan.
  5. Disegani oleh orang-orang di lingkungan pekerjaan anda.
  6. Bagi anda yang belum mendapatkan pekerjaan akan memudahkan anda dalam mendapatkan pekerjaan yang cocok dengan anda.
  7. Sebagai perlindungan diri dari rekan kerja yang berniat jahat kepada anda.
  8. Menjauhkan hal-hal negatif  yang menyerang anda.
  9. Menjauhkan anda dari serangan serangan ghaib yang berusaha menjatuhkan karier pekerjaan anda.
  10. Perlindungan diri secara ghaib.
  11. Dan masih banyak lagi manfaat dari Pusaka Keris Kyai Singa Barong yang bisa anda rasakan sendiri.
Dalam setiap benda sudah selayaknya memiliki fungsi/ manfaat masing-masing bukan berarti menduakan Tuhan atau Menyembah benda tersebut akan tetapi menjadikan benda tersebut penunjang atau sarana agar segala kebutuhan dan keinginan dapat segera tercapai, dan segala hasil yang telah kita dapatkan dengan segala sarana atau penunjang yang kita miliki sudah selayaknya bersyukur kepada-Nya karena tak terbantahkan oleh apapun bahwa segala keputusan yang ada di dunia ini hanya di tangan Allah SWT.

Adapun berbagai media yang digunakan setiap orang untuk dijadikan sebagai sarana agar segala keinginannya segera terpenuhi, baik secara fisik maupun secara gaib.


Sebuah pusaka sebagai sarana yang mampu membantu anda dalam keselamatan anda.

Ritual khusus untuk Pusaka Keris Singa Barong agar dapat berselaras dengan pemilik yang akan menggunakan secara otomatis, sehingga tidak perlu ada yang dikhawatirkan jika saja Mustika dipegang orang lain atau lupa menaruh untuk sesaat.

Baca Juga:
  1. Legenda Keris Kyai Brojol - 
  2. Legenda Keris Kyai Carubuk - 
  3. Legenda Keris Kyai Sengkelat (Brawijaya Ke v) Dan Sunan Ampel - 
  4. Legenda Keris Kyai Singo Barong - 
  5. Legenda Keris Pandawa Lima - 
  6. Legenda Keris Semar Kuncung Kencana - 
  7. Mengena Senjata Kas Suku Jawa (Keris) - 
☆☆☆☆☆

Filosofi keris dilihat dari jumlah luknya

August 07, 2020 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Filosofi keris dilihat dari jumlah luknya
Dapur Keris adalah penamaan ragam bentuk atau tipe keris, sesuai dengan ricikan yang terdapat pada keris itu dilihat dari jumlah luknya. Penamaan dapur keris ada patokannya, ada pembakuannya.

Orang Jawa menafsirkan bentuk dari bilah keris itu bukan sekedar untuk memberikan sajian tentang kekuatan (fisik) dan keindahan (artistik) belaka. 

Pada kehadiran simboliknya juga mengandung makna-makna yang mendalam, dengan pesan-pesan moral dan etika tertentu. 

Sebagian masyarakat memiliki keyakinan, justru dengan kandungan yang maknawiyah tersebut maka keris memiliki nilai-nilai pedagogis, dan secara terus menerus dianggap akan memiliki relevansi untuk diwariskan kepada generasi yang, lebih muda, meski keris tidak lagi menjadi senjata utama yang diperlukan di dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Makna yang mendalam dan pesan-pesan moral serta etika. tersebut, dianggap sebagai suatu bagian dari pemikiran orang Jawa terhadap kebudayaannya, yang dahulunya merupakan bagian dari wacana kebudayaan yang dikembangkan oleh para waliyullah di tanah Jawa, terutama Sunan Kalijaga di Kadilangu. 

Mengenai bentuk keris beserta tafsir kultural terhadap makna simboliknya, pada masa-masa yang lebih kemudian menjadi bagian dari pengajaran tentang dunia keris, yang sejak jaman Mataram selalu diajarkan kepada masyarakat oleh para pujangga atau lurahing empu.

Termasuk di antaranya tokoh semacam:
  1. Ki Nom Mataram, 
  2. Pangeran Wijil (II) di Kartasura, dan 
  3. Oleh tim keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang dipimpin:
  • Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom, 
  • Hamengkunagara (III), dan
  • Susuhunan Pakoe Boewana (V)
sebagaimana dituliskan sebagai salah satu bahan pembahasan di dalam Suluk Tambangraras atau Serat Centhini.

Di dalam pada itu, unsur-unsur yang melekat dan bagan-bahan yang digunakan untuk pembuatan keris, dicandra dan ditafsirkan melalui kandungan pesan-pesannya yang bernuansa Moral dan Etik yang kuat, terutama di dalam kaitan dengan kesinambungan wilayah kehidupan mikrokosmos (jagad kecil) dan makrokosmos (jagad besar).

Filosofi Keris Lurus
Filosofi tuah khasiat spiritual dari bentuk keris lurus adalah sebagai lambang:
  1. kelurusan hati, 
  2. keteguhan hati pada tujuan dan
  3. sarana pemujaan kepada Tuhan sang pencipta alam.
Kekuatan mental yang kuat dan kepercayaan tinggi diri yang kuat sesuain sifat dan karakter kerisnya tersebut, bagi pemilik keris diharapkan senantiasa untuk:
  1. menjaga keteguhan dan kelurusan hati,
  2. tekun beribadah,
  3. menjaga budi pekerti, moral dan sikap kesatria
Dalam berbagai ritual persembahan, selain untuk peribadahan kepada sang pencipta.

Keris itu biasanya diberi sarana sesaji doa sebagai sarana menyelaraskan batin menjadi satu kesatuan supaya doa dan pengharapan pemilik keris bersama dengan pusakanya dapat sampai kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena selain sebagai pusaka ageman dan senjata keris juga menjadi sarana dalam dunia kerohanian

Jenis keris lurus mengandung sisi spiritual dalam pembuatannya sebagai lambang kelurusan hati, kepercayaan diri dan mental yang kuat, keteguhan hati pada tujuan dan sarana pemujaan kepada Sang Pencipta. 

Sesuai sifat kerisnya itu, si pemilik keris diharapkan selalu menjaga kelurusan dan keteguhan hati, tekun beribadah, menjaga moral dan budi pekerti dan sikap ksatria.

Keris lurus juga diidentikkan sebagai lambang ksatria, ketulusan hati dan sikap setia pada tanggung jawab, dan menjadi sarana doa untuk menundukkan keilmuan orang-orang jahat, untuk membela kebenaran dan orang-orang yang tertindas. 

Banyak ksatria jaman dulu yang lebih memilih keris lurus daripada keris ber-luk.

Dalam ritual-ritual pemujaan, selain si pemilik beribadah kepada Yang Maha Kuasa, keris itupun diberi sesaji dan doa sebagai sarana menyatukan kebatinan, menjadi satu kesatuan kebatinan supaya doa-doa dan permohonan sang pemilik keris, bersama kerisnya, dapat sampai kepada Yang Dipuja. 

Bagi pemiliknya, keris lurus berguna, selain sebagai senjata dan pusaka, juga menjadi sarana untuk membantu dalam kerohanian.

Pada masanya, keris bukan hanya menjadi senjata ataupun pusaka, tetapi juga dianggap sebagai 'berkah' (wahyu) dari dewa kepada sang pemilik keris, sesuai agama manusia pada masa itu. 

Karena itulah sang pemilik keris akan benar-benar menjaga dan memelihara kerisnya, bahkan juga akan meng-"keramat"-kannya, lebih daripada sekedar senjata atau pun jimat.

Dalam ritual kerohanian, ada juga suatu jenis keris lurus yang dijadikan sarana pembersihan gaib dari mahluk halus yang mengganggu (keris sajen), seperti dalam ritual ruwatan sengkolo, ritual bersih desa, pemberkatan pembukaan lahan baru, dsb, yang biasanya kemudian keris itu akan dilarung.

Pada jaman sekarang ini, dibandingkan jenis keris ber-luk, biasanya jenis keris lurus masih memberikan satu rangkaian tuah yang lengkap. Rangkaian kesatuan tuah yang lengkap ini jarang sekali didapatkan dari keris-keris ber-luk pada jaman sekarang ini. Dalam pemeliharaannya, dibandingkan keris ber-luk, biasanya keris lurus lebih banyak menuntut untuk sering diberi sesaji.

Biasanya ketajaman energi gaib keris lurus dapat dirasakan ketika ujung kerisnya diarahkan kepada seseorang. 

Secara umum, walaupun bentuknya lebih sederhana, namun keris lurus memiliki kegaiban dan wibawa yang lebih kuat dan lebih wingit dibandingkan keris ber-luk. 

Selain itu, karena wibawa kegaibannya yang kuat.

Filosofi Keris Luk 1
Dalam pembuatannya, keris ber-luk 1 memiliki makna sebagai sarana untuk membantu pemiliknya mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa dan membantu supaya keinginan-keinginan si pemilik dapat lebih cepat tercapai, misalnya keinginan dalam hal kekuasaan, kepangkatan dan derajat.

Angka 1 merupakan lambang harapan dan karunia kesejahteraan, kemakmuran dan kemuliaan. Dibandingkan keris lurus, keris ber-luk 1 lebih menandakan kekuatan hasrat duniawi manusia yang ingin dicapai.

Biasanya keris ber-luk 1 mengeluarkan hawa aura yang agak panas dan sifat energi yang tajam. Kebanyakan dibuat untuk tujuan kesaktian, kekuasaan dan wibawa.

Filosofi Keris Luk 3
Salah satu filosofi dari dapur keris luk 3 jangkung adalah dijadikan pepeling atau pengingat atas tugas utama manusia sebagai khalifah atau pemimpin didunia.

Sehingga, tugas dan kewajiban guna memberikan perlindungan dan pengayoman bagi seluruh makhluk ciptaan Tuhan berada pada pundak manusia sebagai khalifah didunia

Akan tetapi yang kerap terjadi ialah manusia menjadi terlalu mendominasi atas segala kerusakan kehidupan di alam semesta seolah olah manusia adalah makhluk tunggal yang berdiri sendiri. 

Perhatian dan fokus utama mereka hanya pada kebutuhan dan ego manusia itu sendiri tanpa memikirkan bahwa alam semesta dan dunia ini sebenarnya adalah sebuah rangkaian kehidupan antar makhluk ciptaan Tuhan yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain.

Hal ini menunjukkan bahwa adanya pergeseran fungsi manusia sebagai pelindung dan pengayom makhluk menjadi penguasa sehingga cenderung sewenang wenang tanpa memandang keseimbangan kehidupan

Adapun Filosofi Makna spiritual dalam pembuatan keris luk 3, yaitu sebagai lambang kedekatan manusia dengan Tuhan dan juga sebagai sarana membantu mempercepat tercapainya harapan sang pemilik pusaka. 

Keris ber-luk 3 lebih menonjolkan keseimbangan antara kehidupan kerohanian/ batin dan duniawi/ raga manusia, keseimbangan antara sisi spiritual dan jasmani, kemapanan duniawi dan batin dalam menjalani kehidupan di dunia. 

Kegaiban di dalam keris ber-luk 3 lebih dapat menyesuaikan diri dengan kondisi psikologis si manusia pemilik keris. Hawa aura energinya juga biasanya lebih halus dan lebih lembut.

Filosofi Keris Luk 5
Dapur keris Luk 5 (lima) adalah keris yang memiliki bentuk dengan jumlah luk (lekuk) sebanyak lima lekukan (luk).

Biasanya jenis keris luk 5 dibuat dengan harapan memberikan yoni (khasiat) yang berkaitan denagn kekuasaan dan wibawa sehingga pemilik dari pusaka tersebut dihormati dan disegani oleh banyak orang. 

Jenis keris ini diciptakan oleh empu untuk menjaga karisma dan wibawa keagungan, kebangsawanan, keningratan dihormati dan dicintai rakyat atau bawahan.

Pada jaman kerajaan dulu di jawa, keris luk 5 hanya boleh dimiliki oleh golongan bangsawan seperti raja, pangeran dan keluarga raja, para bangsawan yang memiliki kekerabatan atau memiliki garis keturunan raja, dan adipati/ bupati saja. (Orang-orang ningrat)

Selain mereka, tidak ada orang lain yang boleh memiliki atau menyimpan keris ber-luk 5.

Demikianlah aturan yang berlaku di masyarakat perkerisan jaman dulu. 

Keris ber-luk 5 hanya boleh dimiliki oleh orang-orang keturunan raja dan bangsawan kerabat kerajaan, memiliki kemapanan sosial dan menjadi pemimpin di masyarakat. 

Dengan kata lain, keris ber-luk 5 disebut juga Keris Keningratan.

Biasanya keris ber-luk 5 dibuat untuk tujuan memberikan tuah yang menunjang wibawa kekuasaan dan supaya dicintai/ dihormati banyak orang. 

Keris-keris jenis ini diciptakan untuk menjaga wibawa dan karisma keagungan kebangsawanan/ keningratan, dihormati dan dicintai rakyat dan bawahan, dan menyediakan kesaktian yang diperlukan untuk menjaga wibawa kebangsawanan itu.

Biasanya keris-keris ber-luk 5 lebih banyak menuntut untuk diberi sesaji dibandingkan keris lurus dan keris ber-luk lainnya.

Selain keris-keris ber luk 5, yang tergolong dalam jenis keris keningratan adalah pusaka-pusaka yang dahulu menjadi lambang kebesaran sebuah kerajaan/ kadipaten/ kabupaten, yang hanya patut dimiliki oleh seorang raja, adipati, dan bupati jaman dulu atau keturunan mereka yang masih membawa sifat-sifat dan derajat leluhurnya itu.Selain itu, yang tergolong dalam jenis keris ini adalah juga keris-keris yang dahulu diperuntukkan untuk keningratan dan kebangsawanan, seperti keris-keris berdapur nagasasra dan singa barong.

Pada jaman sekarang jenis keris keningratan ini masih memberikan satu rangkaian tuah yang lengkap, yaitu tuah kesaktian dan wibawa kekuasaan, jika, dan hanya jika, keris-keris itu dimiliki oleh orang-orang yang sesuai dengan tuntutan kerisnya.

Keris-keris yang bertuah keningratan dan kebangsawanan, misalnyakeris-keris ber-luk 5 atau keris-keris singa barong, menginginkan seorang pemilik yang juga memiliki garis keturunan ningrat/ bangsawan.

Filosofi Keris Luk 7
Angka 7 merupakan lambang kesempurnaan illahi.

Keris ber-luk 7 terutama diperuntukkan bagi orang-orang yang menganggap hidup keduniawiannya sudah sempurna, sudah cukup, sudah tidak lagi mengejar keduniawian untuk lebih menekuni hidup kerohanian.

Keris ber-luk 7 dibuat untuk raja dan keluarga raja yang sudah mandito dan untuk tujuan kemapanan kerohanian/ kesepuhan, dimaksudkan untuk dimiliki oleh raja atau keluarga raja yang sudah matang dalam usia dan psikologis atau yang sudah mandito.

Dalam filosofi jawa luk tujuh disebut “pitu” yang dalam jarwo dosok bisa berarti pitutur, piwulang, dan pitulungan, yaitu ajaran yang baik, petunjuk atau pertolongan. 

Angka tujuh bagi penduduk Nusantara, terutama masyarakat Jawa, merupakan angka keramat yang memiliki makna ketentraman, kebahagiaan, kewibawaan dan kesuksesan. 

Angka tujuh dapat dipersamakan dengan jumlah lapisan langit (sap) hingga seluruhnya ada tujuh, demikian pula dengan hari dalam seminggu yang terdiri dari 7 hari. 

Atau kesempurnaan dan selamatan anak dalam kandungan dilakukan hitungan bulan ke-7 (pitonan), dalam upacara kematianpun dilakukan peringatan pada hari ke-7 (pitung dinanan).

Filosofi Keris Luk 9
Keris ber-luk 9 juga dibuat untuk tujuan kemapanan kerohanian dan kesepuhan. 

Dikhususkan untuk dimiliki oleh para pandita atau panembahan dan para sesepuh masyarakat.

Selain memberikan tuah keselamatan, kerohanian, keilmuan dan perbawa kesepuhan, jenis keris ini biasanya mengeluarkan hawa aura yang sejuk.

Angka 9 dalam masyarakat Jawa Kuno

Borobudur, candi terbesar yang didirikan oleh dinasti Syailendra yang menganut ajaran Budha Gautama, sesungguhnya memiliki 9 tingkatan pada tataran “Manusia dan Bumi”, sedangkan tingkatan terakhir yang ke 10 adalah merupakan tingkatan puncak seseorang untuk menjadi Budha dan juga melambangkan Nirwana dimana Budha bersemayam.

Pendapat lain menyatakan bahwa dalam pandangan masyarakat Jawa Kuno, angka 9 (sembilan) yang dijabarkan kembali dalam olah kebathinan oleh Sri Susuhunan Pakubuwono IX dinyatakan bahwa babakan howo songo adalah kunci pengaturan dan pengendalian menuju kesempurnaan hidup. Jika lubang 9 (seperti mata, hidung, telinga, mulut, dsb) dapat dikendalikan, maka manusia akan menemukan keselamatan hidup di dunia dan akherat.

Dalam primbon, angka 9 (sembilan) melambangkan Mars, dipandangan sebagai angka puncak, dengan makna khusus bahkan dianggap paling suci. 

Bila dikalikan angka berapapun, penjumlahan angka tersebut kembali sebagai angka sembilan. (contoh 3×9=27;2+7=9, dst)

Jika menilik pada jumlah angka dasar yang ada 0-9, maka angka 9 (sembilan) memiliki nilai yang paling tinggi. 

Tak heran bila angka tersebut sering disebut sebagai simbol kesempurnaan sekaligus dimaknai dengan kerahasiaan. 9 (sembilan) adalah batas kemampuan dan penalaran pikiran manusia, sebab setelah sembilan akan kembali 0 (kosong), lalu mulai lagi dengan hitungan awal pertama atau satu (1). 

Dengan semikian keris yang memiliki luk berjumlah 9 (sembilan) adalah merupakan pengejawantahan dari sebuah kesempurnaan hidup (kasampurnaning urip) bagi masyarakat Jawa jaman dahulu.

Filosofi Keris Luk 11
Dapur Keris Luk 11 (sebelas) adalah jenis keris dengan jumlah luk sejumlah 11, filosofi Keris dengan luk 11, pada awalnya dibuat untuk meningkatkan kemapanan/ pakem pembuatan keris pada jamannya, mengingat angka 11 tidak memiliki makna khusus dalam tradisi budaya jawa.

Keris dengan luk 11 biasanya mempunyai pembawaan yang sejuk/ teduh, tidak angker, tetapi dibalik keteduhan itu terkandung suatu energi gaib yang tajam yang siap merobek pertahanan perisai energi gaib lawan.

Salah satu Contoh keris dengan luk 11 adalah Keris Sabuk Inten yang terkenal sakti dan banyak dibuat tiruannya. Keris tersebut memiliki pembawaan yang teduh, tidak angker. Tetapi dibalik keteduhan itu terkandung suatu energi gaib yang tajam yang siap menembus pertahanan perisai gaib lawan, apalagi bila ujung kerisnya diarahkan kepada seseorang.

Pada awalnya Keris Sabuk inten luk 11 memang membingungkan banyak orang karena tidak sesuai dengan kebiasaan/ pakem keris yang umum. 

Selain karena jumlah luk-nya yang 11, keris itu juga berwarna hitam gelap, tidak mengkilat dan tidak berpamor (keleng). 

Namun karena kesaktiannya yang sangat tinggi, keris itu kemudian banyak dibuat turunannya/ tiruannya (tetiron), yaitu yang disebut keris-keris berdapur sabuk inten.

Filosofi Keris Luk 13
Angka 13 dalam budaya jawa mempunyai makna yang jelek, yaitu kesialan, musibah atau malapetaka. 

Pembuatan keris ber-luk 13 dimaksudkan dengan kesaktian dan wibawa kekuasaannya, keris ini menjadi penangkal kesialan atau musibah. 

Keris ber-luk 13 biasanya dibuat untuk tujuan kesaktian dan wibawa kekuasaan.

Contoh keris ber-luk 13 yang terkenal adalah keris Nagasasra yang bersifat penguasa, pengayom dan pelindung. Aura wibawa keris ini sangat kuat. 

Aura wibawanya menunjang kewibawaan pemiliknya supaya disujuti banyak orang dan wataknya sebagai pengayom dan pelindung akan selalu melindungi orang-orang yang berlindung kepadanya.
○○○○○
Demikianlah diantara makna simbolik dalam bentuk bilahan keris sebagai ajaran filsafat dari para sesepuh tanah Jawa yang Adiluhung. Semoga kita semua bisa pertahankan keagungan budaya dan ajaran filsafat para pendahulu kita. Amiin
☆☆☆☆☆
🔴LIVE Jangan Lupa Subscribe... Karena Subscribe itu gratis dan tidak perlu Bayar. apalagi mau menonton Videonya.. 😉😉😉😉😉 https://youtu.be/PXpMM1bVB1Y

Legenda Keris Kyai Brojol

July 30, 2020 0
Hay Sahabat Bitter, kali ini Bitter Coffee Park akan mengajak Kalian Ngobrol ala Obrolan Warung Kopi tentang:
Legenda Keris Kyai Brojol
Dalam masyarakat yang memandang keris dari sisi isoteri, sering kali dhapur keris Brojol ini dikaitkan dengan tuahnya “memperlancar kelahiran jabang bayi”. Sehingga mungkin banyak orang yang menganggap keris ini hanya cocok untuk mereka yang berprofesi sebagai dukun bayi. Benar dan tidaknya mengenai tuah tersebut, hanya Tuhan yang mengetahui. Namun di sisi lain, dijumpai bahwa banyak masyarakat yang memperoleh pusaka warisan keluarga ber-dapur Brojol, meskipun mereka bukan dari keturunan dukun bayi.

BROJOL SEBAGAI SIMBOL KELAHIRAN
Keris Dapur Brojol, sebagaimana dhapur keris lainnya merupakan suatu karya yang mempunyai muatan spiritual berupa ajaran-ajaran hidup.

Secara terminologi, brojol memang identik dan terkait dengan masalah kelahiran. Brojol merupakan istilah Jawa untuk ungkapan peristiwa kelahiran jabang bayi ke dunia.

Keris berdapur brojol, sebagai simbol kelahiran bayi sebenarnya bukan pada proses kelahiran itu sendiri yang akan disampaikan, akan tetapi ditujukan pada kesucian jabang bayi yang baru dilahirkan, yaitu fitrah manusia.
Ajaran-ajaran Jawa disampaikan penuh dengan pengetahuan esoterik yang merangsang angan-angan dan perenungan.
(Niels Mulder, 2001:129)

Penafsiran yang dilakukan sangat tergantung wawasan dan pengalaman masing-masing pribadi yang sangat subjektif.

Dalam budaya suatu ajaran yang dianggap penting jika disampaikan tanpa simbolisasi tentu menjadi tidak menarik dan juga kurang menyenangkan, karena disampaikan secara biasa-biasa saja (polos) dan tegas.

Sebaliknya semakin tersembunyi (simbolik) dan semakin rumit maka akan semakin menarik dan makin mengembangkan pemikiran.

FITRAH MANUSIA
Fitrah manusia merupakan potensi dasar yang ada pada manusia untuk percaya adanya Tuhan dan selalu condong kepada kebenaran.

Fitrah ini diciptakan dan bersumber dari Tuhan.

Oleh karenanya, fitrah manusia mengarah kepada tujuan yang satu, kebenaran, dan kesucian jiwa yang menjadikan manusia selalu kembali dekat kepada Penciptanya.

Pada hakekatnya, dalam diri manusia ada fitrah untuk senantiasa berbuat baik dan menjauhkan diri dari perbuatan jahat.

Nurani manusia selalu merindukan kedamaian dan ketenangan.

Jauh di dalam lubuk hati manusia, pada dasarnya selalu ada kerinduan untuk terus menerus mengikuti jalan agama yang benar.

Inilah fitrah manusia yang sesungguhnya, fitrah yang diajarkan agama.

Fitrah manusia itu pada dasarnya memiliki kecondongan membutuhkan adanya Tuhan Sang Pencipta.

Dengan kecenderungan fitrah inilah manusia bagaimanapun ingkarnya ketika manusia dalam keadaan tidak berdaya, maka tetap akan mengakui keberadaan dan kekuasaan Tuhan.

Inilah hakikat fitrah manusia, apabila mereka taat dan patuh pada perintah Tuhan, mereka akan selalu dekat dengan-Nya.

Apabila manusia dekat dengan Tuhannya, manusia akan selalu merasakan kehadiran Tuhan setiap saat.

Manusia akan merasa bahwa setiap perilakunya, gerak geriknya berada dalam pengawasan Tuhan.
loading...

loading...

Jika fitrah manusia telah kembali dan terjaga, timbul sifat ihsan dalam dirinya.

SIKAP DAN PERBUATAN MANUSIA
Serasa manusia berada dalam perhatian Tuhan, sehingga menjadikannya tertib dan berhati-hati dalam setiap sikap dan perbuatan.

Prinsip kebaikan ini diakui oleh seluruh umat manusia, sedangkan perilaku yang tidak baik akan senantiasa mengantarkan manusia menuju kehinaan dan kesengsaraan.

Ironisnya, banyak di antara kita yang melupakan fitrah insaniyah (kemanusiaan) kita.

Sebagian besar kita justru dipengaruhi, bahkan dikuasai oleh nafsu.

Kita sering menjadikan nafsu sebagai illahi (Tuhan) dalam kehidupan ini. Padahal dalam ajaran agama Tuhan secara tegas mengecam para budak NAFSU.

Tidak lain seperti halnya binatang yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan.

Betapa nista dan hinanya sebutan padanan yang diberikan Tuhan kepada para pemuja nafsu.

Mereka diibaratkan seperti binatang, bahkan jauh lebih hina dari binatang.

Inilah saat ketika manusia tergelincir berbuat kejahatan yang menghinakan dirinya serta menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan dan agamanya.

Manusia diciptakan sebagai mahluk paling sempurna, karena dikaruniai akal.

Akal akan menuntun manusia untuk menentukan derajatnya, apakah di bawah binatang atau bahkan di atas malaikat.

Dalam pandangan Jawa ada dua macam nafsu yang sangat menghalangi nilai kemanusiaan, yaitu hawa nafsu (nafsu-nafsu) dan pamrih (egoisme).

1. Fitrah Manusa Itu Nafsu
Tidak perlu disebutkan disini bermacam nafsu, namun secara umum ada idiom yang di sebut Mo-Limo, yaitu:
  1. Madat (nyandu obat terlarang), 
  2. Madon (main perempuan, selingkuh, gaya bebas), 
  3. Minum (Mabuk), 
  4. Maling (mencuri, menipu, korupsi), dan 
  5. Main (judi).
Hawa Nafsu yang tidak baik, merupakan perasaan dan tindakan kasar yang melemahkan kontrol diri manusia sehingga dapat melemahkan kekuatan batin.

Orang yang dikuasai nafsu menunjukkan bahwa akal budi belum menduduki pengendalian jiwanya.

Manusia semacam itu tidak lagi mengembangkan segi-segi halusnya (perasaan) dan kebanyakan akan menimbulkan konflik dan pertentangan, baik dalam keluarga maupun dalam lingkungannya dengan masyarakat.

2. Fitrah Manusa Itu Pamrih
Bertindak oleh karena pamrih berarti hanya mementingkan kepentingannya sendiri tanpa mengindahkan kepentingan orang lain bahkan seringkali merugikan orang lain.

Pamrih merupakan sikap yang memperlemah manusia dari dalam.

Pamrih terutama terkait dengan tiga nafsu, yaitu menganggap dirinya paling berkuasa, menganggap dirinya yang paling benar, dan hanya memperhatikan kebutuhan diri sendiri.
☆☆☆☆☆
Dua macam hal tersebut menjadi halangan manusia mencapai Fitrah yang telah diberikan oleh Tuhan dan banyak keinginan manusia diluar kebutuhannya.

Manusia yang telah dikuasai oleh nafus selalu berusaha untuk memenuhi segala keingannnya tanpa batas, meskipun ditempuh dengan cara-cara yang merendahkan derajat/ martabatnya (suap, korupsi, menipu orang lain, mencuri dan sebagainya).

Hasil tersebut dapat memenuhi keinginan manusia untuk memperoleh uang dan harta yang melimpah, rumah mewah, mobil banyak, sandangan serba bergengsi, gaya hidup hedonisme/ konsumtif, dan sebagainya.

Meskipun hal tersebut dapat diperoleh, akan tetapi dari lubuk hari yang paling dalam, ada perasaan tidak tenteram, merasa berdosa, itulah fitrah yang diberikan Tuhan pada manusia.

Bagi manusia yang masih sadar akan eksistensi kemanusiaannya, tentu ia tidak mau merendahkan derajatnya, manusia akan selalu berusaha untuk mempertahankan fitrah kemanusiaannya.

Bahkan, manusia akan selalu berusaha meningkatkan derajat serta kualitas kemanusiaannya.

Tetapi bagi mereka yang telah dibutakan mata hatinya oleh dekapan nafsu, manusia akan terlena dan terbuai, tidak mempedulikan lagi fitrah kemanusiaannya yang suci.

Manusia akan terlelap dalam bisikan nafsu, sampai akhirnya maut datang menjemputnya.

Untuk mengendalikan nafsu-nafsu dapat dilakukan dengan cara laku tapa dengan sedikit mengurangi makan, tidur, menguasai diri dibidang nafsunya, dan lain sebagainya.

Sebagaimana dalam Serat Wulangreh tembang Durma :
Dipun sami ambanting sariranira, cegah dhahar lan guling, darapon suda, nepsu kang ngambra-ambra, rerema ing tyasireki, dadi sabarang karsanira lestari.
(Lakukanlah prihatin, janganlah terlalu banvak makan dan terlalu banyak tidur, agar nafsu yang menyala-nyala dapat berkurang dan hati menjadi tenteram dan yang akhirnya segala sesuatu yang hendak dicapai akan terlaksana).

Sesuai dengan hal tersebut, bagi orang Jawa laku tapa bukanlah meniadakan sama sekali dorongan biologis akan tetapi sekedar mengatur dan membatasinya.

Hal tersebut tentu dapat dicapai dengan membiasakan diri atau latihan.

Taat terhadap perintah Tuhan dan selalu menjalankan apa yang telah diajarkan dalam agama juga merupakan suatu laku tapa.

Sehingga dengan laku tapa demikian, diharapkan akan mendekatkan diri kepada Tuhannya dan diharapkan manusia selalu pada fitrahnya.

Pijetan menunjukkan kelapangan hati, Gandik polos menunjukkan ketabahan.

Dapur Brojol mempunyai ricikan Pijetan yang merupakan simbol dari kelapangan hati.

Gandik polos merupakan simbol ketabahan dalam menjalani hidup.

Kelapangan hati terhadap sesuatu yang diperoleh, khususnya terhadap keadaan yang tidak menyenangkan hati.

Fitrah manusia itu pada dasarnya memiliki kecondongan percaya pada kekuasaan dan takdir Tuhan.

Takdir bagi orang Jawa disebut dengan istilah PEPESTHEN.

Pepesthen mempunyai arti segala sesuatu yang menyangkut hidup manusia tidak dapat dilepaskan dari takdir Tuhan. Ada ajaran Jawa yang mengatakan :
Ora ana kasekten sing madhani pepesthen, awit pepesthen iku wis ora ana sing bias murungake. 
ARTINYA:  
Tiada kesaktian yang mempunyai kepastian sebagimana yang dimiliki Tuhan, karenanya tidak ada yang dapat menggagalkan kepastian dari Tuhan.
Oleh karena itu, dalam paham ajaran Jawa selalu beranggapan bahwa merah-birunya kehidupan tergantung dari takdir Tuhan.

Peristiwa kehidupan di dunia yang menyangkut:
  1. Keselamatan-bencana, 
  2. Sengsara-kesenangan, 
  3. Kekayaan-kemiskinan, dan 
  4. Sebagainya sudah merupakan pepesthen. 
Atas dasar itu, orang Jawa menyikapi pandangan hidup dengan sekedar menjalankan apa yang telah ditentukan oleh Tuhan.

BROJOL MERUPAKAN AJARAN HIDUP MENUJU FITRAH MANUSIA
Dhapur Brojol yang sederhana merupakan suatu simbol mengenai ajaran hidup bagaimana seseorang untuk menjaga fitrah yang telah diberikan oleh Tuhan.

Meskipun bentuknya sederhana, dhapur keris ini sarat dengan ajaran hidup yang sangat dalam.

Meskipun fidak mudah untuk mencapainya, namun paling tidak ajaran ini mengingatkan manusia. Seorang yang masih sadar akan eksistensi kemanusiaannya, tentu manusia tidak mau merendahkan derajatnya, manusia bahkan akan selalu berusaha untuk mempertahankan fitrah kemanusiaannya.

Bahkan, manusia akan selalu berusaha meningkatkan derajat serta kualitas kemanusiaannya.

Nafsu-nafsu duniawi yang menghalangi pencapaian fitrah, dikendalikan dengan tapa laku dan memahami takdir yang telah ditetapkan oleh Tuhan.

Karena hidup ini tidak lepas dari kepastian dari Tuhan maka segala yang telah tercapai harus disyukuri, diambil hikmahnya, dan harus diterima dengan ikhlas, hati yang lapang, tabah, dan pasrah.

Tabah dan pasrah menunjukkan kestabilan jiwa seseorang dalam menjalani hidup.

Namun demikian, orang harus wajib berikhtiar dan harus berusaha semampunya.

Namun usaha tersebut perlu dijalani sewajarnya, tidak memaksakan diri di luar batas kemampuannya, melanggar ajaran agama, dan merugikan orang lain.

Orang yang hidup memaksakan diri dan neko-neko (bertingkah), cenderung untuk berbuat dan berperilaku tidak baik, yang justru menjauhkan dirinya dari pencapaian fitrahnya sebagai manusia.
☆☆☆☆☆
Dalam pengertian sejarah tosan aji, keris dapur brojol secara terninologi identik dengan kelahiran dalam istilah Jawa, brojol merupakan istilah jawa untuk ungkapan peristiwa kelahiran bayi ke dunia. Dan begitulah kita berpasrah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sesungguhnya dengan kelahiran itu, kita kembali diingatkan akan asal muasal kita. Dhapur Brojol dapat juga dimaknai sebagai sebuah pengejawantahan keinginan manusia untuk senantiasa dapat lancar segala sesuatunya (mbrojol) dalam hal menyelesaikan kesulitan kehidupan.

Yang pasti sama halnya manusia, di dunia ini tidak akan pernah ada keris yang persis sama.

Boleh jadi dua keris akan memiliki sama bentuk, tetapi tetap akan memiliki perbedaan pada corak pamornya (hal ini terpengaruh oleh proses tempa).

Ada ribuan atau bahkan jutaan keris di dunia ini, yang ber dapur Brojol.

☆☆☆☆☆